
Mendengar pertanyaan Raka, vano menjadi sangat hampa, bagaimana tidak jalannya untuk bersama dengan Shasha semakin jauh.
Pertama karena kesalahpahaman yang membuat Shasha ternodai dan menghilang tiba tiba, kedua setelah ditemukan justru Shasha telah dilamar laki laki lain dan bahkan vano pun terikat tali pertunangan dengan Nara yang merupakan sahabat terbaik Shasha, lalu sekarang vano harus menerima kenyataan Shasha mengandung anak dari sahabat baiknya, Raka.
"Van, kenapa gue gak pernah berpikir kalau bisa aja Shasha hamil, kenapa hal itu gak pernah terlintas di pikiran gue Van", Ucap Raka yang tak kuasa membendung kesedihannya.
"Ya ampun sha, meskipun anak itu tak kamu harapkan, tapi kamu mengorbakan segalanya untuk melahirkan dia ke dunia ini, maafin aku sha", guman Raka dalam hati.
"Gue gak tau harus ngomong apa ka, tapi gue ngerasa hati gie sakit ka", ucap vano singkat
Setelah obrolan singkat antara vano dan Raka tersebut, Mereka pergi menyusul Dr Derryl dan Dr Becca yang membawa Shasha ke rumah sakit.
Sementara itu setelah memukuli Shasha dan membuatnya tak sadarkan diri, bi Imas langsung berlari kabur. Ia berani kabur bahkan ketika sedang di negeri orang tak lain karena ia tau sedari tadi Nara menunggunya di taman dekat persimpangan jalan menuju rumah Dr Derryl.
...****************...
...Taman persimpangan jalan...
Melihat bi Imas yang kocar-kacir ketakutan Nara pun menghampirinya dan mengajak bi Imas duduk di taman tersebut.
"Aku udah duga bi, bibi pasti melakukan hal di luar kendali kan?", tanya Nara menduga duga
"Lagian kamu non, kamu gak bilang sejak awal kalau ternyata Shasha hamil, bibi gak tahan udah saya pukuli aja dia, dasar anak gak tau malu", jawab bi Imas yang masih terdengah-engah
"Bi, aku ngasih tau bibi keberadaan Shasha sampe sampel pesenin tiket bibi ke sini, supaya bibi bisa bawa Shasha pergi lagi dari sini, aku gak nyuruh bibi nyakitin dia bi", ucap Nara dengan rasa khawatir.
Meskipun dia kini sangat membenci shasha, tapi karena persahabatan yang mendalam tak bisa di pungkiri di hati kecilnya ia masih menyayangi shasha.
"Sha, mungkin mimpi kamu dulu itu adalah isyarat bahwa kamu aku, vira akan seperti ini, saling membenci, aku benci kamu sha, sangat benci, tapi kalau kamu kenapa Napa a.. aku sedikit khawatir sha", gumam Nara dalam hati.
"Terus sekarang gimana Shasha?, dia baik baik aja kan bi", tanya Nara penasaran
"bibi juga gak tau, tadi dia pingsan terus di bawa gak tau sama siapa, kayanya mereka ke Rumah Sakit",
"Apa bi? ya ampun bi.. bi..", ucap Nara kaget
"bibi juga syok, bibi kira Shasha gak akan pingsan gitu, bibi juga kaget ternyata ada temen Shasha yang sempet datang ke rumah di kampung", ucap bi Imas menjelaskan
"dua temen nya? siapa bi?", tanya Nara semakin penasaran
"gak tau bibi namanya, waktu itu mereka bilang dari ibukota", jawab bi Imas
"Cewe atau cowok bi?", Nara kembali bertanya
"Cowok non, dua duanya tinggi, ganteng", ucap bi Imas sambil mengipas ngipas tas kearah wajahnya yang kepanasan karena berlari terbirit-birit.
"cowok? apa mungkin kak vano dan ka raka? tanya nya penasaran
"Mana bibi tau", jawab bi Imas ketus
"Apa temen Shasha yang bibi maksud itu cowok ini?", tanya Nara sembari memperlihatkan foto vano di handphone miliknya.
"Nah iya ini salah satu nya", ucap bi Imas mengatakan sejujurnya
Nara mengambil nafas dalam dalam
"Ngapain kamu kak nemuin Shasha lagi", gumam Nara dalam hati.
"terus bibi bilang apa sama Shasha? apa bibi juga bilang aku yang ngasih tau bibi soal keberadaan Shasha?", tanya Nara khawatir.
