
Melihat Pram berusaha menarik paksa Shasha, Vano mencoba melepaskan diri dari ketiga preman itu.
"Lepasin dia Pram! lepasin!" teriak Vano.
Jebred
Shasha yang tak tahan di tarik paksa oleh sosok laki laki yang pernah di kaguminya dulu secara tak terduga di tampar dengan tangan mungilnya.
"Berani beraninya kamu hah!" Pram marah.
"Dasar laki laki bermuka dua!" teriak Shasha.
"Lepasin Kak Vano, jahat sekali kalian!" teriaknya lagi.
Tiba tiba seorang premen yang berjaga di luar rumah kosong tersebut berlari menghampiri mereka.
"Bos gawat bos!" teriaknya.
"Kenapa?" tanya Poernomo marah.
"Gawat bos, sepertinya polisi sedang menuju kesini" jawab preman tersebut panik.
"Apa? tau dari mana kamu?" tanya Pram yang juga panik.
"Saya tadi beli Rokok di minimarket yang mengarah ke jalan ini, dan saya liat mobil polisi pak seperti mereka sedang mencari alamat rumah kosong ini," jelasnya panik.
"Gawat kita pergi sekarang juga om, kamu kan yang lapor polisi?" tanya Pram mendesak Shasha.
"Itu yang memang seharusnya di lakukan sejak awal," jawab Shasha singkat.
"Awas ya kamu!" ancam Pram.
"Bagaimana ini pak?" tanya Gio panik.
"Kita harus pergi dari sini!" tegas nya.
"Terus mereka gimana?" tanya Budiman.
"Iya Pram, gimana mereka?" tanya Poernomo sama.
"Bius dan bawa mereka dulu, bahaya kalau kita bunuh mereka sekarang," ujar Pram.
"Cepat kita gak punya waktu lagi!" teriaknya.
Para preman itu berusaha membius Vano dan Shasha, Vano yang biasanya kuat hari ini begitu lemah mungkin karena kecapean dan tekanan batin.
"Lepasin aku lepasin!" teriak Shasha.
"Lepa--" ucap Shasha tak selesai, karena ia langsung tak sadarkan diri setelah di beri bius oleh seorang preman anak buah Pram dan Poernomo.
"Mereka aman kita bawa mereka dari sini, cepat!" teriak Pram lagi.
Dengan tergesa gesa, mereka bekerja sama membawa Shasha dan Vano, mereka pun berhasil kabur.
Hanya berselang sekitar lima menit polisi tiba di sana dan sudah tak menemukan jejak apapun kecuali Mobil Vano yang ditinggalkan.
...****************...
......Keesokan Harinya......
Cuaca yang cerah namun sejuk membuat tidur Raka begitu nyenyak, ia tak sadar bahwa Shasha sedang berada dalam bahaya.
Treleng Treleng Treleng Treleng Treleng
Suara Alarm dari handphonenya berbunyi.
Menyadari dirinya susah bangun tiap hari Raka selalu menyetel Alamrnya tepat pukul 07.00.
"Huaaaaa" Raka menguap.
Ia pun meraba raba tempat tidur di sebelahnya.
"Sha?" panggilnya lirih dengan mata yang masih tertutup.
"Kamu udah bangun Sha?"
Panggilannya tidak di respon ia pun bangun.
"Loh kemena Shasha?" tanyanya sendiri.
"Apa mungkin dia lagi bikin sarapan? atau beres beres?"
"Aduh jangan sampe Sha, aku kan udah janji buat bantuin kamu" ungkapnya lirih.
Raka bangkit dari tempat tidurnya, pergi ke kamar mandi lalu mencari Shasha di dapur tapi tak ia temukan.
"Loh Shasha kemana ya?" tanyanya lagi.
"Aduh ini anak," celotehnya.
Melihat Shasha yang tak ada di rumah bahkan di halaman, Raka mulai panik.
Ia berlari ke kamar lagi berniat untuk menelpon Shasha.
Kring kring kring
Suara Handphone Shasha berbunyi.
"Ya ampun Sha, kamu kemana sih, bisa bisanya pergi gak bawa handphone"
Rama Melirik ke atas meja dan melihat kertas kecil yang berisi tulisan.
