Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 13- Penyesalan Selalu Datang Terlambat


__ADS_3

...****************...


...Singapura...


Hanya karena bermodllkan nekad, Shasha yang telah menempuh perjalanan dengan pesawat sekitar hampir lima jam itu akhirnya tiba di luar negri, negri yang asing tak ada seorang pun yang ia kenal di sana, tak punya tempat tujuan ia hanya pergi mengikuti kemana kakinya Melangkah,


Shasha tak peduli kini dirinya sendirian, ia hanya ingin menjauh dari semua orang yang ia kenal untuk menutupi kenyataan pahit bahwa dirinya tengah hamil.


Namun sekuat kuatnya Shasha ia juga manusia biasa, lama kelamaan tubuhnya semakin melemah bahkan mentalnya terus menerus down.


Shasha yang masih berada di sekitar bandara terus berjalan dengan tatapan kosongnya, namun tiba tiba Gubrakk... Shasha terjatuh dan pingsan tak sadarkan diri


Petugas bandara yang sedang sedang berada di sekitar sana dengan sigap membawa Shasha ke Rumah Sakit terdekat.


Shasha di bawa ke ruang UGD dan mendapatkan penanganan langsung dari dokter wanita paruh baya bernama Rebecca


Dr Rebecca sedikit terkejut setelah memeriksa shasha, ternyata pasien mungilnya itu tengah mengandung sekitar 4-5 Minggu


"Suster, Tolong cari tau informasi tentang pasien, siapa tau ada keluarganya yang bisa di hubungi", (dalam bahasa Inggris) ungkap dokter itu pada suster


"Baik dok", (dalam bahasa Inggris)


...****************...


...Ibu kota...


"Aduh pak, jangan buru buru gitu jalannya, mama cape pak, mana panas lagi", ujar Imas menggerutu


"iya mah, maafin bapak, bahwa terlalu khawatir sama shasha, kenapa tiba tiba ngilang gini, siapa tau temennya, tempat kerjanya atau bahkan pihak kampusnya tau Shasha kemana", ucap Wanto menjelaskan


Dini hari Wanto dan Imas mendadak pergi ke Jakarta untuk mencari tau keberadaan shasha.


"Terus kita harus kemana pak, lagian itu si Shasha hobinya nyusahin kita terus", ujar Imas dengan nada juteknya itu


"udah lah mah jangan ngeluh terus, kita ke kampus Shasha dulu aja, maafin bapak mah mah jadi kecapean gitu, padahal kan tadi bapak juga gak nyuruh ibu ikut",


"Ya udah terserah bapak lah, gapapa deh sekalian sekali kali manah jalan jalan ke ibukota", jawab Imas sambil tak karuan menengok ke sana kemari melihat pemandangan ibukota Jakarta dengan gedung gedung yang menjulang tinggi.


"iya bu, kita berangkat sekarang sambil tanya tanya ke orang jalan menuju kampus Shasha",


...****************...


...Kampus...


"Ya ampun pak ini beneran kampus Shasha? gede banget, dimana kita bisa nemuin Shasha di tempat Segede ini, mereka juga pasti banyak yang gak kenal lah pak sama Shasha", celoteh Imas


"Gapapa mah, namanya juga kita berusaha, kita tanyain aja dulu siapa tau ada yang kenal sama Shasha"


Sesampainya di kampus, Wanto dan Imas bertanya berharap ada orang yang mengenal keponakan mereka itu, beberapa dari mereka memang mengenal Shasha karena Shasha adalah salah satu siswa berprestasi tak heran banyak mahasiswa lain yang mengenalnya, namun sayang tak satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Shasha.


"Vir, vira, kamu temen baiknya Shasha itu kan?", tanya seorang mahasiswa yang menghampiri Vira dan Nara yang baru saja memarkir mobil


"iya, kenapa? kamu liat Shasha bukan?", tanya Vira penuh harap mengira Shasha kembali


"Engga, itu kayanya orang tua Shasha deh kesini", jawab mahasiswa tersebut


"orang tua?", Vira bertanya keheranan, ia tau bahwa Shasha adalah seorang yatim piatu dan tinggal bersama bibi juga pamannya.


