
Mendengar ucapan Pamannya pada Raka, Shasha sontak kaget dan perlahan melihat ke arah wajah Wanto.
Begitupun Raka mendengar hal itu ia berpikir cukup lama, hingga akhirnya berani berbicara.
"Om, saya gak tau ini adalah anugrah dari om untuk saya atau justru ini adalah kebencian. Jujur om sebelum kejadian keji itu terjadi saya sudah mencintai Shasha dari jauh jauh hari," jelas Raka.
"Mendengar permintaan om barusan tentu saya dengan senang hati mau menikahi Shasha, sebelum om meminta saya menikahi Shasha saya juga sudah berusaha agar Shasha mau menerima saya," lanjutnya.
"Tapi om, keputusan sepenuhnya ada di tangan Shasha, saya serahkan semuanya pada jawaban Shasha," ungkap Raka kemudian perlahan menatap Shasha yang sedang melamun tak karuan.
"Sha," seru Wanto.
"I ... iya paman," jawab Shasha.
"Gimana nak? apa kamu bersedia menikah dengan Raka?" tanya Wanto serius.
Shasha terdiam sejenak, ia bingung harus berkata apa.
"Sha, anak kamu butuh sosok seorang ayah," lanjut Wanto.
"Paman ngerti, mungkin kamu masih menyimpan kekecewaan pada Raka, tapi bagaimana pun dia tetap ayah dari anak kamu."
"Uhuk uhuk, paman bisa liat bagaimana ketulusan dari penyesalan dan keseriusan dia sama kamu," ungkap Wanto.
"Kalau kamu gak mau menikah dengan Raka gapapa Sha, nanti paman carikan laki laki baik untuk kamu," lanjutnya.
Raka pun memberi Shasha kode dengan menggelengkan kepalanya menandakan bahwa ia tak boleh menerima tawaran Wanto untuk mencari laki laki lain.
Tiba tiba bi Imas menghampiri mereka sambil membawa centong nasi.
"Pak, mamah greget mau ngomong," celotehnya.
"Dari tadi di samping lagi masak nasi dengerin kalian ngomong puyeng pala saya," gerutu Imas.
"Sha, ngapain harus mikir lama kalau bapaknya nih anak mau tanggung jawab udah nikah aja, mau kamu ngurusin anak sendiri hah? bibi gak mau direpotin terus sama kamu,"
"Udah cukup lah Sha, atau kamu mau bibi nikahan sama juragan Darsi biar hutang kita lunas!" tegas Imas.
Shasha pun menggelengkan kepalanya dan terdiam kembali.
"Kamu juga, ganteng ganteng bisa bisanya ngelakuin itu," celoteh Imas marah pada Raka.
"Maafin saya bi," ucap Raka tertunduk malu.
"Udah mah udah, uhuk uhuk ... kalian pikirin dulu aja, paman mau istirahat dulu," ucap Wanto.
"Kebiasaan sih bapak belain terus nih anak durhaka," celoteh Imas lalu pergi dengan wajah kesalnya.
"Jangan dengerin bibi kamu Sha, kamu juga Raka malam ini kamu nginep aja di sini udah malem juga," ucap pamannya.
"Makasih om, om istirahat aja saya mau ngomong dulu sama Shasha," ungkap Raka.
"Maafin Shasha ya paman, selamat istirahat ya paman Shasha keluar dulu," ucap Shasha dengan mata berkaca kaca.
Wanto mengangguk, sementara itu Raka dan Shasha keluar Rumah.
"Kak Raka," panggilnya.
"Kenapa Sha? ada yang mengganjal di pikiran kamu?" tanyanya.
"Kita harus bicara Sha," ujar Raka.
"Iya Kak, kalau gitu kita bicara di luar aja," ajak Shasha.
Mereka pun keluar lalu duduk di bangku kayu depan Rumah.
"Sha, bagaimana pendapat kamu soal permintaan paman kamu?" tanya Raka dengan nada serius.
"Aku ... aku gak tau kak," lirih Shaha.
"Aku pastinya seneng kalau kamu mau, tapi kalaupun kamu keberatan aku gak akan maksa Sha," ucap Raka tulus.