"Ya iyalah non", jawab bi Imas jutek
"di depan mereka semua?", tanyanya semakin khawatir
"iya, orang semua ngumpul di situ", jawab bi Imas semakin ketus
Bi Imas merasa tak nyaman ditanya terus menerus seolah di interogasi.
"Habislah aku bi", ucap Nara dengan suara lemah
Bi Imas tak mengerti dan ia hanya diam tak berkata apa apa.
...****************...
...Rumah Sakit...
Beberapa saat kemudian, Shasha tiba di rumah sakit dan dilarikan ke UGD.
Dengan gagahnya Dr Derryl langsung mengenakan Jas Dokter kebanggaan dan menemani Dokter Dr Becca yang sudah bersiap sejak tadi untuk memeriksa kondisi shasha, bukan hanya mereka tiga dokter ahli kandungan dan dua perawat di kerahkan.
Lama kelamaan pendarahan Shasha semakin parah.
Ia kemudian di tangani oleh ketiga dokter itu dan berusaha agar Shasha Dan bayinya selamat.
Setelah mengalami perjuangan yang cukup panjang, akhirnya mereka berhasil melewati masa krisis tersebut.
Meskipun pada awalnya kemungkinan hidup bayinya sangat tipis tapi untungnya semua diatasi dengan baik, dan untungnya lagi Shasha di larikan dan ditangani tepat waktu.
"Akhirnya mah, kita bisa bernafas lega", ucap Dr Derryl
"Iya sayang, mama khawatir sekali", ucap Dr Becca
"Tadi dokter Clara (Dokter ahli kandungan) bilang semuanya akan baik baik aja, bayinya hanya mengalami guncangan tapi untung masih bisa di selamatkan, kita hanya perlu waktu untuk menunggu Shasha siuman", ucap Dr Becca menjelaskan.
"Iya, aku juga denger itu, syukurlah semoga Shasha cepat siuman mah", ucap Dr Derryl penuh harap.
__ADS_1
"Kita keluar dulu kita biarin Shasha istirahat", ucap Dr Derryl
Kemudian mereka keluar ruangan dan ternyata vano juga Raka sudah stand by di ruangan tersebut.
"Dok, gimana keadaan Shasha?", tanya vano khawatir
"Dia dan bayinya baik baik aja kan dok?", tanya Raka yang juga sangat mengkhawatirkan Shasha.
"He", Dr Derryl hanya tersenyum kemudian mengepalkan tangan nya dan hendak memukul vano dan raka, namun lagi lagi ia kembali sadar bahwa melibatkan emosi untuk menyelesaikan masalah hanya akan memperparah keadaan, ia pun terdiam kembali
"Sabar sayang, mama tau kamu kesel", Bisik Dr Becca sambil mengelus ngelus pundak putranya tersebut.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Dr Derryl pergi meninggalkan mereka.
Melihat Shasha dengan kondisi seperti itu, ujian yang bertubi tubi datang silih berganti di hidup shasha, membuatnya sangat sedih.
Meskipun Dr Derryl baru bertemu dengan Shasha beberapa bulan yang lalu tapi cintanya sangat besar dan tulus.
...****************...
...Jakarta...
Lama tak terdengar kabarnya, hidup Vira justru semakin parah lagi, sayang sekali vira yang frustasi melampiaskan kecewanya pada dunia kelam.
Ia tak pernah pulang lagi kerumah, tiap malam hanya mabuk mabukan.
Poernomo bahkan sudah tak bisa mengendalikan Vira lagi, ia sudah pasrah mengetahui putri kesayangannya menjadi seperti itu.
Belum lagi Pram, setelah kekacauan yang terjadi ia belum menampakan diri, entah siasat apa lagi yang sedang ia susun.
Dan juga entah bagaimana dunia bisnis mereka, yang jelas semenjak ayahnya sakit vano mempercayakan semua pada Gio yang sudah mengikuti sejak lama.
...****************...
...Rumah sakit...
Saat sedang duduk di ruang tunggu bersama raka, vano mendapat sebuah pesan dari Gio.
"Selamat Pagi pak, Mohon maaf saya menggangu waktunya.
Pak ada masalah serius di perusahaan. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin mengatasinya, namun sepertinya masalah ini harus di tangani bapak langsung",
Vano pun terdiam dan berulang kali membuang nafas dalam dalam.
