
Melisa diantar rangga ketempat kerjanya dengan menggunakan sepeda motornya
Tiba di supermarket Melisa mengucapkan terima kasih dan Rangga pun berlalu pergi meninggalkannya
Di dalam supermarket terlihat Henry tengah menyusun barang-barang yang baru masuk berdasarkan letak yang sesuai dengan sebelumnya
"Hei hen" sapa Melisa menghampiri
"Eh iya Mel lu naik apa kesini ? melihat Melisa sebentar melanjutkan kerjaannya
"Di antar teman" tutur Melisa menaruh tasnya di bawah kasir
"Oh gitu yaudah kamu catat belanjaan hari ini ya, semuanya dah aku letakkan disitu" tunjuk Henry
"Baik hen" segera memulai pekerjaannya
Selang beberapa waktu Melisa tengah sibuk menghitung perbelanjaan pemilik supermarket datang menghampiri Melisa
"Loh ibu kok kesini ? tanya Melisa heran
"Dimana Henry ? tanyanya balik
"Dia ada di gudang Bu menyimpan beberapa barang untuk stok" jelas Melisa
"Ooo yaudah kamu panggil dia kesini ya" pintanya
"Baik bu" berjalan menuju gudang untuk menghampiri Henry
"Hen lu dimana ? panggil melisa
"Disini mel, ada apa ? Henry keluar dari dalam gudang
"Ibu pemilik supermarket ingin menemui kita berdua jadi ayo segera ke sana takut ibu itu harus menunggu lama" terang Melisa
"Yaudah ayo nanti aku lanjutkan lagi nyusun stoknya" timpal Henry
Tepat di depan kasir wanita pemilik supermarket sudah menunggu kehadiran keduanya
"Apa kabar ibu ? sapa Henry
"Alhamdulillah saya baik" jawabnya
"Ada apa ya Bu manggil kita ? tanya Henry
"Begini saya perlu berbicara serius dengan kalian berdua tentang supermarket ini tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang pas untuk bicara jadi saya harap kalian bisa datang jam 8 malam nanti ke rumah" pintanya
"Baik bu" jawab mereka serentak
"Coba aja dulu aku mendengarkan kata mas Romi mungkin supermarket ini bakal terus beroperasi seperti biasa" batinnya
__ADS_1
"Yaudah kalau begitu saya pamit dulu kalian lanjut kembali kerjanya" pamitnya berlalu pergi
"Hen kayaknya supermarket ini bakal dijual deh atau mungkin di beli sama orang lain" seru Melisa
"Hah maksud lu apa Mel ? dijual ? gak mungkin lah lu kan tau pemilik supermarket ini kan orang kaya raya" tutur Henry
"Tapi aku dengar jelas suara hatinya mengatakan kalau supermarket ini gak akan beroperasi lagi" jelas Melisa
"Lah jadi Mel kita bakal di PHK dong kalau supermarket ini gak jalan lagi sama aja dong kita harus cari kerja yang baru" timpal Henry
"Iya tapi yang jelas kita datang dulu kerumahnya untuk memastikan apakah benar yang aku dengar tadi" seru Melisa
Mereka pun bergegas kembali ke pekerjaan masing-masing hingga jam telah menunjukkan pukul 5 sore
Henry dan Melisa menghitung hasil penjualan hari ini beserta mencatatnya di buku
Setelah selesai mereka menutup pintu supermarket dan menuju ke parkiran
"Lu mau pulang bareng gue gak Mel ? tanya Henry
"Boleh tapi singgah di cafe dulu ya soalnya aku mau izin hari ini biar bisa pergi ke rumah pemilik supermarket" seru Melisa
"Iya boleh"
Tiba di cafe Melisa berjalan menuju kedalam cafe mencari Siska ingin meminta izin untuk hari ini
"Siska" panggil Melisa
"Aku izin hari ini ya ada hal yang mau diurus" seru Melisa
"Apaan ? tanya Siska melihat ke arah Melisa
"Ada deh kepo banget sih jadi orang, dah ya aku pergi dulu" pamit Melisa berlalu meninggalkan Siska
Siska menggelengkan kepalanya melihat tingkah Melisa yang kadang-kadang seperti anak-anak
