Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 23- Deraian Air Mata


__ADS_3

Setelah membaca sepucuk surat cinta dari vano Shasha merasa bahagia hatinya berbunga bunga.


"Apa mungkin ini jalan terbaik untuk aku? menikah dengan kak Vano, meskipun aku tau dengan menikah bersama kak Vano akan ada banyak hati yang terluka. Tapi, apa salah jika aku memilih bersama laki laki yang aku cintai? Nara, Mas Derryl, Kak Raka Maafin aku, aku harap kalian bisa mengerti keputusan aku dan kak Vano", gumam Shasha pelan.


"Kak Vano aku tunggu kamu, aku khawatir kak sama paman aku harap kamu cepat jemput aku. Kak sebelum bayi ini lahir aku harap pernikahan itu benar-benar terjadi kak. Aku juga berharap kamu yang menemani aku melahirkan", lanjut Shasha.


Lalu Shasha pergi menuju meja makan, untuk sarapan bersama Dr Derryl dan Dr Becca.


...****************...


...Rumah Sakit...


"Mah", Panggil Nara pada Monicca yang baru saja keluar dari ruang rawat Prasetya.


"Ra, kamu kemana aja?, kamu baik baik akan aja kan?", tanya monicca mengkhawatirkan kondisi Nara setelah kejadian beberapa hari yang lalu.


"Aku berbuat salah mah kemarin untungnya Dr Derryl dan Dr Becca gak sampai memecat aku, aku hanya di Skors mah", Nara menjelaskan kepada Monicca.


"Ya ampun ra, apa lagi yang terjadi? kamu berbuat salah apa sayang?", tanya Monicca khawatir.


Kini Monicca lebih setuju jika Vano bersama dengan Nara, Ia tak rela jika anak nya harus menikah dengan Shasha yang mengandung anak orang lain.


Vano memang sudah menceritakan kepada Monicca bahwa Shasha hamil anak Raka.


"Kak Vano kemana mah?, aku mau minta maaf sama dia", tanya Nara heran yang tak melihat Vano.


"Vano pergi ke Indonesia malam tadi Ra, katanya ada urusan mendesak, dia bilang dua hari lagi dia pasti pulang kesini", Jawab monicca, Monicca sengaja tak memberitahu Nara bahwa Vano sedang dalam masalah besar karena Vano sudah mewanti wanti agar mamanya tidak memberitahukan masalah ini kepada siapapun termasuk Nara.


"Mah, apa mungkin pertunangan ini akan benar benar batal seperti kata kak Vano waktu itu?", tanya Nada Khawatir.


"Engga sayang, mamah dukung kamu sama Vano. Nanti mamah yang bicara lagi sama dia, kamu tenang aja ya", Jawab monicca.


"Tapi kak Vano Sangat mencintai Shasha mah, aku harus gimana", keluh Nara.


"Kamu tenang sayang, jujur aja mamah dulu juga sayang menyayangi Shasha yang dulu mamah kira kalau dia itu Vira. Ketika Vano menceritakan kesalahpahaman itu hingga Shasha menghilang, jujur mamah juga masih berharap dia kembali. Setelah kembali mamah baru tau ternyata dia hamil anak Raka, mamah berubah pikiran ra, untuk apa Vano menikah dengan wanita yang hamil anak orang lain, bagaimana dengan nama baik Vano, dia itu seorang pemimpin perusahaan besar. Mamah rasa menikah dengan Shasha bukan pilihan yang tepat, justru menikah dengan kamu seharusnya pilihan yang terbaik", Ucap Monicca panjang lebar.


Ucapan Monicca tersebut membuat Nara lebih tenang dan Nara pemikiran Monicca benarnya juga sangat sulit peluang Vano menikah dengan Shasha, kini Nara bisa bernafas dengan lega.


"Makasih mah aku sekarang bisa lebih tenang, semoga memang sesuai harapan kita", saut Nara.


"Oh iya mah, aku juga belum liat Kak Raka, apa dia udah pulang?", tanya Nara penasaran.


"Mamah gak tau dia dimana, yang Vano cerita kalau dia berantem sama Raka", Jawab Monicca.


