
"Kak Vano, aku harus gimana lagi agar kakak mencintai aku," lirih Nara.
Obsesinya sejak dulu pada Vano membuat Nara tak gentar sedikitpun untuk mendapatkan hati Vano, meskipun terkadang ia membenci keadaan itu.
Berusaha menenangkan diri, Nara duduk sangat lama di mobil Vano.
Amarahnya yang barusan memuncak, membuatnya kehausan. Ia berusaha mencari minuman di mobil tersebut tapi tak kunjung ia temukan.
Justru secara tak terduga yang Nara temukan adalah dua buah Foto, foto Shasha dan Vano yang selalu melekat di mobil tersebut.
Melihat itu Nara semakin murka.
"Kak Vano, aku rela ninggalin cita cita aku demi kamu, demi lebih dekat dengan kamu, ini yang kamu bales ke aku!" teriak Nara.
Foto tersebut di sobek Nara dan di lempar keluar.
Nara pun pergi dari mobil Vano dengan murka.
...****************...
Menjelang malam hari Shasha selalu risau, pikirannya kalut, meskipun dia menikah dengan ayah dari bayi yang di kandungnya tapi karena tiada cinta Shasha sangat keberatan jika Raka berniat menyentuhnya.
"Sha? kenapa kamu?" tanya Raka malam itu.
Sejak tadi Shasha memang terlihat tak tenang bahkan wajahnya menjadi sangat pucat.
"Sha kalau kamu gak nyaman tidur sama aku, aku tidur di sofa itu aja," ungkapnya tiba tiba lalu melirik sopa panjang di kamar tersebut.
"Loh kok kak Raka tau isi hati aku ya," gumam Shasha dalam hati.
"Kamu diem aja berarti iya," ucap Raka menduga duga.
"Enggak Kak, aku ... aku," jawab Shasha tak jelas.
"Tuh kan fiks emang bener, udah Sha aku tidur di sofa aja, lagian kalau aku tiba tiba berubah pikiran kan aku bisa pindah lagi, hehe," candanya.
Shasha terdiam melamun.
"Becanda Sha, liat nih aku pindah," ungkap Raka lalu beranjak pergi dari kasur.
"Maafin aku kak," lirih Shasha.
"Santai aja, cepet kamu tidur!" seru Raka.
Dengan perasaan yang merasa bersalah Shasha perlahan naik ke kasur menarik selimut tebalnya lalu tertidur.
Melihat Shasha sudah tertidur pulas Raka menghampiri nya.
"Sha, walaupun kamu gak ngomong kamu gak mau tidur sama aku, tapi gelagat kamu jelas banget Sha," gumamnya dalam hati.
"Sulit selaki memuat kamu mencintai aku Sha, bahkan setelah kita menikah."
"Aku gak akan menyerah Sha," lirihnya dalam hati lalu mengelus rambut Shasha.
"Do'ain papanya nak biar bisa dapetin hati mama," gumam Raka lalu mengelus perut Shasha.
Sementara itu Vano yang sudah berada di rumahnya sejak tadi, hingga malam tiba sulit sekali baginya untuk istirahat dengan tenang.
"Satu persatu masalah kelar," gumamnya.
"Tapi lagi lagi, saya harus kecewa pertama karena Raka sekarang Gio."
"Sha kamu juga mungkin sekarang sedang berada di pelukan Raka," lirih Vano serasa dadanya terasa sesak.
Tak mau ambil pusing Vano kemudian merebahkan dirinya ke kasur, mencoba agar terlelap tidur tapi tetap tak bisa.
"Argh!" teriak Vano.
Vano seketika berdiri lalu membuka pintu kaca kamarnya yang langsung ke arah balkon rumahnya, Vano duduk sendiri merenungkan segala masalah yang dihadapinya, terutama masalah hati yang seperti tak pernah berujung.
"Sulit sekali saya melupakan kamu Sha," ungkapnya lirih.
...****************...
...Satu Bulan Kemudian...
Gugatan yang menjerat perusahaan Vano telah Clear dengan sendirinya, namun justru komplotan Pram yang berusaha menjebaknya kini benar benar mendekam di balik jeruji, nama baik perusahaannya telah kembali, Vano menjalani bisnis dengan sukses.
Disisin lain pernikahan Raka dan Shasha sudah menginjak hari ke tiga puluh, terasa singkat bagi Raka namun terasa sangat lama bagi Shasha.
Kebahagiaan yang membuat waktu terasa begitu singkat, namun penderitaan yang membuat waktu terasa sangat lama.
Masih sama sejak diawal, pernikahannya ini menyisakan luka bagi Shasha yang hatinya masih mengharapkan orang lain.
