Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 6- Bukan Vino Tapi Shano


__ADS_3

Shasha terus berjalan kemudian sampai di parkiran depan Restoran.


"Ya ampun Vir Vir ... kamu malah ketiduran di mobil, katanya mau ngawasi keadaan di luar," gumam Shasha sendiri lalu tersenyum ketika melihat Vira tertidur dengan pulas.


Walaupun tak tega Shasha akhirnya membangunkan sahabatnya itu.


Tok tok tok


"Vir Vir bangun!" panggil Shasha setelah mengetuk pintu mobil.


Tak lama setelah itu Vira yang masih dengan mata remang remangnya membukakan pintu untuk Shasha.


Cekrek ... pintu mobil terbuka.


"Maaf ya Sha aku gak sengaja ketiduran, lagian kamu lama banget sih, tuh liat Nara juga udah nelponin lebih dari lima kali," keluh Vira.


"Iya maaf Vir," ucap Shasha.


"Jadi gimana tadi Sha?" tanya Vira penasaran.


"Ceritanya nanti sambil jalan aja Vir, biar kita agak cepetan ke rumah Nara," jawab Shasha sambil memakai sabuk pengaman bersiap untuk pergi.


"Oke deh capcus", jawab Vira lalu menyetir mobil nya.


Shasha dan Vira pun pergi, tak lama setelah mereka pergi Vano dan Raka keluar dari restoran dan kemudian pulang.


Shasha pun menceritakan pertemuannya tadi dengan Vano tanpa terlewat sedikit pun.


"Hahaha, Oh gitu ya Sha, aku yakin sih dia pasti ilfil banget sama kamu, apalagi kamu makan sebanyak itu," Vira pun tertawa lepas mengira bahwa Vano akal ilfil pada Shasha padahal justru sebenarnya Vano tertarik pada Shasha.


"Tapi yang aku heranin, siapa yang menyiapkan rencana romantis itu? apa mungkin papa atau Vano sendiri? terus kocaknya kenapa bisa ada cicak eh haha, tapi bisa aja jatuh dari atap kan Sha, tapi yang paling menarik bagi aku Sha seorang pemilik perusahaan sekaligus CEO itu ternyata takut banget sama cicak hewan kecil mainan aku," ungkap Vira yang terus tertawa.


Bukannya mendengarkan celotehan Vira tapi dia terus kepikiran kejadian tadi, kejadian yang membuat Shasha berhadapan dengan momen romantis yang tak pernah ia duga, tanpa Shasha sadari ia merasa senang karena perhatian ringan dari seorang pria dingin seperti Vano.


Shasha yang belum pernah dekat dengan pria dan tak pernah mendapatkan perhatian lebih dari laki laki selain dari paman nya membuatnya bahagia tak karuan, hatinya seperti berbunga bunga.


"Ya ampun Sha, udah jangan mikir aneh aneh," gumamnya dalam hati


"Vir kita beli makanan di warung nasi padang yang di depan itu aja," ajak Shasha.


Nasi padang memang makanan kesukaan mereka bertiga tak terkecuali Vira, sejak bertemu Shasha ia menyukai makanan yang terbilang sederhana.


"Oke Sha, capcus kita beli," jawab Vira.


Mereka pun pergi membeli makanan di Warung Nasi Padang kemudian pergi ke rumah Nara untuk menengok sahabat mereka itu.


...****************...


...Rumah Nara...


Setelah kurang lebih tiga puluh menit membeli dan menempuh perjalanan, mereka pun tiba di rumah Nara dan berkumpul di kamarnya


"Ra sorry yah kita lama," ucap Vira.


"Iya Ra maaf ya," Saut Shasha.


"Iya gapapa, justru makasih kalian udah kesini,"jawabnya singkat.


Shasha dan Vira merasa lega melihat keadaan Nara yang kini sudah membaik.


Saat berkumpul bersama bukan mereka namanya jika tak bicara ngaur dan becanda random.


