
Melihat Shasha yang terlihat seperti kesakitan karena tamparan nara Dr Derry pun mengkhawatirkan Shasha.
"Sha kamu gapapakan?", tanya Dr Derryl yang sangat mengkhawatirkan Shasha
"Ya ampun non, aduh gimana ko jadi gini, mba kenapa tiba tiba nampar non Shasha", saut bi Desi
"Inara, kamu kenapa tiba tiba nampar Shasha, lagian ini jam kerja kenapa kamu bisa kesini, dan tau dari mana kamu rumah saya?", tanya Dr Derryl heran
"Udah mas, udah, aku gapapa kok", ucap Shasha menenangkan Dr Derryl
"Sha, kamu udah berubah drastis ya, kamu udah jadi wanita mur...", ucap Nara dengan nada seperti orang kecewa
"Cukup Inara, saya maafkan perbuatan kamu barusan, saya gak akan permasalahan ini, tapi saya mohon silahkan pergi dari sini dan kembali ke rumah sakit, tolong hargai kami", ucap Dr Derryl
Nara hanya menatap sini dan membuang muka
"Gapapa mas, biarin Nara bicara, aku gapapa mas", saut Shasha
Meskipun perbuatan Nara tersebut tak mengenakan, tapi Shasha masih menghargai Nara sebagai sahabat baiknya.
"Ra, kita bicara baik baik ya, kita duduk dulu yu, bi aku minta tolong ambilkan minuman buat Nara", ucap Shasha
bi Desi pun pergi ke dapur untuk membuatkan minuman
"Ihss non Shasha ini, kalau bibi jadi dia mungkin udah habis tuh cewe" gumam bi Desi
"ga nyangka juga, tadi pas datang muka nya kaya gadis pendiam, kok tiba tiba jadi gadang gitu", lanjutnya dalam hati
"Gak perlu, gak ada yang perlu dibicarain baik baik sama kamu sha",
Dr Derryl berusaha melerai amarah Nara namun tak berhasil, ia hanya berusaha melindungi Shasha agar Nara tak bersikap kasar seperti tadi.
"Sha, aku sama sekali gak bisa maafin sama, aku benci kamu sha", ucap Nara yang terus menggerutu
"Kamu tau gak sha, berapa lama aku mencintai kak vano? enam tahun sha, kamu fikir itu waktu yang sebentar sha? lama sha apalagi bagi aku yang mengharapkan hatinya yang dingin, lama sekali sha, kamu tiba tiba dateng membuat harapan aku semakin jauh sha, sedikit lagi sha sedikit lagi harapan aku akan terwujud tapi gara gara kamu sha, penantian aku selama enam taun itu sia sia sha",
"Dari dulu kamu selalu ingin tau kan siapa laki laki misterius yang aku cintai? Vano sha, Vano, yang kini sudah kamu rebut hatinya",
"Hikss, hikss hikss", sesaat ucapan Nara terhenti karena tak kuasa menahan tangis
"Ra, aku sama sekali gak tau kalau kak vano orang yang selama ini kamu cintai, kalau aku tau sejak awal aku gak akan berani menaruh hati sama dia", ucap Shasha berusaha menjelaskan
Shasha pun menghampiri Nara dan berusaha menenangkannya, ia memegang tangan nara namun emosi Nara masih memuncak ia mengibaskan tangan Shasha.
"Sha, udah udah, sini", ucap Dr Derryl kemudian merangkul Shasha dan sedikit menjauh dari Nara
"Sha, kak vano cinta pertama aku, kamu tau sha kenapa aku bisa jatuh cinta sama dia? ketika dulu aku baru masuk SMA aku sering di bully cuma kak vano yang menolong aku, sejak itu aku mulai mencintai dia sha, tapi aku gak berani ngungkapin perasaan itu, aku cari tau semua tentang dia bahkan ketika dia kuliah di luar negri dia jadi penerus perusahaan aku tau itu sha, sampai suatu hari beberapa bulan lalu aku sengaja nemuin dia, aku ungkapin perasaan aku, kamu tau anehnya apa? dia langsung Nerima aku sha, gak lama setelah itu kita langsung tunangan, harusnya sejak saat itu aku mulai curiga, kenapa semudah itu dia menerima aku padahal mungkin karena kamu sha... karena kamu... dia putus asa, dia jadikan aku pelampiasan nya sha, harusnya aku sadar sejak awal, hikss hikss..",
"Aku menganggap itu suatu keajaiban sha, tapi justru itu awal kepedihan bagi aku, kenapa harus ada kamu sha, aku benci kamu.. aku benci kamu sha.."