"Ada apa lagi Van? ada masalah?", tanya raka
"Iya ka, urusan kantor", jawab vano singkat
"Masalah apa bro?",
"Kaya nya masalah serius, kalau gak serius mana berani gio bilang kaya gitu sama Lo", rada menduga
"Sepertinya gitu ka", jawabnya.
"Gue ke ruangan papa gue dulu, kalau ada info tentang shasha Lo jangan lupa kabarin gue", ucap vano kemudian pergi
"Sha aku harap kamu baik baik aja", gumamnya dalam hati yang terus menerus menatap ruangan Shasha.
Sementara itu Raka tetap diam disana berharap shasha dan anaknya baik baik saja.
...****************...
......Ruang Rawat Prasetya......
"Sayang kamu dari mana aja, mama sama papa khawatir", tanya monicca.
"Ceritanya panjang, gak ada waktu buat cerita, gimana kondisi papa", tanya vano kemudian melihat papanya yang sedang tidur.
"Papa baikan nak, tadi dia udah mau makan sedikit sedikit",
"Syukurlah, mah aku seperti nya harus kembali dulu, ada urusan di perusahaan kabarin aku kalau ada apa apa, secepatnya aku pasti kembali kesini", ucap vano
"urusan apa Van? apa ada masalah?" tanya monicca khawatir
"Engga mah, nanti kalau ada perlu apapun bilang aja ke Raka", ucapnya.
Vano tak mau membuat mamanya khawatir ia terpaksa berbohong.
"Yaudah aku pergi ya mah", vano kemudian pergi terburu buru
"Iya hati hati sayang".
...****************...
...Ruang Rawat Shasha...
Sebelum pergi meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke Indonesia, vano menyempatkan waktu untuk masuk ke ruangan Nara diam diam, beruntungnya ketika itu kebetulan tak ada satupun perawat, bahkan Raka pun entah kemana tak ada di aana.
Vano pun masuk melihat Shasha yang terbaring lemah, dengan influs yang mengalir di tangan kirinya dan oksigen yang menutupi hampir setengah wajah mungil nya tersebut.
Vano tak kuasa menahan tangis, ini yang kesekian kali nya dia meneteskan air mata karena wanita yang ia cintai, ia merasa gagal tak bisa membahagiakan Shasha tapi justru mendatangkan semakin banyak penderitaan bagi Shasha.
Vano pun menggenggam tangan shasha dan berkata.
"Sha, kamu cepat sadar sha, semoga kamu baik baik aja, maafkan saya sha",
__ADS_1
"Saya sangat mencintai kamu sha, tapi kenapa jalan kita selalu berliku seperti ini",
"Saya harap kamu bisa maafin saya, kita mulai kembali dari awal",
"Saya gak peduli kamu hamil anak raka, yang jelas saya juga akan menyayangi anak itu seperti saya menyayangi kamu sha", ucap vano kemudian memegang perut Shasha.
"Saya pergi dulu sha, saya harap setelah kamu bangun dan saya kembali kita bisa bersama seperti dulu", ucap nya penuh haru
"Saya pergi sha", ucap vano kemudian mencium kening Shasha dan mengelus rambut kepalanya.
Dengan kesedihan yang tak terbendung vano terpaksa meninggal Shasha, ia pun tak bisa lepas tangan dan membiarkan gio menangani masalah perusahaan sendiri.
Kekuatan Cinta memang luar biasa, sesaat setelah vano pergi tangan Shasha bergerak seolah merespons ucapan vano.
...****************...
...Taman Rumah Sakit...
Menunggu shasha siuman lama sekali, Raka berusaha menenangkan dirinya sambil minum kopi hangat di taman rumah sakit.
Ia melihat Dr Derryl sedang duduk sendiri di salah satu bangku taman tersebut.
saat akan menemui Dr Derryl, handphone Raka berbunyi ia menerima pesan, dan tak lain pesan tersebut dari sahabatnya, vano.
"Ka, gue pulang dulu ke indo, kalau ada apa apa tolong kasih tau gue, gue nitip keluarga gue juga Shasha ya ka",
Raka pun membalas
"Siap bro, jangan lupa salamin ke kucing kesayangan Lo",
Raka menyimpan kembali ponselnya, melihat Dr Derryl yang masih duduk di sana ia pun menghampirinya.
"Dok", Raka mamanggil Derryl yang sedang duduk termenung di bangku tersebut
Dr Derryl pun melihat ke arah Raka, kemudian Raka menyodorkan kopi miliknya ke Dr Derryl.
