Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 25- Satu Syarat di Akhir Cerita


__ADS_3

Raka berusaha menenangkan Shasha yang terus menangis, melihat wanita yang dia cintai menangis sampai tersedu sedu hati Raka ikut merasakan hal yang sama.


"Udah Sha, kamu nangis gini aku juga ikut sedih," ucap Raka lirih.


Shasha merasa dadanya sesak sekali melihat laki laki yang dia cintai mengingkari janji bahkan ketika bertemu pun malah pergi menjauh, padahal Shasha tidak tau Vano sedang berada di masa terberatnya.


Kekecewaan Shasha terhadap Vano tak ada hentinya, seolah olah kisah mereka tak pernah luput dari kesalahpahaman.


"Kak," panggil Shasha pada Raka.


"Iya Sha, udah jangan sedih lagi," ucap Raka lalu mengusap air mata di pipi Shasha.


"Kak Raka, apa salah aku Kak? aku udah percaya dan berharap lebih ke kak Vano, lagi lagi dia harus mengecewakan aku," ungkap Shasha sedih.


"Kamu gak salah Sha, udah sekarang kita masuk lagi ke mobil ya, kamu tenangin diri di dalem gak enak disini di liat orang Sha," ucap Raka.


Shasha pun menuruti Raka untuk masuk ke dalam mobil.


"Van, gue emang laki laki pecundang tapi gue gak sepecundang lo, berani berani nya lo nyakitin Shasha lagi, apa Lo gak pernah belajar dari peristiwa itu," guman Rama yang kesal dalam hati.


"Kamu jangan sedih lagi ya Sha,"


"Liat aku udah beliin yang kamu mau, tada ... Mie Basko spesial untuk Bunda Mungil," ucap Raka sambil memperlihatkan beberapa porsi Mie Bakso yang telah di kemas dengan cup transparans.


"Maafin aku ya kak, aku gak bisa nahan tangisan aku," lirih Shasha.


"Gapapa Sha, yaudah kamu makan ini ya takutnya nanti keburu dingin," seru Raka.


"Ya ampun kak, ini kenapa kamu beli banyak banget?" tanya Shasha kaget melihat beberapa porsi Mie Bakso yang di beli Raka.


"Aku tadi lupa nanyain selera kamu, jadi udah aku beli banyak tiap porsi beda isian nya," jelas Raka.


"Aku pilihin Sha, kamu suka yang mana? yang ini campur, ini tanpa sayur, ini tanpa mie, ini toge bihun, dan yang ini baksonya doang," jelas Raka detail.


Mendengar penjelasan Raka Shasha tersenyum kembali, karena karakter Raka yang apa adanya dan humoris tak heran Shasha selalu di buat tersenyum bahkan tertawa.


"Emm ... aku mau yang ini deh kak," ucap Shasha lalu menunjuk porsi yang hanya baksonya saja.


"Oke siap, aku suapin, a .... " ucapnya sambil membuka mulut lebar.


"Enggak kak aku bisa sendiri," ujar Shasha.


"Gak boleh gitu, Ibu hamil emang harus di manjain, kamu gak usah malu malu sama aku Sha jangan sungkan, oke?" ucap Raka lalu menghadapkan telapak tangannya kepada Shasha.


Dengan karakter Raka yang seperti itu Shasha tak merasa sungkan, bahkan ia merasa seperti mempunyai teman baru padahal mereka sudah kenal cukup lama, hanya saja lagi lagi Shasha hanya menganggap Raka teman cintanya hanya untuk Vano seorang.


"Iya deh iya," ucap Shasha lalu balas menepukkan telapak tangannya.


"Nah gitu dong," sautnya.


"a ... em ... enak kan?" tanya Raka penasaran setelah Shasha menyantap sesuap Bakso tersebut.


"Enak kak, rasanya masih sama," ungkap Shasha.


"Cuma .... " lanjutnya tapi terjeda lama.


"Cuma apa? ada yang kurang Sha?" tanya Raka.


"Kurang pedes, hehe," jawab Shasha tertawa.


"Aku kan sengaja Sha, ibu hamil gak boleh makan pedes!" tegas Raka.


Shasha pun cemberut tapi tak lama ia memakan baksonya kembali.


