
Vano yang tiba-tiba datang lalu dengan brutal nya memukul Raka membuat Shasha ketakutan dan sangat khawatir, ia pun mencoba menghentikan tindakan kasar vano tersebut.
"Cukup kak, cukup kak vano, cukup kak cukup", Shasha berteriak namun dengan suara yang masih lemah.
"Lo gila Van, sadar ini rumah sakit jangan bikin keributan disini, lagian bukannya Lo pergi ke Indonesia?", Ucap Raka sembari mengelap pinggir bibirnya yang memar dan berdarah
"Ini yang Lo lakuin di belakang gue ka?", tanya nya terengah-engah, emosi vano masih memuncak tak karuan.
"Cukup kak vano, gak seharusnya kakak bertindak se kasar itu, cukup kak", saut shasha berusaha melerai keributan tersebut
Vano tak merespons ucapan Shasha, ia seolah hanya memandang rendah raka dengan tatapan tajam dan kebencian.
"Lo pengecut kak", ucap vano yang kemudian menarik paksa kerah baju Raka.
Raka tak bisa mengatakan apapun, ia memang merasa dirinya salah karena berusaha mendapatkan cinta Shasha.
Tapi seandainya Shasha tak mengandung anaknya mungkin saja Raka masih dengan cinta dalam diamnya.
"Ka kita berteman sejak kecil, gue bahkan bersyukur punya sahabat kaya Lo karena cuma Lo yang selalu ada juga mengerti karakter gue, tapi penilaian gue salah ka, gue gak nyangka Lo se pecundang itu",
"Lo tau kan gimana gue mencintai Shasha, gimana gue berusaha menemukan dia kembali",
"Jangan mentang mentang Lo ayah dari anak yang dikandung shasha, Lo bisa seenaknya ngambil hati Shasha",
"Kenapa Lo diem ka? kenapa? ngerasa bersalah lagi Lo? Pecundang Lo", Ucap vano kemudian menghempaskan Raka dengan kencang.
"Cukup kak cukup, kamu seha...", ucapan Shasha terpotong karena Vano tiba tiba memeluknya.
Meskipun vano dalam keadaan emosi, bagi Shasha hanya pelukan vano yang membuatnya nyaman, cintanya begitu besar pada vano, namun lagi lagi ia teringat Nara sahabat baiknya yang juga mencintai Vano sedari lama.
Baru beberapa detik berada di pelukan vano Shasha pun berusaha melepaskannya meskipun hati kecilnya berkata tidak.
"Kenapa sha? kamu bahkan gak Sudi dipeluk aku?", tanya vano sambil memegang pundak Shasha.
Vano hanya tersenyum seolah terpaksa.
"Kalau aku bisa lupain kamu, kalau aku udah gak cinta sama kamu aku juga gak mau memohon seperti ini sha, aku mohon setidaknya pertimbangan aku kembali sha, apa kamu khawatir aku gak akan menyayangi anak kamu? anak siapapun dia akan tetap aku terima sha, aku akan perlakukan dia dengan baik", ucap vano meyakinkan shasha
"Ka, gue gak peduli nasib persahabatan kita kedepannya akan seperti apa, gue bisa kehilangan sahabat pengecut kaya lo, tapi gue gak bisa ngerelain Shasha berada di pelukan laki laki lain, terutama laki laki kaya lo, ka gue yang paling kenal Lo",
"Sha, apa kamu tau bagaimana kehidupan Raka di luar sana hah? wanita malam mana yang gak tau dia? klub mana yang belum pernah dia datangi sha?, aku mohon kamu jangan pernah mempertimbangkan dia, aku gak mau kamu menderita karena kelakuan dia",
Raka yang dari tadi hanya diam mendengarkan vano, kini dia benar benar tersulut emosi.
"Gila Lo Van, gue ngaku gue emang salah gue emang laki laki pecundang, kehidupan gue kelam, gue sadar gue sama sekali gak pantes buat Shasha, Lo tau Van siapa yang bisa merubah gue kejalan yang lebih baik, Shasha van. Gue tau gue gak seharusnya berusaha merebut dia dari Lo, tapi apa salah gue berharap bisa menemani anak gue?",
Mendengar ucapan raka tersebut, mereka seolah terhipnotis.
