
Melihat Raka yang tiba tiba ada di sampingnya membuat Shasha bertanya tanya.
"Loh ... Kak Raka kok bisa disini?" tanya Shasha heran.
Raka tak menjawab pertanyaan Shasha, ia hanya tersenyum lalu memperlihatkan pesan di handphonenya.
"Apa ini kak?" tanya Shasha semakin heran.
"Coba kamu baca Sha," ucap Raka lalu memberikan handphonenya pada Shasha.
Shasha pun membaca pesan singkat dari handphone tersebut yang berisi.
"Raka, kalau kamu memang mencintai Shasha susul segera dia di Bandara. Temani dia, jaga dia, saya mempercayakan dia pada kamu, Derryl."
Membaca pesan singkat dari Dr Derryl semakin menggores kesedihan dihatinya, apalagi jika mengingat ketulusan Dr Derryl harus ia sia siakan demi seorang Vano yang ingkar janji dan entah apa yang menjadi alasannya berbuat seperti itu.
"Kamu nangis Sha?" tanya Raka setelah menatap mata Shasha Berkaca kaca.
"He, engga kok Kak," jawabnya singkat.
"Ngomong ngomong gimana kabar kamu Sha?" tanya Raka lembut.
"Aku baik Kak," jawabnya masih dengan kalimat yang singkat.
"Syukur lah Sha," ungkapnya.
Shasha tersenyum tanpa mengatakan apapun.
Melihat Raka yang terus menatap perutnya, ia pun mengerti apa yang sedang dipikirkan Raka.
"Anak kamu juga baik kak," saut Shasha.
Mendengar hal tersebut keluar dari mulut seorang Shasha Raka begitu senang, ia merasa benar benar di akui sebagai ayah dari anak yang ada di kandungan Shasha.
"Makasih Sha kamu ternyata memang mengakui aku sebagai ayahnya," ungkap Raka kemudian mengelus perut Shasha.
Shasha pun hanya mengangguk, terkadang ia merasa kesal ketika mengingat laki laki yang pernah menidurinya itu tapi melihat bagaimana penyesalan Raka ia pun hanya bisa memaafkan tangan terbuka.
"Sha, kamu gak keberatan kan aku duduk disini nemenin kamu?" tanya Raka.
"Engga Kok Kak, seharusnya aku ngucapin terimakasih kamu udah mau nemenin aku," jawabnya.
Raka pun kembali menunjukan senyum manisnya pada Shasha.
Tak lama setelah itu terdengar suara pemberitahuan bahwa pesawat akan segera berangkat.
"Sha, kamu pake dulu sabuk pengamannya!" perintah Raka.
"Iya kak," jawabnya singkat.
Shasha pun berniat untuk memakai sabun pengamannya tapi entah kenapa Shasha terlihat kesulitan.
Raka yang sedari tadi memperhatikan Shasha dengan sigap membantunya memakaikan sabuk pengaman.
"Sini Nona mungil aku bantu," candanya sambil berusaha memasangkan sabuk pengaman di badan Shasha.
"Gapapa Kak, aku bisa kok," ucap Shasha lalu berusaha merebut kembali sabuk pengamannya sampai tak sengaja tangan mereka bersentuhan.
Refleks Shasha langsung mengibaskan tangan Raka.
"Sha, apa kamu sejijik itu sama aku? apa dimata kamu sampai kapanpun aku hanyalah laki laki brengsek?" tanya Raka lirih.
"Ya ampun enggak Kak, maafin aku bukan itu maksud aku," sautnya.
"Iya Sha gapapa aku ngerti kok," ucapnya lirih.
Tak lama kemudian pesawat pun berangkat menuju Jakarta.
"Sha kalau boleh aku tanya, apa yang terjadi sama kamu Vano dan Dr Derryl sekarang? kenapa tiba tiba dia menitipkan kamu ke aku? padahal ketika aku berusaha merebut kamu dari dia kayanya dia belum sepenuhnya ikhlas," tanyanya penasaran.
"Satu lagi Sha, kenapa kamu tiba tiba mau pulang ke Indonesia?" tanyanya lagi.
"Aku ... aku gak tau harus cerita dari mana Kak, yang jelas aku mengecewakan mas Derryl dan kak Vano mengingkari janjinya ke aku," jelasnya singkat.
"Vano janji apa sama kamu Sha?" tanya Raka.
