Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 33- Puncak Kebahagiaan (END)


__ADS_3

Setelah mengungkapkan kata kata yang membuat semua orang tercengang, Vano turun dari pelaminan ke area tamu undangan.


Vano berjalan perlahan sampai tiba dikursi yang ia tuju, tak lain itu adalah kursi Shasha.


Sontak semua mata tertuju pada Shasha.


"Apa mungkin itu yang di maksud Evano tadi?" saut salah seorang tamu undangan.


"Kok bisa ya acara pernikahan mewah mereka jadi seperti ini," ungkap tamu yang lain.


Raka tak terima Vano melamar istrinya di hadapan semua orang, ia tersulut emosi hingga hampir saja memukul Vano. Namun, beruntung Shasha Shasha berhasil melerai.


"Sha, jika suatu saat nanti kamu memiliki kesempatan untuk bersama dengan saya. Maukah kamu menjadi istri saya?" tanya Vano kembali di hadapan Shasha.


"Kurang ngajar lo Van, berani beraninya!" ungkap Raka kesal.


"Jangan dengerin dia Sha, ingat anak kita ... " lirih Raka.


"Ayo Sha," saut Vano.


Vano menyodorkan tangannya seolah memberi kode agar Shasha memilihnya.


"Enggak Sha ... jangan," lirih Raka.


"Sini Sha, kembali sama aku," ungkap Raka panik.


Sama halnya dengan Vano, Raka menyodorkan tangannya.


Shasha di hadapkan di situasi yang sangat sulit, ia termenung lama.


"It's amazing, siapakah pria beruntung yang di pilih Shasha," gumam Vira dalam hati.


Shasha semakin kalut, pikirannya kacau.


Terkadang ia melirik ke berbagai arah, Shasha tak nyaman menjadi pusat perhatian.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini ... " lirihnya dalam hati.


"Siapa cowok di sebelah cewek itu?" tanya seorang tamu.


"Wah ini sepertinya pilihan yang sangat sulit," celoteh tamu lainnya.


Bukannya simpati pada Nara yang patah hati karena pernikahan impiannya hancur, justru perhatian tamu undangan teralihkan ke Vano dan Shasha juga Raka.


"Pilih mba!" teriak salah seorang tamu dengan sangat kencang.


"Pilih! pilih! pilih!"


Seisi ruangan bergemuruh.


Suara tamu undangan seakan menjadi desakan bagi Shasha.


"Pilih! pilih! pilih!"


Suara mereka tak henti hentinya bergemuruh.


"Sha, aku mohon ... " lirih Raka.


"Ayo cepet Sha, siapa yang akan kamu pilih?" tanya Vira.


Dengan pertimbangan yang matang, Shasha perlahan lahan mengulurkan tangannya ke arah Vano. Lalu Shasha mengenggam erat tangan Vano, dan menatap Raka dengan penuh rasa bersalah.


"Yeayy!" teriak para tamu undangan.


Yang semakin membuat heran mereka justru malah bertepuk tangan.


Sementara itu Nara seakan tak napak di bumi, jiwanya seolah tak ada disana saking syok dan kecewa.


"Arghhh!" teriak Nara.


"Maafin aku Kak Raka ... " lirih Shasha.


Vano tersenyum bahagia, ternyata Shasha padanya tak pernah hilang.


Raka hanya tertunduk lesu, badannya seolah tak berdaya. Perlahan tangan yang di ulurkannya pada Shasha ia turunkan kembali.


"Sorry bro, gue ambil kembali wanita gue Ka." Vano menatap lama Raka.


"Udah ku duga dia yang akan di pilih," gumam Vira dalam hati.


"Ayo Sha," ucap Vano.


Vano menarik lengan Shasha dan berlari keluar ruangan tersebut.


Shasha pun ikut berlari, perasaannya campur aduk. Tapi di hatinya seolah ada satu kelegaan yang tak bisa di jelaskan.


"Aku tau akan ada banyak orang yang kecewa bahkan marah, maafin aku Nara dan Kak Raka," gumam Shasha dalam hati.


"Terutama kamu nak, mamah takut suatu saat nanti kamu membenci mamah karena meninggalkan ayah kamu," lirihnya lagi.


Mereka berlari tanpa henti sambil saling berpegangan tangan dengan erat.


...****************...


"Kasian juga gue liat lo," celoteh Vira setelah melihat Raka tampak semakin pucat.


"Berisik lo!"


