Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 16- Bukit indah Yang Menjadi Saksi Bisu


__ADS_3

Sesaat setelah berjalan menyusuri jalanan kecil sampailah mereka di rumah yang di tunjukan oleh petani tadi


"Van, apa mungkin ini rumah nya?", tanya Raka


"Sepertinya ia ka, coba lo ketuk dulu pintunya", ucap vano


"Elo lah", jawab Raka


"Apaan sih ka, ya elo lah", sangkal vano


"Ihss, kok gue sih apa susah nya Tibang ketok tu pintu, awas Lo sini biar gue aja",


Ketika Raka akan mengetuk pintu tiba tiba pintu rumah terbuka, kebetulan saat itu Imas keluar rumah ketika akan belanja ke warung


"Lo siapa kalian, ngapain kalian di depan rumah saya", tanya nya ketus


"Kalian mau maling hah?", lanjutnya salah sangka terhadap vano dan Raka


"Buset, ini pasti bibi nya Shasha, serem juga", guman Raka dalam hati


"he, bukan kita datang ke sini cuma mau ngobrol sama tante dan juga om wan.. wan.. wan siapa ka?", tanya vano pelan , vano lupa nama paman Shasha tersebut


"Wanto", jawab Raka tegas


"Iya, maksud saya om Wanto", lanjut vano


"Emang kalian siapa? ada perlu apa kesini?", tanya bi Imas


"Oh jangan jangan kalian rentenir baru juragan Darsi yang mau nagih hutang? kan kemarin saya udah bilang sendiri sama juragan Darsi nanti juga saya balikin uang nya kalau ponakan saya yang bentar lagi sukses itu balik lagi", sangka nya


memang semenjak Shasha menghilang dan Wanto jatuh sakit tidak ada pilihan lain selain meminjam uang pada juragan kaya di kampungnya itu.


"Kalian pergi aja, nanti saya balikin uang sama bunga nya kalau ponakan saya pulang bawa uang, kalau pun dia gak pulang bilang ke juragan Darsi nikah aja dia jadi istri ke empatnya", ucap imas sambil berusaha menutup pintu rumahnya


"Ampun dah, ini bibi nya shasha ko tega amat gitu sama ponakan sendiri", gumam Raka dalam hati


"Tunggu Tante, kami bukan mau nagih hutang, kami dari kota temannya shasha", ucap vano


"Temen Shaha? berarti kalian tau dimana Shasha? dimana ia? berani beraninya dia ngilang, di pikir selama ini saya besarin dia cuma ngeluarin uang sedikit apa",


"Uhukk Uhukk Uhukk, mah.. ada apa rame rame gini", tanya Wanto dengan suara sendu nya mencoba memaksakan diri berjalan kelurah


"Ini bapak kenapa lagi keluar, udah istirahat aja di dalem", jawab bi Imas


"Siapa ini mah...?" tanya wanto sambil melihat ke arah vano dan raka


"Alah.. bapak tanyain aja sendiri lah, pusing ibu gara gara denger nama si anak durhaka itu, mending ibu pergi kewarung", ucap Imas kemudian pergi meninggalkan mereka semua.


"Dek, maafin istri saya ya, dia emang gitu, silahkan masuk dulu", ucap Wanto mempersilahkan mereka masuk


Vano dan raka pun masuk ke dalam rumah Wanto yang kecil dan sederhana.


"Jadi kalian ini siapa? dari mana? ada keperluan sama saya?", tanya Wanto.


"Biar gue yang ngomong Lo gak bisa ngomong sopan ma orang tua", gumam Raka pelan


Vano hanya diam datar.


"Om sebelumnya mohon maaf, mungkin kami ke sini mengganggu waktu om apalagi om lagi dalam keadaan sakit, saya Raka dan ini teman saya vano, kami dari ibukota, kami kesini ada beberapa hal yang ingin disampaikan dan ingin di tanyakan",


"Dari ibukota? apa mungkin kalian temen nya shasha? dan kalian kenal Shasha?", tanya Wanto penasaran


"Iya pak, kita kenal shasha", ucap Raka kemudian tertunduk malu mengingat apa yang ia lakukan pada Shasha


"kalian tau Shasha sekarang dimana", tanya Wanto


"Justru itu om, sebenarnya kita kesini mau cari informasi tentang Shasha siapa tau emang ada petunjuk, tapi sepertinya perjalanan jauh kita ke sini sia sia", keluh Raka


"Satu hal lagi om, saya mau minta maaf seandainya kepergian Shasha itu mungkin karena ulah saya, tapi saya janji saya akan temukan dia dan berusaha agar kalian berkumpul kembali", lanjutnya


"Engga om, itu juga mungkin karena salah saya, maaf", ucap vano.


