
Tanpa dirasa empat tahun sudah nita menetap di New York. kuliahnya sudah selesai dan nita sudah menjadi pegawai tetap diperusahan dharma sebagai asisten pribadi dharma.
Hubungan mereka berjalan dengan baik walau kadang ada pertikaian karna mereka keras kepala.
"Sayang minggu depan kita akan pulang ke indonesia" dharma memeluk nita yang sedang berada didapur membuat sarapan.
"Apa kau yakin akan memberitau hubungan kita pada orang tuamu" perasan nita mulai tak enak saat mendengar akan pulang keindonesia.
"Percaya padaku, walau tak direstui aku akan tetap menikahimu"
"Tapi" belum selesai bicara dharma mendaratkan ciumannya pada bibir nita.
"Sudah duduklah disana sebentar lagi makanan akan siap" nita melepaskan pelukan dharma dan mendorongnya keluar dari dapur.
hampir tiga puluh menit nita berada didapur untuk membuatkan dhrama sarapan pagi sebelum berangkat bekerja.
"Makanan siap" nita menyiapkan makanan yang dia buat dimeja makan.
"Sepertinya bakalan ada rasa gosong lagi" nita meraih telinga dharma dan menjewernya.
"Ampun sayang, aku hanya bercanda" nita meraih kembali makanannya yang sudah dimasak.
"Tungggu, kenapa diambil lagi aku mau sarapan"
__ADS_1
"Katanya tadi hanya ada rasa gosong tak enak" nita berjalan menuju kedapur membawa masakannya.
"Aku hanya bercanda sayang, pagi pagi sudah ngambek saja" dharma memeluk nita dan meraih masakan yang sudah dibuat nita.
Selesai membuat sarapan, nita kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor.
"Kenapa kau belum bersiap"
"Hari ini kita tidak ke kantor" dharma meraih tangan nita hingga nita duduk dipangkuannya.
"Tapi kenapa, bukannya baru minggu depan kau akan mengambil cuti"
"KITA yang akan mengambil cuti bukan hanya aku" dharma memeluk nita.
"Lalu kenapa kau mengambil cuti hari ini" nita metanap dharma dengan penuh rasa curiga.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, sudah beberapa minggu aku terlalu sibuk dikantor" dharma mencubit pipi nita.
"Aduuh sakit" nita mengelus pipinya yang dicubit dharma.
"Sudah ganti bajumu" ucap dharma.
Setelah selasai berganti baju nita turun dengan pakaian santainya celana panjang jens dan baju sabrina warna biru yang pas dibadannya.
__ADS_1
"Tetap jadi nita ya simpel ya" ucap dharma yang melihat nita.
"Hanya keluar sebentarkan, jadi pakai ini saja yang penting nyaman aku memakainya" nita menjawab dengan nada sedikit kesal.
"Ia tuan putriku apa pun yang kamu pakai kamu pasti terlihat cantik" dharma mencubit pipi nita.
Mereka sampai disebuah mall terbesar dikota ini. dharma membeli beberapa barang titipan ibunya, nita juga mencari salah satu barang untuk keluarganya.
Hampir seharian mereka mencari buah tangan untuk dibawa pulang ke indonesia. setelah semua selesai dan mereka dapatkan semua mereka kembali keapartemen dharma.
Satu jam perjalanan dari mall ke apartemen dharma, sepanjang perjalanan banyak yang mereka ceritakan canda tawa menyelimuti sepanjang perjalanan menuju rumah.
"Aku lelah" sembari merebahkan badannya disofa dan bersandar di dada bidan dharma.
"Apa kau mau minum sayang" ucap dharma sembari mencium kening nita.
"Tidak aku hanya ingin berada dipelukanmu lebih lama"
"Aku tak akan pergi darimu kenapa kau seperti takut aku akan pergi" dharma meraih wajah nita untuk dapat menatap matanya.
"Entahlah, mungkin aku hanya takut saat kembali ke indonesia aku tak bisa mendapatkan pelukan ini lagi" nita kembali bersandar pada dada bidang dharma.
"Sayang dengarkan aku, aku tak akan pernah melepaskanmu dan membiarkanmu pergi lagi dari kehidupanku. jika kamu khawatir terhadap cinta kita tanpa restu orang tua aku pasti akan berusaha menjadikanmu istriku dan mendapatkan restu dari orang tuaku".
__ADS_1