"Ra, kamu tenang Ra, maafin aku ra", ucap Shasha dan tak kuasa menahan air matanya
Bagaimana tidak, persahabatannya kini hancur, sahabat yang Shasha sangat sayangi dua duanya kini membenci Shasha.
"Kamu camkan ini sha, aku gak akan pernah melepaskan kak vano, apalagi kalau sampai dia kembali sama kamu",
"Seharusnya kamu gak pantes mendapatkan cinta dari dia, kamu cuma pemeran pengganti sha, kamu harusnya sadar itu sha",
Nara tak henti henti nya berbicara sampai Shasha pun tak mengira bahwa Nara bisa marah sebesar itu, Nara yang biasanya pendiam, pemalu di hadapan nya kini berubah seperti harimau yang mau menerkam mangsa.
Ya, karena cinta semua orang bisa berubah, bisa seketika menjadi baik atau justru menjadi garang seperti Nara.
"Kamu itu udah kotor sha, syukur syukur masih ada yang mau sama kamu, apa mungkin karena iba sha", celetuk Nara yang sudah tak bisa mengontrol emosi dan ucapanya
Shasha terus diam dan sesekali meneteskan air mata, tapi setelah mendengar ucapan Nara barusan ia tak sanggup lagi membendung air matanya, Shasha menangis tersedu sedu
"Cukup, Nara kesabaran saya sudah habis, pergi sekarang juga, pergi, jangan pernah kembali lagi, dan satu hal lagi jangan pernah memandang Shasha sebagai perempuan kotor, apa kamu sadar Shasha seperti ini karena pria yang kamu cintai, sekarang cukup Nara, silahkan pergi dari sini", ucap Dr Derryl.
Nara pun hanya tersenyum sinis kemudian melangkah pergi ke arah pintu keluar
"Sha, kamu gapapa kan, kamu ke kamar lagi ya, nanti aku suruh bi Desi temenin kamu, aku gak akan ninggalin kamu sha, aku jagain kamu di rumah ini, aku gak akan kembali dulu ke rumah sakit, nanti aku Chat mamah", ucap Dr Derryl
Shasha tak menjawab ucapan Dr Derryl, dia syok dan sepertinya psikologisnya kembali tertekan.
"Kita kembali ke kamar ya", ucap nya
__ADS_1
Lalu Shasha dan Dr Derryl pun berjalan ke arah kamar Shasha.
"Loh loh loh, ini kok si mba nya sudah pergi lagi, padahal aku buat minuman racikan spesial buat dia supaya dia kapok datang kesini, kopi cita rasa asin asem dan pedas jadi satu, ah gagal total ini mah", gumam bi Desi yang baru saja sampai di ruang tamu.
"Sha, aku bertindak seperti itu karena kamu, jangan salahin aku kalau aku bertindak lebih buruk dari tadi", guman nara yang masih berada di sekitar rumah Dr Derryl.
...****************...
...Rumah sakit...
Vano dan mamahnya berada di kantin rumah sakit untuk membeli beberapa cemilan, sementara Raka menemani Prasetya di ruang rawatnya, ketika ada kesempatan berbicara berdua mamanya bertanya pada vano.
"Van, apa yang tadi kamu bicarakan sama Nara? kenapa sampai sekarang dia belum kembali lagi?", tanya mamahnya.