"Kalian makan dulu aja, jangan becanda mulu," seru Shasha.


Mereka pun makan kecuali Shasha.


"Sha kok kamu gak makan sih?", tanya Nara heran.


"Tadi Shasha makan duluan, katanya gak kuat lapar," jawab Vira bohong.


Nara percaya dan Shasha pun mengangguk seolah membenarkan ucapan Vira.


Setelah cukup lama di rumah Nara, Shasha dan Vira memutuskan untuk pulang walaupun hampir tengah malam karena orang tua nara yang lumayan protektif, mereka bisa ke rumah Nara juga karena malam itu orang tuanya sedang keluar dan belum pulang ke rumah.


Nara pun mengantar Shasha dan Vira ke depan rumahnya


"Hati hati ya, nanti kalau orang tua aku gak ada kalian bisa main lagi," ucap Nara.


"Iya Ra, kamu cepet sembuh ya jaga kesehatan juga," ungkap Shasha penuh perhatian pada sahabatnya.


Shasha dan vira pun pulang, tak lupa sebelumnya Vira telah bertukar pakaian dengan Shasha sebelum ke rumah Nara.


...****************...


...Keesokan harinya di Rumah Vira...


Pagi pagi sekali Poernomo membangunkan Vira anak yang paling di sayangi itu.


"Sayang bangun," sautnya pelan.


Setelah beberapa lama Vira pun bangun membuka mata nya dan terus menguap beberapa kali, ia kaget saat melihat ayahnya duduk di samping nya sambil tersenyum.


"Pa," ucap Vira kaget.


"Ngapain pagi pagi gini bangunin aku, terus senyum senyum gak jelas gitu?," tanya Vira keheranan.


Poernomo memperlihatkan pesan di handphone nya dari Vano.


"Kamu liat pesan dari Vano ini", ucap Poernomo sembari memperlihatkan pesan di handphonenya.


Tak pikir panjang Vira Refleks membaca pesan tersebut.


"Malam om, setelah saya pertimbangkan sepertinya perusahaan kita bisa menjalin kerja sama kebetulan saya selalu kekurangan bahan baku untuk proyek kecil, saya liat hasil produksi perusahaan om juga lumayan berkualitas"


Dengan matanya yang masih remang remang kemudian Vira membaca pesan Vano yang ke dua.


"Soal anak om Vira, saya rasa masih harus mengenalnya lebih jauh karena jujur saja saya masih belum bisa memastikan perasaan saya"


Vira yang sangat lemot itu tak dapat memahami pesan Vano kepada ayahnya.


"Jadi pesan ini apa maksudnya pa?" tanya Vira.


"Itu artinya dia memberikan kesempatan pada kamu Vir dan sepertinya dia emang tertarik sama kamu, itu artinya papa berhasil" ungkap Poernomo pada putrinya.


"Pokoknya kamu harus bantu papa Bir, gak sia sia papa punya anak cantik seperti kamu yang bisa memikat seorang Vano yang terkenal dingin sama wanita itu", ucap Poernomo senang.


Vira pun langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur saking syok nya ia merasa sia sia melibatkan Shasha, sahabatnya.


"Pa emang kenapa aku harus mau sama Vano hah? aku gak mau ketemu dia lagi," Vira menggerutu.


"Nanti kalau waktu nya papa kasih tau, sekarang tugas kamu bikin dia nyaman dan sayang sama kamu," tegas Poernomo


"Papa tega!" teriak Vira.


Walaupun tak tega pada putrinya, Poernomo pun meninggalkan Vira seorang diri di kamarnya.


Tak lupa Poernomo kemudian mengabari Pram berita baik ini, meskipun dalam hati nya sedikit tak enak karena mempertaruhkan kebahagiaan anaknya meskipun hanya sementara.

__ADS_1


Vira kesal pada papanya, ia berniat untuk menelpon Shasha dan menceritakan berita buruk tersebut, namun bukan nya menelpon Shasha Vira spontan melihat notifikasi pesan lalu membuka pesan tersebut, setelah membuka pesan justru ia semakin kesal lagi.