Baik Dr Derryl maupun Raka keduanya memang tulus mencintai Shasha, begitupun juga vano amat sangat mencintai Shasha dengan tulus tapi justru itu cinta tulus vano sepertinya tak terlihat karena tertutupi karakternya yang egois, ambisius, dan dingin.
Cinta vano pada shasha terkesan seperti dirinya mencintai Shasha hanya karena obsesi untuk memiliki Shasha.
"Udah kak, kak vano kak Raka stop"
"Sekarang giliran aku bicara, bisa kan?", tanya Shasha lalu menatap mereka berdua
"Kak vano, apa kamu gak pernah mengambil pelajaran dari tradegi kemarin? bukannya kehancuran aku terjadi karena emosi yang tak bisa kamu kendalikan, kamu jangan lagi bertindak menggunakan emosi kak apalagi bertindak kasar kaya tadi, satu lagi kak entah aku masih cinta atau engga sama kakak kini itu bukanlah hal yang penting, tapi yang yang terpenting saat ini kak vano harus ingat Nara. Dan kamu kak Raka, terlepas dari apa yang kamu lakukan sama aku, memang iya aku masih menghargai kamu sebagai ayah dari bayi yang aku kandung inu tapi satu hal yang perlu kalian ingat aku sudah di lamar orang, aku ini calon istri orang lain kak. Aku mohon kalian mengerti, aku gak bisa mengkhianati laki laki yang sudah tulus mencintai aku kak",
Lalu Dr Derryl yang telah menghadiri acara seminar dengan Dr Becca kembali ke Rumah sakit, ia langsung menuju ruangan Shasha berharap Shasha telah siuman, tak disangka di ruangan tersebut masih ada Raka bahkan kini ada seorang vano.
"Ada apa ini?", tanya Dr Derryl karena melihat ketegangan dalam wajah mereka dan luka di wajah Raka.
"Boleh saya bicara bersama Shasha dan ibu saya dulu?",
"Silahkan dok", ucap Raka kemudian Raka keluar dan di susul vano.
"Sha, ada apa lagi ini sha?, apa mereka berantem? kamu gapapa kan?", tanya Dr Derryl Khawatir.
"Iya mas, maafin aku karena aku Kamu sama Ibu selalu repot gini", ucap Shasha merasa bersalah.
"Engga nak, kita gak merasa seperti itu", ucap Dr Becca dan seperti biasa selalu dengan pelukan hangatnya.
"Sha kali ini aku mau tanya serius, aku mohon kamu jawab aku dengan jujur, sha siapa yang akan kamu pilih? aku? Raka? atau vano?, kalau kamu berubah pikiran aku ikhlas sha, jangan pernah merasa bersalah sama aku dan mama",
"Sha, seandainya aku gak bisa jadi suami kamu aku masih bisa jaga dan bantu kamu sha, aku masih tetap bisa mencintai kamu, aku tau sha cinta itu tak harus memiliki, tapi cinta yang tulus adalah cinta yang selalu berkorban untuk kebahagiaan orang yang dicintai",
"Jika kamu mau mempertimbangkan ulang silahkan, aku akan berusaha menerima apapun nanti keputusan kamu",
"Dengan siapapun kamu menikah, kamu tetep keluarga kita sayang", saur Dr Becca.
Ketulusan Dr Derryl yang luar biasa membuat Shasha semakin merasa bersalah, meskipun ia sudah menerima lamarannya dan berusaha mencintai Dr Derryl tetap saja cintanya belum juga bisa tumbuh, seolah olah cinta Shasha terjebak dalam di kedalaman hati Vano.
"Makasih bu, mas atas semua kebaikan dan ketulusan kalian", ucap Shasha penuh haru.