Tampaknya yang lebih marah adalah Nara, bagaimana tidak bukan hanya patah hati tapi di hari ini Nara merasa sangat malu.


Nara merasa harga dirinya di injak injak, ia mulai sadar ternyata Vano memang tak mudah dia kendalikan.


Melihat kekecauan yang di sebabkan putranya, Monicca dan Prasetya menghampiri Nara yang sudah di temani kedua orang tuanya.


"Nara, saya dan Istri saya tidak tau harus berbicara apa lagi. Kami memohon atas nama Vano, maafin dia ... " lirih Prasetya.


"Juga Pak, Bu. Gak seharusnya Vano seperti itu, bukan hanya melukai Nara tapi juga memperkenalkan keluarga besar kalian. Saya mohon maaf yang sebesar besarnya ... " lirih Prasetya lagi.


"Iya Ra, maafin kami ya sayang," ungkap Monica memohon.


Nara hanya tertunduk tak merespon mereka.


"Pak, Bu. Sudahlah, justru seharusnya kami yang minta maaf karena Nara yang sejak awal bertindak bodoh sendiri," jawab ayah Nara.


"Kita sama sama salah, alangkah lebih baiknya kita saling memaafkan," lanjtnya dengan kata kata bijak.


"Iya Pak Bu, jujur saya sakit hati melihat Nara seperti ini. Tapi jika saya berkaca kebelakang, Nara lah yang jauh lebih salah, kami minta maaf ... " lirih Ibu Nara.


"Pah mah, kenapa kalian jadi belain mereka!" teriak Nara kesal.


"Udah sayang, inilah akibat dari perbuatan kamu. Kamu berubah setelah tau Vano mencintai orang lain. Kamu gak rela dia bersama wanita lain, bahkan kamu menghalalkan segala cara untuk bersama dengan Vano."


"Itu bukan cinta Ra, tapi itu ambisi untuk memiliki Vano sangat parah," celoteh ibunya kembali.


Orang tuanya pun memeluk Nara.


"Sabar ya sayang," ucap sang ayah.


"Terimakasih Pak ... Bu ... kalau gitu kita permisi dulu, kita mau cari Vano," ungkap Prasetya berpamitan.


Setelah mereka pergi, tiba tiba pihak Wedding Organizer datang menghampiri Nara dan keluarganya.


"Mohon maaf Pak, Bu."


"Ini bagaimana? apa kita bubarkan saja tamu undangannya?" tanya petugas WO.


"Hiks hiks hiks ... Argh!" teriak Nada sambil menangis.


Orang tua nara hanya mengangguk, lalu meraka pun mengumumkan agar tamu undangan bubar.


"Udah sayang udah, kita pulang ya. Istirahat di rumah ya!" seru ayahnya.


Tak menunggu apapun lagi mereka pergi dari hotel tersebut.


Sementara itu Raka masih terdiam mematung.


Raka berinisiatif untuk mengirim pesan pada Shasha.


"Sha, Istriku. Kalau kamu masih menganggap aku suami mu aku tunggu di rumah."


Terkirim, namun belum juga di baca Shasha.


Melihat orang orang mulai tak ada Vira pun beranjak pergi.


...****************...


...Taman...


Setelah berjalan cukup lama hingga menemukan taksi, mereka memutuskan untuk pergi ke taman yang pernah mereka kunjungi dulu.


"Sha, kamu inget kan? ini taman yang kita kunjungi dulu," ungkap Vano.


"Aku inget Kak."


Kini berdua bersama Vano hatinya sangat bahagia, tapi disisi lain pikirannya sangat kalut.


"Kak, apa yang kita lakuin ini gak keterlaluan?" tanya Shasha mulai khawatir.


"Iya kita keterlaluan, terutama aku," ucap Vano.


"Kita sekarang harus gimana Kak?" tanya Shasha panik.


"Sha, kalau kita gak nekad kaya tadi kita sulit untuk bersama."


Shasha menatap Vano.


"Tapi Kak, seandainya kita bersama pun mungkin aku gak akan terus tenang," ungkap Shasha.


Shasha pun berniat melihat jam di handphone nya namun tak sengaja ia membuka pesan dari Raka tadi.


"Ya ampun apa pilihan aku ini salah," gumam Shasha dalam hati.

__ADS_1


"Kak Vano seandainya kita akan menikah pun tetap gak akan bisa Kak, secara hukum aku masih istri kak Raka."


Vano terdiam membisu, bagaimana pun ucapan Shasha memang benar.


"Bagaimana ini Kak?" tanya Shasha mendesak.