"Kak Raka, aku gak tega bangunin Kakak, aku harus pergi sebentar. Kakak jangan panik, aku pasti kembali sebelum pagi. Shasha."
Membaca pesan itu Raka langsung panik, tak bisa menebak Shasha pergi kemana dan apa alasan Shasha pergi tiba tiba.
"Ya ampun kamu kemana Sha, ini udah lewat pagi, jangan jangan kamu kenapa apa lagi."
"Perasaan aku gak enak Sha." lirihnya panik.
Raka pergi terburu buru dari rumah mencoba mencari Shasha, bahkan ia masih menggunakan piyama.
Sementara itu di suatu tempat yang entah dimana itu Vano terbangun dari tidurnya.
Ia melihat Shasha terbaring tepat disampingnya.
__ADS_1
"Sha, sha, bangun Sha," seru Vano berusaha membangunkan Shasha.
"Sha," panggilnya lagi.
Tak membutuhkan waktu lama Shasha pun terbangun dan kemudian melihat Vano yang sedang duduk tepat di depannya.
"Kamu gapapa Kak?" tanya Shasha panik.
"Harusnya saya yang nanya itu Sha, kamu baik baik aja kan?" tanya Vano balik.
"Aku gapapa kak," jawabnya lalu menunduk.
"Syukurlah"
"Sha saya bertanya tanya, kenapa kamu bisa tiba tiba datang?" tanya Vano penasaran.
"Aku gak sengaja nemuin handphone asisten kamu, terus aku juga gak sengaja baca percakapannya, sampe aku nyusul kamu ke sana, aku khawatir kak," ucap Shasha terisak.
"Kamu sadar gak Sha itu bahaya, gimana kalau terjadi sesuatu sama kamu dan anak kamu,"
"Kamu ini wanita hamil Sha," ucapnya Khawatir.
"Aku juga gak tau kenapa Kak, aku terdorong untuk melakukan itu,"
Vano memeluk Shasha.
"Makasih kamu udah nyelamatin saya Sha, apa kamu masih menyimpan perasaan sama saya?" tanyanya lirih.
Pertanyaan Vano itu membuat Shasha tak bisa menjawab.
Vano melepaskan pelukannya dan menatap Shasha, lalu menggenggam tangan Shasha yang sangat dingin.
"Sha, ada banyak hal yang ingin aku jelaskan sama kamu, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan sama kamu,"
Vano mengelus kepala Shasha dan memeluknya kembali.
Shasha tak mampu berkata ia hanya bisa meneteskan air mata.
Kisah cintanya dengan Vano begitu tragis, penuh dengan halangan dan rintangan.
"Kak, aku gak tau harus ngomong apa," jawab Shasha.
"Aku benci kamu, tapi aku gak bisa liat kamu celaka Kak," lanjutnya.
"Kak, sebaiknya kita cari jalan keluar dari sini dulu sepertinya mereka masih tidur."
"Kita ini dimana Kak?" tanya Shasha heran.
"Sha, aku mencintaimu kamu," ucap Vano tiba tiba.
"A .. aku," ucap Shasha terbata bata.
Wiw wiw wiw wiw wiw
"Angkat tangan kalian!" teriak seseorang yang terdengar samar samar.
"Kak, apa mungkin itu polisi nolong kita?"
"Sepertinya ia Sha," ucap Vano lemah.
"Justru sekarang saya sedih Sha, itu artinya kita tak bisa menghabiskan waktu bersama lagi," keluh Vano.
"Kak aku terus terang aja, sulit bagi aku melupakan kamu, kamu ingkar janji kak mau gak mau aku harus menikah dengan Kak Raka, seandainya waktu itu kamu datang mungkin paman gak akan mendesak aku menikah dengan sahabat kamu, meskipun dia ayah dari anak ini," jelas Shasha.
"Saya tau itu Sha, maafkan saya. Perusahaan saya di jebak seseorang hingga masuk ke pengadilan, tuntutannya bukan main Sha, nasib ratusan karyawan bergantung pada saya. itulah alasan saya tidak datang menjemput kamu, saya juga tidak menyangka saya akan di khianati orang yang paling saya percaya," lirih Vano.
Shasha tak menyangka Vano ternyata mengalami hal yang berat, seandainya ia tau mungkin ketika itu ia akan menolak permintaan pamannya.
