
Tanpa memikirkan apapun lagi Vano bergegas pergi, bahkan ia tak meninggalkan satu pesan pun pada Asisten pribadinya, Gio.
Vano menginjak gas mobilnya lalu melaju pergi menuju Surabaya, ia tak menghiraukan pengguna jalan lain bahkan ia hampir menabrak seorang ibu dan anak yang sedang menyebrangi jalan namun untung saja tidak terjadi hal yang tak diinginkan.
Beberapa jam mengendarai mobil dengan menggunakan kecepatan maksimal Vano sama sekali tak bisa mengejar mobil rombongan Raka dan Keluarganya.
"Saya harap pernikahan kalian belum di mulai, dan saya harap saya bisa bicara dulu sama kamu Sha, apa kamu yakin akan menikah dengan Raka, saya gak rela sha!" ungkap Vano marah.
Singkat cerita mobil rombongan Raka dan keluarganya memang tiba lebih dulu bahkan Vano pun masih belum setengah jalan untuk sampai ke Surabaya.
"Ini kita udah sampe?" tanya Nia.
"Belum Kak, kita harus jalan lagi kedepan mobilnya gak bisa masuk," ungkap Raka.
"Gapapa Raka, kita rela jalan kaki walaupun jalannya berliku gini karena ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk cuci Oma," ungkap Nek Ratih, nenek Raka.
"Sini Oma gandeng kamu," lanjutnya sambil menggandeng tangan Raka.
"Jangan degdegan ya nak," ucap neneknya lalu tersenyum pada Raka.
"Iya makasih Oma," jawab Raka dengan senyuman.
"Makasih juga ya kalian udah bersedia nemenin aku nikah," ucap Raka lalu tersenyum.
"Tapi inget kalau udah nikah harus bisa cari uang, jangan ngandelin game kamu yang gak berguna itu," celoteh ayahnya
"Dan satu lagi jangan ngerepotin kita," saut ibunya.
"Udah lah yah Bu, Nia mohon sekali ini aja kalian jangan neken Raka terus, ini hari yang penting buat Raka," ujar Nia.
"Gak usah dengerin ibu sama ayah kamu, ada nenek yang belain kamu," bisik oma ratih pelan.
Berbeda dengan orang tuanya yang selalu memandang Raka tak berguna, justru Kakak perempuan dan neneknya sangat menyayangi Raka dan selalu mendukung apapun yang Raka lakukan.
"Udah udah, keluarga pengantin wanita pasti nunggu, kita jalan aja sekarang," saut nenek Raka.
Mereka pun pergi menyusuri jalan yang berliku dan beberapa menit berjalan mereka sampai di rumah Shasha yang sudah dengan nuansa pernikahan sederhananya.
Melihat kedatangan rombongan pengantin pria, keluarga dan juga tetangga Shasha menyambut mereka dengan hangat.
Suara petasan pun bergemuruh meramaikan hajatan pernikahan Shasha.
"Sha, rombongannya udah datang, kamu siap siap ya gak lama lagi akad nikah akan segera dilaksanakan, nanti kamu nyusul keluar di temani bibi kamu, sekarang paman mau keluar dulu mau nyambut mereka," jelas paman Shasha, Wanto.
"Iya paman," jawab Shasha singkat.
"Paman, apa paman udah semakin membaik?" tanya Shasha Khawatir.
"Iya Sha, paman udah agak mendingan, apalagi ini hari pernikahan kamu paman harus sehat, paman keluar dulu ya sha," jawab pamannya.
Shasha pun mengangguk lalu pamannya bergegas keluar rumah.
"Apa ini nyata, aku bener benar menikah hari ini, Kak Vano aku harus bisa melupakan kamu," gumam Shasha dalam hati.
Sementara itu di luar rumah sudah ramai orang.
"Ini calon pengantin prianya?" tanya salah seorang tetangga sambil menunjuk ke arah Raka.
Raka pun hanya mengangguk
"Ya ampun pantesan Shasha nikah buru buru gini, ternyata calon suaminya ganteng banget," bisik seorang tetangga yang juga merupakan teman Shasha di kampung.
"Sut," saut temannya yang lain.
Tetangga dan warga di kampung Shasha memang tak mengetahui bahwa Shasha sedang hamil, badannya yang mungil juga kehamilannya yang tak terlihat besar membuat semua orang tak berpikir ke arah sana.
"Perkenalkan saya Wanto, pamannya dari mempelai wanita," sapa Wanto dengan ramah.
"Mohon maaf apabila jamuan dan penyambutannya kurang, alakadarnya saja," lanjut Wanto.