"Udah kamu makan ini, kita langsung ya beli oleh oleh buat bibi sama paman kamu. Nanti setelah itu kita langsung berangkat ke Surabaya, pasti kita sampe agak maleman di sana," jelas Raka.


Shasha pun mengangguk.


Setelah beberapa jam di perjalanan mereka pun sampai di Surabaya tepat pada malam hari.


"Aku masih ingat, di depan sana udah gak bisa pake mobil kan Sha?" tanya Raka memastikan.


"Iya Kak," jawab Shasha singkat karena sudah sangat mengantuk.


Mereka pun turun dari mobil.


"Sha kamu kaya lelah gitu, kamu gapapa kan?" tanya Raka khawatir.


"Enggak Kak aku cuma ngantuk aja," jawab Shasha apa adanya.


"Yaudah kalau gitu kamu aku gendong sampe rumah paman kamu," saut Raka.


"Ih nggak mau kak lagian jauh banget, aku juga kan bawa koper," ucapnya.


"Aku cuma gak tega Sha, aku bukan mau nyari nyari kesempatan dalam kesempitan," ucap Raka menjelaskan.


"Koper kamu pasti aman kok di mobil aku," lanjutnya.


Shasha pun berpikir sejenak lalu melihat jalan yang gelap dan terjal.


"Yaudah deh kak, kalau kamu gak keberatan," sautnya.

__ADS_1


"Oke Bunda Mungil," ucap Raka kemudian jongkok membelakangi Shasha.


Shasha naik ke punggung Raka, lalu mereka pun berjalan menyusuri jalan kecil yang gelap dan berliku.


...****************...


...Kantor Vano...


Seharian full menjalani sidang perdana sebagai pihak yang tergugat membuat Vano dan Gio tak pulang ke rumah masing masing justru ia semakin ekstra sibuk di kantor mencari bukti dan saksi untuk pembelaan mereka.


Kini Vano berada di ruangannya menunggu Gio yang sedang membeli makanan.


Sambil menunggu Gio kembali, Vano melihat galeri foto di handphonenya ia tak henti hentinya memandang foto bersama Shasha.


"Sha, Saya ingat ini adalah foto pertama kita terlihat sangat indah Sha walaupun hanya bayangan saja," gumamnya berbicara sendiri.


"Sekarang di foto ini kamu terlihat jelas Sha, kamu cantik Sha, kita berdampingan seperti ini menambah kejelasan kalau kamu sangat mungil Sha, justru itu salah satu yang aku suka dari kamu," ungkapnya ketika melihat Foto bersama mereka di Rumah Vano saat itu Shasha masih berpura pura menjadi Vira.


"Sha maafkan saya, sepertinya kamu memang sudah pulang ke Indonesia apa itu artinya kamu sudah membatalkan pertunanganmu dengan Dr Derryl," tanyanya sendiri.


"Sha maafkan saya juga belum bisa menemui kamu, saya harap masalah ini cepat selesai dan saya bisa bertemu dengan kamu kembali," gumam Vano penuh harap.


Tak lama setelah itu Gio masuk ke ruangan Vano dengan membawa sekantong makanan.


Merekapun makan dengan santai, setelah itu mereka berusaha melanjutkan aktivitasnya untuk mencari petunjuk dan bukti yang konkret.


"Gio kali ini saya yang akan turun tangan langsung nyari berkas yang berkaitan dengan gugatan mereka, kita di jalan kebenaran kita pasti memenangkan gugatan ini bagaimanapun caranya," ucap Vano.


"Baik Pak saya akan bantu bapak," saut Gio.


"Makasih Gio, kalau gitu ayo kita mulai cari!" perintah Vano.


Vano tak mudah menyerah walaupun dirinya sangat lelah tapi ia terus berusaha mencari bukti.


...****************...


...Singapura...


...Ruang Rawat Prasetya...


Dengan penanganan yang maksimal dari pihak Rumah Sakit, Prasetya pun berangsur membaik bahkan hari ini ia sudah siuman dan bisa di kunjungi keluarganya.


Monicca sudah standby di Ruangan Prasetya dan tentu sesekali di temani Nara, jika kebetulan pekerjaannya tidak terlalu padat.


"Syukurlah Pah, Papa udah siuman, mama udah khawatir banget takut Papa kenapa kenapa kenapa," ungkap Monicca pada Prasetya yang berbaring tak berdaya.


