Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 7- Ketika Cinta Tumbuh Di Lahan Orang


__ADS_3

Vano memang belum pernah sekali pun mengirim pesan pada Vira (Shasha) ia selalu minta tolong pada Gio asisten pribadi nya atau Raka yang merupakan sahabat karibnya itu.


Geprak


Seketika Vira langsung tak nafsu makan, ia menyimpan handphone nya dengan kasar di meja dan terus menggerutu tak henti hentinya.


"Kenapa gini terus, kapan penderitaan ini berakhir!" teriak Bira yang kesal dan marah.


Walaupun bukan dirinya yang menemui Vano melainkan Shasha, tapi ia berfikir Shasha hanyalah penggantinya, dia selalu khawatir identitas Shasha terbongkar dan malah beralih kepada Vira yang sebenarnya.


Shasha dan Nara yang melihat sahabatnya marah marah gak jelas itu spontan kaget dan bertanya.


"Loh Vir, Kamu kenapa Vir," tanya Shasha.


"Iya ada masalah apa?" saut Nara menanyakan hal yang sama.


Vira pun menggelengkan kepala lalu ia pergi dengan wajah kesal begitu saja.


"Aku pergi dulu bentar," jawab Vira.


Shasha dan Nara keheranan, gak biasa nya Vira yang selalu ceria dan bertingkah konyol tiba tiba jadi jutek seperti itu.


Shasha lalu mengirimkan pesan pada Vira, ia sudah ada firasat kemarahan Vira barusan pasti ada hubungannya dengan perjodohan nya dengan Vano.


"Vir kamu kenapa? Apa ada hubungannya sama masalah perjodohan kamu itu? Vir maafin aku ini semua pasti gara gara aku" Pesan Shasha pada Vira.


Lalu tak lama Vira pun membalas pesannya.


"Aku jemput kamu setelah kamu pulang kerja, nanti aku nginep deh di kosan kamu," pesan balasan dari Vira.


Jam istirahat pun selesai Shasha mengajak Nara untuk mengikuti kelas mereka masing masing.


"Ayo ra kita ke kelas lagi," ajak Shasha.


"Iya sha," jawab Nara.


Mereka kembali memasuki kelas masing masing dan mengikuti perkuliahan seperti biasa.


Setelah selesai kuliah Shasha bergegas pergi bekerja ke Restoran tempatnya bekerja.


...****************...


...Restoran...


Sesuai biasa, Restoran yang menjadi tempat Shasha bekerja selalu ramai pengunjung, waktu sudah menunjukan pukul 20.00 sekitar satu jam lagi restoran akan segera di tutup, lama kelamaan pengunjung mulai sepi.


Tiba tiba terdengar keributan di kejauhan namun suara keributan itu kian detik kian mendekat, seketika semua pegawai dan pelanggan berbondong bondong melihat ke luar restoran.


"Ya Ampun, cowo itu kasian banget di kroyok preman," teriak seorang pelanggan.


Semua orang spontan melihat ke arah keributan di sebrang restoran tempat Shasha bekerja.


"Mba, ada keamanan atau satpam gak? kalau engga eu ... telpon polisi aja, bahaya bisa bisa cowok itu gak ketolong," saut pelanggan yang lain.


Melihat keadaan itu Shasha sigap menghubungi satpam restoran yang kebetulan sedang tak berada di area restoran.


Tak lama setelah itu satpam datang dan berhasil melerai perkelahian seorang pemuda dengan segerombolan preman itu, dan preman preman tersebut kocar kacir ketakutan.


Semua orang langsung menghampiri pemuda itu dengan kondisi babak belur, Shasha dan rekan kerjanya pun tak ketinggalan melihat keadaan pria itu


"Mas, mas, gapapa kan? ayo saya bantu ke rumah sakit," ucap satpam restoran sambil berusaha membantu pria itu berdiri.


