
Shasha tak menyangka dirinya harus mengalami cobaan sebesar ini, iya bingung harus bagaimana.
"Lama kelamaan perut ini pasti membesar, aku gak bisa terus menyembunyikan ini", gumam shasha pelan sambil terus meneteskan air mata.
"Paman, bibi maafin aku, aku udah ngecewain kalian",
"Paman pasti sangat kecewa, apalagi bi Imas pasti marah besar, meraka yang dari kecil ngerawat aku ngebiayaain hidup aku, kenapa justru disaat ini di saat aku berjuang untuk sukses cobaan ini datang",
"Gimana kuliah aku, gimana kerjaan aku gimana hidup aku setelah iniii...!", ucap shasha yang menangis tersedu sedu.
Ia sedih kuliah yang ia perjuangan dari awal sampai titik ini mungkin harus ia relakan begitu saja, karena terkait peraturan penerima beasiswa tidak di perkenankan untuk yang sudah menikah apalagi mempunyai anak, shasha juga tak bisa mengajukan cuti karena ia sudah mengetahui peraturan itu sebelum ia menandatangi perjanjian.
Shasha sedih cita-cita nya kuliah lalu bekerja di perusahaan besar harus sirna begitu saja, ia tak mungkin lagi menerima beasiswa suatu saat nanti jika ia mengundurkan diri saat jni
Shasha juga kedepannya pasti tidak bisa bekerja di restoran lagi, ia sudah pasti di pecat jika dirinya ketahuan hamil oleh atasan nya yaitu Pak alex, padahal sudah hampir setahun ke belakang ia beralih menjadi kasir dan jika kinerja nya semakin bagus ia akan di jadikan asisten manajer kesempatan itu sudah tak mungkin ia dapatkan lagi.
Shasha pun bingung harus bagaimana menceritakan itu pada bibi dan paman nya, terlebih lagi ia bingung menghadapi bibi nya, bibi nya pasti tak mau ia bergantung hidup kembali apalagi di tambah anaknya.
"Aku gak bisa terus begini, aku harus memulai hidup baru gak ada guna nya aku menyesal", gumam shasha dalam hati.
"Kalau aku di sini terus aku takut akan terjadi hal yang jauh lebih buruk, aku juga gak mau ketemu kak vano sama kak Raka lagi, kalau dia tau aku hamil aku takut dia meminta aku menggugurkan bayi ini, aku gak mau", gumam nya pelan.
"Nak walaupun kamu gak di harapkan tapi ma..mama gak akan biarin kamu menderita di dalam kandungan maupun saat nanti kamu lahir dan tumbuh besar".
"Mama akan bawa kamu pergi jauh meninggalkan tempat ini, mama gak mau kamu tau ternyata ayah kamu seorang pecundang, dan dia sangat membenci mama mu ini nak", ucap Shasha lirih.
Dengan kekhawatiran dan dengan terpaksa shasha memutuskan untuk pergi jauh dari ibukota tanpa di ketahui oleh satu orang pun, tapi sebelum nya shasha berharap bisa melihat bibi dan paman nya untuk yang terakhir kali.
Shasha pun memutusakan untuk pergi ke luar negri lebih tepat nya negara Singapura, ia tak berfikir panjang apa yang akan terjadi nantinya, yang terpenting bagi nya saat ini adalah pergi ke luar negri menjauh dari semua orang
"Aku harus urus pasport dan dokumen penting lain nya, semakin cepat semakin baik", gumam shasha dalam hati nya.
...****************...
...Beberapa hari kemudian...
Beberapa hari lalu shasha mengurus dokumen penting untuk keberangkatan nya, hari ini dia memesan tiket pesawat untuk keberangkatan ke Singapura hari lagi menggunakan uang tabungan nya yang terkumpul lumayan banyak selama ia bekerja.
Sebelum berangkat shasha memutuskan untuk pergi melihat bibi dan paman nya.
Beberapa jam di perjalanan akhirnya shasha tiba di kampung halaman nya, dia melihat rumah paman dan bibi nya yang masih sama seperti tiga tahun yang lalu ia sedih pulang dengan keadaan yang tak ia harapkan.
Kebetulan waktu itu paman dan bibi nya sedang berada di halaman rumah mereka, shasha pun spontan memanggil mereka.
"Paman.. bibi..", panggil shasha yang masih jauh lalu ia berlari menghampiri shasha.
Melihat shasha pulang paman nya sangat senang ia bangga keponakan nya kini sudah menjadi mahasiswi, sedangkan bibi nya masih saja sinis pada shasha.
"Bibi, paman kalian sehat kan?", ucap shasha lalu mata nya pun berkaca-kaca menahan tangis.
"Sehat sha, kamu kok pulang gak kabarin kita kalau kita tau kamu mau pulang kita jemput kamu di stasiun", ucap paman nya bahagia melihat shasha
"Iya paman aku juga gak akan lama kok mungkin cuma nginep sehari", ucap shasha.
Melihat shasha pulang bi imas hanya melihat nya sinis, sama sekali tak mengharapkan shasha pulang, ia pun langsung masuk ke dalam tanpa menyapa shasha sama sekali.
