Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB -9 Suara Hati Tiga Insan dan Mengejutkannya Kabar Burung


__ADS_3

...****************...


...Rumah nara...


Shasha tiba di rumah nara, saat sedang di perjalanan tadi shasha tak lupa membeli makanan, makanan adalah hal yang wajib saaat mereka berkumpul, namun kali ini sayang vira tak ikut kumpul karena ada urusan kuliah dengan dosennya.


"Hai ra", sapa shasha.


"Sha, sini duduk", ucap nara mempersilahkan shasha duduk di kasur nya.


"Loh kok, kamu kaya udah nangis gitu sha, kamu nangis?", tanya nara yang melihat mata shasha sedikit sembab


"Enggak kok ra, mungkin tadi kelilipan jadi agak perih", jawab shasha berbohong


Shasha sebenarnya tak enak hati membohongi nara terus, tapi bagaimana lagi iya sudah sepakat dengan vira untuk tidak memberi tahu nara.


Mereka pun ngobrol dan becanda bersama.


...****************...


...Kantor Poernomo...


Kring.. Kring.. Kring..


"Om Handphone om nyala, ada telpon om", teriak Pram pada Poernomo yang sedang berada di toilet ruang kerja.


"Siapa Pram?", jawab Poernomo


"Gak tau om, nomor tidak dikenal" jawab Pram setelah melihat layar handphone Poernomo


Poernomo pun menghampiri Pram yang sedang duduk di meja ruang kerjanya, ia pun mengangkat telpon tersebut


"Iya halo, ada yang bisa saya bantu"


"Poernomo, gimana kabar mu kawan? masih ingat saya? saya prasetya", jawab seorang laki laki di sambungan telpon tersebut yang tak lain pria itu memang Prasetya


"Prasetya?", spontan poernomo dan pram tak menduga Prasetya akan menghubunginya secepat itu


"Oh iya kawan, tentu saya ingat, kabar saya baik, gimana kabar mu juga kawan?" tanya nya pura pura


"Baik Poer, Saya cuma mau bilang makasih banyak berkat anak kamu, vano anak saya bisa membuka hati juga sama wanita",


"Syukurlah, rupanya kamu udah tau cerita mereka",


"Ya vano sendiri yang cerita ke saya dan istri saya, sepertinya kita benar benar akan jadi besan bro",


"Ya saya harap juga begitu, lain kali mungkin kita perlu bertemu lengkap dengan dua keluarga",


"Pasti, pasti nanti saya atur waktu nya ya" jawab Prasetya dengan sangat antusias


Mereka ngobrol panjang lebar di sambungan telpon tersebut, Prasetya mengira kali ini kebahagiaan dan masa depan indah anaknya benar benar sudah didepan mata namun bagi Poernomo rencananya dengan pram selangkah demi selangkah telah berjalan lancar, namun tak satupun dari mereka menyadari bahwa Vira yang mereka kira ternyata digantikan oleh Shasha.


"Pram kamu gak usah khawatir, setelah rencana kita berhasil, kamu udah bisa balik lagi sama Vira", ucap Pram setelah menutup telponnya dengan Prasetya


"Iya om, kalau perlu kita sikat juga Prasetya enak aja dia berharap Vira jadi menantunya", jawab Pram dengan nada kesal


"iya Pram, kita liat aja gimana perkembangan rencana kita nanti", jawabannya singkat


...****************...


...Rumah Orang Tua Vano...


...Satu Minggu Kemudian...


Seperti biasa dengan jurus pengelabuhannya Vira berhasil meyakinkan papanya bahwa selama ini dia yang menemui vano tanpa rasa curiga sedikitpun.


Seperti permintaan Prasetya sebelumnya Shasha yang menjelma menjadi Vira tersebut pergi ke rumah orang tua vano.


Prasetya dan Monicca menyambut Shasha dengan hangat di rumah mewah dan luas dengan banyak taman taman di sekeliling rumah tersebut, mereka sengaja berkumpul di taman dengan suasana yang sejuk, selain sambutan yang hangat tempat yang sejuk, berbagai jamuan pun telah disiapkan.


