Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 32- Lamaran Di Dalam Pernikahan


__ADS_3

Bukan hanya Shasha yang terdesak pertanyaan Vira, Raka pun tak nyaman mendengar pertanyaan itu apalagi ia melihat wajah Shasha yang tampak sedih seolah menandakan beratnya Shasha menerima kenyataan itu.


"Kalian ngobrol aja dulu Sha, aku mau ke kamar dulu. Aku lupa Sha ada kerjaan," ucap Raka berbohong.


Raka pun pergi menuju kamarnya.


"Ekspresi wajah kamu emang gak bisa bohong Sha," gumam Raka.


"Aku bukan Syok karena pernikahan Vano, aku gak kaget justru aku seneng, tapi yang membuat aku tak menyangka itu kamu Sha. Kesedihan itu terlihat jelas, kali ini hati aku benar benar sakit Sha," lirih Raka dalam hati.


Sementara itu Vira dan Shasha masih ngobrol bersama, namun Shasha belum juga menjawab pertanyaan Vira.


"Sha!" panggilnya.


"Vir, lain kali kamu jangan tanya itu aku gak enak sama Kak Raka," jawab Shasha.


"Aku cuma penasaran Sha," ungkap Vira.


"Aku inget dulu kamu pernah bilang kan ke aku kalau kalian udah saling mencintai, jadi pertanyaan aku barusan gak salah dong, kamu masih cinta kan sama dia Sha?" Tara Vira yang semakin penasaran.


Shasha pun mengangguk.


Vira pun menghela nafas dalam dalam.


"Maafin aku ya Sha, kamu gini gara gara aku," ungkap Vira.


"Gapapa Vir, udah udah."


"Terus kenapa kamu mau nikah sama Raka? iya aku ngerti dia emang ayah bayi yang kamu kandung, cuma kalau kamu gak suka sama dia ngapain maksain Sha," geruta Vira kencang.


"Sut ... kamu mah kebiasaan Vir, coba ngomongnya pelan pelan nanti kalau kedengaran Kak Raka gak enak tau!" tegas Shasha lalu refles menutup mulut Vira.


Padahal sejak tadi Raka tak masuk ke kamarnya dengan Shasha yang ada di lantai dua, justru dia mendengar obrolan mereka.


Dia tiba tiba penasaran pada reaksi Shasha atas jawaban Vira.


"Sha, aku tau kamu baik sama dia. Aku liat itu, aku juga liat kamu gak punya perasaan sedikit pun, kamu memperlakukan dia seperti kamu memperlakukan aku. Kamu menyayangi dia hanya sebatas itu kak Sha?" tanya Vira penasaran.


Shasha terdiam.


"Tuh kan aku bener lagi, kamu kalau udah diem gitu berarti membenarkan ucapan aku," ungkap Vira geleng geleng kepala.


"Apa yang kamu pertahanan dari pernikahan tanpa cinta ini Sha? anak kamu?" tanya Vira lagi.


"Iya Vir," jawab Shasha.


"Aku udah berusaha mencintai kak Raka, tapi seperti yang kamu bilang perasaan aku ke dia hanya sebatas itu saja. Mungkin aku masih butuh banyak waktu Vir, aku hanya perlu menjalani nya aja, ini juga demi anak aku agar dia punya orang tua yang utuh," ungkap Shasha jujur.


Raka yang mendengar itu dalam sekejap langsung pergi


"Sha, aku tau kamu emang belum mencintai aku. Tapi ketika kenyataan itu keluar langsung dari mulut kamu rasanya sangat menyakitkan" lirih Raka.


Tak lama di rumah Raka Vira berpamitan pergi.


...****************...


...Rumah Prasetya...


Vano yang tak terima atas tindakan Nara, langsung bergegas ke rumah orang tuanya untuk memastikan.


"Mah pah," sapa Vano yang melihat orang tuanya sedang menonton televisi di ruang keluarga.


"Sayang" saut monicca.


"Van," ujar Prasetya.


Vano menghampiri mereka.