"Loh kenapa mah? bukannya hubungan mereka sejak dulu baik baik aja? aku baru tau kalau mereka bisa berantem gini", Nara keheranan.


"Kalau mamah gak salah denger dari Vano, mereka berantem karena memperebutkan Shasha", Jawabnya apa adanya.


Nara pun tercengang mendengar hal tersebut.


"Sha, sha, luar biasa kamu. Setelah merebut cinta Kak Vano dari aku, kamu berhasil memporak porandakan hubungan dua sahabat yang seperti saudara kandung itu", Gumam Nara dalam hati.


Mengetahui hal tersebut, kebencian Nara pada Shasha semakin parah.


"Ya udah mah, aku kembali kerja dulu ya. Gak enak juga pergi lama lama, takutnya aku di Skors lagi", Ucap Nara


"Iya sayang, semangat ya kerja nya. Calon Menantu mamah", Ujar Monicca.


"Makasih mah, kalau ada apa apa panggil aku aja mah".


Nara kemudian pergi dan melanjutkan aktivitas kerja nya sebagai Dokter Magang di Rumah Sakit itu.


...****************...


...Rumah Dr Derryl...


Setelah sarapan bersama, Dr Derryl dan Dr Becca bersiap siap untuk melakukan aktivitas seperti biasa di Rumah Sakit, sementara itu Shasha membantu bi Desi beres beres dan ia pun kembali ke Kamarnya.


Tok.. tok.. tok..


Dr Derryl mengetuk pintu kamar Shasha yang terbuka setengah.


"Sha, sha", panggil Dr Derryl


"Loh Shasha kemana", gumamnya sendiri.


Dr Derryl pun masuk ke kamar Shasha seperti biasa setiap pagi sebelum berangkat ke Rumah Sakit ia selalu pamit terlebih dahulu namun bedanya pagi ini dia datang dengan bunga mawar yang indah sebagai hadiah untuk Shasha.


Melihat Shasha tak ada di kamar Dr Derryl pun khawatir mencarinya, lalu terdengar suara air mengalir di WC kamar shasha itu menandakan bahwa Shasha sedang mandi.


"Ternyata Shasha lagi mandi, ya udah aku pergi aja", gumamnya pelan.


Ia pun tak mau mengganggu Shasha, lalu menyimpan seikat bunga mawar tersebut di meja kamar Shasha. Ketika menyimpan bunga tersebut Dr Derryl tak sengaja melihat surat dari Vano, karena penasaran ia membaca surat tersebut.


Dr Derryl merasa sangat terpukul membaca surat dari vano tersebut, untuk memastikan bahwa vano datang menemui shasha malam tadi ia pun mengecek CCTV yang di samping taman yang mengarah langsung ke kamar Shasha.


Ternyata benar vano memang datang menemui Shasha Malam tadi.


Sontak Dr Derryl sangat kecewa dan tak bisa berkata apa apa lagi.

__ADS_1


Sementara itu shasha yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat ada seikat mawar di meja, ia sudah mengira bahwa bunga mawar itu dari Dr Derryl.


"Ya ampun gawat, apa mungkin mas Derryl baca surat dari kak Vano, engga jangan sampai kalau sampai dia baca dia pasti sangat sedih dan kecewa", gumam Shasha pelan.


Dia pun mencari surat yang tadi ia simpan di atas meja, tapi tak kunjung d temukan.


Shasha pun buru buru memakai baju dan mencari Dr Derryl.


Tempat pertama yang Shasha tuju adalah kamar Dr Derryl, ternyata benar Dr Derryl sedang berada di kamarnya.


Tanpa menyapa Shasha langsung menghampiri Dr Derryl, ternyata Dr Derryl sejak tadi sedang memeriksa CCTV yang menunjukkan saat vano datang dan masuk ke kamar Shasha.


Shasha pun kaget melihat Dr Derryl sedang melihat CCTV itu.


"Mas, mas, maafin aku mas. Aku mau jujur sama kamu tapi aku takut kamu kecewa", Ucap Shasha sangat khawatir.