Namun kali ini, ternyata Raka ikut datang tentu atas permintaan dari Vano, vano sama sekali tak mengetahui kalau Raka beberapa waktu lalu ternyata memendam perasaan pada wanita yang ia cintai itu.


Kali ini Shasha tampil jauh berbeda dengan sebelumnya, ia mengenakan dress biru muda dan sepatu High heel yang senada dengan bajunya juga dengan rambut terurai ke samping membuat dirinya lebih dewasa dan anggun, namun badan mungilnya tetap menjadi ciri khas dari seorang Shasha.


"Ya ampun, ini ternyata Vira anak Poernomo cantik sekali ya pa", puji monicca setelah melihat Shasha yang tampil dengan anggun


Shasha hanya tersenyum malu, kali ini ia berusaha tak banyak bicara, ia takut salah ucap sehingga semua rahasia Vira bisa terbongkar


"Iya mah pasti pilihan anak Kita gak akan mungkin salah, kalian emang pasangan yang serasi", celoteh Prasetya


"Oh iya, ngomong ngomong katanya kamu ngambil jurusan fashion ya, gak salah sih yang tau fashion emang tau caranya dandan dan apapun yang dikenakannya pun pasti terlihat cocok ya, gak heran kamu terlihat cantik dan anggun", puji monicca membuat Shasha merasa sangat malu


"Makasih banyak Tante, om ", jawab Shasha pelan dengan senyuman khasnya


Vano dan Raka seolah membenarkan ucapan monicca, mereka menatap Shasha dengan tatapan yang sama tatapan cinta yang mendalam


"Udah mah udah, mama liat muka Vira jadi merah gitu, kasian dia malu jangan di puji terus", ucap vano


"Iya deh iya", ucap monicca dengan hati yang senang melihat mata putra kesayangannya itu terpancar kebahagiaan


Di taman tersebut mereka terus berbincang ke sana kemari, menyantap makan siang dengan riang, dan juga bercanda tiada hentinya itu karena ada Raka si humoris yang selalu bisa mencairkan suasana.


"Vir, makasih ya, kamu itu anugrah luar biasa bagi aku bukan cuma bagi aku tapi juga bagi keluarga dan orang orang terdekat aku, ini pertama kalinya kita merasakan kegembiraan seperti ini", gumam vano dalam hati sambil menatap Shasha yang asyik mengobrol dan tertawa ria.


"Van mata lo emang gak bisa bohong, mata Lo terlihat betapa dalamnya Lo mencintai Vira, gue emang bukan laki laki baik, gue juga bahkan sering bermain wanita tapi entah mengapa Vira memang berbeda, gue gak seharusnya berharap lebih, justru harusnya gue seneng liat Lo sebahagia ini". Gumam Raka dalam hatinya


"Lagi lagi seandainya yang mereka kenal ini Shasha bukan Vira mungkin aku pasti sangat bahagia, kebahagiaan yang utuh tanpa di bayang bayangi ketakutan dan kekhawatiran, maafin aku kak Vano, kak Raka, om Tante, aku harap seandainya kalian tau aku siapa kalian tetep memperlakukan aku dengan cinta tulus yang sama", Gumam Shasha dalam hati


Memang hanya hati yang sanggup menjadi tempat. menyimpan rahasia, mereka satu sama lain tak mengetahui bagaimana kebenaran yang sesungguhnya.


"Gimana kalau kita foto bareng dulu, gak lama lagi kita kan akan jadi keluarga" celoteh Prasetya yang membuyarkan lamunan mereka bertiga.

__ADS_1


"Biar Raka yang fotoin om, kalian baris ya", spontan Raka menawarkan diri meskipun hatinya sakit melihat kebersamaan Raka dan Shasha (Vira).


Mereka pun berfoto ria, berbagai gaya di tunjukan pada kamera.