"Em.. Pasti bibi dan pamannya", ucap Nara dan Vira berbarengan.


"dimana mereka?", tanya Nara penasaran


"euh, itu di Deket kantin",


"Makasih, Ayo Ra", ucap Vira yang kemudian menarik lengah Nara dan berlari tergesa gesa.


"Permisi, pak Bu, kalian paman sama bibinya shasha?", tanya Vira yang baru saja menghampiri Imas dan Wanto


"ya ampun tuh kan mah pasti ada yang kenal Shasha", saut Wanto.


"kalian kenal Shasha? iya kami keluarganya dari kampung, kita ke sini mau cari Shasha, kalian tau dimana Shasha", tanya Wanto penuh harap.


Nara dan Vira hanya saling memandang, dan membuang nafas seolah putus asa.


"Justru kita juga mau nanyain itu, rencananya akhir pekan nanti aku sama Nara mau ke kampung Shasha, kita justru ngira Shasha pulang ke kampungnya, Surabaya. Vira menjelaskan apa adanya.


Mereka berempat terus berbincang, hingga mereka sepakat untuk saling mengabari jika ada informasi mengenai keberadaan Shasha, tak lama setelah itu Wanto dan Imas pulang kembali ke kampung halaman berharap ada kabar baik dari kedua sahabat Shasha itu


"Vir, dimana ya Shasha sekarang, aku heran apa yang sebenarnya terjadi, kalau gak terjadi apa apa dia gak mungkin pergi tanpa alasan, apalagi beberapa bulan lagi harusnya kita lulus bareng kan", ucap Nara dengan mata berkaca kaca

__ADS_1


"Apa mungkin vano tau sesuatu ya, sepertinya nanti aku harus cari tau sendiri", gumam vira dalam hati


"Sha sha, aku khawatir tau, kamu kemana, aduh sha kalau kamu ngilang gini gimana nasib aku sha", lanjutnya


Melihat Vira yang tiba tiba bengong Nara mengerutkan dahinya karena keheranan


"vir, kamu ini kenapa sih",


"Engga nar, yu ah capcus kita ke kelas dulu", ajak Vira


"loh vir, bukannya kelas kamu ke arah sana, ko malah ngikutin aku", ucap Nara kemudian tertawa


"Ya ampun sorry Ra, hehe",


...****************...


...Singapura...


Beberapa jam setelah di larikan ke rumah sakit tersebut, akhirnya Shasha siuman


"Dok, pasien yang tadi siuman",(dalam bahasa Inggris), ucap salah satu suster yang tadi membatu Dr.Becca menangani Shasha


"tapi dok.. ", (dalam bahasa Inggris),


"kenapa sus?", (dalam bahasa Inggris)


"sepertinya psikologis pasien terganggu, setelah siuman dia tak henti hentinya menangis", (dalam bahasa Inggris)


"kalau gitu kamu tolong panggil anak saya Dr Derril ya", (dalam bahasa Inggris)


tak lama setelah itu Dr Becca dan Dr Derryl datang ke ruangan Shasha untuk memeriksa keadaan Shasha, namun ternyata tetap nihil Shasha tak bisa ditanya ia hanya bisa menangis tersedu sedu karena meratapi nasib pilu yang belum sanggup ia terima sepenuhnya.


"Sepertinya kita harus diskusi dulu mengenai kondisi pasien", (dalam bahasa Inggris) ucap Dr Derryl.


Dr becca mengangguk dan kemudian berbincang di luar ruangan Shasha


"mah, sebenarnya pasien tadi kenapa? kok mamah sampe harus ngajak aku periksa dia", ucap Dr Derryl,


Dr Becca dan Dr Derryl adalah ibu dan anak yang sudah lama tinggal di negri tersebut, Dr becca dan mendiang suaminya kebetulan adalah orang Indonesia pertama yang mendirikan rumah sakit di negri tersebut.