Dr Derryl pun tersenyum pada shasha, tapi dengan mata yang membendung kesedihan.


"Sha, aku gak bisa marah sama kamu sha aku hanya kecewa", Ucapnya seolah tertahan menahan kesedihan.


"Kamu bisa liat disini, Vano datang tepat pukul 09.05 tak berlangsung lama kamu buka pintu jendela kamu dan vano masuk lama sekali tak keluar, kamu liat baik baik lagi sha dia keluar tepat pukul 04.07 dini hari, itu artinya dia berada di kamar kamu selama tujuh jam Sha", Dr Derryl menjelaskan panjang lebar dan air mata menetes tak henti henti dari mata sipitnya.


"Mas, a... aku minta maaf", Shasha terisak.


"Gapapa sha", jawab Dr Derryl masih dengan senyuman dan mata yang membendung kesedihan.


"Aku gak berbuat macam macam kok dengan kak Vano mas", Ujar Shasha.


"Sha, Shasha yang aku kenal adalah dia dengan pemikiran dewasanya tapi terkadang kamu juga bisa sepolos ini. Shasha, sayang, kamu liat aku" Ucap Dr Derryl.


Perlahan Shasha mulai menatap mata Dr Derryl dan sesekali menundukkan wajahnya kembali karena merasa sangat bersalah.


"Sha, aku tanya satu kali lagi, apa kamu bisa mencintai aku?", tanya nya masih dengan harapan yang sama.


Shasha terdiam lama, dengan sabar Dr Derryl menunggu jawaban Shasha. Dengan penuh harap pula Dr Derryl mengharapkan kata kata yang akan keluar dari mulut Shasha adalah kata kata yang bisa membuatnya bahagia.


Namun lagi lagi jawaban shasha tetap sama.


"Ma.. maafin aku kak, aku udah berusaha tapi aku gak bisa lupain kak Vano. Bahkan aku berusaha mencintai kamu, sulit sekali bagi aku mas", jawab Shasha jujur.


"He, oke sha. Aku akan berusaha mengerti, seperti nya kita memang gak berjodoh sha, a.. aku rela seandainya kamu bersama Vano kembali sha, aku harap vano bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan memberikan kebahagian untuk kamu juga anak kamu. Tapi aku gak bisa memaafkan dia jika suatu saat dia melukai kamu kembali, bahkan jika tidak menerima anak kamu",


"Nak, sebelum kamu lahir bahkan saya sudah menyayangi kamu, saya sudah berangan angan beberapa tahun kedepan sudah ada yang memanggil saya dengan sebutan papa. Nak jaga ibumu kelak ya, jangan biarkan ada orang yang menyakiti dia", Lanjutnya terisak sambil memegang perut shasha.


Shasha hanya bisa menangis, ia harus membuat laki laki yang sangat menyayanginya kecewa dan sedih.


"Jangan nangis sha", Ucap Dr Derryl yang kemudian mengelap air mata yang mengalir di pipi Shasha.


Kemudian dengan berat hati ia pun pergi meninggalkan Shasha seorang diri di kamarnya.


Melihat kepergian Dr Derryl, entah mengapa hatinya begitu Sedih, ia mengecewakan orang yang paling tulus mencintainya.


Shasha pun tertunduk dan menangis cukup lama di kamar Dr Derryl.


Sampai tak sengaja ia melihat sepasang gaun pengantin di lemari kaca Dr Derryl.


Ia pun mendekati lemari itu, ternyata didalam lemari Dr Derryl tersebut bukan hanya ada gaun pengantin yang indah, tapi juga banyak browser Wedding organizer, dan yang paling membuat Shasha sesak adalah beberapa sampel undangan yang tertulis nama Derryl Prayoga dan Aisha Aileen Nathania.


"Mas, hiks.. hiks.. hiks.., maafin aku. Aku gak tau kamu udah menyiapkan semua ini", ucap Shasha dengan sesak yang ia rasakan.


"Mas derryl, ibu, aku harus gimana sekarang", Ucap Shasha yang merasa sangat bersalah.


...****************...


...Dua hari kemudian...