"Dia janji hari ini akan menjemput aku di Rumah mas Derryl, menikahi aku dan membawa aku kembali ke Indonesia nyata nya dia gak datang sama sekali Kak," lirihnya.
"Berengsek lo Van, lagi lagi lo nyakitin dia? apa sebenarnya mau lo Van? cinta cinta dusta Lo," gumamnya dalam hati.
"Jangan sedih Sha, kamu kalau sedih gitu jelek tau," canda Raka lalu mencubit hidung Shasha.
"Ih apaan sih kak, aneh de bukannya ngehibur malam ngehina aku," keluh Shasha.
"Iya makanya kamu itu harus selalu tersenyum Sha, aku gak mau nih anak kita pas nangis mukanya kaya kamu," canda Raka tertawa menyinggung soal anaknya.
"Apa kamu bilang, anak kita? engga ini anak aku," ucap Shasha lalu berusaha membelakangi Raka.
"Enak aja kamu, anak aku juga kali," ucapnya masih bercanda.
"Engga anak aku," sangkal Shasha.
Raka pun tersenyum melihat Shasha yang memang terkadang selalu menggemaskan.
__ADS_1
"Yaudah yaudah aku ngalah Sha, iya deh anak bunda Shasha," celetus Raka becanda.
"Apa bunda Shasha?"
"Ya ialah Sha, kamu bentar lagi kan jadi bunda," ungkap Raka yang tak henti hentinya menggoda Shasha.
"Ih aku baru sadar deh kalau kamu nyebelin banget Kak Raka," gerutu Shasha.
"Iya deh iya maaf ... bunda," ucap Raka lalu berbisik pelan ke telinga Shasha.
Shasha pun berbalik badan dan menghadap ke arah depan, mendengar celotehan celotehan Raka ia sangat kesal tapi terkadang karena celotehan itu ia bisa tertawa ringan juga.
Beberapa jam di pesawat Shasha yang kelelahan tak sengaja ketiduran, dengan sigap Raka pun menyandarkan kepala Shasha pada bahunya.
"Nona mungil, nona mungil", ucapnya sambil menggelengkan kepala.
...****************...
...Jakarta...
"Pak, bapak mau kemana?" tanya Gio ketika melihat Vano akan menaiki taksi.
"Saya ada hal yang sangat penting, ada apa lagi Gio saya udah telat banget," jawab Vano.
"Pak, kali ini kita bergantung sama bapak, nasib perusahaan dan ratusan karyawan ada di tangan bapak."
"Gio, saya tau itu saya hanya pergi sebentar, nanti saya kembali lagi."
"Tapi Pak hari ini sidang perdana kasus yang menjerat perusahaan kita," ujar Gio.
"Bukannya kita udah nyewa tim pengacara hebat beberapa hari lalu."
"Pak maaf saya gak seharusnya selancang ini, biasanya bapak selalu mengutamakan perusahaan diatas segalanya, tapi di saat kita benar benar terpuruk bapak justru pergi," lirih Gio.
"Pak seandainya saya juga karyawan perusahaan ini kehilangan pekerjaan, itu artinya kita juga kehilangan kehidupan Pak," lanjutnya.
"Barusan bu Monicca menghubungi saya, meminta Bapak tak usah mengkhawatirkan Pak Prasetya karena di sana ada ibu dan juga tunangan Bapak, dia meminta saya memberitahu supaya Bapak fokus menyelesaikan masalah ini dengan baik."
"Pak yang memberatkan pihak kita adalah tidak adanya bukti dan saksi, seandainya bukti itu ada dan saksi mau memberikan keterangan di persidangan mungkin saya gak akan memaksa bapak tetap disini, tapi kita perlu Bapak Pak," lanjut Gio meyakinkan Vano.
Vano terdiam sejenak mencerna ucapan Gio, ia bingung apakah ia harus menjemput Shasha dan meninggalkan masalah perusahaan atau justru mengingkari janjinya pada Shasha yang sangat mengharapkan ia.
"Gio, saya mau tanya sama kamu," ucap Vano tiba tiba.
"Kenapa Pak?" tanyanya heran.
"Seandainya kamu harus memilih antara cinta dan kepentingan orang banyak, apa yang akan kamu pilih?" tanya Vano.
"Gio, seandainya orang yang kamu cintai kembali kecewa sama kamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya lagi.
Gio masih dengan kebingungan nya, ia bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Vano.
Melihat Gio kebingungan Vano menghentikan pertanyaannya itu.
"Lupakan saja, saya cuma nanya iseng kok," ungkap Vano lirih.