Tak seperti Raka vano memang tak bisa berkata kata dan banyak bicara, ia hanya berkata seperlunya saja tapi penyesalan di hatinya membuat nya merasa sangat bersalah

__ADS_1


"Maksud kalian apa saya gak ngerti, saya udah gak tau harus dimana lagi nyari Shasha, walaupun dia bukan anak kandung saya tapi dia saya anggap anak saya sendiri, saya gak kebayang kalau sampai dia gak kembali, dia anak yang baik cita citanya ingin menjadi seperti mendiang ayahnya dulu yang seorang akuntan di perusahaan besar, tapi karena dia dibesarkan di keluarga seperti kami ia sudah menderita sejak kecil, kami gak bisa mencukupi segala kebutuhan nya, bahkan untuk kuliah pun dia harus berjuang keras hingga akhirnya berhasil mendapat beasiswa di ibukota", cerita Wanto panjang lebar.


Sejak Shasha kecil Wanto memang sering menceritakan tentang ibu dan ayahnya, ayahnya bisa di bilang orang yang cukup sukses, namun karena peristiwa kecelakaan naas tersebut Shasha harus hidup kekurangan bersama paman dan bibinya.


Mendengar ucapan Wanto tak kuasa vano dan raka menahan kesedihan dan penyesalan, lagi lagi mereka terus membenci diri sendiri.


"Sha, maafkan saya, saya benar benar menghancurkan hidup kamu, saya gak tau kalau hidup kamu semalang ini sha, saya janji saya akan menemukan kamu dan akan membatu kamu mewujudkan kembali cita cita kamu, saya akan mencintai kamu dengan tulus kembali sha", gumam vano dalam hati.


"Gue kali ini bertekad, aku pasti nemuin kamu sha, gak peduli apa yang harus aku pertaruhkan untuk menebus kesalahan aku ke kamu dan kembali membuat kamu bahagia, sha", Raka pun bergumam dalam hatinya.


Setelah berbincang cukup lama vano dan Raka memutuskan untuk pulang ke ibukota, mereka berjanji untuk menemukan Shasha kembali.


Di tengah perjalanan pulang vano dan Raka berbincang


"Gue nyesel Van, ini semua salah gue andai aja gue gak ngusulin ide buruk itu mungkin ini semua gak akan terjadi", ucap Raka.


"Apalagi gue ka, mungkin Lo gak akan ngerti, Gimana rasanya mengetahui bahwa wanita yang gue cinta hidupnya hancur, dan kehancuran itu gue penyebabnya, gue gak tau ka apa perasaan ini bisa di bilang cinta, seandainya ia kenapa justru gue nyakitin dengan kata kata gue dan perbuatan gue, ka walaupun elo yang menodai dia tapi gue ka, gue yang udah menyebabkan itu semua terjadi", ucap vano


"Lo salah Van, gue tau persis perasaan Lo itu, gue juga punya perasaan sama Shasha, sayang perasaan itu sempat hilang gara gara kesalahpahaman Lo sama dia", gumam Raka dalam hati.


"Kenapa Lo diem aja ka?", tanya vano heran


"Lo gak tau aja gue sibuk dengan isi kepala gue", jawabnya ngawur.


...****************...


...Empat bulan kemudian...


...Jakarta...


Segala cara telah dikerahkan bahkan vano dan Raka sampai menyebarkan selebaran dengan tulisan "Di Cari orang Hilang, Bagi yang menemukan akan di beri imbalan"


Bahkan Monicca dan Prasetya terus bertanya tanya hubungan Vano dan Shasha yang masih mereka kira Vira, mereka mencoba menghubungi Poernomo namun sama sekali tak ada respon bahkan sempat Prasetya pergi ke kantor poernomo namun poernomo bahkan tak mau menunjukan batang hidungnya.


Ada banyak perubahan yang terjadi setelah empat bulan berlalu, apalagi perubahan yang terjadi pada Vira, sosok sahabat baik Shasha.


Setelah dia ketauan berbohong, ayahnya mulai tak seperhatian dulu bahkan Pram pun benar benar meninggalkan nya, hal itu membuat Vira membenci keadaan tersebut.