Shasha Masih dengan rasa bersalahnya dan Dr Derryl masih dengan kesedihan di hatinya, namun luar biasanya Dr Derryl setelah rasa sakit yang ia rasakan ia tetap tegar dan bahkan masih memperlakukan Shasha dengan baik, namun tak terelakkan mereka berhadapan dengan situasi canggung satu sama lain.


"Besok kak vano pasti tepat waktu datang kesini, aku harus menyiapkan barang barang dari sekarang".


Malam ini adalah malam terakhir bagi Shasha berada di sini, ia memasukan pakaian yang tertata rapi di lemarinya ke dalam koper.


Melihat Shasha yang sedang membereskan pakaiannya, Rebecca masuk ke dalam kamar Shasha dan tak kuasa menahan tangis.


"Sayang, apa kamu yakin Vano akan menjemput kamu besok?", tanya Dr Becca dengan suara lirih berderai air mata.


"I.. Iya.. Bu Maafin aku ya Bu, Hikss hikss hiks", tangis Shasha pun kembali pecah.


Bagaimana tidak orang yang menjaga dan merawatnya selama di Singapura harus ia tinggalkan.


"Bu, ibu sama mas Derryl boleh marah Bu sama aku, aku emang seharusnya di benci sama kalian Bu, aku malu Bu", Ucap shasha.


"Engga sayang, kamu tetap anak ibu. Dari awal ibu sama Derryl udah bilang siapapun pilihan kamu kami akan menghargainya, lagian kami juga ngerti kamu harus kembali ke Indonesia karena mengkhawatirkan paman kamu kan?", tanya nya.


"Iya Bu, Bu datang atau enggak kak vano aku tetap akan pulang bu", jawab Shasha singkat.


"Ya udah ibu bantu kamu ya nak, malam ini ibu mau tidur disini menemani akan kesayangan ibu sebelum pergi jauh", ucap monicca yang sangat menyayat hati.


Shasha pun memeluk Dr Becca dengan kondisi yang masih sesegukan.

__ADS_1


...****************...


...Pagi hari...


Menunggu hampir satu jam, vano belum juga datang.


Shasha, Dr Derryl dan Dr Becca sudah menunggu di depan rumah tentu dengan barang barang Shasha yang sudah siap dibawa.


"Sha, Kenapa Vano tak kunjung datang, apa dia kemarin bilang pesawatnya berangkat jam berapa?", tanya Dr Becca.


"Gak tau Bu, kak Vano gak bilang", jawab Shasha singkat.


"Seandainya Vano gak datang Gimana sha?", tanya Dr Derryl.


"Mas, seandainya Kak Vano gak datang, aku akan tetap pulang ke Indonesia", Jawabnya.


Menunggu lama sekali tapi vano tak kelihatan batang hidungnya pun, entah kemana vano, entah apa yang terjadi Vano tak datang dan mengingkari janjinya.


"Sha, ini udah dua jam kita tunggu, apa kamu masih mau nunggu?", tanya nya.


Shasha dari tadi melihat ke arah gerbang berharap vano datang sesuai janjinya tempo hari pada Shasha.


"Mas, Bu. apa mungkin kak vano ingkar janji", tanya Shasha khawatir.


"Kalau gitu kamu tunggu sampai besok aja ya sayang", ucap Dr Becca.


"Engga Bu, aku udah gak enak ngerepotin kalian terus".


"Bu sepertinya kak Vano memang mengingkari janjinya, lebih baik aku pulang aja Bu, aku gak bisa menunggu lagi udah terlalu lama aku menunda, Aku takut paman kenapa kenapa", Ucap shasha.


"Apa kamu yakin kamu akan pulang sha", tanya Dr Derryl memastikan.


"I.. Iya mas", jawab Shasha singkat.


"Kalau itu pilihan kamu aku mengerti sha, aku pesenin tiket kamu sekarang juga ya sha", ucap Dr Derryl meskipun dengan berat hati.


Dr Derryl merasa sudah tidak bisa menahan Shasha di dekatnya lagi, ia berusaha menghargai dan mendukung keputusan shasha, meskipun ia akan membutuhkan waktu yang sangat kamu untuk melupakan Shasha.