Vano tiba tiba melamun.
"Shasha sepertinya kali ini kamu akan sangat kecewa kembali pada saya, maafkan saya harus mengingkari janji," gumam Vano dalam hati.
"Sha, saya harap kamu masih menunggu saya, saya akan menjelaskan semua nanti agar kamu mengerti keadaan saya," lirihnya dalam hati.
"Bagaimana pun juga saya gak bisa membiarkan ratusan karyawan kehilangan pekerjaan mereka, saya gak bisa membiarakan perusahaan yang susah payah di dirikan papa harus jatuh di tangan anak sendiri. Sha, saya harap kamu bisa tunggu saya," ucapnya kembali dalam hati.
"Yaudah Gio maafkan saya, kalau gitu ayo kita pergi ke pengadilan," ujarnya.
Ternyata Vano bukannya sengaja mengingkari janjinya pada Shasha, ia harus menyelesaikan masalah berat yang mempertaruhkan nasib perusahaan dan ratusan karyawannya.
Lagi lagi ada saja halangan Vano dan Shasha untuk bersama, tapi cinta mereka sangat mendalam, Vano selalu yakin suatu saat ia bisa bersama wanita yang dicintainya kembali.
...****************...
Sementara itu Shasha dan Raka baru saja sampai di bandara Ibu Kota Jakarta.
"Bunda mungil, ini koper kamu aku bawaiin ya," ucap Raka.
"Apaan sih Kak, jangan panggil aku kaya gitu," keluh Shasha.
Raka pun tertawa geli melihat wajah mungil Shasha yang cemberut.
"Iya maaf iya, sekarang kita mau kemana Sha?" tanya Raka.
"Aku mau langsung ke Rumah Paman aja Kak, aku gak mau ngerepotin kamu lagi Kak, makasih ya," ucap Shasha.
"Aku anterin kamu ya, aku khawatir kamu kenapa kenapa Sha, gini deh kita naik taksi dulu ke rumah aku terus kita pulang ke Surabaya naik mobil aja ya." Raka menyarankan.
"Tapi Kak ... " ucap Shasha ragu.
"Sha dengerin aku, entah paman kamu tau atau engga kamu hamil yang jelas aku harus menemui dia aku harus minta maaf langsung ke dia Sha, belum lagi bibi kamu aku khawatir dia berbuat nekad lagi sama kamu," jelas Raka.
"Yaudah kalau gitu Kak, makasih ya."
"Iya Sha", ayo kita pergi.
__ADS_1
Singkat cerita Raka dan Shasha pergi dari bandara menuju rumah, kemudian mereka pun berencana langsung berangkat dari Jakarta ke Surabaya, hanya saja Shasha keberatan jika harus tiba di Surabaya siang hari, mereka pun berdiskusi terlebih dahulu.
"Kak, bisa gak kita sampe disana malam hari?" tanya Shasha.
"Loh kenapa Sha?" tanya Raka heran.
"Aku ... aku malu kalau ketemu warga dikampung kak, kalau kita sampai malem mungkin aja gak ada orang di jalan ke Rumah," jelas Shasha.
"Oh iya Sha aku ngerti, yaudah kalau gitu kamu pegang dulu Nih!" perintah Raka lalu memberikan pulpen dan kertas.
"Maksudnya apa kak?" Shasha bertanya lalu mengerutkan dahinya tak mengerti maksud Raka.
"Kamu list duku Sha, apa yang kamu mau selama ini," ungkapnya.
Shasha terdiam semakin bingung.
"Sha, maafin aku ya. Selama lima bulan kamu hamil mungkin kamu pernah ngidam sesuatu, hari ini aku sebagai ayah dari anak kamu akan berusaha melaksanakan semua yang kamu mau, bisa kan aku menebus waktu lima bulan tersebut setidaknya hari ini saja?" ungkap Raka panjang lebar.
Shasha pun bengong mendengar ucapan Raka.
"Kebiasaan deh, Bunda Mungil jangan bengong terus dong, kamu denger aku gak Sha?" tanya Raka.
"I .. Iya Kak aku denger kok."
"Kak, makasih ya sebelumnya, tapi jujur aku emang pernah beberapa kali ngidam dan kamu tau kan bagaimana perhatian Mas Derryl sama ibu, segala yang aku mau selalu di turuti. Tapi cuma satu hal yang aku mau tapi aku gak bilang sama mereka," jelasnya.
"Apa itu Sha?" tanya Raka.
