
Semua orang di sana menatap koper milik Kanaya yang di geledah oleh El semuanya terkejut melihat kalung, gelang dan cincin yang keluar dari dalam koper Kanaya
"Ya ampun kok bisa ada begitu banyak perhiasan di dalam kopernya " bisik keluarga Sebastian lainnya
"Iya benar padahal kan dia baru sebulan disini gak mungkin dia beli sebanyak itu" sindirnya
El tersenyum setelah melihat perhiasan yang ada di dalam koper Kanaya ibu tirinya
Aryo melihat semua itu terkejut bukan main dia tak pernah membelikan Kanaya perhiasan sebanyak itu ia melihat ke arah istrinya bertanya-tanya
"Lihat ada begitu banyak perhiasan yang ada di dalam koper ini, apa mungkin anda yang membelikan untuk istri tercinta" sindir El memegangi perhiasan tersebut
Nesya melihat hal tersebut langsung keluar dari mobil melihat beberapa perhiasan
"Ini kan kalung gelang milik mama dan aku El saat papa berikan 3 bulan yang lalu cincin berlian ini pun milik mending nenek" seru Nesya
"Mas aku gak ngambil itu semua kamu tau kan aku bahkan tidak disukai sama mereka pasti ada seseorang yang memasukkan itu kedalam koper milik aku mas" tutur Kanaya menyedihkan
Aryo mengelus tangan istrinya mencoba menenangkan
"Kamu dengar sendiri kan El dia tidak mencoba mengambilnya ini hanya fitnah dari seseorang" terang Aryo membela istrinya
"Untung mas Aryo percaya sama aku kalau gak aku bakal dilaporkan ke polisi dan masuk penjara ih gak mau" batin Kanaya
"Anda ternyata masih peduli dengannya bahkan omongannya langsung anda percaya takutnya dia bakal menjadi seorang yang akan merenggut kebahagiaan anda nantinya" tutur El
Nesya mengambil semua perhiasan didalam koper milik Kanaya dan memasukkannya baju itu kembali dengan berserakan atas perintah adiknya
El menendang koper tersebut kearah Kanaya dengan keras hingga membentur kaki Kanaya
"Kamu" tunjuk Aryo ingin memarahi kembali namun Cika menarik tangan ayahnya berusaha mengajak untuk pergi
"Oh ya saya cuma mau bilang jangan menambah gelar udahlah pelakor ditambah lagi pencuri gak etis rasanya" sindir El kepada Kanaya yang memasukkan bajunya ke dalam koper
"Udah ayok mas aku udah gak tahan dibentak disini" ajak Kanaya
Mereka bertiga pun meninggalkan rumah dengan hati yang bercampur aduk Kanaya memikirkan bagaimana ia akan hidup setelah ini dia berusaha mencuri perhiasan Agar hidupnya tidak melarat
Namun malah di ketahui oleh putra suaminya sedangkan Aryo merasa sedih meninggalkan rumah tempat ia dan keluarganya dulu mulai merintis kebahagian tapi sekarang ia memilih keluarga barunya
Setelah kepergian mereka Nesya memberikan kalung itu kepada mamanya
"Ma maafin El yang bertindak gegabah seperti ini" ucap El merasa bersalah
"Gak kok sayang mama tau kamu mau yang terbaik buat mama dan Kakak kamu" tutur Lidia memegang tangan putranya
"Apa mama gak sedih di talak sama papa ? tanya Nesya
__ADS_1
"Lebih menyakitkan lagi dulu nak mama di selingkuhi dengan wanita lain sampai-sampai wanita itu hamil dan sekarang mama udah ikhlas" terang Lidia
Keduanya menghambur memeluk mamanya dan keluarga lainnya menangis mendengar ucapan Lidia begitu juga dengan Danu
"Ternyata dibalik cueknya El dia memikul banyak sekali tanggung jawab terhadap Kakak dan mamanya sakit gue El gue kira cuma hidup gue yang sulit" batin Danu terharu
"Ma kita pulang ke rumah El aja ya supaya mama dan kakak bisa melupakan dulu kejadian ini" seru El
"Benar yang dikatakan El mbak, lebih baik mbak ikut El pulang ke kediamannya" tutur Tante El
"Apa mama gak ngerepotin kamu sayang ? tanya Lidia
"Iya gak lah ma mana mungkin El malah senang mama dan kakak mau tinggal bareng El" timpal El sembari tersenyum
Mereka pun berpamitan kepada anggota keluarga Sebastian yang lain menaiki mobil sport milik El dan di kendarai oleh Danu