Pria itu tak merespon ajakan satpam, justru ia malah berbicara ngaur, tidak heran ternyata dia dalam keadaan mabuk berat.


"Kok aku kaya familiar ya sama cowok itu, punggung nya ... badan nya .... " gumam Shasha pelan sambil mengingat ngingat seseorang.


"Ya Ampun itu kan kak Raka," lanjutnya, Shasha menyadari bahwa pria dengan luka memar di pipinya itu adalah raka, teman Vano.


"Aduh gimana ini, kalau dia liat aku pake seragam kerja bisa bisa nanti dia curiga, kayanya aku harus buru buru pergi, tapi ... euh gimana ya," guman nya dalam hati


"Kak, kak Desi," Shasha memanggil rekan kerjanya.


"Iya kenapa sha?," jawab desi, rekan kerja Shasha.


"Kak cowo itu temen aku, aku harus bantu dia, boleh minta tolong gak kak? kayanya hari ini aku pulang duluan, mungkin gak bisa bantu kakak sama yang lain siap siap buat tutup resto, tapi aku ke ruang ganti dulu, mau ganti baju," jelas Shasha dengan nada paniknya.


"Oh ya udah Sha gapapa, kamu bantu dia aja dulu cepetan ya ganti baju nya Sha, kasian dia," ujar rekan kerja Shasha.


Shasha mengangguk kemudian berlari ke dalam resto dan mengganti pakaiannya


"Kak, kak, kak Raka," seru Shasha yang tak lama kembali setelah mengganti pakaiannya.


Raka Tak merespons ucapan Shasha, bahkan kini dia sudah hampir tak sadarkan diri.


"Pak ini temen saya, gapapa biar saya aja yang bawa dia ke rumah sakit bapak bantu saya aja bawa dia kedalam taksi," ucapnya Shasha panik pada satpam yang berdiri di depannya.


"Ya udah dek, saya bantu panggil taksi ya," jawab satpam itu dan kemudian bergegas memanggil taksi.


Singkat cerita Shasha dan Raka pergi ke rumah sakit kemudian Rama mendapatkan penanganan terbaik dari dokter.


"Mba, mohon maaf apa mba keluarga dari pasien?" ucap seorang dokter yang keluar dari ruang IGD.


"Euh ... bukan dok sama temennya," jawab Shasha.


"Oh baik tolong segera hubungi keluarganya, tapi saat ini tidak ada yang perlu di khawatirkan pasien tidak mengalami luka berat hanya saja memar di area wajah, tadi pasien tidak sadarkan diri karena efek dari minuman keras atau alkohol yang ia konsumsi tapi kini pasien sudah sadar dan sudah siuman," jelas dokter tersebut dengan detail.


"Oh iya makasih dok, saya kurang tau keluarga dari pasien, nanti saya berusaha cari cara untuk menghubungi keluarganya, apa boleh saya melihat keadaan pasien dok?" tanya Shasha.


"tentu, silahkan."


Shasha hanya mengangguk, kemudian masuk ke ruang IGD dan melihat Raka yang penuh memar itu sedang melamun


"Kak Raka, kamu gapapa kan kak?" tanya Shasha khawatir.


Raka tak langsung menjawab pertanyaan Shasha, ia hanya tersenyum, sesekali matanya berkaca-kaca dan seperti menahan amarah.


Tak lama kemudian ia berbicara dengan nada tinggi, ucapannya itu membuat Shasha kaget.


"Vir, ternyata kamu yang nyelametin aku, ngapain kamu sok sok jadi pahlawan hah? kamu seharusnya biarin aku mati dipukuli mereka!" teriak Raka.

__ADS_1


"Ya ampun kak ... kak Raka ini kenapa, tenang kak," Shasha berusaha menenangkan Raka yang seperti tersulut emosi.


"Kak, aku udah hubungi kak Vano supaya dia dateng kesini, aku gak tau harus hubungi siapa jadi aku hubungi dia, kakak tenangin diri dulu ya," lanjut nya kembali menenangkan.