"Ketika itu usia kandungan aku sekitar tiga bulanan kak, saat itu kadang aku masih merindukan suasana Indonesia termasuk makanannya, aku ingin sekali makan Mie Bakso yang ada di kantin kampus," ungkap Shasha jujur.
"Oke deh capcus Sha kita kesana sekarang," saut Raka.
"Tapi kak---" ucap Shasha terpotong.
"Shuttt ... aku tau kamu ngomong apa, kamu gak usah keluar dari mobil aku yang beliin," ucap Raka yang seolah mengerti jalan pikiran dan kekhawatiran Shasha.
Mereka pergi dari area Rumah Raka menuju Universitas Negeri Jakarta yang jaraknya lumayan jauh.
Sesuai rencana awal Raka membeli Mie Bakso yang ada di kantin kampus tersebut hanya demi Shasha, tak tanggung tanggung ia sampai membeli lima porsi.
Ketika sedang menunggu Raka di dalam mobil, hati Shasha begitu tersayat melihat kampus Impiannya yang kini hanya tinggal kenangan manisnya bersama Vira dan Nara.
"Vir, Ra ... aku rindu kalian, aku seperti melihat bayangan kalian yang setiap jam kuliah selesai dan kita akan pulang kita saling melambaikan tangan, aku rindu saat kita makan bersama di kantin," lirihnya pelan.
"Impian aku bergelar S-I lalu kerja di Perusahaan besar semua sirna, bahkan kini persahabatan pun harus hancur berantakan."
"Tapi semua sudah berlalu, Nak ... sekarang mamah cuma punya kamu, kamu lah impian mamah di masa depan, kamu harus sukses dan bahagia," lirih Shasha pelan sambil mengelus perutnya.
Ketika sedang berbicara sendiri ia seperti melihat Vano di persimpangan jalan, tepat dia berada di luar Minimarket. Spontans Shasha langsung keluar dari mobil tanpa menghiraukan apapun lagi.
"Kak Vano!" Teriak Shasha.
Ternyata laki laki itu memang Vano yang kebetulan sedang membeli minum ketika akan menghadiri sidang perdana kasus perusahaannya.
"Shasha? apa saya gak salah liat? itu memang kamu," ucap nya tak menyangka.
Vano yang mendengar teriakan Shasha, refleks melihat ke arah Shasha di sebrang jalan. Mereka saling memandang di kejauhan, Shasha yang ingin menyebrangi jalan merasa sangat kesulitan karena banyaknya kendaraan yang melintas.
"Kak, Kak Vano tunggu!" teriaknya lagi.
Ketika akan menghampiri Shasha namun lagi lagi Gio mengingatkan bahwa Sidangnya akan segera di mulai, ia meminta Vano untuk segera bergegas.
"Pak sebenar lagi mulai," Gio mengingatkan.
"Tapi Gio ... yaudah kita pergi,"
Dengan langkah yang berat dan hati yang terpaksa Vano meninggalkan Shasha.
Karena mobil terus berlalu lalang Shasha tak bisa melihat Vano lagi, sampai ia bisa memastikan bahwa Vano benar benar pergi dari tempatnya tadi.
"Kak Vano, kenapa kamu tega Kak? kamu bahkan gak mau menghampiri aku," gumamnya pelan.
Shasha begong di pinggir jalan ia tak sadar di kejauhan ada mobil yang melaju dengan cepat ke arahnya.
Tapi tiba tiba
"Awas!" teriak Raka yang refleks menarik tubuh mungil Shasha
Shasha syok baru menyadari dirinya berhasil selamat dari maut.
"Ya ampun Sha, kamu gapapa kan?" tanya Raka Khawatir.
Shasha terdiam lama.
"Engga Kak, makasih yah hiks hiks hiks", ucapnya lalu terisak menangis.
"Gapapa Sha, kamu udah gapapa, sekarang kita ke mobil ya," ucap Raka lalu menuntun Shasha kembali ke arah mobilnya.
"Kak Raka ... apa salah aku Kak? barusan aku gak sengaja liat Kak Vano, aku teriak berkali kali dia melihat aku tapi dia sama sekali gak menghampiri aku dan bahkan pergi begitu saja, hiks hiks hiks," tangis nya tak terhentikan.
"Udah Sha, ini saatnya kamu sadar, jangan sedih terus masih ada aku disini Sha," ucap Raka kemudian memeluk erat Shasha.
Bersambung....
__ADS_1