
Situasi yang terjadi di ruangan itu semakin memanas, namun Shasha hanya terdiam.
Vira menoleh ke orang orang belakang Shasha.
Ia melihat Nara sedang memegang tangan Vano.
"He, kejutan apa lagi ini Ra? kamu kenal laki laki ini" ucap Vira lalu menunjuk wajah Vano.
Ternyata keburukan Poernomo dan Pram sama sekali tak di ketahui Vira, Vira hanya beranggapan Vano adalah sumber masalah dalam hidupnya, begitu dengan Shasha yang ia anggap sebagai pengkhianat.
Kini Vira semakin murka melihat sahabatnya Nara, justru terlihat dekat sekali dengan Vano.
"Ra, ngapain kamu deket deket dia?" tanya Vira Sewot.
"Kak Vano tunangan aku Vir, dia laki laki yang selama ini aku ceritain ke kalian," ungkap Nara jujur.
Vira pun tertawa sinis.
"Ada juga kebetulan yang begitu keterlaluan di dunia ini, terserah Ra, kita bertiga aku kamu Shasha sudah terlanjur hancur," ungkap Vira lirih.
"Kalau bukan karena laki laki misterius kamu ini tiba tiba datang ke hidup aku, mungkin aku gak akan sehancur ini Ra!" teriak Vira.
"Vir, kenapa kamu jadi marah sama aku? salah kamu sendiri gak cerita dari awal, seandainya kamu cerita mungkin aku bisa bantu kamu menggagalkan perjodohan kamu, kamu bodoh sih Vir terlalu percaya Shasha ujung ujungnya dia juga kan yang mengkhianati kamu," ungkap Nara memojokkan Shasha.
Shasha hanya terdiam, dia tak menyangka persahabatannya akan sehancur ini.
"Cukup Ra, kamu jangan memojokkan Shasha terus!" tegas Vano.
"Kamu liat sendiri Vir, bahkan laki laki yang aku cintai selama ini membela wanita lain di banding tunangannya sendiri," keluh Nara.
Mendengar ungkapan Nara, membuat Vira semakin murka pada Shasha.
Jebred
Vira yang berniat menampar Shasha kembali, justru di halangi Raka dan tamparan keras nya mengenai wajah Raka.
"Cukup! jangan sakiti Shasha lagi! cukup jangan memojokkan dia," teriak Raka membela Shasha.
"Harusnya kalian sadar, Shasha ini korban kalian termasuk korban dari kebodohan saya!" teriak Raka lagi.
"Cukup Kak, masalah ini gak akan selesai kalau kita saling menyalahkan satu sama lain aku juga salah kak, biar aku jelasin ke Vira," ungkap Shasha menenangkan Raka.
"Vira aku mohon kamu dengerin aku sebenar, kamu mau membenci aku kembali silahkan Vir, tapi aku mohon dengerin penjelasan aku sebentar!" lirih Shasha.
Vira hanya terdiam dengan nafas terengah engah karena terbakar emosi.
"Vira, aku minta maaf sama kamu, aku pergi tanpa menjelaskan apapun, aku minta maaf Vir ... maafin aku," ucap Shasha terisak, lalu tak kuasa menahan tangis.
"Kamu harus tau Vir, Om Poernomo dan Pram bersekongkol untuk menjatuhkan perusahan kak Vano bahkan mereka juga berencana untuk mencelakainya, rencana mereka di ketahui Kak Vano, dia yang gelap mata dan kesal mencoba membalas dendam sama aku Vir, mereka mengira aku itu anak om Poernomo,"
"Kamu tau apa yang terjadi Vir, hiks hiks hiks" Shasha menangis tak sanggup mengungkapkannya lagi.
"Saya dan Raka bersekongkol untuk merenggut kehormatannya, saya gak tega karena jujur saya masih mencintainya Vir, tapi karena dendam di hati saya masih membelenggu saya suruh Raka yang melakukannya."
"Hingga pada saat saya ke rumah kamu, ternyata saya baru menyadari kamulah Vira yang sesungguhnya, dendam yang saya lampiaskan ternyata salah sasaran Vir, saya sudah tidak memikirkan dendam saya ke kamu dan ayah juga pacar kamu, saya berusaha mencari Shasha mencari Shasha."
"Secara kebetulan kita bertemu di singapura dan ternyata Shasha dengan mengandung anak Raka."
Dengan mata berkaca kaca Vano menjelaskan semuanya dengan detail.
Antara percaya dan tidak, Vira hanya bisa terdiam.