Ia bahkan membenci Shasha yang menghilang sekitar tiga bulan lalu, ia beranggapan seandainya Shasha tak menghilang begitu saja mungkin keadaan nya Takan separah itu.


Ini adalah hari yang seharusnya menggembirakan bagi Shasha, tepat di hari ini acara Wisuda di gelar.


"Vir, selamat wisuda ya. Gak kerasa kaya baru kemarin aku nangis nangis terus ketemu kamu dan Shasha sekarang kita udah lulus aja", ucap Nara


"Iya Ra, kamu juga ya selamat wisuda, jalan kita kedepannya emang berbeda tapi kamu jangan lupain aku", ucap Vira


"Gak akan vir, cuma sayang ya kita gak bisa lulus bareng shasha, mungkin kalau dia gak ngilang pasti yang berdiri di podium sana mendapatkan penghargaan mahasiswa terbaik adalah dia", ucap Nara sambil menatap kearah podium, dimana saat itu tepat pengumuman mahasiswa terbaik lulusan tahun ini


"Ra kamu lupa ya, seberapa benci nya aku sama Shasha sekarang, aku gak mau denger tentang dia lagi Ra", ucap Vira


Vira memang sudah menceritakan semua yang terjadi pada Nara, namun terkadang Nara tak mengerti dan masih saja membahas Shasha, walaupun Vira begitu membenci Shasha tapi bagi Nara shasha adalah sahabat terbaik yang ingin kembali ia temui


"Oh iya vir, maafin aku, aku suka gak sadar kalau ngomong", ucapnya


"Gapapa Ra", ucap Vira lalu tersenyum


...****************...


...Singapura...


Empat bulan berlalu, tepat di hari tersebut kandungan nya sudah menginjak usia lima bulan, ya bisa di bilang seperti itu karena ketika dirinya pergi ke luar negri usia kandungannya berusia satu bulan.


Selama di rumah Dr Becca dan Dr Derryl, Shasha sudah benar benar sembuh, meskipun terkadang kejadian itu masih saja terlintas di pikirannya, tapi yang tak bisa Shasha lupakan justru perasaannya terhadap vano, wajar saja mungkin meskipun singkat tapi kenangannya bersama vano begitu bermakna apalagi vano adalah cinta pertamanya.


"Kak vano, aku gak tau kenapa sulit sekali bagi aku lupain Kaka, kak Raka meskipun aku benci perbuatan Kaka ke aku tapi aku gak benci orangnya kak apalagi kakak ayah dari anak aku, Vira Nada apa kabar kalian aku kangen kalian mungkin kalian saat ini udah lulus maafin aku ya gak tepatin janji kita buat lulus bareng bareng aku harus jadi seorang ibu Ra vir, paman bibi aku durhaka sama kalian, aku ninggalin kalian maafin aku", gumam Shasha dalam hati


Melihat Shasha sedang melamun Dr Becca yang kebetulan hari ini tidak ada jadwal meeting dan praktek di Rumah Sakit kemudian menghampiri Shasha di kamarnya,


"Sayang, kamu kenapa ngelamun gitu?", tanya Dr becca dengan senyuman hangatnya.


"he, engga Bu", jawab shasha


"Kamu sekarang udah jauh lebih baik, ibu seneng liat kamu sehat bayi kamu juga sehat", ucap Dr Becca sambil mengelus ngelus perut shasha

__ADS_1


"Ini juga berkat pertolongan ibu, Mas Derryl dan juga bi Desi", ucap Shasha


Shasha yang pada awalnya begitu sungkap pada mereka apalagi pada Dr Derryl, kini ia sudah mulai menganggap semuanya keluarga ia sendiri.


