Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 15- Serpihan Cinta


__ADS_3

...****************...


...Keesokan Harinya di Rumah Raka...


"Ka, Masih Tidur loh?", tanya vano


Beberapa menit yang lalu Vano datang ke rumah Raka, seharusnya ia pergi ke kantor karena ada meeting penting dengan klien tapi karena kejadian kemarin ia berencana mencari keberadaan Shasha sendiri, tentunya di bantu oleh Raka


Prioritas Vano dan Raka saat ini adalah menemukan Shasha, pekerjaan vano yang menumpuk, banyak jadwal meeting yang sudah terjadwal bahkan vano kesampingkan.


Berbeda dengan vano, bisnis Raka memang terbilang bisnis yang santai, ya Semenjak lulus kuliah beberapa tahun lalu ia langsung menekuni bisnis baru di bidang Game Online, tak heran keluarga nanya selalu menganggap Raka tak berguna karena merintis bisnis game online tak semudah itu, orang tua Raka selalu menganggap Raka tak memiliki pencapaian sama sekali.


"Ka, Lo tidur kaya orang mati gitu, bangun lo", lanjut vano yang kemudian menarik selimut yang Raka kenakan


"Emmmm... Hua.. aduh Van Van masih pagi kali", jawab Raka sambil menguap dan menarik kembali selimut


"Gu.. Gue.. mau Lo bantu gue cari Shasha, Lo mau kan ka", tanya vano


Seketika Raka langsung bangun dari tidur nya dan membuat vano kaget


"Gila lo, kadang gue heran deh sama lo, Lo kok bisa respect juga sama Shasha", tanya vano mulai heran, tindakan Raka dan kekhawatiran nya pada Shasha membuatnya bertanya tanya


"A.. Apa.. gue respect sama dia ya karena Lo Van, dia kan cewe yang Lo cintai", sangkal Raka


"Bukan karena Lo suka kan?", tanya vano penasaran


"Gila kali Lo, gak lah masa kue kaya pagar makan tanaman", jawab Raka bohong


"Gue gak mungkin bilang ke lo kalau gue emang suka sama dia Van", gumamnya dalam hati


"Apaan tu", tanya Raka setelah menoleh jinjingan kecil yang ada di tangan vano,


Bukannya menjawab vano malah menyembunyikan bingkisannya itu ke belakang badannya


"Kenapa sih loh Van, apaan tu, jangan bikin gue penasaran", tanya nya mendesak vano.


"Ni.. Ni.. Nih", jawab vano yang kemudian melemparkan bingkisan yang ia pegang tepat ke depan Raka.


"Wah Apaan nih, tumben Lo perhatian sama gue, ini makanan kan" tanya Raka penasaran.


"Bukan kali", jawab Raka singkat


"Wah wah wah, ngerasa bersalah Lo sama gue? sampI bawa obat ini", tanya Raka tersenyum


"Gak lah, gue gak niat kok, cuma ya tadi beli sekalian lewat aja", jawabnya mengeles


"Hahaha, thanks bro", ucap raka


Vano memang selalu dingin terhadap siapapun namun sebenarnya hati nya lembut, hangat dan bahkan perhatian


"Sekarang Lo mandi sana, gue gak mau nunggu lama", ucap vano


"Iya iya", jawab raka dengan nada nyeleneh nya


Untuk mengisi kebosanannya yang menunggu Raka mandi dan bersiap siap vano iseng dan ketagihan bermain game online yang di ciptakan dan di kembangkan Raka


"Haha, tuh kan gue bilang apa seru kan game gue", saut raka sambil mengelap ngelap rambut hitamnya dengan handuk


"Gue iseng aja", jawabnya datar


"Gue heran sama Lo ka, kurang apa lagi ni game kenapa Lo belum juga rilis", tanya vano penasaran


"Udah hampir 5 tahunan Lo, Lo nyiptain dan ngembangin game ini, tapi masih aja belum Lo luncurin, mungkin dari dulu Lo udah untung banyak, kalau Lo diemin terus nih game yang ada usaha Lo rugi ka, lanjutnya