"Gak usah kamu tanggapin bibi kamu, dia emang udah biasa kaya gitu", ucap paman nya menghibur shasha
"Ya udah kamu masuk, pasti kamu belum makan paman siapin ya", lanjut nya.
Shasha tersenyum mengangguk lalu masuk ke dalam sedangkan paman nya bergegas ke dapur menyiapkan makanan untuk keponakan tersayang nya itu, tiba-tiba bi imas dengan sinis nya menghampiri shasha.
"Sha ngapain kamu pulang?, jangan bilang kamu kekurangan duit terus minta sama kita bulan lalu juga kamu gak kirim kita duit, kamu udah nganggur hah?", tanya bi imas begitu sinis.
"Engga kok bi, aku cuma mau liat bibi sama paman aja. Ia maafin aku bulan lalu aku gak kirim kalian uang aku gak kerja karena harus melaksanakan KKN", jawab shasha menjelaskan.
"Alasan aja kamu", ucap bi imas lalu pergi meninggalkan nya.
__ADS_1
Paman nya pun datang membawa makanan
"Sha, nih paman bawain kamu makanan kamu makan ya", ucap paman nya sambil menaruh baki yang penuh dengan makanan di meja.
"Makasih paman, padahal gak usah repot-repot. Kita makan bareng ya", ucap shasha tersenyum.
Ia sedih mengecewakan paman nya yang begitu menyayangi nya, perjuangan paman nya membesarkan dan menafkahi shasha sampai sebelum dia kuliah harus ia balas dengan kenyataan pahit ini.
"Paman udah makan tadi sama bibi, paman temenin kamu aja di sini sha", ucap paman nya.
"Iya makasih paman", ucap shasha
Shasha pun makan dengan santai seolah-olah diri nya baik-baik saja ia tak mau paman nya khawatir dan tau hal buruk yang menimpa nya.
"Oh iya sha, kamu lulus satu tahun lagi kan? setelah lulus kamu mau tetep di ibukota?", tanya paman nya membuat shasha hati shasha semakin tertekan.
Shasha hanya mengangguk tak berani melihat paman nya.
"Ya udah paman cuma bisa dukung kamu, asal kamu sehat selalu dan bisa jaga diri terus nanti dapetin jodoh yang sayang juga bertanggung jawab sama kamu", ucap paman nya yang tak menyadari bahwa kata-kata nya itu membuat shasha sedih dan merasa putus asa.
Shasha hanya tersenyum berpura-pura baik-baik saja, ia pun menyelesaikan makan nya dan pergi ke kamar nya.
"Aku udah selesai paman, aku ke kamar dulu ya", ucap shasha membuat paman nya merasa shasha sedikit murung.
"Iya sha, kamu istirahat dulu aja", ucap paman nya itu.
Shasha pun pergi ke kamar nya tak kuat menahan tangis, ia menangis pelan dan terus meratapi nasib nya yang malang itu.
Shasha menatap dan memeluk erat lama sekali foto ayah ibu nya yang dulu meninggal
"Pak, Bu...", jeritnya
"Andai kalian ada di sisi aku, apa mungkin aku akan mengalami hal ini, seandainya aku harus mengalami ini juga mungkin aku akan jauh lebih kuat jika ada kalian",
"Pak, Bu, Aku harus gimana, apa pilihan aku ini udah tepat, pergi ninggalin semuanya, seandainya aku tetap disini pun yang ada aku hanya bisa membuat paman dan bibi malu, aku pasti jadi gunjingan tetangga, Vira Nara apa mungkin mereka masih mau jadi sahabat aku, pak.. Bu....", ungkapnya pelan dan tak henti hentinya meneteskan air mata
Mungkin ini adalah hari terberat bagi shasha, bagaimana tidak posisinya saat ini serba salah jika ia memilih untuk menceritakan semuanya ia takut mereka tak bisa menerima itu, keputusannya sudah bulat untuk pergi keluar negri meskipun berat baginya, tapi ia berfikir mungkin itu adalah pilihan terbaik baginya.
...****************...
...Keesokan hari nya...
"Mah.. mah.. sini cepetan", teriak wanto pada istri nya.
Bi imas pun pergi menemui suami nya itu yang sedang berada si kamar shasha
"Apa sih pak, teriak teriak gitu", ucap bi imas menggerutu.
"Kamu liat ini surat dari shasha", wanto memperlihat kan surat dan sejumlah uang dari shasha.
Bi imas pun melihat amplop yang berisi uang lalu ia membeca surat dari shasha.
"Paman bibi aku pamit, malam ini mungkin terakhir kali aku melihat kalian. Terima kasih atas semua kebaikan kalian selama ini, aku harap kalian selalu sehat dan bisa saling menjaga satu sama lain, maafkan aku yang tak berguna ini"
Saat tengah malam shasha memang pergi tanpa pamit hanya meninggalkan uang dan surat untuk mereka.
