
Mendengar ucapan Raka yang seperti memohon belas kasihan Dr Derryl agar mengikhlaskan Shasha pada Raka, Dr Derryl tak bisa berkata apapun.
Namun setelah berfikir cukup lama, Dr Derryl dengan karakter nya yang bijaksana dan sabar ia pun menjawab pertanyaan Raka tersebut cukup panjang.
"Raka, tidak mudah bagi saya untuk memenuhi keinginan kamu, jujur saya juga tak rela jika Shasha memilih meninggalkan saya dan bersama dengan laki laki lain, tapi prinsip saya dari awal kebahagian shasha adalah prioritas utama, jika dengan saya dia tidak bahagia saya pasti berusaha merelakannya, tapi jika dia mau berusaha mencintai saya tentu saya pun akan memperjuangkan dia dan memberikan semua yang terbaik bagi Shasha dan juga anaknya".
"Kamu bener dok, gak seharusnya saya seolah memaksa, maafin saya. Saya hanya ingin menemani anak saya ketika ia lahir, ketika ia tumbuh menggemaskan", Raka mengutarakan harapannya.
"Kita tunggu aja Shasha siuman, seandainya waktunya udah tepat, silahkan ka kamu ungkapin semuanya sama Shasha, apapun keputusannya kita harus hargai, siapapun yang dipilihnya entah kamu atau saya atau bahkan tidak satupun diantara kita, itulah yang terbaik menurut shasha saya harap kita bisa mengerti dan menghormati pilihannya tersebut", Ucap Dr Derryl dengan pemikiran yang bijaksana.
"Shasha, hanya selangkah lagi kita akan menuju pelaminan, harapan saya menikahi kamu seharusnya sebentar lagi akan terwujud, tapi setelah datangnya Vano yang kamu cintai dan Raka ayah dari anak kamu saya merasa khawatir, tapi siapapun yang kamu pilih saya berharap itu yang terbaik untuk kamu sha", gumam Dr Derryl dalam hati.
"Makasih dok atas kebijaksanaan Dokter, saya pun berharap kita semua bisa bahagia, terutama Shasha",
Kata kata yang datang dari hati memang selalu sampai ke hati, meskipun sama sama bersaing mendapatkan cinta Shasha, tapi meraka bisa saling mengerti satu sama lain.
Tak lama setelah percakapan panjang antara Dr Derryl dan Raka tersebut, mereka pun memutuskan untuk kembali melihat kondisi Shasha.
...****************...
...Ibukota...
Hanya perlu beberapa jam menaiki pesawat, vano tiba di ibukota.
Tak mau membuang buang waktu, ia langsung pergi ke perusahaannya untuk memastikan masalah apa yang harus dihadapinya saat ini.
"Selamat pagi pak", sapa salah satu karyawan perusahaannya
"Pagi", balas vano singkat.
Vano kemudian menaiki lift dan sampailah di lantai tujuh belas dimana ruangan pribadinya berada.
"Gio, segera keruangan saya. Saya sudah tiba di kantor", Perintah vano pada gio melalui sambungan telpon.
"Baik pak", jawab Gio tegas.
Tak membutuhkan waktu lama gio pun menemui vano
Tok.. tok.. tok..
"Pagi pak", sapa gio
"Saya izin masuk", lanjutnya
Vano mengangguk dan mempersilahkan Gio untuk memasuki ruangannya.
"Silahkan duduk gio", vano mempersilahkan gio untuk duduk di kursi depan meja kerjanya tersebut
"Baik pak",
"Gimana? ada masalah apa?", tanya vano yang sudah penasaran sejak berada di luar negri.
"Sebelum saya jelasin, ini ada yang perlu bapak liat terlebih dahulu", Gio pun menyodorkan sebuah Map kuning yang berisi beberapa lembar kertas.
Tanpa basa basi vano langsung membuka Map tersebut dan membaca sesuatu yang tertulis didalam kertas.