Vano masih terdiam memikirkan solusi.


Secara tak terduga Raka tiba tiba muncul di taman tersebut, entah bagaimana dia tau jika Shasha sedang berada di taman itu. Namun, beruntung kali ini Raka bisa menahan emosinya.


"Kak Raka ... " lirih Shasha.


Vano seketika menoleh ke arah Raka.


"Sha, ayo pulang!" tegas Raka.


Meski Raka bisa mengendalikan emosinya kali ini, tapi kemarahan terlihat jelas di wajahnya.


"Gue mohon lo lepasin Shasha Ka," ungkap Vano.


"Gue akan jagain anak lo dengan baik ... " ungkap Vano kembi dengan lirih.


Raka tak merespons Vano sama sekali.


"Sha ayo pulang, sebelum aku benar benar marah!" tegasnya lagi.


Shasha kembali terdiam.


"Sha!" panggilnya tegas.


Raka kemudian mendekat ke arah Shaha, dia memegang tangan Shasha dan berusaha membawa Shasha pergi dari taman itu.


Melihat Raka yang serius tak seperti biasanya, mau tak mau Shasha terpaksa ikut dengan Raka.


"Maafin aku Kak ... " lirih Shasha.


Shasha perlahan melangkah mengikuti Raka yang membawanya, namun sesekali dia melihat ke belakang melihat Vano yang berdiri dengan tatapan kosong.


Kini Vano benar benar hampir menyerah, bahkan Shasha di bawa Raka kembali saja ia seperti tak kuasa.


"Sha ... " lirih Vano.


"Naik Sha ... " ungkap Raka dengan suara yang lebih pelan.


Shasha pun naik ke dalam Mobil Raka.


Gebruk


Suara mobil tertutup.


Vano masih melihat mereka di kejauhan dengan ketidak berdayaannya.


Sementara itu di dalam mobil Raka, Shasha masih berusaha melihat Vano yang masih berdiri di taman tersebut.


"Sha, bahkan ketika aku yang di samping kamu, kamu belum pernah menatap aku dengan tatapan itu," lirihnya dalam hati.


Dalam mobil, mereka tak berbicara satu sama lain hanya saling terdiam dan saling canggung.


...****************...


...Rumah Raka...


Tak berlangsung lama mereka pun tiba di Rumah.


"Sha ikut aku!" ucap Raka tegas.


Shasha mengikuti langkah Raka yang sangat cepat menuju kamar mereka.


Raka tiba tiba memeluk Shasha dengan erat.


"Kak Raka ... " lirih Shasha.


Raka tak merespon justru semakin erat memeluk Shasha.


"Kak, maafin aku ... " lirih Shasha lagi.


"Sha, aku mau bicara serius sama kamu!" tegasnya.


"Ayo kita duduk," seru Raka.


Shasha dan Raka melangkah menuju sofa mereka pun duduk.


"Sha, kita gak usah bahas masalah kamu dan Vano lagi. Kamu masih inget kan tamu dari Jepang, dia mau bekerja sama dengan perusahaan aku untuk mengembangkan game perusahaan ku dan dalam beberapa taun mungkin sudah bisa rilis."


"Tapi Sha, aku dan beberapa karyawan harus pergi kesana selama proses pengembangan, kalau aku gak ambil sayang ... ini kesempatan yang lama sekali aku tunggu."


"Aku bercerita sedikit Sha, setiap tahun perusahaan itu mengadakan seleksi besar besaran untuk perusahaan game seperti aku, mereka yang bertahan sampai seleksi tahap akhir hingga akhirnya di pilih akan mendapatkan reward yang luar biasa yaitu berkolaborasi dengan perusahaan mereka."


"Beberapa tahun lalu aku mencoba seleksi tapi selalu gagal, hingga akhirnya aku tak menyangka Sha mereka memutuskan perusahaan aku tahun ini yang bisa bekerja sama dengan mereka."


"Ini kesempatan langka tapi mungkin aku harus tinggal di sana selama beberapa tahun," ungkapnya panjang lebar.


"Aku ikut seneng Kak," ungkap Shasha lalu tersenyum.


"Aku juga Sha," saut Raka lagi.


"Maafin aku ya kak, aku gak tau. Momen bahagia kamu aku rusak ... " ungkap Shasha lirih.


"Gapapa Sha, tapi Sha ... " lirih Raka.


"Kenapa kak?" tanya Shasha penasaran.


"Aku mau kamu ikut!" ucap Raka tegas.