"Ma, pa giliran aku berdua dong", celoteh vano sambil diam diam mendekati shasha, Shasha pun tersenyum malu


"Ya ampun om sama Tante kok gak peka dari tadi", canda Raka


Seketika Monica dan Prasetya tersenyum dan berjalan ke arah pinggir


"oke 1.. 2... 3... oke sipp", ucap raka memberi aba aba


"kak Raka sini, kita foto bertiga", ucap Shasha sambil memberikan kode dengan tangan nya


"ngapain kamu ajak dia", canda vano


Raka hanya menjulurkan lidahnya ke arah vano,


"sini sini mama fotoin ya, coba papa yang arahin mereka"


"oke, coba Vira ditengah vano geser sebalah kanan, nah Raka sebelah kiri Vira, oke siap ma 1.. 2... 3... Cekrek",


Ketika sedang asyik berfoto, vano menerima pesan dari Gio agar segera bergegas ke kantor


Vano akhirnya terpaksa pergi karena ada masalah yang harus mereka selesaikan, sementara Shasha pulang dianter Raka ke kosan dimana ia berdalih itu adalah kosan temannya.


...****************...


...Kantor vano...


Setelah tiba di kantor ia langsung di sambut berita buruk dari gio, asisten nya itu.


"Pak, kerja sama perusahaan kita dengan pak poernomo tiba tiba terhambat, bahan baku yang ia janjikan untuk proyek kita di luar kota sampai saat ini belum sampai, sehingga para pekerja banyak yang komplain dan menganggap bapak mengabaikan mereka, selain itu klain juga menilai buruk kinerja kita, seandainya ini di biarkan ini akan menjadi catatan merah pertama bagi perusahaan kita", jelas gio asisten pribadi vano.


"Kenapa bisa begitu? bukan nya kata pak poernomo bahan baku sudah sampai seminggu yang lalu", tanya vano pada asisten pribadinya itu.


"Saya juga gak tau pak", jawab gio


"Kamu selidiki dulu, nanti kabarin saya kalau udah ada hasil", ucap vano memerintahkan bawahan nya itu.


"Saya juga nanti selesai meeting dengan klain akan menemui pak poernomo langsung", lanjut vano.


"Baik pak"


Gio pun langsung pergi dan menyelidiki masalah tersebut, sementara vano akan melaksanakan meeting penting dengan klain nya.


Setelah hampir tiga jam meeting, vano langsung bergegas menemui poernomo di kantornya.


...****************...


...Kantor poernomo...


"Kok orang itu tampak gak asing ya", ucap vano pelan.


Lalu vano pun menghampiri poernomo dan pram


"Permisi om", ucap vano


"Vano?, kapan kamu kesini?", tanya poernomo.


"Barusan om, belum lama",


"Gimana Vira gak malu maluin kan di rumah kamu?", tanya poernomo


"Engga om, justru mamah sama papa saya suka banget sama Vira", jawabnya


Pram melihat vano dengan tatapan sinis nya.


"Kalau gitu saya permisi om", ucap pram lalu pergi tanpa menyapa vano sedikit pun.


Poernomo pun mengangguk dan mengajak vano ke dalam kantor nya


...****************...


...Ruang poernomo...


"Ada apa van?, tumben kesini gak ngabarin saya", tanya poernomo padalah iya sudah menduga vano datang untuk menanyakan proyek.


Bahan baku untuk proyek vano memang di alokasikan terlebih dahulu untuk perusahaan pram, mereka terpaksa karena terdesak oleh keadaan. Ditambah lagi pram yang tidak mau proyek tersebut gagal.


"Ada yang ingin saya tanyakan om, kenapa perusahaan om belum mensuplay bahan baku ke proyek perusahaan di luar kota, padahal seharusnya sudah sampai seminggu yang lalu kan", tanya vano.


"Saya ada sedikit kendala van, tapi dalam beberapa hari ini pasti selesai kok", jawab poernomo dengan tenang.


