
Setelah menikmati sunset yang indah Shasha dan Vano pun pulang.
Beberapa jam kemudian mereka tiba di Jakarta, Vano berniat mengantarkan Shasha pulang ke rumah Vira namun Shasha menolak karena takut ketauan Peornomo.
Shasha yang awalnya sudah janjian dengan Vira pun akhirnya bertemu di suatu tempat dan seperti biasa menceritakan semua soal pertemuannya dengan Vano pada Vira, kecuali soal hatinya yang sedikit menaruh harapan pada Vano Shasha belum berani menceritakan pada sahabat nya itu.
Shasha dan Vira pun langsung pergi menuju kosan Shasha.
...****************...
...Kosan Shasha...
"Sha, di pikir-pikir kalau emang dia beneran suka sama kamu ada bagusnya juga loh," celoteh Vira.
"Maksud kamu gimana Vir?" tanya Shasha.
"Kalau misalkan dia suka sama kamu itu artinya aku berhasil juga, perjodohan ini pasti dia batalkan dan mulai berusaha mendapatkan kamu Sha," jelas Vira yang lumayan masuk akal.
Di satu sisi Shasha merasa senang jika Vano benar-benar mencintainya tapi di sisi lain ia ragu dan bingung akan perasaan yang kini menjeratnya.
"Tapi apa dia masih bisa suka setelah tau identitas aku yang sebenarnya, kehidupan dan latar belakang ku yang berbeda jauh dengan nya, apa papa kamu juga akan terima rencana nya menjodohkan kamu Vir dengan kak vano aku gagalkan. Gak Vir gak akan, seandainya ini cinta ternyata sayang cinta ini datang di saat yang tidak tepat," guman Shasha merasa sedih dalam hatinya.
Vira terus melihat Shasha melamun dan wajahnya nya seperti sedang murung, Vira pun mengingat kata-kata nya ia khawatir salah bicara hingga membuat sakit hati sahabatnya itu.
"Sha kamu kenapa? aku salah?" tanya Vira khawatir.
"Nggak kok Vir, aku cuma inget bibi sama paman aku di kampung," jawab Shasha berbohong.
Vira pun seakan percaya pada ucapan Shasha, dia berusaha menghibur Shasha lalu menyuruh Shasha tidur.
"Udah Sha, kamu tidur dulu aja ya besok setelah bangun pasti langsung baikan lagi kok."
"Aku pulang dulu ya, biar papa gak curiga," ucap Vira pamit.
Shasha pun mengiyahkan dan mengantar Vira ke depan kosan nya.
Meskipun baru beberapa kali bertemu, tapi Shasha terus teringat sosok Vano yang dingin namun sedikit perhatian, sosok Vano yang jujur dan apa adanya tentang perasaan.
...****************...
...Rumah Bano...
Beberapa menit lalu Vano sampai di rumahnya, ia tak lupa langsung menyapa dua kucing peliharaan kesayangan nya itu dengan hangat.
Vano pun bergegas untuk mandi dan ganti baju di kamar, tapi ternyata Raka sudah ketiduran di kamar nya.
Setelah mendengar suara pintu terbuka dan air menyala Raka terbangun dan menyadari Vano sudah pulang ia penasaran dari mana aja Bano seharian.
"Lo udah bangun?" tanya Bano yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Huaa ... iya gua nungguin lo dari tadi jadi gak sengaja ketiduran," Jawab Raka sambil menguap.
"Ngomong-ngomong Lo dari mana aja sih Van, ngilang gitu seharian?" tanya Raka penasaran.
"Kepo lo," jawab Vano dingin.
"Yaelah lo mah, jangan-jangan lo udah nemuin Vira ya," ucap Raka menduga duga.
"Tapi firasat gue kali ini mengatakan kalau lo emang bener udah ketemu Vira," lanjut Raka menduga-duga.
Vano pun hanya diam dan sedikit tersenyum tanpa terlihat oleh Raka.
"Gak usah so tau lo," Vano mengeles dan sedikit salting tak karuan.