"Aku hanya mau anak kita punya orang tua lengkap yang menyayangi dia dan memperlakukannya dengan baik," lanjut Raka lalu seperi biasa spontan mengelus perut Shasha.
"Kak, aku tau kamu tulus," ungkap Shasha.
"Kak Raka, jika boleh aku jujur sebenarnya aku masih dengan perasaan yang sama ke kak Vano aku masih mencintai dia bahkan terkadang aku berharap dia tiba tiba datang dan menunaikan janjinya itu," lirih Shasha.
"Tapi Kak, aku juga terkadang berpikir apa mungkin aku memang tak berjodoh dengan Kak Vano," lanjutnya lirih.
"Kak, sepertinya aku gak akan mengulang kembali kesalahan kemarin, kesalahan aku yang menyianyiakan cinta dan ketulusan laki laki baik seperti mas Derryl,"
"Aku gak mau melakukan kesalahan itu lagi, apalagi Kak Raka adalah ayah dari anak aku," lanjut Shasha.
Raka terdiam berusaha memahami kata kata Shasha yang sangat panjang, beberapa lama berpikir Raka pun mengerti dan dia melompat kegirangan.
"Yeay!" teriak Raka.
"Jadi kamu terima aku Sha? kamu mau menikah dengan aku?" tanya Raka sangat antusias.
__ADS_1
Melihat Raka sebahagia itu Shasha tertawa kecil, ia pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Raka.
Raka yang tengah kegirangan dan melompat lompat spontans memeluk Shasha.
"Makasih Sha, kamu udah beri aku kesempatan, aku janji aku akan jadi suami dan ayah yang baik," ungkap Raka.
Shasha pun terdiam pasrah berasa di pelukan Raka.
"Mungkin ini adalah keputusan terbaik untuk aku, meskipun aku gak mencintai kamu Kak Raka, dan hanya menyayangi kamu sebatas teman seperti aku menyayangi Vira dan juga Nara, tapi Kak hanya kamu ayah kandung anak ini, aku juga percaya kamu adalah orang yang baik bisa bertanggung jawab dan memegang kata kata kamu," gumam Shasha dalam hati.
"Nak, sekarang kamu gak usah khawatir lagi, ayah kamu akan menemani kamu kedepannya," lanjutnya.
Raka kemudian melepaskan pelukannya ketika tiba tiba teringat Vano.
"Sha, aku tau kamu masih sangat mencintai Vano, tapi aku yakin seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa melupakan dia dan memulai hidup baru dengan aku dan tentunya bersama anak kita juga." ucap Raka.
Shasha pun mengangguk.
"Sha besok pagi pagi aku pulang ke Jakarta, aku usahain satu Minggu lagi kita nikah disini di rumah kamu kamu nanti aku siapin semuanya, aku juga akan usahain bawa papa dan mama aku kesini meskipun jujur aja "Sha aku udah beberapa bulan ini gak pernah berhubungan sama mereka, bahkan ketika aku mau ketemu sama mereka pun aku tak jarang aku gak di terima gak di sambut dengan baik," ungkap Raka panjang lebar.
"Kak, gak perlu terburu buru, semoga hubungan kamu dengan orangtua kamu bisa membaik ya kak," ucap Shasha.
"Kenapa mereka selalu seperti itu sama kamu Kak," ucap Shasha.
"Gapapa Sha aku udah terbiasa," jawab Raka tersenyum seolah berusaha tegar.
"Udah Sha, kita gak usah mikirin hal yang menyedihkan, bagi aku malam ini adalah malam yang paling membahagiakan Sha," ujar Raka lalu menatap dalam Shasha.
Shasha tersenyum.
"Satu hal lagi Kak, aku gak mau nikah megah lebih baik sederhana aja, paling aku ondang tetangga sama temen temen aku di kampung ini," ungkap Shasha.
"Yaudah kalau itu kemauan kamu, aku akan lakuin Sha, aku juga paling bawa orang tua sama keluarga besar aku di Jakarta," jawab Raka.
Mereka pun berbincang cukup lama, ngobrol kesana kemari sambil menikmati suasana malam di desa yang sejuk dan damai, mendengar air yang mengalir di sungai depan rumah.