"Kamu udah baca ini kan gio?", tanya vano.
"Sudah pak, makanya saya hubungi bapak saya tak punya kuasa untuk bertindak lebih jauh", ucap gio menjelaskan.
Map tersebut merupakan dokumen yang berisi Gugatan bagi perusahaan vano, dalam dokumen tersebut terpampang jelas pelanggaran yang dilakukan perusahaan vano adalah membangun proyek ilegal di tanah milik pak Sutaji.
"Siapa yang menggugat kita?", tanya vano heran.
"Tentu orang ini pak, namanya Budiman, ia adalah anak dari pak Sutaji pemiliki tanah tersebut dulu",
"Apa mau nya gio?"
"Dengan adanya gugatan ini, dia menuntut agar perusahaan ini di bubarkan pak, opsi yang kedua setidaknya dia mau perusahaan ini tidak beroperasi sekurang-kurangnya lima tahun ke depan, lalu pak.. ", Ucap Gio seolah tak berani melanjutkan perkataannya.
"Apa gio, lalu apa?", tanya nya heran.
"Dia menuntut agar perusahaan mengganti kerugiannya yang nilai nya mencapai empat belas triliun, selain itu dia pun mendesak agar proyek yang baru saja di bangun tersebut di ratakan kembali seperti semula",
"Gio, saya heran kenapa ini bisa terjadi, ini proyek lama kan?", tanya vano memastikan.
"Iya pak, ini adalah proyek empat tahun lalu, tapi sempat tertunda setelah pak Prasetya mulai sakit kondisi perusahaan tak baik karena tak ada pemimpin aktif pak, lalu setelah bapak memimpin sekitar baru satu tahunan kita mulai menggarap proyek ini, ini juga salah satu proyek besar kita yang baru saja Finishing beberapa bulan lalu",
"Iya saya tau itu",
"Yang saya heran apa maksud dia bahwa ini adalah proyek ilegal, jelas jelas ketika itu perusahaan telah memenuhi seluruh prosedur dan perizinan pun sudah di urus bahkan kompensasi dengan Sutaji telah mencapai kesepakatan kan, lalu kenapa tanah tersebut adalah masih menjadi tanah milik sutaji? meskipun ini proyek terusan dari papa saya, tapi saya tau betul seluk beluk proyek ini",
"Lalu yang saya heran lagi, seandainya dia mau menggugat kenapa gak dari awal, kenapa baru sekarang setelah proyek selesai di bangun",
"Bukannya bukti dokumen yang berkaitan dengan proyek ini masih tersimpan di arsip perusahaan, mungkin ini permainan licik anaknya, kita bisa jadikan sutaji dan istrinya saksi kunci untuk kasus ini, kita gak usah khawatir",
"Justru itu pak yang membuat saya khawatir, saya sudah mencari dokumen tersebut di arsip perusahaan bekali kali namun anehnya dokumen tersebut tidak ada, bahkan soft file nya pun sama sekali gak ada pak, lalu satu lagi pak Sutaji sudah meninggal sekitar empat bulan yang lalu, saya sudah berusaha menghubungi istrinya agar bisa bersaksi jika kasus ini masuk pengadilan, tapi dia sama sekali gak bersedia", Gio menjelaskannya dengan panjang lebar
"Ada ada saja, kita memang di jebak, seperti nya ada yang sengaja menghilangkan bukti kongkret untuk kasus ini, tuntutan nya bukan main main gio, ini bahaya, kalau sampai mereka menang gugatan kamu pikir bagaimana nasib ratusan pegawai di kantor ini, apa saya akan tega melihat mereka semua kehilangan mata pencaharian disini",
Vano bingung harus bagaimana menyelesaikan masalah yang sangat besar tersebut, bagaimana pun masalah tersebut mempertaruhkan ratusan karyawan, vano tak mau karyawannya harus mengalami hal tersebut.