Tak peduli betapa sempurna suaminya, pandangannya hanya untuk Vano seorang.
Bahkan sampai detik ini, Raka belum menyentuh Shasha sama sekali.
Mereka semakin dekat, tapi bukan kedekatan bak sepasang sejoli yang berpacaran tapi kedekatan pertemanan yang sangat erat.
Bukan karena tak ingin, ia tau Shasha belum mencintainya.
"Kamu udah bangun Kak?" tanya Shasha yang sedang sibuk mengoseng oseng nasi goreng yang sedang di buatnya.
"Iya Sha, kamu lagi masak apa?" tanya Raka dengan mata yang masih remang remang.
"Biasa kak, kamu ke toilet dulu cuci muka sana," ujar Shasha.
"Siap," jawab Raka singkat.
Raka kembali dengan wajah yang lebih Fresh.
"Hai istri, kamu masak nasi goreng kesukaan aku kan?" tanya Raka kemudian menghampiri Shasha.
"Iya Kak," jawab Shasha singkat.
Seperti biasa di pagi hari yang cerah mereka sarapan bersama dan berbagi tugas mengurus rumah.
Raka memang sangat jarang ke kantornya, wajar saja berbisnis game online tak sesibuk orang orang sehingga waktunya tak banyak tersita.
"Kita mau ngapain sekarang Sha, apa tugas aku?" tanya Raka.
"Udah beres semua kak, sekarang kita cukur rumput di halaman aja sekalian siramin bunga bunga aku," ucap Shasha lalu tersenyum.
"Ayo ... let's go."
Akhir akhir ini Shasha memang sedang hobi merawat tanaman, karena tak ada kegiatan ia menyalurkan waktunya untuk bercocok tanam.
"Setelah ada kamu halaman rumah aku udah kaya taman Sha," ungkap Raka.
"Bagus Sha, jadi suasana Rumah ini terasa lebih hidup. Makasih ya Sha," celoteh Raka.
Shasha hanya tersenyum.
Sementara itu entah mengapa pagi ini ketika berangkat ke Kantornya ia memutar jalan, jalan yang ia lalui kini melintasi Rumah Raka.
Secara tak terduga kebetulan Raka dan Shasha sedang di luar Rumah.
Vano membuka kaca mobilnya, lalu melihat ke arah mereka di kejauhan.
"Sha, aku deh yang nyiram sini! gak bisa aku nyukur rumputnya, gak seru ah," celoteh Raka yang berusaha menukar gunting yang di pegangnya dengan selang air yang di pagang Shasha.
__ADS_1
"Yaudah deh iya, nih," Shasha menukarkan barang tersebut.
"Jangan terlalu banyak ya kak nyiramnya," Shasha mengingatkan.
"Iya istri," jawabnya lalu tersenyum.
Jiwa jail Raka kambuh kembali, ia menyemprotkan kan air ke arah Shasha yang sedang fokus dengan gunting dan rumputnya.
"Ihh Kak Raka!" teriak Shasha.
"Ble .... " Raka menjulurkan lidahnya semakin membuat Shasha kesal.
"Awas ya kamu, sini kak!" teriaknya.
Raka berlari namun justru terkejar oleh wanita hamil seperti Shasha.
Shasha pun merebut selang air yang di pegang Raka dan berusaha membalas.
Air pun membasahi tubuh Raka.
Shasha tertawa terbahak bahak melihat Raka yang basah kuyup, sampai rambutnya kelimis.
"Aku kejar kamu Sha," Raka pun berlari ke arah Shasha.
Shasha terbirit birit berlari sambil membawa selang di tangannya.
Sesekali Shasha menoleh dan menyemprotkan kan kembali air.
Kaki Shasha tersandung dan hampir saja jatuh, tapi untung Raka sigap berlari dan berhasil menangkap Shasha yang badannya hampir saja terhempas ke tanah.
Tiba tiba Raka memeluk erat Shasha.
"Bunda mungil gak boleh lari lari, kalau nanti jatuh bahaya sayang," ucap Raka penuh kasih.
"Ih kak lepasin aku!" teriak Shasha berusaha melepaskan diri.
"Nggak akan, nanti kamu lari lari lagi," ungkap Raka.
Shasha pun terdiam pasrah berada di pelukan Raka lama sekali.
Mereka tak sadar di kejauhan Vano memperhatikan mereka.
"Kamu terlihat bahagia Sha, kamu semakin dekat dengan Raka," lirihnya dengan mata berkaca kaca.
Hatinya sakit terasa seperti di sayat sayat, ia merasa sangat terpukul melihat kemesraan Shasha dan Raka.
"Harusnya tadi gak lewat sini," lirih Vano.