"Aku akan berusaha memikirkannya matang matang kembali, dan berharap keputusan aku nanti bisa menjadi keputusan yang terbaik untuk semuanya mas",
"Oh iya mas, Bu, sekarang bi Imas dimana? apa dia udah pulang lagi", tanya Shasha khawatir
"Kita juga gak tau sha, ketika itu kita panik dan langsung bawa kamu ke rumah sakit",
"Gapapa mas, Bu, aku cuma khawatir aja, mungkin bisa jadi bibi tinggal sama nara sementara ini, atau mungkin dia udah pulang kembali",
"Aku khawatir sama keadaan mereka mas, Bu, katanya paman sakit mereka terlilit hutang, sementara aku malah menikmati kenyamanan dan kemewahan di sini bersama kalian",
"Kamu jangan banyak pikiran sha, nanti kita cari waktu ke sana, aku dan mama akan berusaha sebisa mungkin bantu kalian",
"iya sayang", saur Dr Becca
__ADS_1
"Engga mas, Bu aku gak mau ngerepotin kalian terus, makasih sebelumnya", jawab Shasha.
"Oh iya mas, gimana dengan nara, apa kamu memutuskan untuk menghentikan magangnya di sini?", tanya shasha khawatir
"Engga sha, perbuatannya memang sangat keterlaluan sama kamu dan dia juga mengabaikan pekerjaannya di rumah sakit, kita hanya skor dia beberapa hari kok, setelah itu mungkin dia pasti kembali lagi kesini", jawabnya
"Syukurlah mas, aku khawatir kamu mecat dia, menjadi dokter yang hebat adalah cita cita dia sejak kita kuliah dan aku rasa Rumah Sakit ini adalah Rumah Sakit yang tepat untuk dia berproses meraih impiannya itu",
"Ra, aku turut senang impian kamu dapat terwujud, meskipun terkadang aku sedih Ra, aku tak bisa mewujudkan impian aku seperti kamu",
"Entah bagaimana kabar kamu sekarang vir, aku harap kamu baik baik aja",
"Iya sha, sebelum memutuskan sanksi kita juga memiliki pertimbangan sendiri, pertimbangan dari berbagai aspek", jelas Dr Derryl
Sementara itu di luar ruangan Vano dan Raka masih tak saling bicara, vano kemudian menerima telpon dari mamanya.
"Van, kamu masih di Indonesia? papa kamu memburuk Van, tadi dia main handphone terus papa kamu gak sengaja liat berita bahwa perusahaan kamu terjerat proyek ilegal dan di tuntut ke pengadilan", monicca menjelaskan dengan suara panik.
"Ya ampun mah, papa sekarang ditangani dokter kan? aku di rumah sakit ini mah, aku ke sana sekarang", jawab vano.
"Papa Lo kenapa?", tanya Raka khawatir.
"Gak usah so peduli ka, urusan kita belum selesai ka" jawab vano ketus
Vano pun pergi meninggalkan Raka.
"Om apa mungkin keadaan om memburuk, aku harap om baik baik aja, percuma aku kembali ke sana vano tak akan mengharapkan aku yang ada hanya akan memperburuk keadaan", gumam Raka dalam hati.
Ketika berjalan menuju ruangan papanya vano menelpon Gio.
"Iya pak", tanya gio sesaat setelah menerima panggilan telepon dari vano.
"Gio, ini maksudnya apa kenapa masalah ini bisa sampai terekspos media, terus media itu seakan sudah menggiring opini yang buruk bagi perusahaan kita, padahal kasus ini sama sekali belum masuk ke persidangan", ucap vano
"Iya pak, kita juga tak leluasa keluar kantor, banyak sekali wartawan yang ingin mewawancarai dan mengklarifikasi kasus ini",
"Saya minta tolong ya gio, bantu saya dulu di situ sementara saya belum bisa pulang papa saya drop, mungkin besok saya usahakan kembali ke sana", ucapnya
"Saya tutup dulu telpon nya", ucap vano mengakhiri obrolannya dengan gio.
Vano melihat mamanya yang sedang panik tersebut di luar ruangan, lalu menghampiri nya.
Melihat kedatangan Vano Monicca memeluk Vano dan kemudian menangis.
"Van.. gimana ini, hiks hiks hiks, papa kamu van",
"Mama tenang mah semuanya akan baik baik aja, aku ada disini, aku temenin mama".
...****************...
...Beberapa hari kemudian...
Lalu Nara pun sudah kembali bekerja di Rumah Sakit tersebut, setelah kejadian itu Nara belum lagi bertemu dengan vano maupun Shasha.