"Mah, apa aku salah bicara sama dia, aku cuma bilang yang sejujurnya", jawab vano datar
"Kamu bicara apa sama dia Van?", tanya mamahnya
Dengan sikap vano yang super dingin dan tak bisa menyaring kata kata monicca khawatir vano akan berbicara yang bisa membuat Nara sakit hati.
"Aku cuma bilang kalau aku gak cinta sama dia, aku juga bilang aku akan mengejar Shasha kembali mah", jawab vano apa adanya
"Aduh, Van Van.. mamah tau kamu emang gak mencintai Nara kamu juga masih mengharapkan Shasha, tapi gak seharusnya kamu bicara gitu, dia juga wanita, hatinya wanita itu lembut", jelas monicca
"Van, mama juga heran ketika kamu tiba tiba mau tunangan, mama kira ketika itu yang kamu bawa mamah sama papa ke rumah Poernomo saat itu tapi justru kamu bawa kita ke rumah Nara", lanjutnya
"Mamah sama papa bertanya tanya, kenapa kamu berpaling sangat cepat",
"Setelah kamu cerita semuanya termasuk niat jahat Poernomo dan kekeliruan kamu dan raka mamah sama papa baru mengerti, kalau sebenernya kamu menjadikan nara sebagai pelampiasan, mama bisa mengerti kondisi kamu, tapi papa gak bisa sayang, kamu tau kan papa kamu punya penyakit, kalau dia kaget kalau dia khawatir ya pasti penyakitnya kambuh",
"mamah awalnya berharap kamu melupakan Shasha, dan mulai membuka hati untuk Nara",
"Tapi tak di sangka sangka kita bertemu Shasha kembali, apa yang akan kamu lakukan Van? seandainya bisa, jangan sampai kamu menyakiti dua wanita, tapi mamah dukung kamu van, siapapun yang kamu perjuangkan mamah dukung kamu nak", ucapnya
Vano pun terdiam dan mendengarkan setiap kata yang di ucapkan mamanya
"Sha, kenapa cinta ini begitu sulit bagi kita, selalu ada rintangan untuk kita bersama, justru sekarang kamu memilih untuk menikah saya gak rela sha, saya gak bisa melupakan kamu", gumam vano dalam hati
...****************...
...Rumah Dr Derryl...
Setelah beberapa hari berlalu Shasha sudah tak pernah keluar rumah, ia hanya berdiam diri di kamar ditemani bi desi, bahkan ketika Dr Becca pulang dari rumah sakit yang paling di khawatirkan nya adalah Shasha, Dr Derryl sudah tidak di ragukan lagi hampir setiap saat jika dirinya tak sibuk selalu menemani Shasha berusaha menghibur dan membuat shasha tersenyum.
Sore hari yang indah Dr Derryl, shasha dan Dr becca keluar rumah kebetulan di sekitar rumah ada taman kecil dengan banyak bunga yang menghiasi, mereka pun berbincang di taman tersebut sambil memakan cemilan kecil buatan bi desi
"Bu, mas kalian belum pulang lagi ke Indonesia semenjak kalian tinggal disini?", tanya Shasha penasaran
"Mungkin hanya beberapa kali nak, justru Derryl yang jarang sekali karena sibuk disini", jawab Dr Becca
"Kenapa kamu tiba tiba nanyain itu, kamu rindu kampung halaman ya sha?", tanya Dr Derryl
"he, kamu emang selalu tau isi hati aku mas, iya aku rindu kampung halaman, aku rindu perhatian paman aku rindu Omelan bibi",
"Aku inget dulu ketik kecil aku sering bantuin paman di sawah mas, bantu bibi nyuci di sungai"
"Setelah merantau ke ibukota aku gak pernah lagi merasakan suasana desa yang tenang dan damai, apalagi sekarang aku merantau jauh kesini entah bagaimana keadaan desa entah bagaimana kabar paman dan juga bibi", ucap Shasha mengenang masa kecilnya.
"Sha, kalau kamu mau gimana kalau kita nikah di kampung halaman kamu aja", ucap Dr Derryl menawarkan.