"Mas, maafin aku. Aku selalu ngerepotin Kamu",


"Engga sha, kita anter Shasha ke Bandara ya mah, kita ajak bi Desi juga", jawab Dr Derryl.


Tak menunggu Vano lagi, mereka pun pergi ke bandara untuk mengejar waktu terbang pesawat.


Beberapa menit mengendarai boleh merekapun tiba di bandara.


Singkat cerita pesawat singapura menuju Jakarta akan segera berangkat.


Inilah momen yang sangat mengharukan, momen perpisahan mereka bertiga dan juga bi desi.


Menginjakan kaki di bandara yang sama seperti saat pertama ia datang ke Singapura, hatinya mengenang kembali hari itu dia tak sadarkan diri dan dibawa ke Rumah sakit hingga ia mengenal Ibu dan Anak yang luar biasa.


Sangat di sayangkan Shasha memang tak berjodoh dengan Dr Derryl. Meskipun Vano mengingkari janji, Dr Derryl tak mau mengambil kesempatan di situasi seperti ini, bisa saja ia menahan Shasha atau justru pergi bersama Shasha ke indonesia tapi ia tak memilih itu bukan karena ia sudah tak mencintai Shasha, bukan karena ia menyerah, tapi justru karena ia itu ia berkorban demi kebahagiaan Shasha.


"Mas, Bu, bi Desi aku bersyukur mengenal kalian. Maafin aku ya terutama untuk mas, aku minta maaf. Makasih ya mas, ibu , bi desi. Semoga suatu hari kita bisa bertemu kembali", Ucap Shasha terisak.


Semuanya tak kuasa menahan tangis, bagaimana pun juga bagi mereka Shasha adalah bagian hidup mereka yang Takan terlupakan.


"Nak kamu baik baik ya di sana, kalau kamu mau kembali kita akan dengan senang hati menerima kamu kembali, ibu harap kamu kembali nak", ucap Dr Becca dengan derai air mata.


"Non, bibi sedih non pergi, mulai besok bibi pasti kesepian lagi, gak ada yang nemenin bibi masak di dapur, gak ada yang nemenin bibi ngobrol lagi, gak ada akan ada lagi non Shasha yang ceria dengan tawa khasnya non Shasha", Bi Desi pun terisak dan berderai air mata.


Shasha tak bisa berkata apapun lagi dalam hati kecilnya ia sangat sedih berpisah dengan keluarga luar biasa ini.


Merekapun berpelukan sebelum Shasha menaiki pesawat, lalu Shasha pergi melambaikan tangannya dan perlahan berjalan.


"Shasha, hiks hiks", gumam Dr Becca pelan.


"Non, selamat tinggal", Teriak bi Desi pada Shasha yang sudah hampir masuk kedalam pesawat.


Dr Derryl kemudian berlari menghampiri Shasha kembali, ia memeluk Shasha dengan erat, Shasha pun membalas pelukan Dr Derryl dengan erat juga.


"Sha jaga diri kamu baik baik ya, hubungi aku jika ada apa apa", Ucap nya


Shasha mengangguk, Dr Derryl pun mencium Kening shasha dan mengantar Shasha ke dalam sampai memastikan dia duduk dengan nyaman.


Dr Derryl pun berjalan keluar lalu melambaikan tangan nya pada Shasha.


"Selamat tinggal Shasha, Wanita yang paling aku cintai. Aku harap kamu baik baik aja, meskipun Vano mengingkari janjinya tapi aku yakin kebahagian selalu ada menghampiri kamu". gumam Dr Derryl pelan sambil terus menatap pesawat yang terbang perlahan.


"Mas, Bu, bi Desi makasih untuk kenangan indah ya, Aku pergi",


"Kak Vano, tega kamu kak. Mengingkari janji dan membuat aku kembali terluka karena berangan angan akan segera menikah dengan kamu, ada apa dengan kamu kak", Gumamnya dalam hati.


Ketika sedang duduk merenung tiba tiba seseorang yang duduk di belakang berjalan menghampiri Shasha dan duduk tepat di sebelahnya.


"Loh Kak Raka?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2