Shasha seketika menatap mata Raka.


"Besok kita berangkat sha, hari ini kita beres beres dulu barang," ungkap Raka lalu mengambil koper dan membereskan baju bajunya.


"Kak Raka, tapi kak ... " lirih Shasha.


Shasha sangat keberatan dengan keputusan Raka membawa dirinya merantau kembali ke negri orang, ia tau kehidupannya di Jepang sana pasti terjamin. Tapi, lagi lagi berat baginya meninggalkan Vano yang masih di Indonesia.


"Ayo Sha, beresin barang kamu! aku bantuin," seru Raka.


"Kak Raka, aku gak mau ikut kak!" teriaknya dalam hati.


Meskipun hatinya tak ingin, tapi Shasha tak berani melawan Raka ia pun perlahan membereskan barang barang yang akan dibawanya esok.


...****************...


...Keesokan harinya...


"Udah siap Sha?" tanya Raka.


Shasha hanya mengangguk.


Semenjak tau dirinya akan dibawa Raka pindah ke Jepang, senyuman di bibirnya tak pernah terlihat lagi, Shasha menjadi sangat pendiam.


"Ayo Sha!" saru Raka.


Meraka membawa dua koper lalu Raka membawa koper tersebut dan di simpan di bagasi mobil.


Dengan berat hati Shasha naik ke dalam mobil.


"Lagi lagi aku harus merantau kembali, meninggalkan tanah air tercinta dan meninggalkan orang orang tersayang," gumam Shasha dalam hati.


"Kak Vano kali ini aku percaya bahwa kita memang tak berjodoh, maafin aku Kak. Makasih kak Vano udah pernah menjadi bagian dari hidup aku, aku pergi kak." ungkapnya lagi dalam hati.


Raka menyetir mobil tersebut dan melaju menuju bandara.


Hari ini jalanan terbilang cukup macet, mereka sampai setelah empat puluh menit di jalan.


Ternyata tiga karyawan Raka sudah sampai sejak tadi di bandara.


"Bos!" teriak salah satu karyawan.


Raka yang sudah memakai kaca mata hitam dan jaket berbahan jeans tersebut lalu melambaikan tangannya.


"Itu mereka, ayo Sha kita kesana!" seru Raka.


"Hallo Bu Bos!" sapa seorang karyawan.


"Hallo semua," sapa Shasha dengan ramah.


"Berapa menit lagi kita terbang?" tanya Raka.


"Sekitar tiga puluh menit lagi Bos, kalau gitu kita langsung masuk aja!" seru salah seorang karyawan.


"Tunggu sepuluh menit!" tegas Raka.


"Kamu haus gak Sha? aku beli minum dulu ya."


Raka beranjak pergi membeli sekantong minuman untuk istri dan karyawannya.


"Nih bagi satu satu," ucap Raka setelah kembali.


"Nih untuk kamu Sha, air mineral dan susu aja ya biar lebih sehat."


Raja menyodorkan dua botol minuman tersebut.


"Makasih Kak," ucap Shasha.


Raka tersenyum lalu mengangguk.


"Dua menit lagi ya," ucap Raka kepada karyawan.


"Siap bos," saut mereka.


"Bu bos, nanti anaknya lahiran di Jepang dong," ujar seorang karyawan.


Shasha hanya tersenyum.

__ADS_1


"Tergantung," ungkap Raka singkat sambil meminum kopi miliknya.


"Udah hampir sepuluh menit, kita enggak bisa menunggu lagi ayo kita pergi!" saru Raka.


Shasha hanya berjalan pasrah.


"Selamat tinggal Indonesia, entah kapan lagi aku akan kembali ke sini," gumamnya dalam hati.


"Selamat tinggal Vira, Nara, paman, bibi, terutama kamu laki laki yang paling aku sayangi. Selamat tinggal Kak Vano," lanjut Shasha.


"Shasha!" teriak seorang wanita.


Mereka menoleh kebelakang.


"Sha! tunggu!" teriaknya wanita yang lainnya.


"Shasha!" teriak pria dengan suara bas nya yang khas.


Seketika mereka tak melanjutkan kembali langkahnya.


Wanita tersebut adalah Vira dan Nara, tak hanya itu yang paling membuat Shasha tercengang adalah kedatangan Vano.


"Ngapain mereka? duh jangan sampe kak Raka ribut lagi sama mereka, aku udah cape liat mereka berantem," gumam Shasha dalam hati.


Mereka berlari menghampiri Raka dan Shasha yang hampir saja akan menaiki pesawat.