Tepat jam 8 malam Henry dan Melisa telah sampai di halaman rumah sang pemilik supermarket mereka langsung mengetok pintu rumahnya
Tok tok tok
"Assalamualaikum" ucap Henry
"Waalaikumsalam, ayo masuk masuk" jawab salah seorang art yang bekerja di sana
"Iya makasih bi" jawab mereka berdua
"Silahkan duduk di sofa sana nyonya sudah menunggu dari tadi" tunjuk art
"Iya bi" berjalan menuju ke sofa yang ditunjuk
__ADS_1
"Kalian sudah datang, ayo duduk" pintanya
Mereka pun duduk bersebrangan dengan wanita tersebut sembari tersenyum
"Saya gak akan lama kok berbicara dengan kalian, ini ada 2 buah amplop untuk kalian berdua sebagai pesangon" menyodorkan amplop
"Tapi apa maksudnya ya ibu memberikan kami pesangon ? tanya Henry menatap heran
"Maaf ya saya gak bisa lagi memperkerjakan kalian karena supermarket tersebut sudah berpindah tangan ke orang lain jadi mau tak mau saya harus memecat kalian sekarang" jelasnya
"Jadi supermarket itu bukan milik ibu lagi ? tanya Melisa
"Benar nak sebenarnya ibu senang kalian berdua bekerja di sana karena kalian sangat bisa diandalkan tapi mau bagaimana lagi supermarket itu telah ibu jual karena hutang piutang mendiang suami saya" terangnya
Mereka berdua memberikan kunci serta buku catatan pendataan penjualan supermarket dan berlalu untuk pamit pulang
Di perjalanan mereka tidak mengeluarkan suara sedikitpun mereka malah melamun mengingat pembicaraan tadi
Drikk drikk
"Halo mas Romi ada apa ? tanyanya di balik telfon
"Bagaimana kondisi kamu sekarang ? tanya Romi balik
"Keadaanku baik-baik aja kok mas, apa ada hal lain yang mau mas bicarakan" serunya
"Mau bicara apa lagi nasi udah jadi bubur semua yang terjadi gak bisa kita rubah kembali yang jelas sekarang kamu harus sabar menghadapi ini semua jangan sampai kamu malah menjual rumah kamu demi bayar hutang" tutur Romi
"Kalau aku gak jual rumah ini mas, gimana aku bisa membayar hutang sebanyak itu" jelasnya
"Kamu tenang aja aku akan berusaha bantu kamu menyelesaikan hutang piutang yang ditinggalkan suamimu" seru Romi
"Makasih ya mas aku gak tau gimana cara membalas kebaikanmu ini" tuturnya iba mengeluarkan air matanya
"Gak perlu begitu udah seharusnya aku sebagai kakak kandungmu membantu saat kamu lagi kesusahan" terang Romi
Ia menangis tersedu-sedu dibalik telfon dia berusaha kuat selama sebulan ini menahan tangis agar tak dilihat anak-anaknya tapi mendengar perkataan kakaknya ia menumpahkan semua kesedihannya
"Udah kamu jangan nangis kek gitu malu tau udah umur berapa masih seperti anak-anak" ejek Romi menghibur sembari mengusap air matanya yang jatuh saat mendengar tangis sang adik
"Iya mas" ia pun mengusap air matanya berusaha tenang kembali mengingat ia harus kuat menjalani ini semua
"Yaudah mas tutup telfon ya, ingat jangan nangis dipojokan lagi kalau ada yang pengen kamu obrolin sama mas langsung telfon aja" terang romi
"Iya mas Romi makasih banyak" menutup ponsel dan meletakkannya di atas meja
"Aku benar-benar gak kuat harus hidup dalam keadaan saat ini hutang yang menumpuk dan dalam keadaan masih berduka" batinnya menangis kembali memegang kedua lututnya
"Ternyata benar kata orang hidup ini berputar dulu aku adalah orang yang kaya dan mapan tapi sekarang bahkan harta yang tersisa harus aku relakan untuk membayar hutang suamiku" serunya
__ADS_1
Bersambung ......