
Niat Yura sudah bulat, lagi pula hanya dengan mengabdikan hidupnya bagi Roy, dia bisa membalas kebaikan Roy. Jadi, mulailah dia melayani semua kebutuhan sehari-hari Roy. Mulai dari menyiapkan makanan, bekal ke kantor dan juga pakaian.
Yura juga selalu punya waktu untuk menemani Roy berbincang di sore hari hingga sebelum melepas penat di malam hari. Semua tampak baik, meskipun sampai detik ini, Yura tidak pernah mendapatkan hak nya sebagai seorang istri.
Tidak mengapa, lagi pula di sudut hatinya, Yura justru berterima kasih karena suaminya itu tidak menuntut pelayanan Yura di atas ranjang, karena pada dasarnya nurani gadis itu masih belum bisa menanggalkan pakaiannya di depan Roy.
Namun, Erlang lagi-lagi tidak akan membiarkan keinginan Yura itu. Setelah memikirkan dengan seksama, suatu hari Erlang yang sudah tidak tahan, menculik Yura dan membawanya ke apartemen.
"Dasar gila, apa yang kau lakukan. Lepaskan aku, Erlang!" pekik Yura saat pertama kali pria itu menarik keluar tubuh Yura dari dalam mobil setelah membawa pergi wanita itu.
"Aku bilang jalan, atau kau mau aku gendong saja?" seru Erlang dengan tatapan serius. Dia sudah tidak peduli pada harga diri dan juga pandangan orang-orang yang mengenalnya di lingkungan apartemen nya itu.
Baginya, yang terpenting adalah Yura bisa berada di sisinya saat ini karena rasa rindu yang begitu menggebu-gebu.
Yura tidak punya pilihan lain, dia mengikuti langkah pria itu dengan satu tangan digenggam oleh Erlang. Kalau orang melihat, jelas hal itu bukanlah penculikan tapi, sekedar mengajak.
Yura yang ketakutan saat ditarik paksa oleh Erlang ketika baru pulang dari indomar di depan gang rumah mereka, hanya bisa mengikuti kemauan pria itu yang memaksa untuk masuk ke dalam mobil. Dia juga tidak menduga apa yang dilakukan Erlang pada dirinya setelah pria itu membawanya ke sana.
Setelah sampai di ruangan apartemen, Erlang mengunci Yura sendiri, sementara dia pergi dan baru kembali saat malam tiba dan Yura sudah tertidur.
Ada beberapa hal yang harus diurus Erlang. Pria itu mengirimi Roy pesan dari ponsel Yura yang disita pria itu. Menjelaskan kalau malam ini Yura tidak bisa pulang karena harus kembali ke rumah tantenya.
Roy yang menerima pesan itu mungkin sedikit curiga, tapi dia memilih untuk percaya saja hingga tidak mencari keberadaan Yura.
Erlang mengurung gadis itu selama dua hari dan selama itu pula, Yura tidak berdaya akan perlakuan Erlang padanya yang terus menyentuh di setiap jengkal tubuh gadis itu.
__ADS_1
Pria itu benar-benar sudah dibutakan rasa cemburu, hingga mengabaikan kalau yang saat ini dia cumbu adalah Yura, ibu tirinya.
Saat dia kembali lagi ke apartemen, Yura yang lelah menunggu akhirnya tertidur di sofa ruang tamu. Erlang menatap dalam pada gadis itu. Sempat merasa menyesal karena sudah menculik wanita itu dari ayahnya, tapi lagi-lagi rasa cintanya yang sesat membuat akal sehatnya tidak jalan.
Perlahan, Erlang menggendong tubuh Yura, membawa ke dalam kamarnya, lalu membaringkan wanita itu di sana. Lama Erlang mengamati wajah cantik Yura yang tertidur dengan pulas seolah tidak peduli dimana saat ini dirinya berada.
Seketika, muncul keinginan untuk menyentuh Yura yang begitu besar. Dia menunduk lalu mengecup kening gadis itu.