"Aku terpaksa pergi jauh Vir, aku terpaksa meninggal semuanya bahkan meninggal kamu dan Shasha yang sangat aku sayangi, aku meninggalkan mimpi aku Vir, aku meninggal keluarga aku, aku juga meninggal pekerjaan aku. Aku korbankan semuanya hany untuk melahirkan anak ini dengan tenang, tanpa ada cacian dan makian orang lain," ungkap Shasha dengan deraian air mata.
Vira yang emosinya memuncak perlahan mulai mereda mendengar penjelasan Vano dan Shasha, ia mulai percaya pada ucapan mereka.
"Satu lagi Vir, aku nggak tau kalau om Poernomo dan Pram adalah orang menjebak Kak Vano malam tadi, aku cuma laporin bahwa ada yang mau mencelakai Kak Vano," jelas Shasha lagi.
"Jadi cukup Vira, jangan memojokan Shasha lagi!" saut Raka tegas.
"Kamu hamil Sha?" tanya Vira lirih.
"Iya Vir," jawab Shasha.
Vira tak berdaya, hampir saja dia terjatuh saking syoknya.
Dia tak menyangka, Shasha menerima kenyataan itu karena dirinya.
"Sha," panggilnya lirih.
Vira mendekati Shasha lalu memegang perut Shasha ia ingin memastikan apa benar Shasha sedang mengandung.
Setelah sangat yakin Vira semakin merasa bersalah, ia memeluk Shasha dan tak henti hentinya menangis kencang tak karuan.
"Hiks hiks hiks hiks," tangin Vira kencang.
"Sha maafin aku, aku gak tau kalau kamu mengalami hal seperti ini, ini semua gara gara aku," ucapnya terisak.
"Udah Vir udah, lagian aku juga salah Vir, maafin aku ya," lirih Shasha yang juga terisak.
Momen pertemuan Shasha dan Vira yang semula tegang karena luapan emosi Vira yang tak terkendali, kini berubah seketika menjadi suasana haru. Dimana persahabatan Shasha dan Vira mungkin akan kembali membaik, tapi justru tidak dengan Nara di hatinya masih ada kebencian yang mendalam pada Shasha.
"Mah, kita pergi aja dari sini!" seru Nara kesal.
"Ayo sayang," jawab Monicca.
"Kak Vano Ayo," ajak Nara.
Vano tak merespons ucapan Nara, ia tak henti hentinya menatap Shasha.
"Kak Vano!" panggil Nara.
"Ayo nak!" seru monicca.
Nara menarik paksa Vano, sementara itu Vano pasrah dan mereka berjalan keluar ruangan tersebut.
Vano terus menoleh ke belakang, berat baginya meninggalkan Shasha.
Shasha yang sedang berpelukan dengan Vira, melihat Vano tak henti hentinya.
Mereka saling memandang satu sama lain, pandangan cinta yang terbalut derita.
Sementara itu Raka yang berada di sana menyadari cinta Shasha dan Vano masih begitu kuat.
Dia hanya diam tak berdaya.
__ADS_1
"Sha, aku nyesel marah sama kamu tadi" ungkap Vira.
"Udah Vir, udah ... justru aku seneng ketemu kamu lagi dan masalah kita clear," ungkapnya lagi.
"Sha," panggil Vir lalu memeluk Shasha kembali.
"Harusnya aku yang ngalamin ini kan Sha? kamu yang harus nanggung ini semua," ucap Vira semakin terisak.
Vira kemudian melepaskan pelukan Shasha dan menoleh ke arah Raka.
"Dia yang hamilin kamu kan Sha?" tanya Vira mulai emosi kembali.
"Iya aku yang salah," ucap Raka tertunduk.
"Kurang ngajar Lo!" teriak Vira.
"Sini maju Lo!" teriak Vira kembali.
"Vir Vir udah, aku udah maafin kak Raka kok, lagian kita udah nikah Vir," ungkapnya.
"Apa Sha?" tanya nya kaget.
"Iya Vir, makanya udah ... stop!" ucap Shasha tegas.
"Awas ya lo kalau nyakitin Shasha!" teriak Vira.
"Apaan?" jawab Raka yang seolah menantang.
"Eh ... ngejel juga ya, sini gue hajar nih!" teriak Vira lagi.
Shasha tiba tiba tersenyum melihat Vira dan Raka tak akur.
"Udah udah Kak Raka, Vira udah," ucap Shasha.
"Vir, Vira yang dulu aku kenal akhirnya kembali lagi, kamu gak berubah Vir, aku ternyata masih sekonyol dulu," gumamnya dalam hati.
"Sha sekali lagi aku minta maaf, kamu pasti cape Sha kamu boleh pulang dulu sama nih cowok nyebelin," celotehnya.