"Jadi gimana, Lo emang udah jatuh cinta sama Vira? gue ngerasa perlakuan Lo, perasaan lo ke Vira itu beda dari Bano yang gue kenal dingin dan cuek ke setiap cewek," ungkap Raka.
"Van, sebagai sahabat gue seneng Lo bisa nemuin sosok wanita yang lo cintai, gue gak nyangka baru kali ini gue mengagumi cewe yang sama sama lo, tapi lo tenang aja Van gue gak akan jadi pengkhianat", gumam nya dalam hati
Sosok Shasha yang mereka sangka Vira itu memang telah memikat dua hati pria yang merupakan sahabat karib, bahkan ajaibnya ucapan Shasha seolah olah mantra ampuh yang bisa merubah kehidupan malam yang kelam seorang Raka.
...****************...
...Beberapa hari kemudian...
Pertemuan demi pertemuan Vano dan Shasha lalui, Pram dan poernomo pun belum sedikitpun curiga atau mengetahui bahwa selama ini Shasha lah yang menggantikan Vira bertemu Vano.
Karena lumayan sering bertemu membuat Shasha dan Vano saling mengenal lebih jauh, percikan-percikan cinta pun terus bermunculan dan tanpa di sadari mereka sudah saling mencintai.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian Vano mengajak Shasha untuk bertemu di sebuah taman, Shasha pun dengan berbagai pertimbangan dan juga desakan dari Vira akhirnya bersedia menemui Vano kembali selain itu sejujurnya hati nya sangat ingin bertemu laki laki pujaannya itu.
...****************...
...Taman...
"Vir," panggil Vano.
"Iya kak," jawab Shasha yang sebenarnya sudah tak nyaman di panggil Vira, ia pun ingin sekali jujur mengenai identitas nya pada Vano namun karena Vira yang tak membolehkan, Shasha pun terpaksa melakukan itu demi sahabatnya.
"Saya udah jatuh cinta sama kamu," ungkap Vano tanpa basa-basi, namun sayang ucapannya itu tak terdengar Shasha karena shasha yang sedang melamun.
"Vir," panggil Vano namun masih tak terdengar Shasha.
"Vira!" teriak Vano lebih kencang sambil mencubit hidung Shasha.
Shasha pun kaget lalu bertanya pada Vano.
"I ... iya kenapa kak?"
"Kamu gak denger saya bilang apa?" tanya Vano.
"Hehe, iya kak aku gak denger," jawab Shasha sambil tertawa malu.
"Vira sepertinya saya memang sudah mencintai kamu, setelah kamu lulus kuliah saya akan menikahi kamu," ucan Vano jujur membuat perasaan Ahasha campur aduk.
Hari yang di nantikan juga hari yang di takutkan Shasha akhirnya tiba, dalam hati kecilnya Ahasha selalu ingin mendengar pengakuan cinta dari Vano, tapi justru di sisi lain ia tak mau itu terjadi karena ia terlalu takut menghadapi kekecewaan Vano pada dirinya yang sudah lama membohongi dan menutupi soal identitasnya.
"Kak a ... a ... aku ... " ucap Shasha terbata-bata lalu menatap Vano dan tiba-tiba menangis.
Shasha sedih harus merasakan juga mengalami cinta pertama yang dramatis seperti ini, ia sangat ingin bersama Vano tapi lagi-lagi karena identitas nya harapan shasha itu seolah-olah sirna.
"Kamu kenapa vir?" tanya Vano khawatir melihat Shasha yang tiba-tiba menangis.
Shasha lalu memeluk Vano dengan erat dan menangis di dadanya yang berisi.
"Kamu tenangin diri kamu dulu Vir!" seru Vano yang kemudian memeluk balas Shasha dan mengusap kepala Shasha dengan lembut.
Setelah beberapa lama, Shasha pun merasa lebih tenang dan berhenti menangis.
Shasha pun justru semakin merasa sedih setelah mendengar perkataan Vano tersebut, Shasha memang sudah sangat mencintai Bano terlebih ini adalah cinta pertama nya begitu pun Bano baru pertama kali mencintai wanita dan wanita yang beruntung itu adalah Shasha namun takdir mempertemukan mereka di situasi yang salah.