"Selamat pagi Vira , ini saya Raka teman nya Vano yang tadi saya punya no kamu nyuri dari handphone Vano. Saya cuma mau kasih tau kamu jangan keberatan dengan sikap dingin Vano, meskipun dia dingin sebenarnya hati nya sangat hangat kok, saya harap kalian bisa saling mengenal lagi, Vano minta ketemu lagi minggu depan di rumah kamu atau kalau engga di rumah Vano juga boleh, tapi kaya nya Vano gengsi ngajak kamu dia gak berani chat kamu maka nya saya inisiatif sendiringe chat kamu," pesan dari Raka.


Vira pun spontan membalas pesan Raka tersebut.


"Kak Raka, bilang ke kak Vano gak usah main ke rumah saya ke rumah dia aja," balas Vira.


Vira tak mau Vano berkunjung ke rumah nya yang ada semua sandiwara nya bersama Shasha akan gagal total.


"Ternyata benar kata papa kamu, kamu emang ngebet banget sama Vano wkwk", jawaban pesan dari Raka


Pesan dari Raka tersebut hanya di lihat oleh Vira ia pun menaruh handphone nya dengan kesal.


"Lebih baik nanti aja cerita ke Shasha nya di kampus aja, aduh gagal!" ucap Vira sendiri sambil berteriak.


...****************...


...Kampus...


Setelah tiba di kampus Vira langsung menemui Shasha, Vira lebih leluasa bercerita karena Nara hari ini belum masuk kuliah.


Vira pun menceritakan pesan Bano pada papa nya itu juga tak lupa pesan Raka yang membuatnya kesal pagi tadi, Shasha pun tak menyangka bahwa Vano masih mau mengenal nya.


"Sha maafin aku ya melibat kan kamu, kamu masih mau kan bantuin aku temui Vano? aku mohon Sha mau ya," ucap Vira dengan memasang wajah melasnya.


Melihat Vira memohon seperti itu ia tak tega dan terpaksa menuruti kemauan Vira.


"Iya Vir aku bersedia demi kamu, tapi aku harus bersikap gimana? harus kaya kemarin?" tanya Shasha.


"Makasih ya Sha kamu emang sahabat terbaik", ucap Vira dan kemudian memeluk Shasha.


"Kita gak usah pake cara itu lagi deh malah gagal kan Sha, aku belum kefikiran tapi sementara waktu kamu bersikap biasa aja deh, nanti kita pikirin cara lain," lanjut Vira.


...****************...


...Satu minggu kemudian....


Hari ini lumayan berat bagi Shasha harus menjalani hari yang seharusnya di lalui oleh Vira, ia yang sudah di jemput Vira pagi pagi berangkat menuju rumah Vano yang sebelumnya alamat Vano telah di kirim oleh Raka.


Sebenar nya minggu ini Bano belum ingin menemui Vira (Shasha) karena gengsi nya yang tinggi itu, Vano tak tau bahwa Raka berinisiatif sendiri agar Vira (Shasha) tetap datang.


Shasha dan Vira pun tiba di rumah pribadi Vano yang luas juga mewah, Shasha turun dari mobil dan di jemput Raka di gerbang sementara Vira pergi sebelum Raka sampai.


"Pagi nona, sudah siap menjemput cinta," Raka menggoda Shasha.


Shasha hanya tersenyum tipis, mereka pun masuk ke rumah.


"Kamu tau minggu jam segini Vano masih tidur pulas, kita bangunin di kamarnya," ajak Raka sambil menarik lengan Shasha.


"Eh tunggu kak, kita ke kamar nya? enggak ah kak aku gak mau, aku tunggu di sini aja," tolak Shasha.


"Gapapa, ayo!," ucap Raka lalu menarik tangan kecil Shasha yang tak bertenaga.