Sebelum masuk keruang IGD tersebut Shasha memang sudah meminta bantuan Vira untuk menghubungi Vano lewat pesan singkat agar segera ke Rumah Sakit tempat Raka di rawat dan tentunya ia menyuruh Vira langsung ke kosan agar tidak menjemputnya di restoran sesuai janji Vira pagi tadi.


"Kok kak Raka jadi gini, aku harus gimana in," gumam Shasha yang mulai kebingungan.


"Vir, apa menurut kamu aku ini gak berguna, aku gak ada harganya," lirih Rama spontans.


"Ya ampun kak ... jangan bicara gitu! gak boleh loh kak berfikir dangkal kaya gitu, kata siapa kakak gak berguna katak siapa Kakak gak ada harganya, walaupun aku baru ketemu kakak beberapa kali aku tau kok kakak sebenarnya orang yang baik."


"kamu gak tau aku Vir, kamu gak tau kehidupan gelap aku kaya gimana." celoteh Raka.


"Aku punya uang iya, tapi aku gak punya yang namanya kedamaian, kebahagiaan, dan bahkan harmonisnya sebuah keluarga Vir." keluhnya.


"Aku sering kali di anggap gak berguna padahal ... mereka Vir, meraka yang membuat aku terpaksa terjebak di jalan buntu ini."


"Aku berusaha membeli semua yang aku butuhin itu dengan uang, aku tiap malam mabuk mabukan bermain wanita, tapi mana Vir sama sekali itu gak bisa buat aku bahagia hingga aku hampir tiap malam mencari masalah sama banyak orang."


"Kamu tau Bir? satu satunya hal yang membuat aku terkadang bahagia itu hanya berteman dengan orang tulus dan apa adanya seperti Vano."


"Kamu pasti beruntung dapetin dia Vir," ucap Raka lagi dengan tatapannya yang kosong.


"Kak ... aku mungkin gak merasakan apa yang selama ini kakak rasakan, tapi aku mungkin bisa memahami kondisi kak Raka," saut Shasha.


"Aku cuma mau ngasih tau kakak, kebahagiaan itu memang tak bisa di beli dengan uang ... tapi dengan apa? kakak tau? dengan banyak bersyukur kak, jangan melihat lagi kebelakang, jangan lagi mau menjadi sosok Raka di masa lalu, buktikan kak kalau kakak bernilai di mata mereka," ucap Shasha berusaha menyadarkan Raka.


"Kak Raka tau, apa itu balas dendam terbaik?" tanya Ahasha dengan nada kejamnya membuat Raka tak menyangka Shasha (Vira) yang mungil itu bisa berbicara seperti itu


"A ... apa itu?" tanyanya penasaran.


"Balas dendam terbaik adalah dengan pembuktian bukan pemberontakan," ucap Shasha sambil tersenyum.


Raka pun tersenyum kembali, iya mengira Shasha(Vira) akan mengatakan hal membuatnya tercengang.


"Dasar nona mungil," ucap nya mengejek Shasha.


"Udah kak jangan sedih sedih lagi, jangan kaya tadi kak, jangan jadi pusat perhatian di tempat umum kaya tadi lagi, malu maluin tau," candanya.


Raka akhirnya bisa tersenyum kembali dan mereka terus bercanda tiada hentinya.


"Van Van ... wajar Lo mudah tertarik sama dia, dia emang beda, andai aja gue ketemu dia lebih awal dari lo," gumam nya dalam hati sambil terus menatap mata Shasha yang bening dan berbulu lentik juga dengan senyuman khas nya yang manis mampu memikat semua mata yang melihatnya.


"Gue gak nyangka, ada cewe anak konglomerat sesederhana dan sebaik ini," lanjutnya seakan akan terus mengagumi Ahasha yang tentunya ia sangka Vira itu.