"Iya Pak, Nara juga seneng liat om udah membaik, om jangan banyak pikiran ya," saut Nara.


"Itu udah kewajiban mama pah,"


"Ngomong ngomong gimana Vano ma?" tanya Prasetya khawatir.


"Tadi mamah telpon Gio, mamah suruh Gio bilang sama Vano supaya dia Fokus ngurus masalah di Indonesia, jangan sampai dia banyak pikiran soal kondisi papa," jelas Monicca.


"Kata Gio hari tadi adalah sidang perdana mereka," lanjutnya.


"Papa harap mereka cepat nyelesain masalah ini dengan baik mah," ucap Prasetya.


"Iya Pah mamah harap juga begitu," saut monicca.


"Mah, kondisi papa naik turun papa takut gak sempat liat Vano nikah," celoteh Prasetya.


"Ra kamu sekarang udah jadi tunangan Vano, kalian nunggu apalagi, setelah saya bisa pulang dan Vano telah menyelesaikan masalahnya jangan lama lama lagi kalian nikah aja," ungkapnya.


Nara tersenyum bahagia mendengar perkataan Prasetya tersebut.


"Iya pa, kalau itu yang terbaik dengan senang hati aku mau menikah sama kak Vano secepatnya," jawabnya sambil tersenyum bahagia.


"Jika aku menikah dengan kak Vano mungkin dia sama Shasha gak akan saling berhubungan lagi", gumamnya dalam hati.


"Iya Ra, nanti kita atur tanggal tepatnya kapan," saut monicca.


"Makasih Mah Pah," ucapnya masih dengan senyum bahagia.


...****************...


...Rumah Dr Derryl...


Hari pertama tanpa ada Shasha bagi mereka terasa menyedihkan, makan bersama yang biasanya di iringi dengan tawa dan canda seketika sepi.


"Shasha lagi apa ya sekarang?" tanya Dr Becca berkaca kaca.


Dr Derryl melamun membayangkan Shasha yang mungil itu berjalan ke arahnya, namun bayangan itu seketika buyar kembali oleh kenyataan.


"Sha, benar kata mamah, kini aku bertanya tanya lagi apa kamu sekarang Sha? apa kamu baik baik aja? aku harap kamu baik baik aja. Sha, melupakan kamu tak semudah yang aku kira entah butuh berapa lama aku bisa benar benar melupakan kamu, aku sama sekali gak berharap cinta ini hilang Sha tapi aku hanya berharap aku semakin terbiasa menjalani cinta dalam diam ku pada kamu, " lirih Dr Derryl dalam hati.


"Udah mah jangan sedih lagi, semoga suatu saat jika memang ada kesempatan itu kita bisa ketemu lagi sama Shasha mah," ucap Dr Derryl berusaha menegarkan mamanya.


"Ryl, kamu masih pake cincin pertunangan kalian?" tanya Monicca setelah melihat cincin yang masih menghiasi jari manis anaknya itu.


"Iya mah, cincin ini yang mengingatkan aku pada momen paling membahagiakan momen dimana Shasha menerima lamaran aku, meskipun aku tau mah hal itu udah gak mungkin terjadi lagi, tapi untuk mengenang Shasha aku gak akan pernah melepaskan cincin ini," jawabnya panjang lebar.

__ADS_1


"Nak, sabar ya sayang," ucap Monicca terisak.


"Gapapa mah," jawab Dr Derryl sambil tersenyum.


"Sebelum pergi Shasha sempat mengembalikan cincin dan kalung itu sama aku mah, tapi diam diam aku nyimpen itu di koper Shasha," lanjutnya.


"Sha, sepertinya aku emang sangat merindukan kamu," lirihnya dalam hati.


...****************...


...Surabaya...


Berjalan sekitar lima belas menit Raka yang menggendong Shasha pun akhirnya tiba di depan Rumah Imas dan Wanto.


"Lama kelamaan nih nona mungil berat juga, ampun dah," gumam Raka dalam hati.


"Sha, aku turunin kamu ya," ucap Raka dengan suaranya yang sedikit tertekan.


"Iya Kak, maafin aku ya Kak Raka pasti pegel banget kan," ucap Shasha khawatir.


"Engga kok Sha," ucapnya berbohong.


"Cuman nih dengkul udah mau copot, Sha," gumam Raka kembali dalam hati.


