Gadis Spesial Pembawa Takdir

Gadis Spesial Pembawa Takdir
Bab 6 Rumah Sakit


__ADS_3

Melihat Melisa tengah bersusah payah untuk berjalan El mencoba menggendong tubuh Melisa dengan gaya ala bridal style


"El turunin aku sekarang juga" titah Melisa berontak


"Jika kamu tetap berjalan seperti itu sampai kapan kita akan berada disini" timpal El


Mira dan Siska melihat El seperti pangeran berkuda yang tengah menyelamatkan sang Puteri dari bahaya


"Udah Mel, lebih baik kamu di gendong biar cepat sampai ke mobil" jelas Siska


Siska mengunci pintu cafe lalu berjalan menyusul Melisa dan El yang tengah berjalan menuju mobil


Mira membuka pintu mobil di samping supir untuk Melisa yang tengah berada di gendongan El


"Makasih" ucap El


Dia pun mengangguk dan merogoh ponselnya mencoba menelpon seseorang di ponsel miliknya


"Kalian berdua pulang naik apa ? tanya El


"Aku bakal pesan taksi untuk pulang terus kamu sis ? tanya Mira


"Ngikut kamu aja" timpal siska


"Gak usah pesan taksi biar saya aja yang ngantar kalian pulang" ajak El


"Apa gak merepotkan ? tanya Mira


"Iya gak lah, yaudah masuk lah ke dalam" pinta El sembari berjalan memutari mobil menuju kursi pengemudi


Kedua sahabatnya pun masuk ke dalam mobil di bagian Penumpang memasang Setbelt


El menghidupkan mesin mobil dan menyetel musik agar tak terasa sunyi di dalam mobil dan ia melihat Melisa sekilas yang tengah menahan sakit di lengan kirinya


"Alamatnya dimana ? tanya El


"Saya di jalan nangka perumahan ke dua" jawab mira segera


El melajukan mobil Alphard nya dengan kecepatan sedang menuju jalan nangka


"Makasih ya sekali lagi sudah mau bantu kami juga mau nganterin" ucap Mira


"Iya gak masalah kok, kamu liat kan temanmu aja tau berterima kasih sedangkan kamu malah gak ada rasa terima kasih sedikit pun" sindir El


"Kalau niatnya bantuin itu ikhlas gak perlu di ungkit dan juga minta ucapan terima kasih" jawab Melisa mendengus kesal


"Hahaha" tawa El menatap Melisa

__ADS_1


"Aneh" ucap Melisa heran melihat El yang tertawa


Melihat keduanya Mira dan siswa hanya saling pandang dan mengangkat bahunya


Setelah sampai di jalan nangka Mira berpamitan dengan Melisa dan Siska melambaikan tangannya


"Mel sepertinya luka mu semakin banyak mengeluarkan darah" melihat lebih dekat


"Gak masalah kok sis" senyum Melisa


"Kamu Siska kan ? apa mau ikut kami ke rumah sakit atau mau di antar pulang langsung ? tanya El membuat pilihan


"Anterin dia pulang aja, pasti dia capek seharian kerja" timpal melisa


"Aku ikut aja Mel, biar aku gak khawatir sama kamu apa lagi lukamu ini sangat parah" seru Siska


"Kamu jangan khawatir ya dia akan baik baik saja bersamaku" jelas El


"Baiklah kalau begitu kamu jaga dia baik-baik ya, Mel ingat kalau ada apa apa telpon aku ok" pinta Siska sembari turun dari mobil


Melisa mengangguk dengan senyum yang terpaksa berusaha memperlihatkan ia sedang baik-baik saja


El melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit membuka pintu samping mengendong kembali Melisa yang sudah pingsan


Mencoba berlari menuju ruang pemeriksaan di ruangan dokter kenalannya dia sangat khawatir dengan kondisi Melisa yang pingsan bibirnya pucat pasi dan tubuhnya mulai berkeringat dingin


Dokter Danu memeriksa detak jantung membersihkan luka ditangan Melisa di bantu para suster menjahit lukanya