Dengan kekecewaan di hatinya, Vano menutup kembali kaca mobil dan melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
Sementara itu Raka dan Shasha yang basah kuyup ke rumah.
...****************...
...Kantor Vano...
Tak butuh waktu lama, Vano pun tiba di kantornya.
Suasana kantor tak seperti biasa, beberapa karyawan yang kebetulan bertemu Vano menunjukan senyum bahagia.
"Selamat pagi pak," sapa salah satu karyawan dengan senyuman lebar.
"Pagi pak," sapa karyawan lain.
"Selamat pagi pak, selamat ya," saut karyawan yang lainnya.
"Ini karyawan kenapa? aneh," gumamnya dalam hati.
dan ternyata di ruangan tersebut sudah ada Nara.
"Kak," sapa Nara tersenyum hangat.
"Kamu ... ngapain kamu kesini Ra?" tanya Vano sinis.
Nara tersenyum lebar.
"Kalau gak ada perlu di bicarakan silahkan pergi dari sini Ra," usir Vano kejam.
"Saya sudah bilang Ra, saya mau pertunangan ini dibatalkan jadi jangan hubungi saya lagi Ra," ungkap Vano serius.
"Percuma kamu bersama saya, kamu gak akan bahagia Ra, saya gak bisa memberikan cinta untuk kamu," lanjut Vano.
"Jadi saya mohon Ra, saya minta maaf. Saya sadar perbuatan saya sangat keterlaluan, tapi membatalkan pernikahan adalah pilihan terbaik, kamu gak akan semakin sakit jika terus bersama sama," jelas Vano.
"Kenapa Kak? masih mengharapkan Shasha?" tanya Nara mendesak.
Vano terdiam.
"Kenapa diam kak? benar kan yang aku bilang kamu emang masih mengharapkan dia tapi kamu gak bisa dapetin dia lagi karena ditikung teman," ungkap Nara.
"Benci kan kamu ke Kak Raka? kesal bukan kak? itulah yang aku rasakan saat Shasha berhasil merebut hati kamu," lanjutnya marah.
"Itu sesuatu yang berbeda Ra, lagian Shasha gak pernah salah dia mana tau kamu menyukai aku selama ini," ucap Vano membela Shasha.
"Cukup kak!" teriak Nara.
"Aku gak mau denger ocehan kamu tentang Shasha lagi, apalagi kamu belain dia!" teriaknya lagi.
Vano hanya tersenyum sinis.
"Nih Kak," Nara menyodorkan paper bag di meja Vano.
"Apa ini?" tanya Vano dingin tanpa senyuman.
"Buka aja kak," jawab Nara ketus.
Vano membuka paper bag itu.
Gebrak
Vano memukul dengan keras meja kerjanya.
"Apa apaan ini Ra!" teriak Vano marah.
"Itu hasil jerih payah aku selama satu bulan," ungkap Nara.
"Berani beraninya kamu," lirih Vano.
Ternyata yang terdapat di paper bag tersebut adalah surat undangan pernikahan antara Nara dan Vano.
Dalam surat undangan itu tertera jelas pernikahan tersebut di adakan Minggu depan.
"Saya gak mau!" teriak Vano.
"Terserah Kak, kalau Kakak mau mempermalukan diri sendiri dan keluarga Kak Vano," ungkap Nara yang semakin membuat Vano tak mengerti.
"Satu bulan kebelakang aku udah nyiapin ini semua Kak, semua tanpa terkecuali! ini udah seratus persen Kak tinggal kita tunggu minggu depan, kamu siap siap aja kak."
"Lagian aku udah nyebarin undangan ke temen temen aku, temen temen kamu, juga rekan bisnis kamu. Aku susah payah kak nyari informasi tentang mereka, tapi akhirnya aku dapet juga," ungkap Nara tersenyum sinis.
"Pantesan semua karyawan aneh, ngucapin selamat segala. Ternyata ini yang mereka maksud," gumam Vano dalam hati. "Keterlaluan kamu Nara!" luapan kekesalan Vano.
__ADS_1
"Saya gak akan mau menikah dengan wanita licik seperti kamu, lagian berani berani kamu bertindak sendiri tanpa persetujuan saya dan orang tua saya."
"Kamu salah besar kak, sebelum kesini aku datang ke rumah orang tua kamu dan aku berhasil meyakinkan mereka. Pada akhirnya mereka pun menyambut hangat rencana aku ini, mereka mau kita nikah Kak, kata siapa mereka gak setuju!" ujar Nara tegas.
"Keterlaluan kamu Nara!" ucap Vano marah.
"Kamu tenangin diri kamu dulu, aku pergi ya, sampai ketemu Minggu depan,"
"Dah ... emuachh," ungkap Nara lalu melambaikan tangannya.
"Arghhh ... " teriak Vano.