"Kak Raka, bukan aku yang bilang ke mereka kita mau pindah ke Jepang," ungkap Shasha ketakutan.


Raka terdiam.


"Bukan aku kak beneran," ucap Shasha meyakinkan.


"Shasha ... " lirih Vano.


Kini Vano berpakaian tak seperti biasa yang rapi dengan setelah jas gaya CEO, justru Vano sekarang tampak kece dengan kemeja mocca dan celana bahan hitamnya, tak lupa topi dan kacamata yang semakin membuat penampilan Vano bak artis idaman.


"Kak Vano?" sapa Shasha.


"Nara?"


"Vira?"


"Ada apa ini? stop ... jangan halangi aku, aku mohon jangan ribut lagi," seru Shasha yang tampak panik.


"Kak Raka, kamu tenang jangan marah. Ayo kita pergi!" ungkap Shasha lalu berusaha pergi dan menarik lengan Raka.


"Aku yang nyuruh mereka Sha," ucap Raja membuat Shasha tercengang.


Shasha pun mengerutkan dahinya dan menatap Raka penasaran.


"Maksudnya Kak?" tanya Shasha tak mengerti.


"Biar aku jelasin Sha," jawabnya.


"Semenjak kamu memilih Vano kemarin, aku sudah sadar diri Sha. Mungkin selamanya aku gak bisa dapetin hati kamu, dan bahkan aku gak bisa buat kamu bahagia Sha meskipun aku ayah anak ini," ungkap raka sambil memegang perut Shasha.


"Jadi maksud kamu?" tanya Shasha yang masih belum memahami.


"Silahkan pergi bersama Vano Sha, aku gak akan menghalanginya lagi ... " lirih Raka.


Mendengar hal itu Shasha kaget begitupun dengan ketiga karyawan Raka.


"Kamu masih gak ngerti Sha?"


"Oke aku jelasin sedetail mungkin, jujur Sha aku memang berniat membawa kamu ke sana berharap kamu bisa benar benar melupakan Vano dan hidup berdua dengan aku juga anak kita. Tapi, aku bisa liat jelas kamu sangat keberatan kan? bahkan semalaman aku gak tidur, memikirkan kamu Sha."


"Kemudian, aku ingat kata kata Dr Derryl ketika melepaskan kamu ke aku. Bahwa cinta yang tulus tak harus selalu berusaha memiliki tapi justru berkorban untuk kebahagiaan orang yang di cintai, setelah itu aku baru bisa berpikir untuk melepaskan kamu."


"Tapi Sha, jujur aku takut kamu di sakiti Vano lagi. Makanya tadi pagi aku ngontek dia, seandainya memang dia serius sama kamu dia pasti datang sebelum kita berangkat dan ternyata kali ini dia menepati janjinya."


"Karena itu Sha, aku lebih tenang pergi karena kali ini Vano lebih bisa di percaya," ungkapnya lagi.


"Kak Raka ... " lirih Shasha lalu berderai air mata.


Raka mengusap air mata di pipi Shasha dengan perlahan.


"Udah jangan sedih Sha," ujar Raka.


"Satu hal lagi Sha, kamu gak usah khawatir. Kamu gak bisa nikah dengan Vano jika kita masih suami istri kan?"


Raka membuka koper miliknya dan memberikan paper bag yang berisi map pada Shaha.


"Ini Sha."


"Apa ini Kak?" tanya Shasha pelan.


"Ini surat cerai kita Sha, pagi tadi aku sudah tanda tangan jaga jaga jika Vano benar benar datang. Dan ternyata ia kan dia datang? itu artinya surat cerai ini berlaku Sha, aku kasih kamu ya Sha."


"Nanti aku hubungi pengacara dan biarin mereka yang menyelesaikan proses perceraian kita."


Raka tiba tiba terdiam lalu tak kuasa meneteskan air mata.


"Sha ... satu hal lagi, aku tetap mencintai kamu, jika Vano suatu hari macem macem aku orang pertama yang akan lindungi kamu," lirih Raka


Raka memegang perut Shasha kembali.


"Sha ... suatu hari nanti kamu mau memberitahukan aku ini ayahnya atau tidak itu hak kamu sepenuhnya Sha."


"Seandainya dia bertanya kenapa papahnya pergi, jangan pernah beritahukan alasan yang sesungguhnya aku takut dia membenci kamu Sha. Cukup ucapkan papah pergi karena lebih mementingkan pekerjaan, lalu meninggalkan mamah dan kamu."