"Nih dok, biar gak galau", ucapnya.
Raka memang seperti itu, ia terkesan becanda padahal spontan.
Dr Derryl pun menghargai niat baik Raka, ia pun mengambil kopi tersebut.
"he, kamu ngasih saya bekas minum kamu", ucap Dr Derryl kemudian menyodorkan kembali kopi milik raka yang memang sudah habis setengahnya.
"Saya lupa kalau anda adalah dokter", ucap Raka tiba tiba membuat Dr Derryl tak mengerti.
"Maksud kamu", tanya Dr Derryl heran
"Dokter kan selalu higenis, cinta kebersihan", ucap Raka
"He", Dr Derryl hanya tersenyum kecil.
"Kamu masih bisa becanda, setelah apa yang terjadi?", tanya Dr Derryl mendesak Raka.
"Saya emang gini dok", jawabnya spontan
"Dok, saya mau tanya serius, saya mohon dokter jawab pertanyaan saya", tanya Raka dengan nada serius
Ya begitulah Raka, orang yang apa adanya tapi di saat serius dia bisa sangat bersikap dewasa.
"Kalau bukan karena Shasha masih menghargai kalian, saya bahkan gak mau duduk berdampingan gini dengan kamu", ucap Dr Derryl.
"Maafin saya dok, saya sangat menyesal saya gak nyangka masalahnya akan melebar separah ini", ucap Raka menunduk menyesali tindakan yang dulu ia lakukan.
"Saya tau, saya ngerti kalian berusaha mendapatkan maaf Shasha, saya tau kalian berusaha menebus kesalahan kalian, saya pun menghargai niat baik kalian, tapi apa kalian sadar dengan kalian terus berusaha menemui Shasha keadaanya semakin memburuk",
"Saya tau itu dok, saya cuma mau memastikan, apa bener anak di kandungan Shasha adalah anak saya dok?", tanya Raka
"Jelas itu anak kamu ka, orang kamu yang menodai dia", ucap Dr Derryl
Raka terdiam lama dan tak bisa menahan kesedihannya lagi, ia menangis.
Raka yang seperti itu tak seperti Raka biasanya, melihat raka menangis meskipun kesal Dr Derryl mencoba menenangkan Raka.
"Udah raka, mungkin anak kamu nanti akan malu liat papanya cengeng", ucap Dr Derryl
Raka tak menjawab ia hanya duduk terdiam.
"Raka, saya tau vano dan kamu adalah orang baik, hanya saja kalian terperangkap dalam kebencian hingga sampai pada titik ini, saya harap kamu bisa menghargai shasha, jangan buat dia sedih bahkan menderita kembali", ucap Dr Derryl dengan nada lembutnya.
"Dok, apa mungkin anak saya nanti akan benci sama saya, mengetahui papanya adalah seorang pecundang", ucapnya seolah putus asa
"Saya gak nyangka semua nya akan menjadi seperti ini, nona mungil yang saya kenal ceria harus mengalami penderitaan ini dok, kalau waktu bisa di putar saya lebih memilih untuk tidak pernah bertemu dengan Shasha kalau tau dia akan mengalami penderitaan karena saya",
"Tapi karena mengenal dia juga, saya lebih bisa menghargai hidup ini, saya merasa berarti, saya gak merasa diri saya gak berguna lagi, Shasha bisa merubah hidup saya seketika dok", ucapnya berterus terang
"Saya udah duga dari awal kamu emang menyukai Shasha, kamu gak sadar kamu bicara sama siapa, kamu gak mikiran perasaan saya, okelah saya bisa mengerti ka, tapi apa kamu gak mikirin juga perasaan sahabat kamu kalau dia tau diam diam kamu mencintai dia", ucap Dr Derryl
"Maafin saya dok, saya emang udah lama mencintai Shasha diam diam, saya sama sekali gak pernah mau serakah mengharapkan shasha yang sangat di cintai vano apalagi setelah kejadian itu saya merasa gak pantas sama sekali buat gadis sebaik dia", ucap Raka berterus terang
"Tapi setelah saya tau Shasha mengandung anak saya, jujur saya mengharapkan dia, saya berharap bisa bersama dengan orang yang saya cintai membesarkan anak kita bersama",
Ucap Raka membuat Dr Derryl tercengang.
"Dok, saya tau dokter sangat tulus sama Shasha, tapi dok bisakah dokter beri saya kesempatan untuk bersama dengan Shasha dan anak saya?",
__ADS_1
Bersambung...