"Mah pah, apa benar pagi tadi Nara datang kesini?" tanya Vano serius.


"Iya nak," jawab monicca jujur.


"Terus mamah setuju pernikahan ini? pernikahan yang Vano gak tau sama sekali, berani beraninya dia bertindak sendiri mah terus nyebarin undangan bahkan ke kolega kolega Vano," ungkap Vano kesal.


"Nak, kita awalnya sepemikiran awalnya mamah dan papah gak setuju tindakan Nara, tapi dipikir pikir ada baiknya juga kalau kamu segera menikah. Apalagi kita gak usah repot repot nyiapan ini itu, kamu tinggal datang dan duduk manis di pelaminan sayang," ungkap Monicca.


"Lagian Nara juga sangat mencintai kamu Van," saut ayahnya.


"Apa lagi yang kamu cari Van," lanjutnya.


"Kegegalan kamu dulu dengan Shasha biarlah berlalu, itu masalalu Van, sekarang kamu harus bisa memulai hidup baru dengan istri yang tulus mencintai kamu," ungkap Prasetya.


"Pah itu bukan ketulusan, itu ambisi Nara pah," ungkap Vano.


"Apapun itu, papa harap kamu siap Van. Undangan sudah di sebar bahkan ada beberapa media yang memberitakan ini. Ini berita positif Van," ungkap Prasetya.


Vano terdiam tak mengerti mengapa ayah dan ibunya malah mendukung Nara.


Ia menghela nafas, lalu berusaha pergi.


"Vano pamit mah, pah," ungkapnya lalu pergi.


Setelah memastikan Vano keluar rumah, monicca dan Prasetya ngobrol.


"Pah, mamah terkadang kasian sama Vano," ungkapnya.


"Iya mah, begitu pun papah," sautnya.


"Jujur jika harus mamah memilih antara Shasha dan Nara, tentu mamah pilih Shasha. Tapi sayang kondisi dan keadaan dia yang hamil anak Raka gak mungkin kita jadikan menantu pah, apa kata orang nanti kan," celotehnya.


"Iya mah, papa pun berfikir demikian. Semoga pernikahan ini lancar saja mah dan Vano perlahan bisa melupakan Shasha," jawab Prasetya.


Sementara itu Vano yang masih kesal, memilih diam sejenak di salah satu Cafe yang ia temukan di jalan.


Vano duduk di salah satu meja sambil menyeruput kopi yang di pesannya tadi.


Setelah jauh lebih tenang, Vano memutuskan untuk kembali ke kantornya, namun ketika akan menaiki mobil.


Tiba tiba seorang laki laki dewasa memanggilnya.


"Vano!" teriak laki laki itu.


"Anda ... siapa ya?" tanya Vano heran.


"Ya ampun Van, kita temen sekelas pas SMA," ungkap Pria itu lagi.


"Saya Riko Van,"

__ADS_1


"Wah semakin tampan saja kamu Van," celoteh laki laki itu.


"Bisa aja," jawab Vano singkat.


"Oh iya saya ingat," ungkap Vano.


"Selamat ya atas pernikahan kamu, saya juga gak nyangka kamu bakal undang saya," ungkap Pria itu.


"Saya baru sadar ternyata calon istri kamu itu anak culun yang dulu sering di bully kan, memang jodoh tak kemana Van. Kamu dulu nolongin dia tak di sangka sekarang kamu akan menikah juga sama dia," ucapnya.


Vano hanya tersenyum seolah terpaksa.


"Saya duluan Rik," ucap Vano lalu membuka pintu mobilnya dan melaju pergi.


Vano terdiam, ia menyadari bahwa ucapan Nara itu benar. Undangan telah di sebar, termasuk ke orang orang yang tak terlalu dekat sekalipun.


"Keterlaluan kamu Nara! bahkan Riko yang bukan teman dekat saya pun kamu undang!" teriak Vano.


...****************...


...Rumah Raka...


Beberapa saat setelah Vira pulang.