Raka membawa Shasha naik tangga kemudian masuk ke kamar Vano.


"Nona coba kamu bangunin dia," Raka memerintah Shasha namun Shasha tetap enggan.


"Gak mau kak, aku mau keluar lagi ah," Shasha berusaha kabur dari jangkauan Raka.


Mereka terus berdebat sampai membangun kan Vano yang tertidur dengan mengenakan piyama hitam, Vano kaget melihat Vira (Shasha) berada di kamar nya dan ia pun marah.


"Ngapain kamu di kamar saya pergi sana! jangan mentang mentang saya ngasih kamu harapan kamu bisa seenak nya aja ke rumah saya dan gak tau malu masuk kamar saya!" bentak Vano.


"Lagian ngapain kamu kesini," lanjutnya ketus.


"Tenang bro ini ulah gue, lagian lo susah bangun dari tadi gue bangunin tidur lagi tidur lagi," Raka menggerutu.


Vano pun diam dan merasa sedikit bersalah telah membentak dan menuduh Shasha tapi dengan gengsi nya itu ia bahkan tak meminta maaf pada Shasha.


"Gue mandi dulu lo beliin sarapan Ka, kamu tunggu aja di ruang tamu," ucap Vano.


"Oke, ayo nona mungil kita ke bawah lagi."


Raka dan Shasha pun pergi ke bawah, raka langsung bergegas membeli makanan sedangkan Shasha menunggu di ruang tamu sambil melihat lihat rumah Vano.


Beberapa menit kemudian Vano turun dengan pakaian santai nya serta dengan wajahnya yang tampak lebih segar setelah mandi.


Mendengar langkah kaki Shasha spontan menoleh ke arah tangga.


"Wah, ternyata kak vano jauh lebih tampan dengan pakaian seperti itu," ucap Shasha spontan dalam hati tanpa ia sadari.


Melihat Shasha yang terus memperhatikan nya Vano sedikit gr dan salah tingkah hingga tak sengaja ia menabrak meja di depan, Shasha pun refleks tertawa pelan namun tetap terdengar oleh Vano.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Vano sinis.


"Engga kok," jawab nya lalu tersenyum manis.


Vano duduk dan menghampiri Shasha, namun Vano sama sekali tak berbicara begitu pula dengan Shasha.


Shasha dan Bano menunggu Raka lumayan lama, akhirnya Bano pun menelpon Raka.


"Lo di mana sih lama banget?" tanya Vano di sambungan telepon.


"Soryy ka, ini mobil gue beneran mogok," jawab Raka.


"Lo bohong kan, cepetan!" ucap Vano tegas.


"Gue serius, ini gue la--" kata Raka yang tak selesai karena Vano langsung mematikan telponnya.


Shasha keheranan melihat perilaku Vano yang jutek bahkan terhadap sahabatnya sendiri.


"Kakak belum sarapan kan?" tanya Shasha.


"Iya, tapi saya gak lapar kok," jawab Vano datar.


Tapi tiba-tiba suara perut Vano berbunyi hingga membuat Shasha tersenyum dan Vano pun sedikit malu.


"Biar aku beliin ya kak, kebetulan aku juga belum sarapan,* ungkap Shasha yang memang belum sarapan karena terbur buru di jemput Vira


"Nggak, kalau kamu beli takut gak sesuai selera saya, kamu kan belum tau selera saya gimana," jawab Vano ketus.


"Kamu masakin saya, saya temenin dan arahin kamu," lanjut Vano lalu berjalan ke dapur meninggalkan Shasha.


Shasha lalu menyusul Vano, Vano sengaja menguji Shasha untuk melihat kemampuan memasak nya karena ia ingin mempunyai calon istri yang pandai memasak.


Shasha memang terbiasa memasak dan juga sudah beberapa tahun ia bekerja di restoran, masak memasak memang kegiatan wajib nya setiap hari.


Shasha pun memasak makanan yang di ingin kan Vano yaitu sup ayam, ia dengan lihai memotong sayuran dan meracik bumbu.