"Kami orang tua Raka, Saya Reza Bramantyo Damian ayahnya dari Raka dan ini ibunya Raka Syarah Maelani, itu Nia Kakak perempuannya, itu neneknya dan yang di belakang saya kelurga besar kami," ungkap ayah Raka detail.
"Justru kami berterimakasih atas sambutannya, ini mungkin sebagian hantaran dari pihak laki laki untuk mempelai Wanita" lanjutnya lalu menyuruh beberapa keluarga menaruh hantaran di tempat yang telah di sediakan.
"Terimakasih Pak Bu semuanya," ungkap Wanto ramah.
"Ngomong ngomong mana pengantin wanitanya," tanya ibu Raka, Syarah.
"Sudah bersiap di dalam, mungkin sebenar lagi keluar," jawab Wanto.
"Raka, Kakak penasaran siapa wanita yang gak beruntung mendapatkan kamu," bisik Nia lalu tertawa kecil.
Tak seperti biasanya di hari pernikahannya Raka memang terlihat serius, bahkan candaan Kakaknya tak terlalu ia hiraukan.
Beberapa menit berlalu di temani bi imas Shasha pun keluar menggunakan baju pengantin berwarna putih dengan polesan make up yang terlihat lebih natural dan glossy.
Melihat pengantin wanita keluar semua mata langsung tertuju padanya, Shasha yang biasanya tampil tanpa make up itu kini jauh berbeda aura kecantikannya dan pesonanya terlihat sangat menakjubkan.
"Cantik sekali kamu Sha," celoteh Raka apa adanya tak mempedulikan banyak orang yang mendengarnya berbicara.
Mendengar celotehan Raka semua orang bersorak ramai, sementara itu Shasha terlihat malu dan hanya tersenyum.
"Nak, ini calon mertua dan keluarga kamu," ungkap Wanto sambil menunjuk ke arah mereka.
__ADS_1
"Pak Bu, semuanya selamat datang," ucap Shasha penuh kehangatan dan keramahan.
Shasha pun bersalaman dengan semua rombongan termasuk dengan ayah, ibu dan juga kakak Raka.
"Lumayan juga calon istrinya Raka," gumam Syarah dalam hati.
Mereka pun berbincang ringan.
Lalu setelah penyambutan selesai, mereka semua duduk di kursi yang telah di sediakan dan akad nikah segera berlangsung.
Shasha dan Raka duduk berdampingan dan siap melangsungkan akad.
"Ya ampun kenapa berat sekali rasanya," gumam Shasha dalam hati.
"Sha aku deg degan nih," bisik Raka.
"Kamu bener kan gak akan nyesel nikah sama aku," celotehnya.
"Kamu harus siap loh Sha mulai malem nanti tidur bareng aku," canda Raka.
"Ih apaan sih Kak, sut ... jangan ngomong aneh aneh," bisik Shasha kembali.
Tak menunggu lama akad akan segera di mulai.
Sementara itu Vano baru saja tiba, dengan buru buru Vano langsung keluar dari mobilnya dan berlari di jalan yang berliku tersebut sekencang mungkin, beberapa kali jatuh sampai kakinya terluka bahkan sepatu Vano sampai copot sebelah tak di hiraukannya.
Ketika baru saja tiba di sana Vano mendengar Raka bicara.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aisha Aileen Nathania dengan maskawin tersebut tunai," ucap Raka tegas.
"Syah!" teriak orang orang bergemuruh.
Shasha dan Raka sudah melangsungkan akad itu artinya Mereka sudah secara resmi menjadi suami istri, mereka bertukar cincin dan saling memasangkan satu sama lain, Shasha mencium tangan Raka dan kemudian Raka pun mencium kening Shasha.
Sementara itu di kejauhan Vano yang masih terengah engah merasa sangat terpukul harus melihat wanita yang sangat di cintainya menikah dengan sahabatnya sendiri.
Ingin sekali ia marah mengamuk di sana, tapi tiba tiba terlintas di pikirannya, Vano sadar diri ia sebelumnya sudah mengingkari janjinya pada Shasha.
"Sha," gumamnya sambil pelan di kejauhan.
Vano tak kuasa menahan kesedihannya ia pun meneteskan air mata.
"Aku kira kamu gak akan secepatnya ini menikah dengan laki laki lain," lirihnya sedih.
"Saya gak nyangka harus melewati kisah cinta saya stragis ini," gumamnya lirih dalam hati.