"Kak Vano, kenapa sakit sekali hati aku ketika aku tau kamu akan menikah dengan Nara, aku harap kalian bahagia," gumam Shasha dalam hati.


Tak lama setelah itu Raka turun kembali dengan setelah tak seperti biasanya.


Kini Raka jauh lebih Rapi dengan setelan jas berwarna Mocca.


"Sha, temen kamu udah pulang?" tanya Raka.


"Iya kak udah, barusan Vira pulang," jawab Shasha.


"Syukurlah," celoteh Raka.


"Kak Raka mau kemana? udah rapi gitu," tanya Shasha penasaran.


"Hari ini ada tamu di kantor Sha, mereka dari Jepang. Kamu mau ikut gak? biar gak bosen sendiri di rumah," ungkapnya.


"Emang boleh kak? enggak ah nanti aku ganggu kamu kerja," ucap Shasha.


"Engga Sha, gak usah ganti baju kamu udah cantik juga kok pake itu," ucap Raka sambil melirik ke arah Shasha yang menggunakan dress santai.


"Ayo Sha! sekalian aku kenalin kamu ke temen temen aku," ungkap Raka.


Shasha berpikir sejenak.


"Yaudeh deh ayo kak," jawab Shasha.


Mereka pun pergi ke kantor Raka, dan tiba setelah beberapa menit di perjalanan.


"Suasana kantor kamu beda banget ya Kak, aku berasa lagi di dunia Fantasi," celoteh Shasha sambil menengok ke kiri dan kekanan.


"Ini lah Sha kantor aku, meski gak besar bahkan penghasilan pun tak menentu tapi aku seneng menjalani usaha ini, usaha yang sesuai dengan hobi aku," ungkap Raka.


"Suatu saat nanti, aku harap bisa meluncurkan game yang memukau dan banyak pengguna," ungkap Raka.


"Tapi kamu tau sendiri ayah sama ibu, mereka gak dukung aku sama sekali, selalu memandang rendah aku," keluh Raka.


"Kenapa emang Sha?" tanya Raka.


"Kamu beruntung karena berjalan dan juga berproses di atas impian kamu meskipun tak ada dukungan dari orang tua kamu tapi kamu tetap maju, aku yakin Kak suatu saat impian kamu bakal terwujud," ungkap Shasha.


Raja pun tersenyum.


"Makasih ya Sha," ujar Raka.


"Iya Kak."


Raka kemudian membawa Shasha ke ruang kerja para partner kerjanya.


"Ehm ... ehm .... " saut Raka.


Seketika karyawannya itu menoleh ke arah Raka yang membawa seorang wanita di sampingnya.


"Bos, itu istri bos yang kemarin di ceritain?" tanya seorang karyawan.


"Iya, ini istri saya. Namanya Shasha, sebentar lagi saya mau nemuin tamu, nitip dia ya," ungkap Raka sembari tersenyum.


"Hallo semuanya," sapa Shasha dengan ramah.


"Inget ya jangan godain dia, kalau berani gaji kalian saya potong," celoteh Raka becanda.


"Kak apaasih," bisik Shasha pelan.


"Aku ke ruang tamu dulu ya Sha, kamu ngobrol aja sama mereka," ungkap Raka lalu pergi.


Shasha hanya mengangguk, lalu tersenyum.


Karyawan Raka yang terbilang tidak terlalu banyak itu sangat ramah pada Shasha dan mereka pun ngobrol santai sembari menunggu Raka.


Sekitar dua jam berada di kantor, Shasha dan Raka pun pulang ke rumah mereka.


...****************...


...Satu minggu kemudian...


"Sha, kamu yakin mau dateng hari ini ke nikahan Vano?" tanya Raka.


"Kalau boleh, iya kak. Lagian Nara juga temen aku, aku mau liat dia bahagia di hari pernikahan," ungkap Shasha.


"Yaudah kalau gitu, kita siap siap aja Sha," ungkap Raka.