"Saya harap bisa di percepat om, meskipun ini proyek kecil bagi perusahaan saya tapi seandainya gagal hanya gara-gara bahan baku yang telat itu justru akan jadi masalah besar bagi perusahaan saya", jawab vano.


"Iya van saya akan berusaha, kamu tenang aja", ucap poernomo seperti tidak merasa bersalah.


Mereka pun beralih pembicaraan pada hubungan vano dan vira.


"Oh iya van, bagaimana perasaan kamu sama vira sekarang? apa kamu sudah mencintainya? atau justru akan melepaskannya?", tanya poernomo penasaran.


"Saya rasa vira adalah anak yang baik dan menarik bagaimana mungkin saya bisa melepaskannya, terlebih orang tua saya juga sayang menyayangi vira", jawab vano.


"Bagus kalau gitu bulan depan kalian tunangan aja biar lebih resmi sambil nungguin vira lulus kuliah satu taun lagi, lebih cepat lebih baik jangan di tunda", Ucap poernomo berharap vano menyetujui.


"Saya rasa benar juga om, seperti yang saya janjikan di awal saya akan menikahi orang yang saya cintai juga mencintai saya, kita juga sudah saling mencinta. Saya nanti atur acaranya bareng orang tua saya", jawab vano menyetujui.


"Gak sia-sia aku melibatkan vira, tenang nak penderitaan kamu gak akan lama lagi kok", guman Poernomo dalam hati.


Poernomo pun tersenyum bahagia kini tinggal beberapa langkah lagi rencana nya akan terwujud setelah berhasil membuat vano jatuh cinta, lalu ia berharap putrinya vira bisa mendapatkan kepercayaan lalu mencari celah untuk menjebak vano.

__ADS_1


Dengan begitu poernomo dan pram berharap lebih mudah menyabotase perusahaan vano lalu berangsur-angsur melihat penderitaan demi penderitaan vano kemudian itu waktu yang tepat untuk mencelakai vano yang tidak berdaya lagi.


Ketika sedang ngobrol vano tiba-tiba mendapat pesan dari asisten nya.


"Pak saya di kantor, ada yang ingin saya bicarakan"


"Baik saya segera kesana" balas vano.


"Saya ada urusan mendesak om, lain kali kita ketemu lagi", ucap vano.


"Iya kamu hati-hati van", jawab poernomo.


Vano pun bergegas pergi ke kantornya, sedangkan poernomo mengabari pram kabar baik ini.


...****************...


...Kantor vano...


Setelah beberapa lama di perjalanan, vano tiba di kantornya ia pun buru-buru menemui gio untuk mengetahui hasil penyelidikan nya, meskipun ia sudah sepenuh nya percaya pada poernomo tapi sebagai antisipasi ia harus melakukan itu.


Sebelum masuk ruangan vano di panggil oleh sekretaris nya.


"Pak, tunggu sebentar", ucap Mila Resepsionis kantornya


"Kenapa?", tanya vano


"Ini ada titipan bingkisan, katanya dari mba vira", ucap mila sambil memberikan bingkisan tersebut.


Saat vano di kantor pram shasha justru datang ke kantor vano berniat bertemu dan memberikan makanan yang ia buat sendiri setelah pulang dari rumah vano, namun sayang vano tidak ada akhirnya ia menitipkan makanan tersebut pada resepsionis kantor.


"Oh iya makasih", ucap vano dan tersenyum bahagia mendapat perhatian dari shasha.


"Iya pak, kalau gitu saya permisi dulu", sekretarisnya pun pergi.


Vano melihat bingkisan dari shasha ternyata itu adalah makanan yang di hias dengan lucu selain makanan vano juga mendapat bunga juga surat kecil dari shasha


"Kak vano, semangat kerja nya jangan lupa makan jaga kesehatan, vira"


Setelah melihat isi bingkisan yang membuat nya bahagia seketika itu, ia teringat gio sudah menunggu nya di ruangan ia pun masuk dan menemui gio.


"Pak", sapa gio.