"Bukan imut lagi, tapi dia jauh lebih cantik ketika masak," ucap Vano dalam hati.


Setelah beberapa lama sup ayam yang di masak Shasha pun hampir matang.


"Udah mateng belum lama banget?" tanya Vano.


"Bentar kak tinggal kasih bawang daun tunggu dua menit udah selesai," ucap Shasha yang akan memotong bawang daun.

__ADS_1


Baru saja dua kali memotong tak sengaja jari Ahasha tersayat pisau lalu berdarah.


"Aduh!" spontan Shasha teriak saat tangan nya tersayat pisau.


"Kamu kok gak hati hati, bentar saya ambil kotak obatnya dulu," seri vano yang kemudian bergegas langsung mengambil kotak obat di kamarnya.


"Sini saya bantu obatin, tahan ini pake alkohol pasti perih,"


Vano pun meraih tangan Shasha lalu membersihkan luka nya dengan tisu yang sudah di olesi alkohol lalu ia memakaikan plester pada jari mungil Shasha.


Shasha merasa perhatian dan kepedulian dari orang dingin seperti Vano jauh lebih membahagiakan, karena ia tau bahwa ketika orang cuek peduli itu tanda nya ia tulus.


"Udah, kamu tunggu aja di meja makan biar saya yang selesain ini, lagian tinggal motong bawang saya juga bisa," ucap Vano.


"Gapapa kak lagian ini luka kecil kok, aku aja," sangkal Shasha.


"Cepet tunggu di sana," Vano bersikeras.


"Gapapa kak aku aja, aku bis--" ucap Shasha terpotong karena Vano tiba tiba menggendong dan membawanya ke ruang makan.


"Kak ih turunin aku!" teriak Shasha yang terus berusaha turun.


"Lagian sih kamu keras kepala banget, kamu duduk aja di sini apa susahnya," ucap Vano lalu mendudukan Shasha ke kursi di ruang makan.


"Tunggu bentar," lanjut Vano lalu pergi.


Shasha pun hanya terdiam dan sesekali tersenyum sendiri, beberapa menit kemudian Bano kembali dan mereka pun makan bersama.


"Tumben kamu gak makan banyak kaya kemarin," celoteh Vano.


"He, aku diet kak," jawabnya ngasal.


"Udah kecil gitu diet atau perut kamu buncit?" tanya Vano canda.


Shasha tak menjawab, hanya menunjukkan wajanya cemberut.


Setelah makan mereka merasa bosan lalu bermain bersama moumou, kucing kesayangan vano.


"Moumou, kamu udah makan jangan tidur mulu ya, nanti Perut kamu buncit kaya kak Vira itu," celotehnya.


"Kak vano nyindir aku, udah tau aku kecil, lagian perut aku gak buncit kak," ucap Shasha menggerutu.


Vano hanya tersenyum, Shasha senang melihat vano yang jarang tersenyum kali ini tersenyum walaupun senyuman nya itu terkesan pelit tapi rasa nya ingin sekali ia memotret wajah Vano yang tersenyum itu untuk ia abadikan.


"Kita jalan jalan ya mou, kamu mau jalan-jalan kemana", ucap Vano pada kucing kesayangan nya itu yang sudah lama tak di ajak keluar rumah.


"Ini yang kamu bilang mirip aku? ya ampun Kak tega banget nyamain aku kaya hewan," celoteh Shasha.


Vano tersenyum.


"Moumou pasti kesepian banget, apalagi kalau kak vano kerja gimana kalau kita beli kucing untuk temenin moumou aja," usul Shasha.


Vano merasa ide Shasha kali ini benar juga akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke pasar hewan mencari teman moumou.


"Oke juga, ya udah kita pergi sekarang"


Mereka pun pergi ke pasar hewan mencari kucing baru untuk menemani moumou, setelah beberapa lama mereka menemukan kucing lucu berbulu putih.