"Maafin aku tadi gak seharusnya bicara gitu Vir," ucap Raka yang menyesali perbuatannya itu.


"Gapapa kak gak usah dipikiran, lagian aku gak masukin ke hati kok," jawab Shasha.


Tok.. tok.. tok..


Vano pun datang tepat waktu sesuai permintaan Shasha lewat Vira.


"Ka, Ka, aduh lo ini kenapa lagi sih," gerutu Vano yang tak heran karena kebiasaan buruk Raka.


Raka hanya terdiam seolah merasa bersalah tak seperti biasanya.


"Gue baru sadar Van, kata kata seseorang yang menyadarkan gue bahwa Balas dendam terbaik adalah dengan pembuktian bukan pemberontakan," lanjutnya


"itu lo tau, kita pulang ke rumah gue aja administrasinya udah gue urus," ucap Vano.


"Tpi kayanya lo ke rumah gue nya naik taksi, gara gara Lo sih jadi gue terpaksa bawa si joger," lanjutnya.


"Vir, gak baik cewe hampir tengah malem gini keliaran di luar kamu saya anter ke rumah ya," ucap Vano.


"I ... i ... Iya kak, tapi kaya nya aku gak pulang ke rumah, aku nginep di kosan temen aku aja," jawab Shasha berbohong.


"Yaudah saya anterin kamu kesana, nanti kamu tunjukin aja jalannya."


Tak lama setelah itu, mereka keluar dari rumah sakit, Raka lebih dulu pulang dengan taksi online, tanpa di sadari Raka tak henti hentinya menatap kaca belakang mobil yang mengarah ke arah Vano dan Shasha.


"Vir, saya anterin kamu pake si joger ya," ucap Vano pada Shasha.


"Joger?" tanya Shasha penasaran.


"iya, itu!" jawab Vano sambil menunjuk ke arah motor gede berwarna hitam miliknya.


Shasha hanya berusaha menahan tawa.


"Saya cuma bawa satu helm, kamu pake aja! Pake juga jaket saya," ucap Vano sambil memberikan helm dan membuka jaket kulit tebal yang tengah dipakainya.


"Gak usah kak, lagian aku ju--" Shasha yang berusaha menolak tiba tiba tak bisa berkata kata lagi, Vano dengan sigap nya merebut helm kembali lalu memakaika nya ke kepala mungil Shasha, tak lupa ia mengaitkannya di bawah dagu Shasha.


Shasha hanya terdiam, lagi lagi Vano membuat Shasha kembali tak bisa berkata kata, setelah itu Vano memakaikan jaketnya yang wangi parfum khas pria cool.


Namun Vano justru berusaha menahan tawa setelah melihat Shasha memakai helm dan jaket yang kebesaran, Shasha pun kemudian menyadarinya.


"Udah kak jangan ngetawain aku," ujarnya sambil cemberut yang semakin membuat Vano gemas.


"Gr banget sih kamu, cepetan kamu naik!" serunya.


Shasha berusaha naik ke motor gede Vano namun ia kesulitan karena badannya yang mungil dan terbilang cukup pendek.


"Ya ampun Vir Vir, sini saya bantu!" ucap vano yang kemudian spontan memangku Shasha dan menaikannya ke atas motor,


Shasha pun kaget dan tak bisa berkata kata lagi.


"Kamu pegangan aja gapapa takutnya kan badan kecil kamu kebawa angin," canda Vano menggoda Shasha.


Shasha tak merespon ucapan vano itu, ia hanya refleks memeluk erat Vano ketika motor mulai berjalan.


...****************...


...Kosan Shasha...


Beberapa menit di perjalan Shasha pun tiba di kosan nya, yang tentunya sudah ada Vira yang menunggunya pulang.


Seperti biasa Shasha menceritakan apa yang terjadi dan Vira dengan usil nya menggoda Shasha.

__ADS_1


Tak lama mereka pun mulai bicara serius.