Kebetulan malam itu langit sangat jelas dan banyak bintang bintang berkedipan di kejauhan sana.
Singkat cerita keesokan harinya Raka berpamitan dan pergi ke Ibu Kota Jakarta untuk menyiapkan rencana pernikahannya.
...****************...
......Jakarta......
Semenjak pertengkaran hebatnya dengan Raka, Vano sudah tidak pernah berhubungan dengan sahabat karibnya.
Bahkan sekarang Vano tak tau bahwa sahabatnya itu akan menikah dengan wanita yang sangat ia cintai.
"Gio," Panggil Vano pada Gio yang baru saja tiba diruangannya.
"Iya pak," saut Gio.
"Bertambahnya berapa banyak lagi?" tanyanya lirih.
"Maksudnya pak?" tanya Gio tak mengerti.
"Klain yang membatalkan kerja sama proyek," jelasnya.
"Sampai dengan hari ini sekitar tujuh kerja sama proyek besar di batalkan, kalau untuk proyek yang terbilang kecil sekitar--" jelas Gio kemudian ucapannya terpotong.
"Cukup Gio," potong Vano lalu menarik nafas dalam dalam.
"Sampai saat ini bukti yang kita cari belum juga di temukan, kita gak boleh nyerah Gio," ucap Vano dengan Optimis.
"Sha, tunggu saya Sha, dengan saya tau kamu udah di Indonesia akan lebih mudah bagi saya menemui kamu secara langsung," gumamnya dalam hati.
"Tunggu saya menyelesaikan masalah ini saya pasti menemui kamu Sha," lanjutnya
Vano masih saja memikirkan Shasha, meskipun ia tau masalah yang kini di hadapinya bukan masalah sepele.
...****************...
...Rumah Orang Tua Raka...
Sementara itu beberapa jam mengendarai mobil dari Surabaya ke Jakarta Raka pun tiba di rumah orang tuanya.
Raka membunyikan bel rumah tersebut di depan gerbang, tak lama kemudian datang ART.
"Ya ampun Mas Raka, gimana kabarnya mas? udah lama bibi gak ketemu sama Mas Raka," ucap ART tersebut.
"Baik bi, bibi gimana?" tanya balik Raka dengan ramah.
"Bibi baik juga mas," jawab ART tersebut dengan singkat.
"Bi, ibu sama ayah ada kan?" tanya Raka.
"Ada mas, kebetulan bapak lagi gak enak badan jadi gak pergi ke kantor udah dua hari ini, kalau ibu baru aja nyampe katanya baru selesai meeting," jelas ART tersebut.
"Bi mereka masih suka berantem?" tanya Raka lirih.
__ADS_1
"Iya mas, mas Raka juga kan tau gimana Ibu sama Bapak, makanya bibi tenang juga kalau mas Raka gak tinggal di rumah bibi kasian sama mas Raka yang selalu jadi pelampiasan mereka bahkan selalu menganggap mas Raka anak yang tak berguna, bibi suka sedih mas dengernya," ucap ART tersebut.
Sejak kecil Raka memang terlahir dari keluarga berada hanya saja orang tuanya sibuk bekerja bahkan ketika bertemu di rumah mereka selalu selisih paham dan menjadikan Raka pelampiasan.
Raka yang sedari kecil menerima tekanan tersebut mencoba mencari pelarian hingga ia terjebak di dunia kelam.
Namun semenjak mengenal Shasha apalagi dia akan menjadi seorang ayah beragsur angsur kebiasaan buruknya tak dilakukanya lagi.
"Oh iya mas, ngomong ngomong mas Raka ada apa pulang?" tanya ART tersebut penasaran.
"Aku mau nikah bi," jawabnya singkat sambil tersenyum.
"Ya ampun mas, bibi gak nyangka selamat ya mas bibi ikut seneng," ucapnya.
"Makasih ya bi, kalau gitu tolong dong ini gerbangnya bukain aku mau masuk," ucapnya.
"Oh iya mas bibi lupa, hehe"
Raka pun masuk kedalam Rumahnya orang tuanya dan menemui mereka di kamar.
"Ibu, ayah, Raka pulang," ucap Raka lirih.