"Hei ... kamu kenapa Vir seandainya kamu keberatan saya gak akan maksa kok," ucap Vano.
"Engga kok Kak, aku juga sejujurnya sudah sangat mencintai Kakak, tapi --" jawab Shasha tak selesai.
"Tapi apa?" tanya Vano heran.
"Engga aku udah janji sama Vira untuk gak memberi tahu kak Vano siapa aku sebenarnya," gumam Shasha dalam hati.
"Euh engga kok Kak," ucap Shasha lalu tersenyum pada Vano.
"Terus kenapa kamu nangis?" tanya Vano.
"Engga kok kak, aku cuma terharu aja," ucap Shasha berbohong, padahal hatinya begitu sedih menghadapi situasi antara perasaan dan kenyataan.
Vano pun tersenyum lalu memeluk Ahasha dengan sangat erat.
"Mungkin ini yang orang nama kan cinta yang tulus," gumam Vano dalam hatinya.
Setelah cukup lama di taman karena ada pesan mendesak dari Gio, Vano terpaksa harus pergi meninggalkan Shasha.
"Udah udah kamu jangan nangis gitu, lain kali kita jalan-jalan lagi ya," Vano menghibur Shasha dan mengusap air matanya.
"Saya ada tamu penting di kantor, barusan asisten saya ngabarin saya anterin kamu dulu ya?" lanjut Vano memberitahu.
"Gak usah Kak lagian aku mau ke rumah temen kok, mau mengunjungi dia," jawab Shasha.
Shasha memang sudah janji ia akan ke rumah Nara, kebetulan orang tua nara sedang keluar kota jadi mereka leluasa bertemu di rumah.
"Ya udah, saya pesanin taksi online."
Beberapa lama menunggu taksi pun datang
"Kamu hati-hati ya," ucap Vano sambil tersenyum pada Shasha.
"Iya Kak," ucap Shasha lalu melambaikan tangan nya.
__ADS_1
Shasha pun pergi ke rumah Nara, sedangkan Vano bergegas menuju kantornya.
...****************...
...Kantor Vano...
"Gio, siapa tamu penting yang kamu bilang tadi?" tanya Bano penasaran
"Kamu tau gak, tadi urusan saya jauh lebih penting," lanjutnya mengeluh.
"Tamu nya sudah menunggu di ruangan Bapak," jawab Gio, sang sekretaris yang merangkap sebagai asisten pribadinya.
Vano kemudian masuk keruang kerjanya dan tak menyangka tamu itu ternyata adalah kedua orang tuanya, Prasetya dan Monicca.
"Mama, Papa, Vano kira siapa," ujar nya keheranan dan menatap sinis Guo.
Gio hanya tersenyum lalu meninggalkan ruang kerja Vano.
"Nak, sini duduk sama kami"m," ajak Ibunya.
Vano mengangguk kemudian duduk diantara kedua orang tua yang sangat menyayanginya itu.
"Van, udah lama kamu gak pulang ke rumah kita, walaupun sibuk sempetin waktu kamu buat kita," protes sang ayah.
"Iya Pah, Mah maafin Vano, Vano gak berbakti sama kalian dan terlalu sibuk sama kerjaan," jawabnya merasa bersalah
"Gak nak, kita bisa ngerti itu kok kamu jangan ngerasa bersalah gitu, Mama sama Papa cuma khawatir aja sama kamu, umur kamu udah semakin dewasa dan Kami semakin menua, sudah lama kita mendambakan menantu wanita di keluarga kita," ucap mamanya yang selalu mengharapkan anak laki laki kesayangannya itu cepat menikah.
"Kita bukan ingin mendesak kamu, tapi kamu tau sendiri kan beberapa taun ini papa sakit-sakitan takutnya gak sempet nyaksiin kamu nikah, takutnya juga papa gak sempet nimbang cucu dari kamu," keluh papanya lagi.