"Ada yang ingin ibu bicarakan sama kamu nak", ucap Dr Becca


"Apa itu Bu?", tanya Shasha penasaran


"Sebenarnya ibu mau ngomongin hal ini sudah sejak lama sha, tapi ibu cari waktu yang tepat, dan ibu rasa ini waktu yang tepat untuk ibu bicara sama kamu",


"Kenapa emang Bu? ada apa?", tanya Shasha semakin penasaran


"Ibu cuma mau wakilin Derryl untuk melamar kamu, dan ibu rasa ini hari yang tepat",


"Ibu gak tau kamu sadar atau engga sha, selama ini Derryl memendam perasaan sama kamu, dia selalu bilang tunggu kamu sembuh, psikologis kamu membaik dan bayi kamu sehat baru ibu bisa bicarain hal ini sama kamu",


Shasha tercengang mendengar ucapan Dr Becca padanya


"Bu, tapi aku ini bukan wa..", ucapan Shasha terpotong


"Ibu tau apa yang mau kamu bilang, sha bagi kami kamu harta yang paling berharga, Jangan pernah memandang diri kamu seperti itu, ibu sayang sama kamu sayang sama bayi kamu, ibu harap kamu bisa mempertimbangkan lamaran ini sha",


"Tapi ibu gak maksa kamu sha, keputusan ada di tangan kamu, lagian bagi ibu dan bagi Derryl kebahagian kamu jauh lebih penting jauh lebih kami hargai", ucap Dr Becca


mendengar hal itu Shasha tak bisa berkata kata, satu sisi dia bahagia masih ada yang tulus mencintainya di kondisi nya saat ini, namun di sisi lain hatinya tak bisa bohong cintanya pada vano masih saja belum bisa ia lupakan sepenuhnya.


...****************...


...Dua hari Kemudian...


"Mas, kenapa kamu tiba tiba ngajak aku kesini?", tanya Shasha heran


Setalah pulang dari Rumah Sakit, Derryl menjemput shasha untuk pergi dengannya ke suatu tempat yang indah


"Sha, anggap aja ini sebagai hadiah ulang tahun kamu, kita pergi jalan supaya kamu gak bosen di rumah terus", jawabnya dengan lembut


"Ini tempat yang sering aku kunjungi bersama mendiang papa dan mama dulu, ini tempat yang paling berkesan buat aku, setalah aku pindah ke negri ini", lanjutnya


Tempat yang mereka datangi adalah bukit yang menawan, dimana hamparan laut yang biru, gunung gunung yang tinggi dan matahari sore yang indah dapat terlihat jelas, bahkan jika malam tiba kelap kelip lampu di perkotaan terlihat begitu luar biasa


"Iya mas, ibu sebenarnya sering cerita tentang tempat ini ke aku, aku gak nyangka akan di bawa mas derryl hari ini kesini", ucapnya


"Ngomong ngomong, mas derryl kok tau aku hari ini ulang tahun",


"Tentu aku tau sha", jawab derryl sembari melihat pemandangan yang begitu indah di depan matanya itu.


"Sha, boleh aku nanya sesuatu kalau kamu gak mau jawab juga gapapa sha",


"A.. Apa mas?", tanya nya kebingungan


"Maaf kalau aku lancang sha, apa kamu masih mencintai laki laki itu? Pria teman ayah anak kamu ini",


Shasha terdiam sulit sekali baginya menjawab pertanyaan itu


"Ma.. maaf sha, seperti nya aku gak harusnya nanya hal itu ke kamu",


"Engga ko mas, cuman aku bingung harus jawab apa, aku ngerasa sulit sekali menjawab pertanyaan itu",


"Sha, kamu tau kenapa aku tanya hal itu?",


Shasha hanya menggelengkan kepala


"Untuk memastikan apakah di hati kamu masih ada tempat untuk pria lain yang beruntung mendapatkannya, dan aku berharap orang beruntung itu adalah aku sha"


"Mas.. Ta.. Tapi, aku..",


"Seperti kata mama, aku tau apa yang akan kamu ucapin, tapi sha seandainya kesempatan aku di beri kesempatan itu, aku akan berusaha untuk menyayangi kamu dan anak kamu dengan tulus, kita rawat anak itu, kamu gak perlu khawatir kamu gak usah nyiapin mental buat jawab pertanyaan anak kamu jika dia bertanya mana papa karena aku ada di sampingnya, kamu gak usah takut kalau dia nanya siapa ayahnya kamu bilang aku sha ayahnya, aku akan mencintai kamu dan anak kamu setulus yang aku bisa sha",


Shasha terdiam, ia merasakan betul ketulusan dari kata kata yang terucap dari mulut Derryl


"Sha, mungkin mamah udah bilang sama kamu, tapi kali ini izinkan aku sendiri yang bilang ke kamu, Aisha Aileen Nathania maukah kamu menjadi istriku?"


Tanpa basa basi lagi Derryl melamar Shasha langsung, sembari memberikan kotak berisi cincin yang dan kalung yang indah

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2