Bi imas pun sedikit kaget setelah membaca surat itu, gak biasa nya shasha seperti ini bi imas merasa apa mungkin perlakuan nya kepada shasha selama ini sudah tak sanggup shasha hadapi maka nya dia tiba-tiba pergi dan tak akan menemui mereka lagi.
"Mah shasha begini pasti gara-gara kamu kamu terlalu kasar sama dia, liat sekarang shasha udah gak tahan sama sikap kamu itu", ucap wanto marah pada istri nya.
"Apaan sih kamu pak, biarin aja lah gak lama juga dia juga pasti kembali lagi", ucap bi imas yang masih saja seperti itu.
Wanto hanya diam dan sedih berharap shasha suatu saat pulang kembali, ia sudah berusaha menghubungi nya namun handphone shasha tak aktif sama sekali.
...****************...
...Ibukota...
__ADS_1
Shasha sudah sampai di kosan nya beberapa jam yang lalu, ia bergegas pagi-pagi sekali menuju kampus ia mengundurkan diri dari program beasiswa pihak kampus tentunya menghargai keputusan shasha walaupun mereka menyayangkan mahasiswi berprestasi seperti shasha harus meninggalkan kampus mereka.
Setelah dari kampus shasha bergegas ke tempat kerja nya, ia mengundurkan diri awal nya pihak restoran menolak karena mereka tidak mau kehilangan pegawai yang rajin dan disiplin seperti shasha namun karena shasha terus bersikeras akhirnya pihak restoran pun menyetujui nya.
Sebelum pergi tak lupa shasha mengirim surat pada sahabat baik nya itu, nara dan vira. Shasha tidak memberi tahu bahwa diri nya akan pergi jauh. Ia hanya ingin mengucapakan terima kasih atas kebersamaan nya selama ini.
...****************...
...Rumah vira...
"Mba vira ini ada surat pagi tadi tapi orang itu bilang untuk memberikan surat ini malam hari pada mba vira", ucap satpam nya.
"Dari siapa pak?", tanya vira penasaran.
"Saya juga kurang tau mba, suara dan penampilan nya wanita tapi dia pake masker jadi saya gak liat wajah nya", jelas satpam nya itu.
"Ya udah makasih, kamu kembali ke pos aja", ucap vira lalu satpam nya itu pergi.
Vira pun membuka surat nya di kamar
"Vira sahabat terbaik ku, terima kasih selama ini kamu udah mau jadi sahabat aku, aku pamit ya vir, aku harap kamu baik-baik aja dan ke depan nya kamu harus bahagia. Shasha"
Setelah membaca surat itu vira kaget lalu terus menghubungi shasha namun percuma handphone nya tetap tak aktif.
Rumah nara.
"Ra, ini ada surat buat kamu tadi siang di kirim ke sini nya cuma sahabat kamu itu siapa nama nya ya papa gak tau dia bilang kamu baca nya malam hari, maka nya papa kasih kamu sekarang",
"Siapa pa?, shasha atau vira", tanya nara penasaran.
"Papa juga gak tau ra, kamu baca aja di situ pasti ada pengirim nya kan", ucap papa nya.
"Iya pah, aku ke kamar dulu ya", ucap nara lalu membawa surat itu ke kamar nya
Nara pun membaca surat itu perlahan
"Nara sahabat baik ku, aku pamit. Makasih selama ini kamu selalu berdiam menjadi sahabat ku, aku harap kamu baik-baik aja dan kamu bisa menjadi dokter hebat suatu hari nanti, shasha".
Nara pun kaget membaca surat dari shasha, ia kemudian menelpon shasha namun tak aktif ia pun bergegas ke rumah vira menanyakan hal ini.
setelah di rumah vira, ternyata vira pun menerima surat yang sama.
"Kita pergi cari ke kosan nya, kalau dia gak ada kita tanya ke tempat kerja dan ke pihak kampus, mereka pasti tau", ucap vira
"Iya vir, kita pergi sekarang".
Mereka bergegas pergi namun shasha tak ada di kosan nya barang-barang nya pun sudah tak ada.
Tak menyerah mereka pergi ke restoran tempat shasha bekerja, namun tetap sama shasha tak ada dan mereka menerima informasi bahwa shasha pagi tadi sudah risegn tanpa alasan.
Kampus harapan terakhir mereka, namun tetap sama pihak kampus memberi tahu mereka bahwa shasha mengundurkan diri dari program beasiswa nya.
Mereka pun duduk di taman, mengkhawatir kan shasha yang kini entah di mana.
"Ra menurut kamu shasha kenapa, terus sekarang dia kemana?", ucap vira seperti putus asa.
"Aku gak tau vir", ucap nara sedih lalu menangis.
"Shasha sahabat baik kita, dia jadi alasan aku kuat dan bertahan sampai sekarang", lanjut nara tersedu-sedu menangis.
Melihat nara menangis vira pun tak kuasa menahan tangis.
"Dia selalu ngebantu aku ra, bagaimana pun keadaan nya dia selalu ada untuk aku", ucap vira.
Mereka menangis tak sanggup jika harus kehilangan sosok sahabat baik seperti shasha.
Bersambung...
__ADS_1