"Shasha, saya mengenal kamu dengan cara yang tak biasa, saya mencintai kamu seketika tapi apakah kisah kita harus berakhir menyakitkan seperti ini, saya tak kuasa melihat kamu bersanding dengan pria lain sha apalagi pria itu adalah sahabat saya sendiri,"
"Sha, kamu memang berbeda kamu satu satunya wanita yang bisa membuat saya jatuh cinta, kamu telah memberikan warna berbeda dalam hidup saya, hanya kamu yang bisa membuat saya menjadi orang yang tak rasional saya berusaha mengejar waktu untuk sampai kesini tapi ternyata saya tetap terlambat Sha,"
Vano hanya menatap Shasha di kejauhan wanita yang sangat ingin ia nikah, vano merasa hatinya semakin hancur dan sedih tak karuan.
Raka dan Shasha telah melangsungkan akad, merekapun berjalan menuju pelaminan dan duduk bersanding sebagai pasangan suami istri.
Entah mengapa Ah tiba tiba melihat ke arah samping hingga tak sengaja melihat sosok Vano di kejauhan, ia terus bertanya pada dirinya sendiri.
"Kak Vano," gumamnya dalam hati.
"Apa mungkin itu kak Vano," lanjutnya bertanya tanya.
Shasha pun berusaha berdiri dan memastikan pria tampan yang berdiri di kejauhan dengan setelah jas yang sudah berantakan itu adalah Vano atau bukan.
"Loh Sha, kenapa kamu berdiri? ada apa?," tanya Raka penasaran.
Saat berusaha turun dari pelaminan justru niatnya itu tak bisa ia lakukan karena orang orang datang silih berganti bersalaman dan mengucapkan selamat.
Sementara itu Vano yang sangat terpukul perlahan pergi dengan kesedihan yang mendalam.
"Aisha, apa mungkin ini akhir dari kisah kita, saya pergi Sha, selamat menempuh hidup baru, semoga kamu bahagia bersama ayah dari anak kamu," gumamnya pelan.
Sambil bersalaman dengan orang orang shasha tak hentinya melihat ke arah Vano namun lama kelamaan sosoknya mulai hilang.
"Kak Vano, apa mungkin tadi itu kamu?" gumamnya dalam hati.
"Seandainya iya, kenapa kamu baru datang sekarang Kak, kemana aja kamu? seandainya kamu nepatin janji kamu, mungkin yang di samping aku sekarang itu kamu kak laki laki yang aku cintai bukan Kak Raka," gumamnya dalam hati.
Seandainya suara hati bisa terdengar, mungkin Raka akan sangat sakit hati mengetahui ucapan Shasha dalam hati.
Melihat tingkah Shasha yang khawatir membuat Raka bertanya tanya.
"Ada apa sih sha?" tanyanya heran.
Shasha bahkan tak menjawab dan terus melihat ke arah samping, Raka berusaha melihat namun tak ada siapa siapa.
"Sha!" panggilnya lagi.
"I ... iya kak?" jawab Shasha kaget.
"Kamu kenapa sih Sha?" tanya Raka kembali.
"Engga kok kak," jawab Shasha lirih.
"Dari tadi aku perhatiin kamu terus liat ke arah samping, kamu berharap kedatangan siapa Saja?" tanya Raka.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Raka Shasha terdiam.
"Vano kan Sha?" tanyanya tiba tiba.
"Sha, kamu tau kan aku gak sebaik Dr Derryl, dia bisa tegar bahkan rela kamu memikirkan dan bahkan memilih pria lain, aku udah berusaha Sha tapi aku gak bisa seperti dia, aku gak rela Sha kamu memikirkan atau mengharapkan Vano kembali" ungkap Raka.
"Tapi satu hal yang bisa aku tiru dari Dr Derryl adalah dengan mencintai kamu sepenuhnya dan memperlakukan kamu sebaik baiknya Sha," lanjutnya.
"Jadi aku mohon Sha, lupain Vano dan mulai hidup baru dengan aku," ucap Raka memohon.
Shasha hanya bisa diam berpikir apa yang harus ia katakan pada Raka, ia tak mau laki laki yang tulus mencintainya kembali kecewa seperti kecewanya Dr Derryl padanya.
Entah bagaimana kabar Dr Derryl dan Dr Becca, sampai dengan saat ini Shasha masih selalu merindukan mereka.
"Sha, kamu denger aku kan?" tanya Raka.
"I ... iya Kak, aku denger," jawab Shasha kaget.
"Kak Raka, aku minta maaf, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu kak dan berusaha menjadi ibu yang baik untuk anak ini," ungkap Shasha.
Mendengar hal itu Raka menjadi tenang.