Shasha terdiam dan tersenyum
"Makasih mas, tapi kayanya gak bisa, aku merantau jauh kesini juga salah satunya karena itu mas, aku gak mau bibi sama paman di kampung jadi gunjingan warga kalau mereka tau aku hamil di luar nikah", ucap Shasha
Dr Derryl pun tersenyum
"Kalau gitu, setelah semuanya membaik saja kita berkunjung kesana, atau kalau engga mereka kita ajak berkunjung ke sini"
"Ibu harap semua masalah kamu dapat segera selesai sha, dan kamu dapat melanjutkan hidup dengan tenang, damai dan bahagia kembali", ucap Dr Becca
"Iya makasih banyak bu",
Di tengah kehangatan mereka berbincang santai, tiba tiba tak di sangka sangka Vano dan Raka menghampiri mereka berniat untuk menemui shasha, mereka belum menyerah sama sekali apalagi vano belum Rela Shasha harus berada di pelukan laki laki lain.
Melihat kedatangan Vano dan Raka, Shasha tak mau kejadian kemarin terulang kembali, ia tak mau membuat nara semakin marah
__ADS_1
"Kak, ngapain kalian ke sini?, cukup kak, aku gak mau ketemu kalian lagi", ucap shasha dengan nada yang lebih tegas dari biasanya
"Vano, Raka saya harap kalian jangan mengganggu Shasha lagi, dia baru saja baikan, baru saja dia bisa tersenyum lepas lagi, terutama kamu vano, apa ini cara kamu mencintai shasha? dengan terus membawa kesedihan ke hidupnya", ucap Dr Derryl yang tak mau melihat Shasha kembali terluka dan bersedih
"Ini Vano dan Raka? kami biasanya selalu memuliakan tamu, tapi seandainya kedatangan kalian hanya akan membuat Shasha terluka mohon kesadaran dan itikad baiknya untuk pergi dari rumah ini", saut Dr Becca
"Apa kalian tau, beberapa hari yang lalu tunangan kamu vano tiba tiba datang tanpa sopan santun langsung menampar Shasha, melontarkan kata kata yang menyakitkan, saya tidak mau kejadian itu terulang kembali, jadi saya mohon pengertian kalian", Lanjutnya
"Pantesan Nara aneh belakangan ini ternyata itu yang dia lakukan", guman vano dalam hati.
"Luar biasa kamu sha, beruntung kamu bertemu mereka, aku bisa liat betapa tulus nya mereka menyayangi dan memperlakukan kamu, aku seneng liat kamu baik baik aja selama di sini karena bersama mereka", gumam Raka dalam hati
Ketika akan menjelaskan menjelaskan maksud dan tujuan nya ke rumah mereka tiba tiba tak di sangka sangka sekali bi Imas yang jauh di kampung sana ada di hadapan Shasha sekarang
"Shasha...!!!", panggil bi Imas di kejauhan
"Bibi? Bu, mas, itu bibi aku kenapa dia bisa tau aku disini?", ucap Shasha kaget
"Ibu gak tau sha", ujar Dr Becca
"Gimana ini sha, apa kamu mau masuk ke dalam aja? takutnya bibi kamu belum siap menerima kenyataan yang sebenarnya, biar aku dan mama yang bicara", ucap Dr Derryl pelan
Belum sempat menjawab pertanyaan dari Dr Derryl, tiba tiba bi Imas membuka salah satu sepatunya dan melemparkannya tepat ke arah kepala Shasha
Bruk...