"Haduh Sha rencana kita gimana, aku udah bingung sampai sekarang belum menemukan cara yang tepat, emang kaya nya dia tertarik sama kamu Sha makanya dia bersedia terus ketemu kamu," ucap Vira sambil rebahan di kasur kecil Shasha.


"Kamu liat nih pesan asisten pribadinya Vano tadi pagi," lanjut Vira sambil memperlihatkan handphone nya.


Shasha pun melihat pesan tersebut dan sedikit bahagia namun juga masih selalu resah.


"Kak vano ... kak vano, kamu itu aneh giliran ketemu langsung pelit banget ngomongnya bahkan tadi kamu gak bilang apa apa soal rencana ketemu itu, sekalinya pengen ketemu caranya emang gak biasa, ehh ... ya ampun Sha jangan mikir aneh aneh apalagi ngarepin yang gak gak boleh kamu harapkan," gumam Shasha dalam hati.


"Jadi kita harus gimana Vir? tuh kan aku bilang apa masalah perjodohan ini gak sesederhana yang kamu bayangkan, rencana awal aku nyamar jadi kamu dan bertingkah supaya kak Vano ilfil waktu itu justru malah terus akan menimbulkan masalah baru bagi kamu juga bagi aku Vir," lanjut Shasha.


Vira hanya menyesali tindakan nya itu yang ternyata malah tak sesuai ekspektasi.


"Jadi sekarang kita harus gimana Vir? udah lumayan lama juga apa kita akui aja kalau sebenarnya aku bukan kamu dan kamu Vira yang sebenarnya," tanya Shasha dan memberikan Bira saran yang lumayan masuk akal.


Vira terdiam sejenak dan masih saja memikirkan cara.


"Jangan Sha, kita tetep pura pura dulu aja nanti kalau udah nemuin cara yang tepat kita baru bertindak lagi untuk menyelesaikan masalah ini," jelas Vira.


"Weekend nanti kamu pergi dulu aja ya Sha, nanti seperti biasa aku atur lagi semuanya,", lanjut vira.


Shasha yang tak mau berdebat dan membuat sahabatnya marah itu hanya terdiam dan mengiyahkan kemauan Vira, walaupun sebenarnya hati nya sedikit gelisah khawatir Poernomo mengetahuinya juga khawatir Vano menyadari kebohongannya selama ini.


...****************...


...Beberapa hari kemudian...


Kini saatnya pertemuan antara Vano dan Shasha berlanjut di tempat yang tenang dan asri pulau pribadi milik Vano, berbeda dengan sebelumnya kini Vano tak di temani sahabatnya Raka dan Shasha pun tak harus di kawal Vira.


Vira yang kesal dan masih tak terima keputusan ayahnya itu memutuskan pergi berlibur sendiri agar Poernomo mengira ia pergi bersama Vano.


Setelah pagi pagi bersiap Shasha lalu bertemu Vano, kini mereka sedang duduk manis di kapal laut menikmati pemandangan yang indah dan sejuk.


"Kak vano," Sasha memanggil Vano.


"Iya?" tanya Vano dingin.


Shasha menghela nafas sebentar lalu mulai berbicara


"Kakak kenapa ngajak aku ke sini? padahal kita baru beberapa kali ketemu," tanya Shasha penasaran.


Vano diam tak menjawab pertanyaan Shasha tersebut cukup lama, malah terus melihat lautan yang biru dan pegunungan yang indah itu, hasha pun hanya terus diam menunggu Vano menjawab pertanyaan nya.


Setelah beberapa lama Vano pun berbicara, namun bukan menjawab pertanyaan Shasha tapi malah bertanya balik.


"Terus kenapa kamu juga mau pergi sama saya?" tanya Vano.


Shasha hanya terdiam.


"Walaupun kita udah kenal berbulan bulan, tapi baru kali ini saya berani bertanya ini sama kamu, kamu serius suka sama saya seperti kata papa kamu itu?" tanya Vano membuat Shasha tercengang.