Pernikahan masih di gelar para tamu pun berdatanagn kembali.
Beberapa jam telah berlalu hingga sampailah pada sore hari, itu artinya hajatan pernikahan Raka dan Shasha telah selesai.
Keluarga Raka memang belum pulang kembali ke Jakarta, mereka sengaja berencana pulang sore karena menunggu Shasha dan Raka yang akan langsung pergi ke jakarta.
Mereka semua berkumpul di rumah Shasha yang terbilang cukup sempit.
"Pak Bu memangnya tidak capek langsung kembali ke Jakarta? apa tidak mau menginap saja dulu? mungkin nanti kami ikut ke tetangga" tanya Wanto pada ayah dan ibu Vano.
"Nggak usah Pak terimakasih sebelumnya, lagian kami juga besok akan kembali bekerja," jawab Reza, ayah Raka.
"Yaudah pak, kalau gitu terimakasih banyak sudah datang semoga lain kali kita bisa bersilaturahmi kembali, saya juga titip Shasha ya pak Bu dan semuanya," ungkap Wanto sembari melihat ke arah keluarga Raka.
"Tentu pak, kita sekarang sudah menjadi keluarga," saut nenek Raka.
"Raka apa kamu sama Shasha gak nginep dulu satu malam aja?" tanya Wanto kembali.
"Shasha ikut gimana Kak Raka aja paman," jawabnya.
"Biarin aja pak bagus juga kalau Shasha cepet pergi dari sini," celoteh bi Imas.
"Mah jangan gitu, malu ada keluarga Raka," bisik Wanto pelan.
Seperti biasa Bi Imas pun hanya memalingkan wajah dengan sinis.
"Gimana Raka?" tanya Wanto lagi.
"Kita langsung ikut ke Jakarta aja om, tapi kamu cape gak Sha kalau langsung berangkat?" tanyanya perhatian.
"Enggak Kok kak," jawab Shasha singkat.
"Yaudah kalau gitu kita pamit dulu Pak Bu terimakasih atas semuanya, lain kali main ke Jakarta," ungkap Ayah Raka.
"Paman bibi Shasha pamit, paman sama bibi baik baik ya," ungkap Shasha.
Walaupun ini adalah hari kepergian Shasha kembali meskipun hatinya sedih tapi Shasha jauh lebih tegar karena ini adalah kepergian Shasha yang kesekian kali, mungkin Shasha sudah terbiasa.
"Jaga Shasha baik baik ya Ka," saut Wanto.
"Siap pasti Om," jawab Raka tegas.
Mereka pun berpamitan dan berangkat menuju Ibu Kota Jakarta.
"Entah yang ke berapa kalinya Shasha merantau kembali paman, bi. Shasha seperti tak merasakan apa pun dihati Shasha, apa mungkin Shasha sudah terlalu menyerah akan keadaan ini," gumam Shasha dalam hati ketika akan meninggalkan rumahnya kembali.
...****************...
...Jakarta...
Berbeda dengan tadi yang ngebutnya bukan main, Kini Vano seolah tak berdaya bahkan mengendarai mobilnya dengan pelan, sore hari baru tiba di Jakarta dan langsung kembali ke kantor karena di hubungi Gio tadi.
Vano pun berjalan ke kantornya dan tak sengaja bertemu dengan Gio.
"Ya ampun bapak, saya gak salah liat, ini bapak kenapa?" tanya Gio kaget melihat kondisi Vano yang sangat berantakan, rambut yang biasanya rapi kini sudah entah bagaimana bentuknya.
Gio tak henti hentinya melihat Vano dari atas sampai bawah.
"Ini sepatu bapak kemana pak?" tanya Gio yang semakin syok.
"Sudahlah Gio, papah saya ke ruangan, saya cape," lirih Vano tak berdaya.
Gio pun memapah Vano keruangannya, hari ini Vano jadi pusat perhatian karena penampilannya yang aneh dan berantakan.
"Ya ampun itu pak Vano kenapa, kok dia bisa gitu biasanya tampil keren, apa mungkin karena stress mikirin perusahaan," celoteh salah satu karyawannya.
"Sut ... Kalau dia denger bahaya," ucap karyawan yang lain.
Vano berbaring di meja panjang yang ada di ruangannya.
"Ada apa Gio, cepet cerita, kabar buruk apa lagi? saya sudah pasrah," lirihnya.
__ADS_1
"Baik pak, pak ternyata orang di balik kasus yang menjerat dan menjebak perusahaan ini adalah Pram dan Poernomo," jelas Gio membuat Vano tercengang.
Bersambung...