
"Bisakah kau lepaskan pelukanmu, aku bisa mati karna dekapanmu" nita sangat sesak dengan pelukan dharma yang begitu erat.
"Maafkan aku" dharma melepas pelukan nita.
"Akhirnya aku tidak jadi mati" nita menarik nafas dengan ter engah engah.
"Kemana saja kau selama ini, kenapa kau selalu menghilang disaat ku pergi" dharma meraih tangan nita.
"Memangnya siapa yang pergi,aku atau kamu" nita melepaskan tangan dharma.
"Kenapa kau menghindar dan pergi dariku tanpa kabar?" dharma meraih kembali tangan nita.
"Kau yang meninggalkanku" jawab nita dengan nada kasar.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan gadis kesayanganku ini" dharma langsung memeluk nita dari belakang.
"Lalu pertunanganmu dengan sintia" nita mulai melepaskan pelukan dharma
"Hey apa kau cemburu dengan sintia"
"...." nita hanya memandang kebalik jendela melihat keindahan gedung pencakar langit di kota New York ini.
"Hey...apa kau cemburu denga sintia" dharma kembali memeluk sintia dari belakang dan menaruh wajahnya dibalik leher nita.
"Tidak" nita menjawab dengan singkat.
"Apa kau melihat ada cincin yang melingkar dijariku?" dharma membalikan badan nita yang membelakangi dharma agar dharma bisa mehat wajah nita
"..." nita hanya menunduk dan yak mau melihat wajah dharma.
"Hey apa kau lihat tanganku ada cincin yang melingkar?" dharma memperlihatkan tangannya kehadapan nita untuk memperlihatkan, bahwa tak ada cincin yang melingkar ditangannya
__ADS_1
"Hanya denganmu aku akan bertunangan, bukan dengan yang lain" dharma menggangkat dagu nita agar dharma bisa langsung menatap wajah nita.
"Bohong tapi apa undangan sudah tersebar" nita memalingkan wajahnya.
"Tidak, apa kau tak bisa lihat tak ada cincin yang melekat dijariku" dharma mulai kesal dengan tingkah nita yang terus menghindar.
"Tapi undangan itu" nita memberanikan diri melihat dharma tapi dharma mebelakangi nita.
"...." dharma mulai malas untuk menjawab pertanyaan nita
"Kau jahat,kau bohong" nita mulai meneteskan air matanya.
Dharma mulai tak bisa mendengar isak tangis nita, akhirnya dharma membalikan badannya lalu menghampiri nita yang duduk disofa dengan menutup wajahnya.
"Bisakah kau jangan menangis dihadapanku" dharma berlutut dihadapan nita dan meraih tangannya yang menutup wajahnya.
"..." nita semakin menangis dihadapan dharma
"Kau membentakku" nita menjawab dengan nada terbata bata.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud"dharma meraih kembali tangan nita tapi ditepis nita lalu nita beranjak dari sofa meraih tasnya dan pergi menuju pintu.
"Cup" dharma menghadang nita didepan pintu dan langsung mencium bibir nita dengan penuh perasaan. melampiasakan perasaan rindunya yang selama ini terpendam.
Nita masih belum membalas ciuman dharma tapi dharma tak juga kunjung melepaskan ciuman itu. malah dharma semakin menarik pingang nita dan mengalungkan tangan nita dilehernya agar ia bisa lebih bisa merasaan kehangatan ciuman nita.
Tapi tanpa disadari nita mulai mendorong tubuh dharma dan melepaskan ciuman dharma.
"Kau sadar ini kantor" nita mengusap air matanya yang masih menetes dipipinya.
"Baiklah kalu begitu ikut aku" dharma menarik tangan nita hingga keluar kantor.
__ADS_1
Nita hanya bisa menunduk melihat banyak mata yang tertuju padanya dan dharma. tapi dharma seakan tak menghiraukan semua itu.
Iya bagaimana tidak dharma adalah pemilik perusahaan ini jadi tak mungkin ada yang bisa menentang dan menghentikan tindakannya.
Mereka sampai di depan kantor nita dan dharma masuk kedalam mobil. dharma melajukan mobilnya dengan kecepan tinggi membuat nita berpengaan erat dengan sabuk pengaman yang ia kenakan.
Tanpa disadari beberapa kali dharma melirik ke arah nita dan menahan tawanya melihat wajah nita yang ketakutan.
Hampir tiga puluh menit mereka sampi di gedung pencakar langit yang terlihat lebih indah. Dharma menarik kembali tangan nita masuk untuk masuk menuju apartemennya.
Dharma langsung mengunci pintu dan menarik tubuh nita.
"Sekarang kau sudah ditempatku, tak akan ada yang mampu melarangku berbuat apa padamu" dharma menatap tajam ke arah nita.
"Mendesahlah semaumu, takan ada yang bisa mengangu hari kita hanya kau dan aku disini sayangku" dharma meraih tangan nita untuk dikalungkan dilehernya.
"Apa maksudmu" nita mulai ketakutan dengan perkatan dharma.
"Disini tak ada yang bisa menggangu kita lagi sayangku"dharma mulai mendekatkan wajahnya kewajah nita.
"Apa yangkan kau lakukan" nita mulai menjauhkan wajahnya dari wajah dharma.
@@@@
Hello maafkan daku yang lama untuk meneruskan cerita ini ðŸ˜ðŸ˜
akhirakhir ini aku mulai disibukan dengan banyaknya acara ditempat kerja yang membuatku susah untuk menulis ðŸ˜ðŸ˜
tapi aku akan berusaha meneruskan cerita ini sekali up 2bab bantu aku dengan like dan komen ya atau ada yang mau bantu aku kasih ide bisa banget bisa langsung komen aja dikolom dibawah ini dengan senang hati aku akan balas komen kalian.
aoohh ya aku mau tanya lebih baik dharma dengan nita atau dharma dengan sintia ?? bisa langsung dikomen ya
__ADS_1
terimakasih madih setia membaca 🥰🥰🥰🥰