"Aduh, sakittt", ucap Shasha spontan
"Dasar anak durhaka, kemana aja kamu selama ini hah? enak enakan kamu disini, ngomongnya mau kuliah lalu kerja di perusahaan besar, malah sok sok sokan ngerantau kesini" gerutu bi imas
"Dasar anak gak tau diri, kamu pikir kita ngebesarin kamu pake duit sedikit apa, mana janji kamu yang katanya akan sukses supaya bibi dan paman gak perlu cape, panas-panasan tiap hari di sawah, bisanya cuma omong kosong, harusnya dulu saya kasih kamu ke panti asuhan, saya terlalu dengerin paman kamu, saya nyesel sha sha",
"Gara gara kamu paman kamu yang baik banget sama kamu itu sekarang sakit parah karena mikirin kamu sha, kita kelilit hutang, dasar kamu anak durhaka",
"Kali bukan karena teman kamu Nara itu yang ngasih tau kamu disini mungkin sampai kapanpun bibi gak bisa nemuin kamu",
"Kenapa kamu ngilang Shasha, kenapa hah? tiba tiba ngilang gak jelas, syukur syukur kamu gak ada karena mati nyusul bapak ibu kamu, ini mati kagak ngilang tiba tiba ngerepotin iya",
"bibi udah bangga banggain kamu ke tetangga, bilang kamu mau jadi sarjana, calon orang sukses yang kerja di perusahaan besar, dan pasti punya suami orang kaya, tapi apa sha ini yang kamu bales ke bibi? kamu malu-maluin bibi sha, kamu puas liat bibi kaya gini, ngurusin paman kamu yang sakit-sakitan kerja serabutan ke sana ke mari karena kelilit hutang, belum lagi di tanya gimana Shasha udah sukses, sakit sha sakit hati bibi denger itu semua, tega kamu sha nyiksa bibi sama paman",
"Kenapa ngilang sha, ninggalin kuliah, ninggalin kerjaan, bodoh kamu sha.. sha.., apa lagi yang kami cari, kenapa sha? kenapa ngilang bibi tanya jawab jangan diem aja, ngomong Shasha, aku punya mulut kan sha, jawab Shasha",
mendengar ocehan bi Imas yang tiada hentinya, Shasha pun tak kuat dan tak biasa menahan diri lagi
Shasha pun berlutut di hadapan kaki bibinya,
"Bi.. hiks hiks hiks maafin shasha bi, Shasha gak berbakti sama bibi dan paman, Shasha gak mau bibi sama paman malu karena Shasha, Shasha terpaksa merantau jauh dan bukan Shasha sengaja ninggalin kuliah juga kerjaan Shasha, Shasha mengorbankan itu semua termasuk cita cita Shasha hanya demi melahirkan anak ini, Shasha hamil bi",
Semua terdiam membisu mendengar ucapan Shasha, apalagi vano dan raka, juga bibinya sangat terkejut
"Apa kamu bilang? kamu hamil? jangan bohongi bibi sha", tanya bi Imas dengan nada bicara yang semakin meninggi
Shasha tak berani menatap bibinya, ia hanya mengangguk tak bisa berkata kata lagi
"Dasar anak durhaka, gak bisa jaga diri kamu",
"Gimana bibi bilang ke paman kamu, gimana bibi bilang ke orang kampung, dasar kamu Shasha wanita murahan", ucap bi Imas yang semakin mengeluarkan kata kata menyakitkan
"Sini kamu sha"
brughkk brughkk brughkk.. Shasha di pukuli bi imas dengan sangat kencang
semua orang berusaha menghentikan bi Imas, tapi bi Imas begitu sulit di hadapi.
Saat Shasha berusaha berdiri dan berusaha memeluk bi Imas yang membabi buta padanya.
tiba tiba.. gebruk.. bi Imas mendorong Shasha
Seluruh badan Shasha terjatuh ke lantai dan Shasha pingsan, melihat Shasha yang tak berdaya dan di kakinya mengalir darah bi Imas seketika menjadi syok melihat Shasha tertelungkup di tanah bersimbah darah.
semua orang berusaha membantu Shasha , namun dengan sigap Dr Derryl dan Dr Becca membawa Shasha kerumah sakit
Ketika vano akan mengejar mereka Raka yang dari tadi melamun dan terdiam tiba tiba menarik punduk vano.
"Van, Lo denger barusan apa yang di omongin shasha? dia hamil Van, apa mungkin anak yang di kandungan Shasha itu anak gue Van? apa mungkin gue jadi ayah Van?", tanya Raka tak menyangka
__ADS_1
Bersambung...