"Kak, maafin aku, aku gak tau kamu mengalami hal itu," ucap Shasha merasa bersalah.
"Gapapa Sha, saya yang salah harusnya saya hubungi kamu dan jelasin semuanya, sekarang sudah terlambat kamu bahkan sudah menikah dengan Raka," ucapnya sedih.
Shasha menatap Vano lama, ia membayangkan kenangan mereka.
"Maafin aku kak," lirih Shasha.
Shasha berusaha menghampiri Vano kembali berniat ingin memeluknya, tapi tiba tiba.
Cekrek cekrek
Gebruk
Pintu ruangan di dobrak paksa.
"Kalian gapapa?" tanya seorang polisi berpangkat Briptu.
"Kami baik baik aja pak," ucap Shasha lalu berdiri di susul Vano.
"Kamu yang semalam menelpon kami?" tanya polisi tersebut.
"Iya pak betul saya Aisha," jawab Shasha ramah.
"Semalaman kami berusaha menemukan komplotan penjahat itu, tak mudah kami menemukan kalian, tapi untungnya kami berhasil melacak persembunyian mereka,"
"Syukurlah tidak terjadi apa apa dengan kalian, kita perlu meminta keterangan dari kalian sebagai saksi, untuk itu diharapkan ikut kami kekantor," jelas Polisi.
"Baik pak," ucap Shasha dan Vano berbarengan.
"Apa mereka semua sudah tertangkap pak?" tanya Vano penasaran.
"Sudah, kami menangkap empat preman jalan, dua orang dewasa dan satu pria paruh baya," jelas polisi itu dengan detail.
Shasha dan Vano pun bisa bernafas lega.
"Mari ikut saya ke kantor!" seru polisi tersebut.
Mereka mengikuti dan berangkat dengan mobil dinas polisi.
Tak lama mereka pun tiba di kantor polisi, namun sulit bagi mereka untuk masuk ke dalam karena di depan banyak sekali wartawan yang ingin meliput kasus yang sedang di perbincangkan para pebisnis.
"Kita terobos saja, nanti kami amankan kalian, jika tidak ingin berbicara tidak usah mengatakan apapun ke media," ucap polisi tersebut.
Mereka berjalan terburu buru.
Pada wartawan berbondong bondong menuju ke arah mereka.
__ADS_1
"Pak, bisa anda jelaskan apa yang sebenernya terjadi? apa kaitan kasus yang menjerat perusahaan anda dengan dua pemilik perusahaan besar yang barusan di tangkap?" tanya salah seorang wartawan.
"Mohon klarifikasinya pak!" teriak wartawan lainnya.
"Apa sebenarnya perusahaan anda tidak salah? dan anda di jebak mereka?" tanya wartawan yang lain.
"Lalu siapa wanita di samping anda pak? apa hubungan dia dengan kasus ini?"
Vano mengatakan satu kata pun pada wartawan, ia fokus berjalan sambil merangkul Shasha, khawatir terjadi sesuatu yang tak terduga pada Shasha.
"Pak, tolong jawab pertanyaan kami!" teriak salah seorang wartawan.
"Kak Vano, ternyata masalah kamu seberat dan seheboh ini kenapa aku sampe gak tau kak, maafin aku," gumam Shasha dalam hati.
Shasha dan Vano berhasil masuk kedalam kantor setelah di kawal ketat oleh beberapa orang polisi.
Mereka pun memberikan keterangan di ruangan yang sama dalam waktu hampir dua jam.
"Terimakasih atas Kerjasamanya, kami akan proses mereka semua sesuai hukum yang berlaku, petugas kami sudah menyiapkan sarapan silahkan nanti kalian sarapan dulu sebelum pergi," seru polisi tadi.
Shasha dan Vano sarapan bersama di ruang tunggu kunjungan, mereka tak henti hentinya saling memandang bahkan saling memberikan senyuman manisnya.
"Sha, makan ini," ucap Vano lalu menyodorkan sendok ke depan mulut Shasha.
Perhatikan kecil itulah yang membuat Shasha selalu bahagia, mereka saling suap suapan sampai tak ingat apapun.
Tiba tiba
"Sha," panggil Raka.
Dia pun menghampiri Shasha.