Vano dan Gio pun mencari cara dan berfikir keras untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
__ADS_1
"Ada ada aja, masalah datang silih berganti, aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini sendiri, kalau sampai mama apalagi papa tau bisa bisa kondisi papa semakin drop",
"Sha, tunggu aku, setelah semua masalah ku selesai aku akan menemui kamu kembali dan akan kembali berjuang mendapatkan cinta kamu lagi sha",
"Aku harap kamu baik baik aja sha, aku harap kamu cepat sadar", gumam vano dalam hati.
...****************...
...Rumah Sakit...
"Saya boleh ikut masuk ke dalam kan dok", tanya Raka berharap bisa masuk melihat kondisi Shasha secara langsung
"Tentu ka, tapi seharusnya dibatasi agar tidak menggangu keadaan pasien", jelas Dr Derryl.
"Saya periksa dulu keadaan Shasha, kalau memungkinkan kamu boleh melihat dia, tapi satu yang perlu kamu ingat jangan berbuat aneh aneh", Dr Derryl mengingatkan Raka
"Iya dok saya janji", ucap Raka kemudian tersenyum bahagia.
Dr Derryl pun masuk ke ruang rawat Shasha, ia melihat shasha masih terbaring lemah.
"Sha, ini aku datang", Ucap Dr Derryl.
"Kondisi kamu hampir membaik, mungkin beberapa saat lagi kamu bisa siuman" ,
"Yang kuat sha, kamu wanita hebat",
Dr Derryl mendekati Shasha dan menggenggam tangannya
"Ini kali pertama aku memegang tangan kamu sha, kamu cepet bangun sha", lanjutnya
"Aku keluar dulu ya sha", ucap Dr Derryl yang kemudian hendak melepaskan tangan Shasha.
tapi tak di sangka Shasha seolah memegang tangan Dr Derryl dengan kuat, Dr Derryl tersenyum.
"Sha, apa mungkin kamu denger aku? apa mungkin kamu udah bisa mencintai aku sha", tanyannya di depan Shasha yang masih terbaring dan tak sadarkan diri.
"Apa artinya genggaman kamu ini sha, apa mungkin kamu sudah benar benar bisa mencintai aku",
Dengan tangan nya yang masih berpegangan, Dr Derryl mendekat ke wajah Shasha dan berniat hendak mencium keningnya tapi tiba tiba ia justru mendengar suara Shasha yang seperti berbisik namun belum dalam kondisi yang belum sadar.
"Ka.. Kak Vano.. Kak Vano",
Mendengar Shasha memanggil vano membuat hati Dr Derryl tersayat sayat, ia mengira Genggaman Shasha yang kuat tersebut adalah pertanda Shasha merasakan kehadirannya dan mencintainya, tapi justru perkiraannya tersebut jauh sekali.
Meskipun Dr Derryl selalu bersikap bijaksana, sabar dan selalu memprioritaskan kebahagiaan shasha, namun ada kalanya sebagai manusia biasa ia bisa merasakan kecewa dan merasakan luka di hatinya .
"Sha, kamu cepat siuman ya, cepat sehat, aku tinggal kamu dulu ya sha", ucap Dr Derryl tersenyum dengan lebar namun hati yang begitu terluka.
Ia pun keluar ruangan dan menemui Raka kembali.
"Kondisinya semakin baik kan?",
"Bayinya juga kan",
"Saya boleh masuk juga kan",
Baru saja keluar dari ruangan, Dr Derryl sudah di sodorkan pertanyaan beruntun oleh raka.
"Silahkan ka, jangan lupa pake perlengkapan dan baju medis yang di sediakan, jangan bertindak konyol, jangan aneh aneh, apalagi sampai buat Shasha semakin memburuk", ucap Dr Derryl kembali mengingatkan.