"Biarkan aku jadi pecundang di mata anakku Sha demi kamu, dari pada dia harus membenci kamu ini yang melahirkannya." ucap Raka semakin terisak.


"Satu hal lagi Sha, bilang alasan yang sama ke paman dan bibi kamu juga ke keluarga aku, lagian mereka juga gak akan peduli sama aku Sha."


Mendengar kata kata Raka yang menyayat hati Shasha tak kuasa menahan tangis, lalu memeluk Raka erat.


"Udah Sha, aku bersyukur mengenal kamu. Kamu yang membuat aku semakin kuat menjalani hidup ini, kamu juga yang mengantarkan aku dari keputusasaan menuju perjuangan panjang. Do'an aku sukses Sha!" seru Raka.


"Aku pergi Sha," ucap Raka pamit.


"Maafin aku Kak Raka!" teriak Shasha.


"Maafin mamah nak ... " lirih Shasha pelan.


Vira mencoba menenangkan Shasha.


Raka yang berusaha tegar itu perlahan masuk ke dalam pesawat.


"Van! jangan sakiti dia! jaga dia! kalau Lo berani macem macem gua ambil dia lagi!" teriak Raka.


Dalam sekejap Raka menghilang dari pandangan mereka semua dan pesawat pun pergi perlahan.


"Sha udah sha," saut Vira juga dengan mata yang berkaca kaca.


"Sha udah jangan sedih," saut Nara membuat Shasha kaget.


Shasha pun menoleh ke arah Nara dan menghampirinya.


"Ra, kamu udah gak marah dan benci sama aku?" tanya Shasha lirih.


"Iya Sha, aku minta maaf," ucap Nara lalu memeluk Shasha yang kemudian d susul Vira.


"Aku sekarang sadar Sha, aku terlalu terobsesi untuk memiliki Kak Vano, harusnya aku gak ngelakuin hal hal buruk itu Sha," ungkap Nara.


"Maafin aku juga Ra, Vir."


Mereka menangis tersedu sedu sambil berpelukan.


Setelah cukup lama tiba tiba Vira berbisik.


"Udah udah, kamu samperin cinta sejati kamu itu Sha," bisiknya.


"Iya Sha ayo," saut Nara berbisik.


Merekapun saling melepaskan pelukannya, sementara itu Shasha perlahan menghadap Vano yang sedari tadi berdiri di dekatnya.


Vano membuka kacamata yang di kenakannya, mereka saling memandang satu sama lain dan tersenyum penuh kebahagiaan.


Vano perlahan berjalan ke arah Shasha begitu pun Shaha.


Mereka memeluk dengan erat satu sama lain.


"Sha, makasih untuk cinta yang selama ini kamu simpan," bisik Vano.


"Aku gak rela Sha seandainya kamu harus merantau jauh lagi."


"Mulai sekarang dan seterusnya kita akan tetap bersama, tak ada lagi yang bisa memisahkan kita Sha."


Shasha menangis tersedu sedu, perasaannya campur aduk. Tapi yang paling dominan adalah rasa kebahagiaan yang tak dapat di ungkapkan dengan kata kata.


"Aku gak mau kehilangan kamu lagi kak Vano," isak Shasha yang memeluk Vano semakin erat.


"Aku juga Sha," ucap Vano berderai air mata.


"Aku mencintaimu kamu Sha," lirih Vano.


"Aku juga kak, sangat mencintai kamu!" teriak Shasha.


Melihat kebahagiaan sahabat baiknya itu, Nara dan Vira ikut berbahagia.


"Akhirnya kebahagiaan menghampiri kamu Sha," gumam Vira pelan.


"Ternyata mengikhlaskan Kak Vano untuk kamu jauh lebih membuat aku bahagia Sha," gumam Nara dalam hati.


Shasha dan Vano tak melepaskan pelukannya, semakin lama semakin erat.


"Bukan perjalanan yang mudah untuk kita bersama Sha, akhirnya cinta kita bisa bersatu kembali. Aku tak akan menyianyiakan karunia Tuhan untuk aku dan kamu, aku akan mencintaimu dengan tulus Sha termasuk anak yang kamu kandung," ungkap Vano dalam hati


"Dari serangkaian kepedihan yang aku rasakan ternyata aku bisa sampai juga di puncak kebahagiaan ini, terimakasih orang orang baik terutama untuk kalian mas Derryl dan kak Raka," gumam Shasha dalam hati.


Selesai...

__ADS_1


__ADS_2