"Sha, aku panik dari pagi nyariin kamu, kamu malah mesra mesraan sama dia disini, Sha ini baru hari pertama setelah kita menikah, ayo kita pulang Sha," ucap Raka sedikit kesal.
"Aku juga heran bukannya kamu benci sama dia, dia udah nyakitin kamu berulang kali Sha, kenapa Sha? apa karena cinta?"
"Dan lo juga Van, gue minta Lo berhenti mengharapkan Shasha, dia udah jadi istri gue!" ucapnya tegas.
Raka terus berbicara tak ada jeda, sampai Vano tak bisa menjawab sepatah kata pun.
"Kak udah kak maafin aku, aku salah kak ... ayo kita pulang kak," ucap Shasha.
Ketika hendak pulang tak terduga Nara dan Monicca datang, Nara langsung memeluk Vano yang masih memegang box sarapannya.
"Lepasin Nara!" ucapnya tegas.
"Kak, kamu gapapa kan? aku khawatir banget sama kamu," ucapnya.
"Vano, syukurlah kamu baik baik aja," saur monicca.
Vano pun melepas paksa pelukan Nara.
"Kok mamah tau aku disini?" tanya Vano.
"Tadi kita di bandara gak sengaja liat kamu di berita, kita panik langsung pergi kesini Van, untung aja papa kamu gak kenapa napa, mamah larang dia mamah anter dulu ke hotel Deket bandara supaya bisa istirahat," jelas monicca panjang lebar.
Nara yang belum sadar sedari tadi ada Shasha disana langsung badmood setelah melihatnya.
"Sha, ngapain kamu disini?" tanya Nara sinis.
"Kak Raka juga?" tanya nya sambil melirik Raka.
"Nara saya mohon kamu jangan bertindak konyol lagi, justru Shasha yang menolong saya," ungkap Vano tegas.
"Ra, maafin aku," lirih Shasha.
"Kenapa Sha? kamu kaget aku masih bersama Kak Vano? sebentar lagi kita akan menikah Sha, aku mohon kamu jangan pernah ganggu kak Vano lagi," ucap Nara.
"Ayo kita pergi Sha," Raka mulai emosi melihat Shasha di pojokkan oleh Nara.
Raka memegang tangan Shasha dan berniat untuk pergi.
Baru saja melangkah tiba tiba.
Jebredd
Shasha di tampar seseorang.
"Vira?" ucap Shasha kaget.
"Apaan sih Lo, kenapa tiba tiba nampar dia?" tanya Raka kesal lalu berusaha menarik lengan Vira.
"Jangan ikut campur!" teriaknya.
"Kemana aja kamu Sha? hah? kemana aja kamu Shasha!" teriak Vira lalu menangis.
Kemarahan dan kesedihan Vira yang terbendung lama pada Shasha ia lampiaskan hari itu, ia seolah tak peduli dengan orang orang di sekelilingnya.
"Ra, itu yang namanya Vira?" tanya monicca penasaran.
"Iya mah," jawab Nara singkat.
"Cukup Vira, ini di kantor polisi," saut Vano.
"Jangan berani macem macem sama Shasha," sautnya lagi.
Vano berusaha mendekati Shasha, namun di halangi oleh Nara.
"Gue gak peduli jangan ikut campur Vano!" tegas Vira.
Shasha hanya bisa diam, mendengarkan kemarahan Vira.
"Sha denger aku Sha, kamu selalu bilang kita sahabat, sahabat macam apa kita Sha? kamu ngekhianatin aku, kamu ngilang tiba tiba bahkan kini saat muncul kembali kamu ngelaporin Pram dan papa aku?"
"Atas dasar apa Sha? atas dasar apa?" tanyanya berteriak.
"Dendam apa kamu ke aku Sha? seandainya kamu gak ngilang waktu itu, hidup aku mungkin gak akan kekacau ini Sha," ungkap Vira yang kemudian tangisnya pecah.
"Vir, kamu dengerin aku dulu," ucap Shasha yang juga tak kuasa menahan tangis.
"Udahlah Sha, persahabatan kita udah hancur sejak dulu, ngapain juga aku harus percaya lagi sama kamu,"
"Aku benci kamu Sha! aku benci kamu!" teriak Vira.
Bersambung...
__ADS_1