"Siap laksanakan",
Merasakan kebahagiaan yang tak terkira, Raka berterima kasih pada Dr Derryl bahkan yang membuat terheran heran ia memeluk Dr Derryl.
"Makasih Dr tampan, Emuuuuach", ucapn Raka sambil memanyun kan bibirnya di depan Dr Derryl.
"Ishhhh lepasin Raka, jangan lebay gitu jangan sampai saya berubah pikiran lagi nih", ucap Dr Derryl.
Raka pun seketika melepaskan pelukannya
"Jangan dok, saya kedalam sekarang juga", ucapnya
Dr Derryl hanya menggeleng-gelengkan kepala dan kemudian pergi ke ruangannya.
Ini kali pertama Raka melihat Shasha yang sedang terbaring lemah tak berdaya, hanya bergantung pada sekantung Influs dan sebuah oksigen.
Melihat Shasha yang seperti itu hanya terus mengingatkannya pada kejadian keji itu.
Penyesalan Raka tak ada hentinya, ia selalu membenci dirinya sendiri.
"Sha, apa kabar kamu sha, belum juga aku ngomong sama kamu tadi, kamu udah seperti ini", ucapnya.
"Maafin aku sha, lagi lagi hanya penyesalan yang tersisa, sha kamu inget saat aku bilang kalau aku cinta sama kamu, itu kenyataannya sha, bahkan sampai saat ini aku masih juga mencintai kamu bahkan mengharapkan kamu", ucap Raka penuh haru.
"Sha, aku izin pegang perut kamu, aku mau ngomong sama bayi di perut kamu sha",
Raka pun memegang perut Shasha yang tak terlihat besar itu
"Nak, ini papa sayang, ini papa kamu", ucap Raka sampai tak kuasa menahan tangis.
"Maafin papa nak, papa bukan orang baik, papa pecundang papa yang membuat ibu kamu menderita",
"Kamu harus jadi anak baik, ketika anak papa udah besar kalau kamu perempuan nak kamu harus temani dan bantu ibumu jangan biarkan dia kecapean, kalau kamu pria kamu harus bisa jaga ibu baik baik"
__ADS_1
"Papa berharap bisa menemani kamu nak, melihat tingkah lucu mu kelak dan juga melihat kamu tumbuh besar",
"Papa sayang kamu, kamu sehat sehat ya di perut ibu",
"Meskipun kamu datang tak terduga, tapi kamu dan ibumu adalah harta terindah bagi papa, kamu berhak bahagia nak, papa gak akan biarin kamu merasakan sedihnya jadi papa jadi anak yang tak diharapkan kakek nenekmu",
"Nak, entah ada kesempatan itu atau tidak, dimana kamu memanggil saya dengan sebutan papa, atau justru panggilan itu kamu tunjukan untuk orang lain",
Raka pun menangis sesegukan, kesedihannya sudah tak bisa terbendung lagi.
Lalu tanpa Raka sadari Air mata menetes di mata kiri Shasha
"Aku temenin kamu ya sha, sampe kamu siuman", ucap Raka kemudian duduk menemani Shasha yang masih belum sadarkan diri.
Hampir Berjam jam Raka menemani Shasha sampai tak sengaja ia ketiduran di dekat Shasha.
Lalu tiba tiba
"Kak, kak Raka", Shasha yang baru saja sadar memanggil Raka
Suaranya yang lemah dan pelan tak terdengar oleh raka
Kemudian Shasha berusaha mengangkat tangan kanannya, dan menepuk-nepuk pundak Raka yang tak jauh dari lengan nya itu.
Cara tersebut ternyata efektif, Raka pun bangun dan kaget melihat Shasha sudah sadar.
Bukannya menyapa Shasha terlebih dahulu, Raka malah berlari karena terlalu bahagia iapun menuju ke ruangan Dr Derryl juga Dr Becca dan berniat untuk memberitahu mereka bahwa Shasha sudah siuman, tapi ternyata sayang seribu sayang Dr Derryl dan Dr Becca tak ada di ruangan.