Shasha hanya terdiam tak menjawab ia takut salah bicara.


"Kamu wanita pertama yang saya bawa kesini, kamu juga wanita pertama yang saya ajak pergi," ucap Vano dengan nada yang berbeda dari biasanya.


"Kamu pasti tanya kenapa kan? Saya juga belum tau jawaban nya, jujur saja pertama kali melihat kamu yang cukup menggemaskan, hati saya sedikit terbuka dan tertarik Vir," ungkap Vano jujur.


Shasha kaget dan jantung nya berdebar.debar tak karuan tapi dia terus terdiam tak berbicara.


"Tapi saya belum bisa memastikan perasaan saya, apa ini cinta atau justru bukan."


"Saya juga belum memastikan perasaan kamu yang sebenarnya, apa kamu tulus mencintai saya atau justru sebaliknya Vir," ungkap vano sambil menatap dalam Shasha.


"Saya hanya akan menikahi wanita yang saya cintai dan mencintai saya."


"Saya ngajak kamu pergi untuk lebih mengenal kamu dan untuk mencari jawaban atas kebimbangan hati saya."


"Saya memilih tempat ini karena ini lah satu satu nya tempat saya menenangkan diri dan mencari solusi ketika saya mengalami kebimbangan."


Vano yang jarang bicara ketika itu tak henti berbicara mengungkapkan kebimbangan hati nya itu kepada Shasha.


Shasha sedikit kaget dan berfikir apa mungkin Vano mulai membuka hati untuknya, ia pun terus bertanya tanya pada dirinya sendiri apa ia juga telah menaruh hati pada Vano.


Mereka sama sama belum memastikan perasaan mereka, Vano hanya berharap segera menemukan jawaban dan keyakinan atas kebimbangan hatinya itu.


Sedangkan Shasha justru jauh lebih bimbang seandainya mereka saling mencintai, ia justru takut karena identitas nya.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di pulau indah dan luas itu.


Vano dan Shasha menghabiskan waktu hampir seharian mereka melihat pemandangan, jalan jalan berkeliling pulau dan tak lupa makan bersama.


Setelah sore mereka pun memutuskan untuk pulang dengan kapal laut yang mereka tumpangi tadi.


Shasha hanya tersenyum manis mengingat tingkah konyol saat pertama bertemu Vano.


"Seandainya kita pertama kali ketemu kamu mengenal aku sebagai Shasha bukan vira anak pebisnis besar, apa kamu masih bisa tertarik sama aku kak?" gumam shasha bertanya sendiri dalam hatinya.


"Kamu kenapa Vir?" tanya Vano yang melihat Shasha terus diam melamun.


"Nggak kok kak, aku mungkin terlalu menikmati pemandangan ini," jawab Shasha.


Vano pun percaya karena memang pemandangan sore itu sangat indah dan mereka pun berkesempatan melihat sunset yang indah.


"Kak pemandangannya bagus, kita foto yu," ajak Shasha spontan.


"Nggak ah, saya gak terbiasa," ucap vano dengan sikap dinginnya yang muncul kembali.


"Kalau gitu kita foto bayangan kita aja, biar muka kita gak keliatan, buat kenang-kenangan."


"Ayo berdiri," ajak Shasha mengarahkan.


"Tetep gak mau nanti di kiranya saya foto sama anak SMP, kamu gak sadar kamu pendek," celotehl Vano.


Shasha pun diam dan sedikit cemberut mendengar ucapan Vano padahal ia tau kalau Vano hanya becanda.


Vano pun tersenyum melihat Shasha yang seperti itu.


"Ya udah ya udah ayo foto, tapi inget ya cuma bayangan nya aja," ucap Vano

__ADS_1


Mereka pun mengambil foto bayangan mereka yang berdampingan di depan sunset dan lautan yang indah.


Bersambung...


__ADS_2