Dengan ditemani Dr Derryl shasha pulang ke rumah, ketika tiba di rumah ia bertemu bi desi di ruang tamu.
"Non, gimana non udah baikan?", tanya bi Desi
"iya bi, saya udah baikan kok", jawab Shasha tersenyum
"Syukurlah non, bibi udah bikinin makanan nanti non sama tuan makan ya",
"Iya bi makasih", jawab shasha singkat
"Oh iya non, kemarin ada kiriman surat buat non Shasha, bibi simpan di atas meja kamar non", ucap bi desi
"Dari siapa bi?", tanya Shasha penasaran
"Bibi juga gak tau non", jawabnya singkat.
"Yaudah saya ke kamar dulu ya, ayo mas", ucap Shasha.
Dr Derryl pun mengangguk dan pergi mengantarkan shasha ke kamar.
"Memang pasangan yang serasi, bibi jadi baper liat kebersamaan kalian, sayangnya bibi udah tua gini mana ada yang mau", gumam bi Desi dalam hati.
"Surat dari siapa sha?", tanya Dr Derryl penasaran
"Aku buka ya mas", ucap Shasha sambil membuka sepucuk surat.
Surat tersebut berisi
"Shasha ini bibi kamu, bi Imas. Bibi gak seharusnya gitu ke kamu sha waktu itu, maafin bibi. Bibi harus pulang sekarang ke surabaya paman kamu sakit semakin parah, kalau tau bakal kaya gitu bibi gak akan kesini.
Bibi harap kamu bisa pulang secepatnya sha, walaupun bibi gak suka sama kamu, tapi paman kamu sangat mengharapkan kepulangan kamu, bibi mohon sha hanya kamu yang bisa buat paman kamu lebih kuat, bibi gak mau paman kamu kenapa Napa bibi gak punya anak sha, bibi cuma punya paman kamu"
Shasha pun memberitahu isi surat tersebut pada Dr Derryl.
"Terus kamu mau gimana sha? kamu mau pulang? aku temenin ya", ucap Dr Derryl.
"Aku juga gak tau mas, aku bingung, aku juga gak enak kalau harus ngajak kamu pulang ke sana, kamu sibuk mas disini", ucap Shasha.
"Aku usahain untuk kamu sha", ucap Dr Derryl
"Makasih mas, biar aku pikirin dulu ya mas", jawab Shasha.
Dr Derryl kemudian berpamitan untuk kembali pergi ke rumah sakit sementara Shasha beristirahat di kamarnya.
__ADS_1
Shasha berpikir lama, keputusan apa yang sebaiknya ia ambil.
...****************...
...Malam hari...
...Rumah Dr Derryl...
Malam hari tiba ini saatnya bagi Shasha untuk merebahkan dirinya ke atas kasur yang sangat nyaman, untuk istirahat dengan tenang.
Tapi saat Shasha hendak tertidur tiba tiba terdengar orang mengetuk jendela kamarnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Syut.. sha.. sha.. Shasha..
Mendengar orang memanggilnya ia pun kaget dan ketakutan tapi ia penasaran siapa yang diam diam datang ke kamarnya malam hari.
pelan pelan Shasha berjalan berniat untuk melihat, ia pun membawa sapu untuk jaga jaga sesuatu hal yang buruk terjadi.
Perlahan lahan Shasha membuka gorden kamarnya, ternyata setelah di lihat orang tersebut adalah vano.
Entah bagaimana vano bisa masuk ke area perumahan itu.
"Hah? kak Vano? aku gak salah liat?", gumam nya sendiri
"Sha, buka sebentar sha", Ucap vano sambil memberikan kode
Meskipun syok melihat vano tiba tiba ada di depan matanya shasha spontan membuka jendela yang terkunci tersebut, lalu vano pun masuk perlahan.
"Kak ngapain kamu kesini, aku udah bilang kan kak kita udah gak mungkin bisa bersama lagi, inget kamu ada dan kamu ud...", ucap Shasha terhenti karena vano tiba tiba mencium pipi kirinya.