Raka pun hanya melirik Vira sinis.
"Aku mau nemuin papa sama Pram dulu, aku mau ngomong sama mereka," ucapnya lagi.
"Yaudah kalau gitu Vir aku pulang dulu ya, kamu baik baik ya, kamu jangan lupa kabarin aku, nih tulis kontak kamu di handphone aku," ucap Shasha lalu memberikan handphonenya pada Vira.
Vira pun menulis nomer handphonenya, dan memberikan handphone tersebut pada Shasha.
Shasha tersenyum.
"Kenapa Sha?" tanya Raka.
"Liat kak," ucap Shasha lalu memperlihatkan layar handphonenya.
"Idih, apaan tuh si cantik Vira!" ejek Raka yang melihat nomer telpon yang di namai Vira di handphone Shasha.
"Masalah buat Lo hah?" celetuk Vira.
"Udah udah ih," ucap Shasha mencoba melerai mereka.
"Yaudah Vir, aku pulang ya," ucap Shasha pamit.
Mereka pun berpelukan dan pergi dari ruangan tersebut.
Vira menunggu sekitar dua menit lalu Pram dan Poernomo menghampirinya di ruang kunjungan tentu dengan di dampingi petugas polisi.
"Vir?" panggil ayahnya.
"Vira?" saut Pram.
"Udah lah Pram pah kalian jangan belaga syok gitu, awalnya aku simpati sama kalian tapi setelah tau kebenarannya, aku kecewa sama kalian terutama sama kamu Pram," ungkap Vira.
"Kamu baru sadar Vir? udahlah toh hubungan kita juga udah berakhir sejak lama," lirih Pram.
"Tapi bodohnya aku Pram, aku masih saja memikirkan kamu, setelah aku tau apa yang kamu lakukan aku gak akan bisa memaafkan kamu," ungkap Vira kesal.
"Vir jangan gitu sayang, maafin papa, papa yakin papa bisa bebas secepatnya, apa sih yang gak bisa kita lakuin kita punya uang Vir," bisiknya pelan.
"Apa? papah mau nyogok polisi!" teriak Vira sengaja.
"Sutt ... kamu jangan kenceng kengceng Vir?" tanya Poernomo kesal.
"Udahlah pah, lebih baik papa ikutin proses hukum ini, meskipun aku kesel sama papa aku benci sama papa, tapi papa tetap papa aku, aku gak Dateng kesini lagi pak. Tapi, papa jangan khawatir aku akan berusaha cari pengacara terbaik yang setidaknya bisa membantu papa mendapatkan keringanan hukuman," lirih Vira.
"Apa? Vir dengerin papa dulu, ka--" ucap Poernomo terpotong.
"Udahlah pah, aku juga udah cape, aku pergi pah" lirih Vira lalu melirik sebentar ke arah Pram.
Dengan perasaan yang bercampur aduk Vira pergi meninggalkan ayahnya di jeruji besi tersebut.
Sementara itu Shasha dan Raka yang sudah berjalan menuju rumah dengan menggunakan mobil tersebut saling diam, tak bicara.
Setelah beberapa lama, Shasha yang merasa bersalah berbicara pada Raka.
"Kak Raka, aku minta maaf!" ungkapnya lirih.
"Aku pikirin dulu Sha, aku aku gak maafin kamu gimana?" tanyanya dengan gaya becanda.
Shasha kemudian tersenyum, melihat Raka yang masih bisa becanda dengan ya ia yakin Raka tak akan semarah yang ia bayangkan.
"Kenapa kamu senyum gitu?" tanya Raka heran.
"Enggak kak, aku seneng kamu gak marah lagi," ungkap Shasha tenang.
"Idih ... kata siapa aku gak marah?" tanya Raka.
Shasha cemberut tak berbicara.
"Aneh kamu mah Sha, harusnya aku yang marah kali.*
"Jangan cemberut gitu, jelek" celoteh Raka lalu menyubit bibi Shasha.
"Ih diem kak," keluh Shasha.
"Harusnya aku yang kesel tau, aku tuh cemburu."
"Lagian aku juga khawatir Sha, kalau terjadi apa apa kan aku juga yang repot," Raka menggerutu.
__ADS_1
"Iya kak maaf, aku usahain gak akan bertindak gitu lagi," ungkap Shasha.
"Aku maafin kamu tapi ada Syaratnya," ucap Raka lalu tersenyum.
"Syarat apa? jangan aneh aneh ya kak!" tegas Shasha.
"Aneh aneh apa sih? gr banget sih kamu, dari semalem negatif aja pikirannya," celotehnya.
"Ya terus apa dong?" tanya Shasha penasaran.