Ayah nya yang sedang duduk di tempat tidur menoleh ke arah pintu kamar dan melihat Raka, sementara ibunya yang sedang mencari baju di lemarinhya pun melihat ke arah Raka.
"Tumben kamu pulang ada masalah apa lagi kak?" tanya ayahnya tegas.
"Mas, kamu aja yang bicara sama dia jangan halangi aku lagi mas aku udah cape berantem terus sama kamu, aku mau ke kantor dulu, ada klain yang mau konsultasi," ucap Ibunya lalu berusaha pergi.
"Yah, Bu Raka mau nikah!" ucap Raka tegas.
"Raka hanya minta sekali ini aja, kalian dengerin Raka," lanjutnya.
Mereka pun syok, ibunya yang hendak pergi tiba tiba terdiam tak melangkah pergi.
Raka pun dengan detail menceritakan semuanya pada mereka.
Mendengar itu Raka di pukuli dengan kasar oleh ayahnya, sementara ibunya terus memarahi Raka.
"Kenapa sih Ka, tiap kamu pulang selalu bawa masalah sekarang kamu ngehamilin anak orang, mau di taruh dimana muka ibu Sha kalau temen temen ibu tau kamu kaya gitu," gerutunya ibunya.
"Bukan cuma kamu Bu, saya juga malu punya anak kaya dia," saut ayahnya.
"Ini semua gara gara kamu gak bisa didik anak, sibuk kerja terus!" bentak ayah Raka.
"Apa kamu bilang, kamu juga sama mas," belanya.
"Cukup!" teriak Raka.
"Yah, Bu kalian boleh benci Raka tapi Raka mohon temenin kali ini aja kalian bantu Raka, Raka sedang memperjuangkan wanita yang Raka cintai dan anak yang Raka nantikan," ujarnya .
Orang tua Raka terdiam mendengar ucapan anaknya itu.
"Yaudah, Ibu usahain," jawabnya singkat lalu pergi meninggalkan mereka.
"Keluar kamu Kak, keluar!" bentak ayahnya.
Raka pun keluar dengan kesedihan dihatinya, tapi Raka sedikit lega setelah mengetahui ibunya setuju untuk menemani dia.
Beberapa waktu memikirkan masalah Raka, akhirnya dengan berat hati ayahnya bersedia untuk menemani Raka menikah di Surabaya.
Malam ini Raka tidur di kamarnya yang sudah lama tak ditempati.
"Sha, semoga rencana pernikahan kita berjalan lancar," gamam Raka dalam hati.
"Van, maafin gue, tapi salah lo juga ngapain lo ingkar janji Van, lo nyakitin Shasha lagi," lanjutnya.
...****************...
...Satu Minggu kemudian...
Raka dan keluarga yang sudah dengan segala kesiapannya berangkat ke Surabaya dengan mengendarai tiga mobil. Sementara itu Rumah Wanto sudah di hias sederhana dan mereka sedang bersiap siap menunggu kedatangan pengantin Pria.
Sementara itu sampai sekarang Vano belum juga tau bahwa Raka akan menikah dengan Shasha hari ini, dan dia masih sibuk dengan kasus yang menyeretnya.
Ketika sedang berada di kantornya Vano iseng bermain handphone, ia melihat media sosial yang sudah lama tak dibukanya.
"Ini kan Mba Nia, udah lama saya gak dengar kabar soal dia," ucap Vano yang sedang melihat story Nia dua jam yang lalu, Nia adalah Kakak Perempuan Raka.
"Ini mereka mau kemana?" gumamnya sendiri setelah melihat story Nia yang memposting Vidio keberangkatan mereka ke Surabaya.
"Kok mereka kaya mau hantara nikah gitu," ucap Vano heran.
Vano pun melihat Caption di story Nia.
"Semoga lancar, akhirnya si bungsu dewasa dan bisa nikah juga, hehe. Go to Surabaya."
Setelah membaca caption tersebut Vano langsung bisa menebak bahwa Raka akan menikah dengan Shasha.
"Nggak bisa, enggak ... Sha kamu gak boleh nikah," gumamnya panik.
__ADS_1
"Saya gak bisa diam aja, saya harus pergi sekarang juga kesana."
Bersambung...