Selain sebagai seorang dokter umum, Dr Derryl juga merupakan seorang psikolog muda yang sudah banyak job dimana mana


"Ternyata Pasien perempuan tadi berasal dari negara yang sama dengan kita, mama gak bisa hubungin keluarga nya di handphone nya gak ada satupun nomer telpon yang bisa di hubungi dan kamu tau apa, dia sedang mengandung, tapi kamu tau yang lebih membuat mamah heran dia berstatus mahasiswi angkatan 3 tahun yang lalu itu artinya dia belum luluskan", jelas Dr becca pada anak anak semata wayangnya itu


Setelah kondisi Shasha mulai tenang Dr Derry yang tentunya di dampingi Dr Becca memeriksa Shasha kembali, mereka lebih intens agar psikologis nya kembali membaik.


Tak butuh waktu lama bagi seorang psikolog seperti Dr Derryl untuk membuat pasien nya cerita apa adanya, begitupun Shasha hanya setelah beberapa kata Dr Derryl meyakinkannya Shasha pun menceritakan semua kisahnya yang menyayat hati pada mereka


Tak satupun dari mereka yang tak berempati pada Shasha, bahkan sebagai seorang ibu dan seorang wanita Dr Becca ikut merasakan kesedihan tersebut, hingga timbullah kata kata yang keluar dari mulut seorang dokter Becca yang membuat Shasha tak bisa berkata kata lagi


"Nak, sungguh malang nasib kamu, kamu wanita yang kuat, kamu tinggal di rumah saya dan anak saya aja ya, lagian kamu mau pergi kemana lagi, kita dari negara yang sama, anggap aja ini adalah balasan tuhan untuk kesabaran dan kebaikan kamu selama ini", ucapnya sambil memeluk Shasha


ENtah apa yang dimiliki Shasha, semua orang yang bisa mengenalnya dengan baik pasti langsung mudah menyayanginya dengan tulus


"Ma.. Makasih bu", ucap Shasha yang tak henti nya bersyukur


...****************...


...Jakarta...


...Kantor Vano...


"Permisi mba ada pak vano nya?" tanya Vira pada seorang resepsionis kantor, Vira nekad berusaha menemui vano


"mohon maaf mba siapa ya? dan ada keperluan apa? sudah buat janji?"


"belum ada yang ingin saya sampaikan, ini penting ba",


"mohon maaf mba, sesuai dengan prosedur di kantor ka...", penjelasan resepsionis itu seketika terhenti setelah Vira tiba tiba berlari menghampiri vano yang baru saja keluar dari lift menuju pintu keluar


"Tu.. Tu.. Tunggu", teriakan nya dengan nafas tengah-engah


Vano spontan menoleh kebelakang dan tentunya tak mengetahui bahwa wanita yang berusaha mengejarnya tersebut adalah Vira yang sesungguhnya, Vira putri dari Poernomo


"Ada yang ingin aku tanyain, kamu tau dimana sha...?" belum saja menyelesaikan ucapannya vano bahkan tak merespons dan langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"hah, apa, gak salah seorang Vira di cuekin? bener bener tuh cowol, emang sikap menyebalkan nya itu bukan cuma rumor belaka", gerutu Vira sambil tak karuan menginjak-nginjakan kaki nya ke lantai


"sha, sha, kamu luar biasa emang, bisa bisa nya suka sama laki laki macam dia",

__ADS_1


Vira pun pergi dengan kesalnya


Rumah Vira


" tuan, ada tamu nungguin tuan dari tadi, katanya mau ketemu", ucap Mirna (ART) menghampiri Poernomo yang baru saja sampai di rumah


"Siapa bi?", tanya Poernomo dengan wajah pendaran


"euh, sepertinya, pacarnya non Vira pak", jawab Marni


"oh maksud bibi Pram, kamu ini kaya gak kenal Pram aja, Pram kan sering main ke rumah ini",


"Bu..", ucap Marni terpotong


"Bukan om, ini saya", saya seorang pria yang tak lain itu adalah vano.


vano sengaja mendatangi Poernomo kerumahnya, untuk memastikan sendiri kondisi Vira dan Poernomo setelah kejadian itu


"Va.. vano", ucap Poernomo kaget


"Kok, kamu kesini gak ngabarin om, soal pram barusan itu om bisa jelasin, kamu jangan salah paham dulu Van", ucap poernomo yang sangat khawatir jika vano mendengar ucapannya pada Mirna.