Nara berjalan keluar melewati lobi.
"Itu calon istri bos kita?" saut salah satu karyawan berbisik.
"Iya ... denger denger dia calon dokter," bisik karyawan yang lainnya.
"Itu yang cewek yang dulu kemu ceritaan? yang kata kamu datang bawa bingkisan, terus nitipin ke kamu," tanya salah satu karyawan.
"Emm ... bukan deh kayanya, posturnya hampir sama cuma yang dulu datang itu lebih pendek dari wanita itu," jawab karyawan resepsionis.
"Udah udah jangan ngegosip mulu, kerja kerja," saut karyawan lain.
Mereka pun seketika bubar.
"Kak Vano, aku terpaksa melakukan ini. Aku cuma mau kita bersama, mungkin setelah kamu nikah sama aku, kamu bisa lupain Shasha," gumam Nara dalam hati sembari membuka pintu mobil dan beranjak pergi.
Gaya nekat Nara tak seperti Nara dulu yang pendiam bahkan pemalu, Nara berubah seketika karena cinta butanya pada Vano.
...****************...
...Rumah Raka...
Tok tok tok
Suara pintu menggema, menandakan ada tamu yang datang.
"Siapa sih bertamu pagi pagi gini," celoteh Raka yang sedang mengelap ngelap rambutnya yang baru saja di keramas.
"Gak tau kak, kalau gitu aku bukain dulu pintunya," ucap Shasha yang kemudian hendak beranjak pergi.
"Eitss ... " Raka menarik lengan Shasha.
"Biar suami yang bukain pintu," ucapnya tersenyum lalu pergi.
Tak lama setelah pergi membuka pintu tiba tiba terdengar keributan.
"Ada apa sih, kenapa ribut ribut gitu," tanya Shasha sendiri.
"Lebih baik aku liat deh."
Shasha berlari kedepan rumah.
"Ya ampun, aku kira siapa yang datang."
"Vira," sapa Shasha.
"Shasha!" teriak Vira.
Saking senangnya Shasha menabrak Raka yang tengah berdiri di depan pintu, ia tak menghiraukannya lalu memeluk Vira.
"Vir, kamu kok gak bilang mau kesini."
"Pagi pagi gini udah ada yang bikin aku badmood Sha," keluh Vira manja.
"Loh siapa Vir?" tanya Shasha penasaran.
"Tuh suami nyebelin kamu, masak aku gak boleh masuk," ungkapnya kesal.
"Ih rumah rumah gue," celoteh Raka.
"Kebiasaan deh kalian, udah udah ... kamu masuk aja Vir," ajak Shasha.
"Kak Raka jangan gitu, Vira kan temen aku," ungkap Shasha.
"Iya deh iya, ini karena Shasha yang suruh ya," jawab Raka pada Vira.
"Ble ... " Vira menjulurkan lidahnya sambil berjalan masuk ke dalam Rumah.
"Ih dasar cewek aneh," gumam Raka.
"Kak ayo!" seru Shasha.
Mereka duduk diruang tamu bersama
"Gimana kabar kamu Vir?" tanya Shasha.
"Baik Sha, kamu dan bayi kamu gimana?" tanya balik Vira.
"Kepo," celoteh Raka.
Vira melototi Raka.
"Nih cewe ngeselin juga, seandainya dia yang nemuin Vano waktu itu, mungkin Vano menolak tawaran Poernomo mentah mentah hari itu juga," gumamnya dalam hati.
"Gimana kabar papa kamu Vir?" tanya Shasha khawatir.
"Aku gak pernah kesana lagi Sha," ungkap Vira lirih.
"Udah Sha jangan bahas itu, aku ke sini mau nganterin sesuatu," ungkap Vira.
"Apa Vir?" tanya Shasha penasaran
"Ini undangan pernikahan Nara dan Vano, Nara nitip ini ke aku Sha," lirih Shasha.
"Dia juga ngundang aku," ungkapnya lagi.
"Aku sih kesel pas dia datang ke kosan aku, tapi ya udah lah," lanjut Vira.
Shasha terdiam mendengar ucapan Vira.
Ia melihat undangan tersebut untuk memastikan.
Tanpa di sadari matanya berkaca kaca.
"Bener mereka akan menikah Vir?" tanya Shasha lirih.
"Iya lah Sha, masa aku bohong," ungkap Vira.
Menyadari Shasha berkaca kaca Vira heran.
"Kamu kenapa Sha?" tanya Vira penasaran.
"Jangan bilang kamu masih cinta sama dia!" tegas Vira.
Shasha masih terdiam.
"Kamu beneran masih cinta sama dia ya Sha?" tanya Vira mendesak.
Bersambung ...
__ADS_1