Tak hanya itu vano memeluk tubuh mungil shasha sangat lama sampai sampai sapu yang di pegang ya sejak tadi terjatuh ke lantai.
Vano pun perlahan melepaskan pelukannya lalu memegang wajah mungil Shasha dan kemudian berbicara dengan tatapan yang penuh cinta.
"Sha, apakah kamu masih mencintai saya?",
"Kak, a..aku.. euh.. kenapa kamu tiba tiba nanya ini", Shasha menjawab pertanyaan vano dengan terbata bata
Shasha berusaha memalingkan wajahnya dari tatapan vano, tapi vano kembali mengarahkan wajah Shasha tepat di hadapan wajah tampannya.
"Sha, saya mohon kamu jawab pertanyaan aku, apa kamu masih mencintai saya?", tanya vano mendesak Shasha
Shasha tak menjawab pertanyaan vano ia refleks memeluk vano, melihat tingkah Shasha seperti itu vano menyadari Shasha memang masih mencintainya ia pun membalas kembali pelukan Shasha dengan erat.
"Sha, izinin saya malam ini menemani kamu, saya gak akan macam macam, saya hanya mau menghabiskan waktu bersama kamu setidaknya malam ini saja",
Shasha pun mengangguk mengiyakan permintaan vano.
Meskipun permintaan vano tersebut bertentangan dengan hati nuraninya yang merasa bersalah pada Dr Derryl tapi cinta mengalahkan segalanya.
"Mas, maafin aku yang gak tau malu ini, aku tinggal di rumah kamu dicintai dan diperlakukan dengan tulus tapi justru aku malah tidur dengan laki laki lain di rumah kamu sendiri mas",
"Sha satu lagi permintaan saya malam ini, kita lupain dulu semua yang terjadi, kita lupain dulu Dokter Derryl kita lupain dulu soal Nara juga raka, bisa kan sha? malam ini saja", tanya vano
"I.. Iya kak", jawab Shasha terbata bata.
Shasha pun berbaring di pelukan vano.
"Sha", ucap Vano dengan mata berkaca kaca
"Iya Kak", jawab shasha dengan tatapan penuh cintanya.
"Saya mencintai kamu sha, saya berharap suatu saat kita kembali bisa bersama", ucapan vano yang penuh harap
"Aku pun punya harapan yang sama dengan kamu kak",
Shasha yang terlalu nyaman berada di pelukan vano sampai tak sengaja ketiduran.
...****************...
...Pagi Hari...
"Sha, bangun sha"
Beberapa lama kemudian Shasha terbangun dari tidurnya dan refleks memanggil vano
"Kak vano",
"Ini aku sha", jawab Dr Derryl
"Kak vano mana mas", tanya Shasha khawatir
"Kamu mimpi sha?, gak ada vano disini",
"Apa mungkin malam tadi aku mimpi, engga itu gak mimpi terus kapan kak vano pergi dari sini", tanya nya dalam hati.
"Sha, kamu kenapa bengong terus, jangan banyak pikiran. Aku cuma mau ngajak kamu sarapan, mama udah nunggu di bawah"
"Iya mas nanti aku nyusul ya, kamu duluan aja, aku mau beresin kasur dulu sebentar mas",
Dr Derryl mengangguk dan tersenyum kemudian dia pergi.
Saat sedang membereskan kasur, Shasha melihat ada kertas di bawah Bantal yang semalam di tiduri vano.
Ternyata itu adalah sepucuk surat dari Vano untuk shasha, surat itu berisi
__ADS_1
"Dear Shasha, Saya pergi gak pamit, maaf sha. Sha saya harus menyelesaikan masalah dulu, sebenarnya ada satu hal yang ingin saya bicarakan malam tadi, tadi kamu ketiduran sha saya gak tega bangunin kamu. Sha saya mohon tunggu saya saja janji dua hari kedepan saya akan menjemput kamu dan membawa kamu pulang ke Indonesia saya au kondisi paman kamu disana sha, kamu jangan dulu pulang bersama Dokter Derryl tunggu saya sha, mari menikah setelah kita kembali. Shasha seandainya janji ini tak saya penuhi saya akan berusaha menerima apapun keputusan kamu, Saya mencintai kamu sha",
Bersambung...