"Gimana? kamu menemukan hasil?", tanya vano penasaran.


"Jadi gini pak, terhambatnya bahan baku untuk proyek di luar kota itu karena bahan baku tersebut di ambil alih oleh perusahaan konstruksi yang lain kalau tidak salah nama perusahaan nya PT Sinar Bangun, atas persetujuan pak poernomo sendiri pak", jawab gio.


"PT Sinar bangun?" tanya vano


"Iya pak PT Sinar Bangun yang juga bergerak di bidang konstruksi seperti kita pemiliknya adalah pak Pramuditha Verdianto permana yang biasa di panggil pram" jelas gio.


"Pram?, saya tau sekarang orang tadi itu pram", ucap vano pelan teringat pria yang tadi bersama poernomo


"Kenapa pak?", tanya gio yang melihat vano berbicara pelan


"Gapapa, kok bisa poernomo mendistribusikan bahan baku kepada perusahaan itu", ucap vano.


"Mereka menjalin kerja sama sudah lama pak", jawab gio


Vano pun bingung, dan menyuruh gio untuk pergi terlebih dahulu.


"Kamu terus selidiki, sekarang kamu istirahat dulu aja"


"Baik pak", gio pun pergi


Setelah beberapa menit pergi akhirnya gio memberanikan diri menemui bos nya itu lagi untuk memberi tahu sesuatu yang sangat penting.


"Permisi pak", ucap gio


"Kenapa kamu balik lagi", tanya vano


"Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin saya kasih tau dan perlihatkan", ucap gio membuat vano penasaran.


"Apa itu?", tanya vano


"Saya kirim ke handphone bapak sekarang", ucap gio lalu mengirimkan sebuah rekaman vidio pada vano.


Vano pun melihat rekaman vidio di handphone nya yang berisi percakapan antara pram dan poernomo di sebuah toilet retoran.


Terlihat jelas gio merekam nya di atap toilet karena gambar yang fokus ke arah kepala mereka terdengar suara yang jelas.


"Pram ide kamu juga rencana kita untuk menyabotase perusahaan vano juga mencelakainya di saat dia tak berdaya bisa semulus ini, tinggal beberapa langkah lagi semua akan berhasil"


"Iya om saya harap rencana kita berhasil dan cepat selesai saya gak sabar perusahaan saya akan menjadi yang terdepan, setelah perusahaan vano jatuh"


"Om juga udah gak tega melibatkan vira terus untuk mendapatkan cinta juga kepercayaan vano padahal kamu tau sendiri vira sama sekali gak mencintai vano, hampir tiap hari dia merengek ingin kembali sama kamu pram"


"Iya om saya juga kasian sama vira dan saya juga sebenarnya sangat menderita terpaksa putus hubungan dulu sama vira, orang yang sangat saya cintai"


"Vira juga pasti menderita udah dua tahun kalian pacaran dan dia memang sangat mencintai kamu dengan tulus tapi kalian terpaksa harus seperti ini"


"Iya om terus enak aja tuh si vano suka sama vira berniat nikahin dia lagi"


"Kamu jangan khawatir, justru kamu harus nya seneng vano sebentar lagi akan menderita tau bahwa cinta nya bertepuk sebelah tangan vira sama sekali gak menginginkan nya"


Setelah melihat rekaman itu vano terdiam dan sama sekali tak menyangka poernomo bekerja sama dengan pram untuk menjatuhkan juga menyabotase perusahaan nya dan yang lebih parah mereka berencana mencelakai vano.


Dan yang paling membuat vano tak terima, mereka mempermainkan perasaan nya. Vano seketika itu merasa sakit hati dan kecewa juga tak percaya dan tak menyangka Shasha yang ia kira vira melakukan hal sekeji itu, ia juga tak menyangka Shasha (Vira) adalah pacar pram dan mereka saling mencintai.


Seketika vano menganggap mereka semua bekerja sama, padahal shasha yang menyamar jadi vira tidak mengetahui sedikit pun rencana busuk poernomo juga pram.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2