"Lo gak akan ngerti Van, kata nyokap bokap gue bisnis game online itu gak akan untung yang ada buntung, persis banget manset lo kaya mereka, bisnis ini bukan soal waktu Van, beda kaya bisnis lo yang ber target itu, tapi bisnis ini soal kesempurnaan, kalau di rasa game ini udah sempurna dan bisa dinikmatin banyak orang itu baru awalnya Van, gue masih ngembangin vitur yang menurut gue kurang greget", jelas Raka panjang lebar


"Hmm.. iya iya gue ngerti", jawab vano singkat


...****************...

__ADS_1


...Beberapa saat kemudian...


Tok.. tok.. tok..


"Gio? Loh ko Lo bisa disini?", tanya Raka heran karena gio tiba tiba datang ke rumahnya


"Gue yang suruh dia datang, sini gio masuk", jawab vano


"Idih.. laganya kaya rumah sendiri", saut Raka becanda


"Gue baru kepikiran lagi Van, gimana cara kita nemuin shasha, kita bagi tugas kebetulan ada gio", ucap Raka


"Lo telat kali, Lo pikir gue nyuruh gio kesini buat iseng doang, gak kali", jawab vano


"Terus?", tanya Raka heran


"Jelasin gio, gimana hasil penelusuran kamu?", tanya vano


"Jadi gini pa, pertama saya cari info tentang orang yang bernama Shasha atau nama panjangnya Aisha Aileen Nathania itu di kampusnya, banyak yang tau dia karena dia salah satu mahasiswi berprestasi di sana, selain itu dia juga kerja part time sebagai writer di sebuah restoran tak jauh dari kampusnya, sedangkan dari latar belakang keluarganya dia seorang yatim piatu pak, mereka meninggal karena kecelakaan saat mba Shasha itu berumur satu tahun, sejak kecil sampai sebelum dia kuliah dia tinggal bersama paman dan bibinya di kampung mereka bekerja sebagai petani di sana", Jelas Gio Panjang Lebar


Sebelumnya vano memang sudah meminta gio untuk menyelidiki tentang shasha


"Terus ada yang tau keberadaan dia sekarang dimana?", tanya Raka


Gio hanya menggelengkan kepalanya


"Kamu dapetin alamat kampung halamannya?", tanya vano


"Ada pa, nanti alamatnya saya kirim ke handphone bapak",


"Oke baik, makasih gio, satu hal lagi kamu handle dulu semua kerjaan saya di kantor", ucap vano


"Baik pak", gio pun tak lama setelah itu meninggalkan rumah Raka


Setelah kepergian gio, mereka terdiam lama


"Gue gak nyangka, ternyata hidup dia seprihatin itu, tapi justru gue ngancurin hidup dia, dia pasti benci banget sama gue Van", ucap Raka


"Gak ada gunanya kita nyesel terus, yang ada kita kaya kemarin saling serang lagi", ucap Raka


"Ya udah kita coba dulu ke kampung halamannya siapa tau ada petunjuk", ucap vano


Mereka pun pergi bergegas dari ibukota ke kampung halaman Shasha yang jaraknya lumayan jauh


...****************...


...Luar Negri...


Shasha merasa bosan berdiam diri di kamar terus, ia sesekali membantu bi Desi masak di dapur


"Bi, bibi dari Indonesia juga kan?", tanya Shasha pada pembantu rumah itu


"Iya non, bibi sama kaya non kaya Ibu dan tuan dari indonesia, awalnya bibi gak ada niatan kerja sama mereka, bibi gak kenal sama mereka, cuma karena mereka nolongin bibi, bibi inisiatif buat kerja sama mereka, bibi gak berharap di gaji sama mereka, tapi luar biasa non kebaikan ibu sama tuan bibi malahan di kasih upah besar, belum lagi mereka memperlakukan bibi kaya keluarga nya sendiri non", jelas bi Desi