"Emm .... " Raka berdengung.
"Apa sih kak?" Shasha semakin penasaran.
"Panggil aku sayang hari ini kamu tambah ganteng deh," ungkapnya lalu tersenyum lebar.
"Ih gak mau kak," keluh Shasha.
"Yaudah kalau gitu gak ada maaf buat kamu," ungkap Raka.
"Iya iya aku ngomong nih," ucap Shasha.
"Ayo!" tantang Raka.
Shasha terdiam.
"Aku itung deh sampe tiga, satu ... dua ... ti--" ucap Raka terpotong.
"Iya kak aku ngomong ini!" tegas Shasha.
"Apa coba?" goda Raka.
"Sa ... sa ... Sayang kamu gan ... ganteng hari ini," ucap Shasha terbata bata sambil dengan mata tersenyum.
Raka pun tersenyum bahagia.
Emuach
Saking gemesnya pada Shasha Raka mencium pipi kiri Shasha.
Sontak Shasha pun kaget dan refleks membuka kembali matanya.
"Ih ... kamu apaan sih kak," keluhnya sambil mengelap pipi kiri tersebut.
"Suruh siapa kamu menggemaskan gitu Sha," ungkapnya jujur.
"Udah kak, jangan becanda terus! kamu fokus aja nyetir," seru Shasha.
"Siap istriku," ungkap Raka.
Raka pun fokus menyetir dan sesekali melirik ke arah Shasha.
Jika di lihat baik baik Raka memang sangat tampan bukan hanya tampan wajah manisnya menjadi nilai plus tersendiri, apalagi jika sedang fokus menyetir jiwa kece nya meronta ronta.
Tapi sayang, Shasha sama sekali tak tergoyahkan, cintanya hanya untuk Vano seorang, pria dingin yang hatinya hangat.
"Kak Vano, syukurlah kak kamu baik baik aja, aku harap masalah kamu bisa bener bener selesai perusahaan kamu bisa kembali normal," gumamnya Shasha hati.
"Kak Raka, bersama kamu memang selalu membuat aku tersenyum bahagia, namun hati aku sama sekali belum berubah kak," gumamnya dalam hati kembali.
...****************...
Sementara itu di lain tempat, Vano Nara dan Monicca telah sampai di rumah Monicca dan tentunya sebelum ke rumah mereka sudah menjemput Prasetya di hotel.
"Mah pah," panggil Vano tanpa mengapa Nara.
"Iya Van?" tanya papanya.
"Aku gak akan lama, aku mau pulang aja ke rumah, aku duluan ya," ungkap Vano lalu berjalan pergi.
"Kenapa dia mah?" tanya Prasetya.
"Mah gimana ini, kak Vano bahkan gak mau bicara sama aku," ungkap Nara.
"Kamu susul dia Ra," usul Monicca.
"Iya mah pah, aku pergi," ucap Nara lalu berlari menyusul Vano.
Vano hendak menaiki mobilnya tiba tiba Nara mendahului lalu masuk ke mobilnya.
Vano mengerutkan dahinya dan berbicara dengan nada yang dingin.
"Ngapain kamu kesini?" tanyanya sinis.
"Aku ikut kamu kak," ucap Nara lalu memakai sabuk pengaman di mobil Vano.
"Nara jangan buat saya marah," ancam Vano.
Nara mulai kesal.
"Kenapa kak? kamu masih gak terima aku? kamu masih mengharapkan Shasha? jawab aku kak!" ungkap Nara tegas.
"Iya ... bukan, lebih tepatnya masih mencintainya, saya udah gak bisa mengharapkan kembali dia sudah menikah dengan Raka," lirih Vano.
"Apa?" tanya Vira kaget.
"Udah lah Ra, saya mohon kamu gak usah mengharapkan saya lagi, seandainya saya gak bisa bersama Shasha kembali bukan berarti saya mau bersama orang lain terutama kamu," tegasnya.
"Saya mohon kamu cepat turun Ra," ujar Vano.
"Engga kak, aku mau ikut Vano," Nara bersikeras.
"Oke, kalau kamu mau tetap di situ," ucapnya dingin.
Vano mengambil kunci mobilnya dan mencegah taksi yang kebetulan lewat.
Tanpa berkata apapun Vano pergi meninggalkan Nara.
"Percepat ya pak," ujar Vano pada supir taksi.
"Siap pak," jawab supir taksi tersebut.
Tit tit tit tit
Suara kelakson mobil Vano berbunyi dengan kencang setelah Nara memukul area stir karena amarahnya meluap.
__ADS_1
"Jahat kamu Vano!" teriak Nara.
Bersambung...