Dr Becca dan Dr Derryl mendadak harus pergi menghadiri pertemuan sebagai narasumber pada seminar yang di adakan oleh Komunitas Dokter Indonesia.
Sebelum mereka pergi, mereka mempercayakan Shasha pada dokter ahli disana.
Tak kunjung menemukan Dr Derryl dan Dr Becca Raka pun menemui Dr lain, kemudian Shasha di periksa dan kondisinya ada peningkatan ke arah yang lebih baik.
Setelah Dokter tersebut Pergi, tiba tiba terdengar suara
Gruwuk.. Gruwuk.. Gruwuk..
Raka tersenyum mendengar suara tersebut
"hehe, Kamu lapar sha?", tanya raka
Shasha mengangguk dan tersenyum malu
"Kamu makan ya sha", ucapnya kemudian membawa senampan makanan lengkap yang sudah di siapkan oleh perawat.
"Makasih ka", ucap Shasha pelan
"Syukurlah kamu udah siuman sha",
Shasha berusaha makan dengan menggunakan sendok, tapi tangannya masih lemah
Melihat hal itu Raka langsung peka
"Sini aku bantu", ucapnya lalu mengambil sesuap makanan
"A... sha a...", ucap Raka seperti sedang menyuapi makan anak kecil
Awalnya Shasha makan perlahan, tapi karena lapar seharian tak sadarkan diri ia pun makan semakin lahap.
"Aku seneng sha liat kamu makan lahap", ucap Raka.
Shasha hanya tersenyum.
"Kak raka, aku minta maaf", ucap Shasha tiba tiba
Raka pun heran mendengar ucapan Shasha
"Maafin aku dulu gak bisa balas perasaan kaka, apalagi kakak tau kalau aku mencintai kak vano, dan saat ini aku juga sudah menerima lamaran Dr Derryl, maafin karena dulu aku sempat berpikir negatif tentang Kaka, aku kira Kaka gak akan pernah mau mengakui anak ini", lanjutnya
"Maksud kamu sha?", tanya Raka heran.
"Ka, sejak tadi aku ngerasa seperti mau mati tapi tiba tiba aku ngerasa ada kekuatan besar yang bisa membuat aku terdorong untuk bangun, setelah itu perlahan lahan aku mendengar orang berbicara dan orang itu seperti Mas Derryl, tak lama setelah itu aku mendengar suara kamu, kamu berbicara dan menangis, sampai aku tak kuasa menahan tangis juga kak, aku gak menyangka kita harus mengalami hal ini, aku kamu kak vano dan mas Derryl. Maafin aku kak raka aku terharu denger kakak bicara sama anak ini, maafin aku udah salah mengira kakak, aku mengira kalau kakak sama sekali gak mau mengakui dan mengharapkan anak ini", ucap Shasha yang sesekali meneteskan air mata.
mendengar ucapan Shasha tersebut, Raka Refleks memeluk Shasha ia tak menyangka Shasha sangat menghargai raka sebagai ayah dari anaknya tersebut
"Sha, apa kamu mau menikah sama aku?", tanya Raka serius
"Kita besarkan anak kita bersama sha", lanjutnya
Tiba.. tiba..
Brug...
Buah Buahan dan bunga mawar yang indah terjatuh dari tangan vano
Sebenarnya sejak tadi vano memperhatikan Raka dan Shasha di depan pintu kamar rawat.
Di tengah masalah besar yang dihadapinya, vano sengaja kembali hanya untuk melihat kondisi shasha. Namun lagi lagi, kekecewaan Harus ia rasakan kembali, ia tak menyangka Raka yang dari awal mendukungnya dengan Shasha bisa menusuknya dari belakang.
Dug.. dug.. dug..
dengan emosi yang membara Vano memukul Raka tanpa henti
__ADS_1
Bersambung....