"Oh iya, non bibi penasaran mau nanya, tapi non jangan marah ya", tanya BI Desi membuat Shasha penasaran


"Kenapa bi?, ada apa?",


"Non itu sebenarnya pacar Tuan Derryl bukan?", tanya Desi penasaran


"Sut.. bi.. kenapa bibi tiba tiba nanya gitu, bukan bi sama seperti bibi aku juga di tolong sama mereka",


"Ah engga Non, bibi kok kayanya gak percaya ya",


"He, bibi ini aneh, gak mungkin lah aku pacarnya Dr Derryl", jawab Shasha


"Bibi tau tuan non, dia emang baik tapi ke non Shasha dia beda banget", ujar bi desa


"Beda Gimana bi?", tanya Shasha

__ADS_1


"Pokoknya beda non, non sih gak tau ini non jangan bilang lagi ke tuan ya, sebelum tuan berangkat kerja dia selalu aja bawel aja sama bibi, nyuruh bibi masakin non makanan yang bergizi lah, nyuruh bibi temenin non ngobrol lah, nyuruh ini itu karena non, dia perhatian banget sama non, kayanya dia suka sama non", jelasnya panjang lebar


"Bi.. bi.. kamu ini mulutnya emang gak bisa di jaga, he", guman Derryl tersenyum melihat kebiasaan bi Desi yang suka ngegosip, dari tadi berada di dekat pintu dapur, ia tak sengaja mendengar obrolan Shasha dan juga bi Desi


"Hust.. bi.. jangan bicara aneh aneh gitu, nanti kalau ibu atau Dr Derry dengar bisa bisa mereka salah paham", ucap Shasha


"Lagian bi gak mungkin Dr Derryl suka sama aku, aku ini wanita hina bi, dengan kebaikan mereka sama aku, aku udah sangat bersyukur, aku gak mau berfikir gitu apalagi terlalu serakah berharap seperti itu", lanjut Shasha


"Non jangan gitu, lagian non sama sekali gak hina, bapak ni anak non yang bejat mah sama tuh cowok yang non tempo hari ceritain itu, ", ucap bi Desi yang bisa mengontrol ucapannya itu


"Aduh ini si bibi kalau di biarin bisa bisa gak bisa di kontrol, yang ada Shasha bisa sedih lagi", gumam Derryl dalam hati


Seketika akan menghampiri mereka namun tiba tiba saja Shasha bicara


"Iya bi, mereka emang jahat, tapi aku juga sadar aku salah bi, aku bohongin mereka juga bi, seandainya dari awal aku bilang kalau aku bukan Vira mungkin kejadiannya gak akan seperti ini",


"Aku gak mau lagi menoleh ke belakang bi, hikss hikss hikss, aku harusnya sadar bi aku harusnya lupain kak vano padahal dia udah berbuat kejam sama aku, sulit bagi lupain dia bi, pokoknya aku harus kuat ya Bi, kesiapannya aku cuma berharap anak aku sehat dan kuat menerima kenyataan bahwa dia gak punya ayah seperti anak anak lain nantinya, aku justru gak boleh lemah kan bi, aku harus lebih kuat, suatu saat jika dia besar dia nanyain papa nya aku udah punya mental kuat juga kan untuk menjawab pertanyaan yang bagi aku menyakitkan mungkin", ucap nya lalu meneteskan air mata


"Non.. non.. maafin bibi jadi buat non sedih gini, bibi gak berniat kaya gitu non", ucap bi Desi merasa bersalah


"Gapapa bi, udah jangan di pikirin, kita lanjut aja masak nanti ibu sama Dr Derryl pulang kan sebentar lagi", ucap Shasha sambil mengelap air mata yang mengalir di pipinya.


"Maafin bibi ya non", ucap Bi Desi kemudian memeluk Shasha


"Gapapa bi, udah udah kita masak lagi aja", ucap Shasha.