"Kamu bener Sha, Vano juga temen aku. Meskipun kita berselisih, mungkin kedepannya bisa lebih baik. Lagian kita udah punya keluarga masing masing. Aku harap kamu dan Vano bisa saling melupakan, Sha," gumam Raka.


"Tapi kita bareng sama Vira ya kak," celoteh Shasha.


"Emm ... gimana ya, yaudah lah karena mood aku lagi baik aku izinin deh," jawab Raka.


"Makasih kak, nanti kita janjian aja di pertengahan jalan ya," ucap Shasha.


Raka pun mengangguk.


Sementara itu di lain tempat.


Keluarga besar kedua mempelai telah datang di Hotel Mustika, hotel tempat di gelarnya pernikahan Nara dan Vano.

__ADS_1


Begitupun Nara dan Vano sudah berada di hotel tersebut, Nara tampak anggun dengan gaun mewah dan riasan wajahnya. sementara itu Vano sangat menawan memakai jas yang senada dengan gaun Vira.


"Niat banget kamu Ra, nyiapin pernikahan sampai segitunya," guman Vano dalam hati.


"Kamu paksa aku nikahin kamu, oke Ra. Aku ikuti dulu permainan kamu," lanjutnya.


Nara menatap Vano dengan senyuman di bibirnya, namun Vano hanya membalasnya sinis.


"Kak Vano, hari ini kamu akan sepenuhnya jadi milik aku," gumam Nara dalam hati.


Pada tamu undangan satu per satu berdatangan, dari mulai para konglomerat sampai dengan orang temen mereka yang merupakan biasa yang sebelumnya Nara undang.


Ada sekitar hampir seribu orang yang menghadiri acara pernikahan mereka hari ini, Raka Shasha dan Vira salah satu diantaranya.


"Kuat Sha, kuat, kamu harus kuat menerima kenyataan ini," gumam Shasha dalam hati.


"Mewah juga ya Sha acara pernikahan mereka," ungkap Vira.


"Kamu harus kuat mental Sha," bisik Vira.


Shasha hanya merespons nya dengan senyuman.


"Kita duduk di sana aja Sha," ajak Raka.


"Gue gak di ajak?" tanya Vira sinis.


"Kalau Lo gak tau malu ya ikut aja," celoteh Raka becanda.


"Udah udah ih kalian!" seru Shasha.


Mereka pun duduk di salah satu kursi tamu.


Setelah memastikan para tamu telah datang, pihak Wedding Organizer memulai acaranya.


Tak lupa juga acara pernikahan ini di pandu oleh MC yang profesional.


"Selamat pagi semuanya, saya Indra yang akan memandu acara pernikahan pada hari ini. Sebelum saya mengucapkan selamat datang kepada keluarga besar pempelai wanita dan mempelai pria, tak lupa saya ucapkan terimakasih yang terhingga kepada seluruh tamu undangan."


"Ini merupakan momentum yang sangat membahagiakan bagi kedua mempelai, Mas Evano Syahrezza Prasetya dan juga Mba Inara Kalea Lathifah. Kita do'akan semoga acara pernikahan ini berjalan lancar tanpa kendala dan mereka menjadi keluar bahagia."


"Sebelum kita mulai acara ini, alangkah baiknya jika mempelai pengantin mengucapkan sepatah atau dua patah kata kepada tamu undangan, silahkan menyampaikan prakata terlebih dahulu Mas Vano atau Mba Inara," ucap MC tersebut.


Lalu salah satu petugas WO memberikan mereka microfon masing masing satu.


"Kamu aja yang ngomong," ungkap Vano.


"Kamu dong Kak, masa aku. Aku mau ngomong apa," ucap Nara pelan.


"Bukannya ini pernikahan rencana kamu," celoteh Vano membuat Nara kesal.


Para tamu undangan heran melihat Vano dan Nara diskusi sangat lama, bahkan mereka melihat jelas bahwa tatapan Nara dan Vano tampak saling sinis.


"Oke," ucap Nara kesal.


Lalu Nara menarik nafas panjang dan berusaha tenang agar tamu undangan tidak terheran heran.