Danu mencoba menelpon Bi Sri untuk membersihkan kamar tidur Yang akan digunakan mama dan kakaknya
"Halo bi tolong bersihkan kamar lain ya mama dan kakak saya akan nginap di sana" tutur El
"Baik tuan akan saya bereskan" jawab bi Sri
El menutup telpon secara sepihak melihat kearah belakang menatap wajah mamanya yang teduh
Sampai di halaman rumah ia membuka pintu mobil bagian belakang memegang tangan mamanya membawa masuk ke dalam rumah
"Ayo ma kita masuk di luar udara sangat dingin takut mama masuk angin" ajak El sembari menggandeng Lidia
"Iya makasih" ucap Nesya turun dari mobil mengikuti langkah El
"Ternyata rumah kamu sangat besar ya sayang mama kira kamu gak bakal sesukses ini tanpa uang dari keluarga kita" keluh Lidia
"Udah ma jangan dipikirin lagi aku kerja keras ini demi mama dan kakak apabila keluarga kakek udah gak sanggup buat nampung kita aku sudah bisa menjadi tulang punggung untuk mama dan kakak" terang El
"Kalau ini sih bukan rumah lagi udah kayak istana" timpal Nesya menghampiri mereka di sofa
Bi Sri menuruni anak tangga melihat tuannya sudah pulang ia pun bergegas menghampiri
"Nyonya dan non Nesya kamarnya sudah saya siapkan mari saya antar untuk beristirahat" ajak bi Sri
"Baik bi terima kasih" Nesya membawa mamanya untuk pergi beristirahat
"Mama istirahat dulu ya sayang" pamit Lidia
"Iya ma" jawab El singkat sembari tersenyum
Mm melisa mencoba melepaskan tangan seorang pria dari mulutnya yang disekap namun tenaga Melisa
__ADS_1
kalah kuat ia akhirnya menyerah tak melawan
Sang pria sampai di sumber suara ia tak melihat siapa pun di sana dan berpikir mungkin mereka salah mendengar
"Apa ada orang ? tanya sang wanita takut
"Gak ada kok mungkin kita yang salah dengar" tutur sang pria
Mereka pun keluar dari rumah kosong menguncinya dengan gembok yang semula mereka buka
Seorang pria yang membekap Melisa melepaskan tangannya membuat Melisa mencoba menendang sang pria namun dapat dia hindari
"Tenang lah saya bukan orang jahat" tegasnya
"Kamu siapa kok bisa berada disini ? tanya Melisa
"Aku seorang Intel yang terus mengawasi mereka dari kejauhan untungnya aku melihat kamu jadi aku tidak ketinggalan jejak mereka" terangnya
"Ooo ya ampun maaf ya mas saya hampir saja melukaimu karena takut" jelas Melisa
"Gak apa apa saya Jerry nama kamu siapa ? tanya Jerry
"Saya Melisa mas" jawab Melisa singkat
"Ayo kita harus keluar dari sini sebelum mereka kembali lagi dan membawa anggota yang lain" ajak Jerry
Melisa mengikuti Jerry dari belakang melewati pintu belakang yang telah di buka secara paksa oleh Jerry sebelumnya
"Sekarang kamu bisa pulang udah aman kok" seru Jerry
"Baik mas tapi saya boleh tanya gak mas mereka mendapatkan berlian itu dari mana ya ? tanya Melisa
"Kamu gak boleh mengetahui itu takutnya mereka akan mengincar kamu karena mereka merupakan pasukan khusus perampok handal" terang Jerry
"Yaudah deh mas kalau gitu saya permisi" pamit Melisa berjalan menuju ke warung tempat mereka makan tadi
"Kok bisa ya ada gadis berani seperti dia mengikuti para perampok itu padahal di rumah itu gelap dan sunyi" batin Jerry berlalu pergi
Henry sudah berkeliling di rumah kosong dia tak menemukan jejak Melisa ia pun lantas kembali dan melihat Melisa
"Ya ampun Mel lu lari kemana sih kok cepat banget hilang nya" napas tak beraturan
"Aku tadi liat orang yang aku kenal terus aku kejar tapi pas dilihat dekat bukan dia rupanya hehehe" senyum Melisa
"Tapi lain kali lu harus bilang dong sama kami kalau mau pergi kami takut lu kenapa-kenapa" seru Henry
"Iya deh besok besok gue pasti bilang dulu ok" jawab Melisa mengangkat jempolnya
__ADS_1
"Yaudah ayok ke sana Siska lagi nungguin kita pasti dia sedang khawatir" jelas Henry
Bersambung ......