Mereka pun menghentikan obrolan tentang kondisi Shasha itu, dan fokus memasak


"Sha, sha, gadis baik, pintar, cantik seperti kamu harus mengalami hal seperti itu, saya harap kamu bahagia kedepannya sha, kalaupun kamu khawatir anak mu gak akan punya ayah, aku siap sha jadi ayah yang baik untuk anak kamu",


"Alangkah baiknya kalau kamu bisa melupakan laki laki itu sha dan bisa buka hati kamu untuk pria lain, saya siap sha jadi pelangi setelah hujan melanda hidup kamu, lagian apa lagi yang saya cari sha di dunia ini, wanita cantik dan cerdas tak sulit untuk ditemui tapi wanita baik seperti kamu tak mungkin sangat langka sha, seandainya saya diberi kesempatan kamu gak akan saya sia siakan", Gumam Dr Derryl dalam hati


Semenjak menolong shasha, Dr Derryl terpikat dengan ketegaran dan kesabaran Shasha dan juga pilihannya yang luar biasa mengorbankan segalanya hanya untuk melahirkan anak dari laki laki yang sama sekali tak ia cintai.


...****************...


...Surabaya...


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka akhirnya sampai di alamat yang sebelumnya di kirimkan Gio


"Permisi pa, bapak kenal yang namanya Shasha? dia tinggal sama bibi dan pamannya", tanya vano pada seorang petani yang kebetulan berpapasan dengan nya di jalan


"Shasha?", petani ini berpikir sejenak seolah nama tersebut tak asing baginya


"Oh iya iya, ponakannya Wanto itu?", tanya petani itu


"Iya benar pa, bapak tau dimana rumahnya?", tanya Raka


"Tau itu mah, Wanto itu kan temen saya, kita biasanya sering ke sawah bareng, cuma kebetulan beberapa hari ini dia udah gak ke sawah kata istrinya dia sakit parah", jawab petani itu panjang lebar


"Sakit?", tanya Raka


"Iya semenjak mereka pulang dari ibukota, Wanto tiba tiba sakit parah, kata Imas ponakannya tiba tiba ngilang gak tau kemana, biasanya setau saya Shasha itu berbakti sama Wanto juga sama Imas, dulu ya dari kecil sampe dia SMA selalu bantuin mereka di sawah, makanya saya heran anak zaman sekarang kalau udah sukses di kota suka lupa diri, kasian kan paman sama bibinya yang udah ngurus dia bertahun tahun udah mau sukses aja ngilang",


Mendengar ucapan petani itu, vano dan Raka semakin merasa bersalah mereka berfikir kepergian Shasha itu pasti karena kejadian yang di alami Shasha, tapi mereka sama sekali gak mengira kalau Shasha sedang mengandung


"Kalau gitu rumahnya dimana pak", tanya vano


"Oh rumahnya, aduh maaf mas mas saya ini malah nyerocos aja ya, dari sini lurus aja ke depan sampe depan gak bisa di lewati mobil mas nya jalan kaki aja paling sekitar lima menitan sampe, ada rumah kecil yang ngadep sungai, nah di situ rumahnya, kalau gak ketemu tanyain lagi aja ke orang mereka pasti tau rumah wanto", jelasnya detail


"Ngomong ngomong mas nya ini dari mana, dari kota?", tanya petani tersebut


"Iya pak, kita ada perlu sama pak Wanto dan BI Imas, makasih pak kalau gitu kita permisi", ucap raka kemudian pergi menyusuri jalan untuk menemukan rumah Imas dan wanto, rumah dimana Shasha tinggal dulu


"Iya hati hati mas", ucap petani tersebut kemudian pergi


"Van, Lo yakin gak kita bisa nemuin informasi tentang dia", tanya Raka


"Kita coba cari tau dulu", jawab vano singkat

__ADS_1


"Sha, semoga perjalanan jauh saya sama Raka gak sia sia, saya tau sekarang kamu pasti membenci kita, saya harap kamu segera ditemukan", Guman vano dalam hati


Bersambung...


__ADS_2