"Ma, Pa Vano sebenarnya u--" capan Vano terpotong dengan omongan Mamanya
"U ... u ... apa? udah pasti nih Pah jurus keluar lagi," canda Mamanya yang mengira Bano akan mengalihkan pembicaraan seperti biasanya.
Papanya tertawa berfikiran hal yang sama dengan Monicca
"Gini nak, Papa kali ini akan benar benar menjodohkan kamu bukan lagi mengenalkan kamu, kali ini Papa harap kamu gak usah banyak pertimbangan, Papa juga gak akan milih wanita sembarangan buat anak kesayangan Papa, besok kita langsung ke rumahnya buat lamar dia," ucap Papanya tanpa basa basi membuat Vano tercengang.
"iya Nak, Mama sama Papa udah pertimbangkan ini mateng-mateng, dia juga seorang wanita hebat dan cerdas berpendidikan, namanya Lisa anak nya tante Indira temen mama Lisa umur nya cuma beda satu taun lebih muda dari kamu nak, di usia semuda itu apalagi dia wanita dia udah bisa mendirikan perusahaan baru yang kini melejit pesat, dia pastinya udah cocok banget sama kamu, Mama Papa baru cuma liatin foto kamu terus cerita tentang kamu dia langsung setuju sama perjodohan ini," saut Mama nya.
"Mah ... Pah ... Aku gak bisa terima perjodohan ini," tolak Vano dengan tegas.
"Vano udah menemukan wanita hebat, wanita terbaik versi aku ma, Vano yakin Mama sama Papa pasti suka sama dia cuma saat ini dia masih kuliah, Vano belum bisa menikahi dia dalam waktu secepat itu Mah ... Pah .... "
Prasetya dan Monicca hanya saling menatap baru pertama kali seorang Vano mengatakan hal mengejutkan itu di depan orang tuanya langsung,
"Siapa nak? siapa wanita beruntung itu?" tanya Mamanya.
"Vira Mah, Pah. Anaknya om Poernomo temen Papa dulu katanya."
"Ya ampun, Papah sama sekali gak mengira tempo hari itu kamu nanyain Poernomo."
"Poernomo temen kuliah Papah?" tanya Monicca penasaran
"Iya Mah Kita dulu temen baik, tapi karena sibuk masing masing dia sibuk sama perusahaannya Papa juga sibuk sama perusahaan Papa semenjak itu kita gak pernah ketemu lagi," ucap nya sambil mengenang masa lalu.
"Berarti Mah, dulu pas kita ke rumah Poernomo dan istrinya anak yang dulu di kandungan istri nya itu waktu Bano umur tiga tahun berarti anak itu yang dicintai Vano saat ini," lanjutnya.
"iya Pah, waktu itu kita becanda buat ngejodohin mereka kalau anaknya perempuan, ehh ternyata ucapan kita jadi kenyataan juga ya Pah," saut Monicca.
"Iya Mah, Papah jug gak nyangka."
Vano hanya tersenyum mendengar respons mereka yang kemungkinan merestui hubungannya dengan Vira, padahal Vira anak Poernomo yang mereka bahas bukan wanita yang benar+benar di cintai Vano, tapi justru sosok Shasha lah yang mampu meluluhkan dinginnya hati seorang Vano.
"Papah nanti hubungi Poernomo, kamu ada kan nomor nya Van, kita sebagai orang tuanya juga harus menjalin komunikasi juga Mah apalagi udah lama Papah putus komunikasi sama Poernomo."
"Tapi Pah gimana sama Lisa, dia udah berharap banget sama Vano," potong Mamanya khawatir.
"Itu mah urusan nanti mah yang penting kebahagiaan anak kita dulu kita utamakan, lagian Papah juga gak keberatan Vano nikah sama anak Poernomo, siapa namanya itu Van?" tanya Prasetya.
"Vira Pah," jawab Vano tersenyum bahagia.
"Kalau gitu Minggu depan, kamu bawa dia ke rumah Mama mau liat wanita seperti apa Vira yang bisa menaklukkan hati kamu itu,"ucap Mamanya.
Vano mengangguk, dan tak henti hentinya tersenyum bahagia
Bersambung....
__ADS_1