"Tumben lu sampai khawatir segitunya sama seorang gadis" seru Danu sembari membalut luka melisa


"Dia calon istri gue, jadi dia gak boleh kenapa-kenapa" timpal El


"Apa maksud lu El ? calon istri ? tanya Danu terkejut


"Iya" jawab El tanpa merubah ekspresinya


"Lu jangan bercanda deh El, hahaha" tawa Danu


"Gue serius, ingin dia jadi istri gue supaya bisa terus melindungi dia" terang El


Hukk hukk hukk suara batuk Danu kaget mendengar penuturan sahabatnya yang kedengarannya hal gila seorang El ingin menikah


Dia gak semudah itu percaya seorang yang pernah gagal dalam percintaan menutup diri dari semua wanita yang ingin mendekatinya bagaimana bisa tiba-tiba ingin menikah


Danu menyuruh para suster keluar dari ruangannya karena ia ingin berbicara hal penting dengan sahabatnya


"Lu jangan konyol deh El, gue kenal lu udah dari zaman kita masih ingusan mana mungkin ada kata menikah yang bakal keluar dari mulut lu" jelas Danu melepaskan sarung tangannya duduk di kursi miliknya

__ADS_1


"Gue gak tau kenapa Danu semenjak kejadian kecelakaan satu bulan yang lalu, membuat gue ngerasa ada sesuatu yang baru tumbuh dalam hati gue saat ini" terang El


"Lu jatuh cinta sama gadis itu ? tanya Danu


"Gue gak tau perasaan ini apakah benar jatuh cinta atau hanya sekedar tanggung jawab" timpal El


"Terus gimana soal orang tua lu, kalau tau lu mau menikah sama gadis yatim piatu itu" seru Danu


"Lu tau gue kan Danu, gak ada siapa-siapa yang bisa menggugat keputusan gue yang sudah final" jelas El


"Iya sih El, tapi gue liat liat tu anak juga cantik di atas rata-rata. Lu gak takut apa istri lu nantinya manggil om Hahaha" tawa Danu


"Ya gak mungkin lah" tukasnya


Selesai mengobrol mereka pergi ke kantin ingin meminum kopi untuk menghilangkan rasa kantuk


"Gimana keadaannya Danu ? tanya El


"Dia baik-baik aja kok, tapi gue penasaran el kenapa bisa dia terluka separah itu ? tanya Danu menuntut jawaban


"Ada perampok yang mencoba mengambil uang hasil penjualan di cafe tempat ia bekerja jadi dia berusaha buat menyelamatkan temannya tapi malah dia yang terluka" jelas El


"Berani juga ya dia sampai sanggup ingin melawan itu perampok" timpal Danu


El menganggukkan kepalanya menyesap kopi yang di pesannya Selesai dengan resep obat milik Melisa ia pun pamit dengan Danu untuk pulang membawa Melisa


Bukannya mengantar Melisa ke kontrakan ia memilih membawa Melisa ke rumahnya membaringkan tubuh melisa di atas ranjang miliknya


"Bi tolong gantiin bajunya ya" pinta El


"Baik den"


Ia pun lalu bergegas pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket ia tidur di sofa panjang di samping kanan ranjang Tidur dengan lelap menuju ke alam mimpi


Melisa belum bangun sejak ia di berikan obat bius saat dokter menjahit luka di tangan kirinya


Pagi ini cahaya matahari menyusup masuk ke dalam kamar melewati celah jendela di kamarnya


Melisa terbangun mengucek matanya mencoba menetralkan pikirannya mengingat kejadian semalam ia melihat sekeliling kamar tampak berbeda dari kamar yang biasa di gunakan nya


"Apa aku masih ada di dalam alam mimpi pagi-pagi melihat kamar istana megah ? gumam Melisa


Melisa menutup mata kembali memandang silaunya cahaya yang masuk ke dalam inderanya


"Pagi non Melisa" sapa seorang pembantu membawa nampan berisi makanan


Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2