"Selamat pagi semuanya, mungkin tak banyak yang ingin saya sampaikan. Saya mengucapkan terimakasih kepada keluarga besar, pihak Wedding organizer dan tak lupa pada tamu undangan."


Di tengah kerumunan tamu undangan Nara melihat Shasha yang sedang duduk, ia pun seolah ingin memanas manasi Shasha.


"Satu lagi, saya mengucapkan terimakasih untuk laki laki luar biasa dalam hidup saya, laki laki yang sangat saya cintai. Kak Vano," ucap Nara lalu menatap dan menggenggam erat tangan Vano dan tak lama mencium pipi Vano.


Seketika ruangan itu bergemuruh sorak banyak orang yang baper melihat Nara.


Nara pun mengakhiri ucapannya lalu tersenyum malu.


"Tepuk tangan dulu untuk pengantin pria, tampan berinisiatif sekali ya," saut MC.


"Kali ini kita persilahkan mempelai pria untuk berbicara, silahkan Mas Vano," lanjut MC.


Vani terdiam sejenak.


Sama seperti Nara, jauh di kerumunan sana ia melihat Shasha yang duduk di salah satu kursi.


"Nara, kamu bisa menginjak nginjak harga diri saya bertindak semau kamu, ini gilarin saya," bisik Vano.


"Apa maksud kamu Kak?" tanya Nara heran.


Vano tak merespon pertanyaan Nara.


"Para tamu undangan yang terhormat, terimakasih atas kedatangan kalian. Terutama rekan rekan kuliah saya dari Australia yang bersedia hadir hari ini. Tapi sepertinya saya harus mengecewakan kalian, pernikahan ini saya batalkan detik ini juga!" tegas Vano.


"Kak Vano, jangan macem macem Kak!" teriak Nara.


Seketika para tamu undangan kembali bergemuruh, mereka saling berbisik tak mengerti apa yang sedang terjadi.


"Saya dari awal sudah memutuskan untuk membatalkan pertunangan kita, tapi tanpa sepengetahuan saya Nara bertindak sendiri. Mempersiapkan semua bahkan sampai menyebar undangan sendiri, saya mohon yang sebesar besarnya tapi saya gak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi."


"Mah pah dan orang tua dan keluarga dari Nara saya minta maaf, saya tau saya salah tak seharusnya saya seperti ini. Tapi saya harap semua bisa mengerti dari awal sudah saya katakan prinsip saya adalah saya hanya akan menikahi wanita yang saya cintai dan mencintai saya dengan tulus, bukan mendahulukan obsesi dan ambisi seperti yang Nara lakukan." ungkap Vano tegas.


"Kak kamu gila ya kak, kamu mempermalukan aku kak!" teriak Nara lalu mendorong Vano.


"Pah ini Vano kenapa jadi gini," ucap mamanya panik.


"Pah, ko papah diem aja," lanjutnya.


"Papah mencoba tenang mah, papah gak mau penyakit papah kambuh lagi," ungkapnya.


"Yaudah kamu minum dulu pah," ucap monicca lalu menyodorkan sebotol air mineral.


Sementara itu Raka Shasha dan Vira pun ikut syok melihat situasi itu.


"Van Van, nekat banget loh," celoteh Raka.


"Bukan main ... luar biasa sekali gebetan kamu Sha," bisik Vira.


"Kak Vano, kamu kenapa senekad itu bicara di depan banyak orang," gumam Shasha.


Vano yang hampir jatuh di dorong Nara, ia kemudian berbicara kembali.


"Satu hal lagi yang ingin saya katakan," ucapnya membuat semua orang penasaran.


"Satu satunya wanita yang saya cintai adalah kamu Sha, Aisha Aileen Nathania," ucap Vano sambil melirik Shasha di kejauhan.


"Shasha, jika takdir mempertemukan kita kembali dan mengizinkan kita bersama, maukah kamu menjadi istriku?" lirih Vano yang membuat semua orang tercengang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2