Lalu mereka memutuskan pulang.


Saat perjalanan pulang Vano merasa bahagia membawa kucing kesayangan nya jalan jalan menemukan teman baru.


"Makasih kamu udah temenin saya cari temen buat moumou," ucap Vano sambil nyetir.


"Iya sama sama kak, oh iya temen nya moumou ini belum kita kasih nama, kira kira kaka mau kasih nama dia apa?" tanya Shasha.


Vano pun berfikir sejenak.


"Karena kita yang beli kucing ini, gimana kalau nama nya Vino (Vira Vano) kaya nya lumayan bagus," ucap Vano yang tak mencerminkan seperti dirinya yang dingin.


Shasha pun sedikit cemberut karena bukan namanya aslinya yang di ikut sertakan untuk nama kucing itu, lalu ia pun menyarankan nama baru meskipun terdengar aneh.


"Lebih baik shano aja, ya kak?"


"Apaan shano? engga ah nama yang jelek gak cocok," tolak Vano yang merasa nama itu aneh.


"Please, yah kan kamu mau di panggil shano?" ucap Shasha dengan tingkah menggemaskannya.


"Yaudah iya Shano aja," Vano pasrah.


Mereka pun tiba di rumah Vano, tak lama Shasha berpamitan untuk pulang karena hampir seharian dia bersama Vano, ia lupa ada tugas kuliah yang belum ia kerjakan.


"Kak aku pulang dulu, makasih udah ajak aku jalan jalan," ucap Shasha.


"Iya, makasih juga," Vano singkat.


"Mau saya anterin?" tanya Vano.


"Gak usah kak, aku naik taksi online aja," Shasha pun pergi keluar tentunya di anter Vano sambil menggendong kedua kucingnya sampai gerbang rumah.


Setelah menunggu akhirnya taksi online nya pun tiba


"Taksi nya udah ada kak, aku pulang dulu ya."


"Aku pergi dulu ya moumou," sambil mengelus bulu moumou


"Aku pergi ya Shano," lalu mencium kucing yang ia dapatkan bersama Vano.


"Dah kak," ucap Shasha sambil tersenyum lalu melambaikan tangan pada Vano.


Vano pun mengangguk dan pergi masuk ke rumah nya.


Shasha sengaja pulang tak di jemput vira agar Vano tak curiga, lalu mereka pun janjian di satu tempat dan seperti biasa menceritakan semua nya.


"Hmm ... gadis yang menarik, ngapain pas pertama ketemu dia bertingkah aneh padahal dengan gak bertingkah aneh juga dia menggemaskan," gumam Vano pelan


...****************...


...Beberapa bulan kemudian...


Setelah berkunjung ke rumah Vano, mereka lumayan sering bertemu.


Vira yang selalu pusing menghadapi masalah perjodohan itu tapi kali ini Vira tak mau ambil pusing dia hanya berharap keajaiban terjadi, berharap Vano membatalkan dan kemudian ia bisa bersama Pram kembali.


Sejak Pram berpura-pura memutuskan Vira dan papanya berpura pura menjodohkan nya dangan Vano, Pram dan Vira belum bertemu lagi. Vira yang sering berusaha menemui Pram justru selalu di tolak Pram dengan tegas.


...****************...


...Kantin kampus...


Shasha, Vira dan Nara seperti biasa ketika jam istirahat kuliah selalu kumpul bersama di kantin juga menyantap makanan favorit mereka masing-masing.


Vira yang sedang makan mie bakso favoritnya itu terus menikmati sesuap demi sesuap sambil main handphone milihat barang barang incarannya di merchent online.


Tiba tiba ada pesan masuk dan kemudian dia membuka pesannya.


"Selamat pagi mba Vira, saya Gio asisten pribadi nya pak Vano ingin memberitahukan bahwa weekend nanti mba vira harap mempersiapkan diri untuk berlibur ke pulau bersama pak Bano di luar kota"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2