"Udah om, saya cuma mau bicara berdua sebentar sama om", ucap vano yang kemudian memalingkan wajahnya, vano masih saja kesal dan benci melihat wajah licik Poernomo


"oh ya udah kalau gitu kita ke ruang kerja saya aja Van",


"gak usah om disini aja, saya juga gak akan lama", jawabnya ketus


"kalau gitu, bi kamu kebelakang dulu aja",


"baik pak", mirna pun patuh pergi kebelakang


"Om, saya gak suka basa basi, saya langsung to the poin aja, om gak usah pake cara murahan itu lagi buat jatuhin saya, sudah lama saya saya menunggu bagaiman reaksi marahnya seorang ayah yang putrinya harus mengalami kejadian itu, itulah om pembalasan dendam terbaik dari saya, kenapa? om bingung? sepertinya Vira memang belum cerita, tapi saya sama sekali gak peduli", ucap vano panjang


Sontak Poernomo keheranan apa maksud dari ucapan vano, seketika itu ia langsung khawatir pada putri kesayangannya itu


"APA YANG KAMU LAKUIN HAH SAMA ANAK SAYA? VANO...?", tanya Poernomo tersulut emosi hingga hampir saja memukul wajah vano


"Silahkan pukul om, pukul, seandainya om mukulin saya sampai om puas pun gak akan pernah bisa mengobati luka di hati anak om", ucap vano dengan nada menantang


"Apa.. apa yang kamu lakukan hah sama Vira", tanya Poernomo yang semakin panik


Tiba Tiba...


"Papa, ada apa pak?", Vira yang baru saja tiba di ruangan rumahnya kaget melihat ayahnya sedang bertengkar


"Sayang, kamu gapapa kan? kamu gak terluka kan?", tanya Poernomo panik dan spontan melihat dengan detail anak nya itu


"Papa apaan sih, aku gapapa", jawab Vira


Vano hanya diam tak mengerti, wanita yang baru saja menyebut Poernomo dengan sebutan papa itu bukan Vira yang selama ini dia temui


vano heran tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi


"Apa maksudnya ini?, siapa wanita ini om? siapa?", tanya vano membentak


"kenapa dia manggil om papa?"


"Om... Jawab Saya",


"Maksud kamu apa van?", tanya Poernomo yang keheranan


"vir kenapa kok vano seperti tak mengenali kamu?", tanya semakin tak paham


Vano menghampiri Vira yang tak jauh di depannya itu


"Vira? kamu Vira? jadi wanita yang saya temui selama ini itu siapa?, jawab Saya...", bentaknya sampai membuat Vira ketakutan


"A.. Aku.. bisa jelasin semuanya",


'Pa.. A.. Aku.. Maafin aku",


Vira tak bisa berkata kata ia hanya tak menyangka suasananya seperti ini akan terjadi


"Hebat.. Hebat.. Hebat sekali permainan kalian", ucap vano kesal


"Gara gara kalian, terutama gara gara kamu Vira, gak maksud saya Vira yang asli, saya melakukan kesalahan fatal, apa maksud kamu seolah olah menjadikan wanita yang selama ini saya temui adalah kamu vira ", ucapnya penuh penyesalan sampai tanpa ia sadari air mata nya menetes.


Vano hanya terdiam tak berdaya mengingat sosok Vira yang ia temui selam ini bukanlah anak dari musuhnya, wanita yang ia dan Raka hancurkan hidupnya bukanlah Vira yang sesungguhnya..

__ADS_1


"Siapa wanita itu, dimana dia sekarang", vano terus bertanya tanya


bersambung...


__ADS_2