Yura menggeliat, merasa tidak senang tidurnya terganggu. Tapi Erlang yang sudah dibius oleh lembutnya sentuhan kulit Yura semakin berani merambah ke tempat lainnya. Bermain dengan tubuh Yura, aroma vanila yang nikmat membuat Erlang semakin terbakar.
Mata wanita itu pada akhirnya terbuka, walau belum sepenuhnya sadar kalau sentuhan Erlang berada di tubuhnya itu adalah nyata. Tidak tanggung-tanggung Erlang bahkan sudah membuat baju Yura dan hanya tinggal berlapis b*ra hitam yang semakin membuat Yura tampak seksi.
Saat Erlang sudah mulai mencumbunya, Yura yang sempat tertidur akhirnya bangun dan melihat pria yang berusaha untuk mencium bibirnya. Tangan Yura sontak mendorong dada pria itu memberi ruang di antara mereka hingga dia melihat wajah Erlang tepat di depan matanya. Saking dekatnya, ujung hidung mereka saja saling bersentuhan.
"Erlang, Kau?"
Ciuman panas itu seolah menarik seluruh oksigen yang bisa dia dapatkan hingga menyebabkan kesesakan dalam dadanya.
"Erlang...," de*sah wanita itu masih mencoba menolak ciuman panas Erlang di lehernya.
"Ssssttt... Aku ingin kau menikmati sentuhanku, karena aku tahu kau juga merindukannya, bukan?" bisik Erlang saat sudah mulai menyentuh Yura di sela dada nya.
"Jangan, Er. Aku mohon. Sadarlah," jawab Yura terengah-engah. Dia selalu tidak berdaya setiap pria itu menyentuhnya, dan sialnya dia begitu mendambakan sentuhan pria itu di kulitnya. Dia bahkan hampir frustrasi kalau Erlang menghentikan gerakannya.
"Ssssttt, jangan larang aku. Aku hanya ingin menyentuh milikku," jawabnya tepat di bibir gadis itu, menatap lekat mata Yura yang juga sudah terbakar gairah.
__ADS_1
"Milikmu? Aku... Aku bukan milikmu," tolak Yura mencoba menjauh dari dekapan Erlang, tapi sulit. Napasnya tersengal-sengal menahan rasa nikmat yang sebentar lagi mengoyak tubuhnya. Bibirnya bilang jangan, tapi hatinya justru berteriak ingin lebih.
"Kau milikmu. Tubuhmu bahkan sudah mengklaim hal itu. Harus dengan apa lagi kau baru mengakuinya? Apa aku harus menyentuhmu di sini?" rintih Erlang mengulurkan lidahnya pada puncak kemerahan yang sudah mengeras itu.
Sengatan listrik tampak menghantam tubuh dan aliran darah Yura, menumpulkan akal sehat dan nuraninya.
Buaian dan juga sentuhan Erlang berhasil membuatnya lupa diri dan tentu melupakan Roy.
Terbukti tidak lama, tidak ada lagi penolakan yang keluar dari bibir gadis itu, dia bahkan ikut berperan serta dengan menjambak pelan rambut Erlang saat wajah pria itu menyatu dengan dadanya.
Kenikmatan yang belum pernah dia sadari dan tentu saja dia rasakan. Sehebat itu ayunan lidah Erlang mampu meruntuhkan pertahanannya.
Setiap pria itu menghisap lembut, Yura pasti akan merinding ingin lebih, dan saat tiba-tiba pria itu menguatkan isapannya, maka saat itu tubuh Yura siap terbakar melengkungkan dengan indah dan terasa basah di bawah sana.
Erlang yang melihat Yura sudah mengeluarkan bukti gai*rah yang dia miliki, dan kini Erlang siap mengarahkan miliknya diantara kedua paha gadis itu.
Bola mata Yura seketika membulat sempurna. Sedikitpun dia tidak menyangka kalau Erlang akan benar-benar memasukinya untuk kedua kalinya. Dan kali ini dia dengan sadar bisa menikmatinya.
Yura ingin mendorong tubuh pria itu, tapi dorongan, dan hentakan tubuh Erlang yang menumbuk dirinya di dalam sana, membuatnya lupa untuk meminta berhenti.
*
*
Mampir,
__ADS_1