"Yaudah kamu ketok dulu Sha pintunya," Raka pun menyarankan Shasha.


Shasha mengangguk lalu mengetuk pintu tersebut.


"Aku kira aku gak akan bisa kembali lagi ke rumah ini, rumah dimana aku melewati masa anak anak hingga aku dewasa, paman bibi sama datang lagi semoga kalian gak kecewa sama Shasha," gumam Shasha panjang dalam hati.


Tok.. tok.. tok..


Shasha pun mengetuk pintu beberapa lama kemudian bi Imas keluar dari rumah tersebut.


Ia sama sekali tak mengapa Shasha, jika bukan karena pamanya yang sangat ingin menemui Shasha sepertinya Imas tak Sudi memohon pada Shasha lewat surat yang ia kirimkan ketika di Singapura.


"Bi," panggil Shasha lirih.


tanpa berkata apapun bi Imas langsung pergi ke dalam dan hanya membukukan Shasha dan Raka pintu.


"Sha, maafin aku ya," ucap Raka tiba tiba.


"Gapapa Kak, yang sudah terjadi gak bisa di ubah kembali, aku udah maafin Kak Raka kok," ucapnya pelan.


"Sha, biar aku yang ngomong ke bibi sama paman kamu ya, aku siap Sha menerima segala bentuk kemarahan mereka aku emang pantes dapetin itu," ungkap Rama tulus.


"Kamu tenang Kak, kita ngomong berdua," ucap Shasha.


"Ayo kita masuk aja," ajaknya.


Mereka pun masuk kedalam tapi tak terlihat adanya Wanto disana, Shasha berinisiatif masuk ke kamar pamannya dan ternyata benar Wanto sedang berbaring di tempat tidur.


"Paman .... " ucap Shasha lirih.


Mendengar suara Shasha memanggil dirinya, Wanto pun berusaha duduk perlahan.


"Uhuk uhuk, Ya ampun Shasha akhirnya kamu pulang nak, sini nak sini," ucap Wanto lirih.


Tak berkata apapun Shasha dan Raka bersujud pada Wanto, meminta maaf dengan tulus.


"Paman maafin Shasha, Shasha pergi tiba tiba, Shasha gak nyangka karena kepergian Shasha kalian jadi susah apalagi sekarang paman jadi sakit gara gara Shasha," ungkap Shasha dengan derian air mata.


"Gapapa nak, kamu jangan banyak pikiran yang penting kamu sekarang udah pulang dan kembali sama kita, paman juga udah mendingan kamu gak usah khawatir Sha," jawabnya.


"Udah udah kalian bangun jangan kaya gitu," perintah Wanto.


"Ini Raka temennya Shasha yang pernah kesini kan?" tanya Wanto memastikan.


"Iya om, om sayang mohon jangan marahi Shasha ini semua salah saya, kepergian Shasha keluar Negri juga karena saya. Maaf om saya menghamili Shasha," ucap Raka dengan nada bergetar.


"Kak," saut Shasha kemudian mencubit betis Raka.


Mendengar hal itu Wanto sontak kaget dan tak menyangka, untuk memastikan hal tersebut ia pun menanyakan hal itu pada Shasha.


"Sha, apa benar yang di katakan?" Shasha pun mengangguk tak berani berbicara kembali.


Pamannya terdiam cukup lama, ia pun marah sekali pada Raka sampai berniat mengusir Raka.


"Paman, ini gak separah yang paman kira, ini karena kesalahpahaman, ini juga karena salah Shasha paman," saut Shasha.


"Maafin saya," ucap Raka tertunduk malu.


Shasha pun menceritakan semuanya kepada Wanto lama kelamaan ia mulai mengerti dan amarahnya mulai mereda, meskipun masih sangat kesal tapi melihat penyesalan dan ketulusan Raka Wanto pun tak memperpanjang itu.


"Raka saya maafkan kamu, asal kamu mau menuruti satu syarat dari saya," ucap Wanto.


"Sini kalian duduk di sebelah saya," lanjutnya.


Mereka pun duduk di tempat tidur Wanto tapi tak berani menatap Wanto sedikit pun, mereka terus menunduk merasa bersalah.


"Saya bisa memaafkan kamu Raka, asal kamu bawa orang tua kamu kesini dan nikahi Shasha secepatnya!" ujar Wanto tegas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2