Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Rahasia Kelam


__ADS_3

Seminggu sudah Roy Hanya berbaring di ranjangnya tubuhnya semakin lemah dengan sabar dan penuh kasih sayang, Yura mengurusnya.


Kondisi Roy yang saat ini tidak stabil membuat Erlang memutuskan untuk menunda pernikahannya dengan Jessica, walaupun harus diwarnai dengan pertengkaran antara kedua calon pengantin itu.


Jessica tentu saja keberatan, dia tidak terima kalau pernikahannya harus ditunda hanya karena Roy yang sedang sakit.


Jangan sampai penundaan itu justru membuat Erlang mempunyai alasan untuk membatalkan pernikahan mereka. Sia-sia semua pengorbanan Jessica, dia sudah menolak banyaknya tawaran untuk ikut fashion show hanya demi memenuhi janjinya kepada Erlang, kalau dia akan mundur dari dunia modeling dan showbiz hanya untuk menjadi istri pria itu.


Siang itu Jessica memutuskan untuk menemui Roy di kamarnya. Saat itu Roy hanya sendiri. Yura sedang pergi bersama Titin untuk kontrol ke dokter karena dari kemarin dia merasakan sakit di bawah pusarnya.


"Pergilah dengan Titin, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada bayimu. Ingin rasanya mengantarmu ke dokter tapi seperti kau lihat sendiri, keadaanku saat ini tidak memungkinkan," ujar Roy dengan nada lemah.


"Gak papa Om, aku bisa, kok. Om istirahat, aku akan cepat kembali," jawab Yura mencium punggung tangan Roy.


Saat itulah Jessica mengambil kesempatan untuk mengajak Roy bicara.


"Aku bukannya tidak mengerti dengan keadaan Om saat ini, tapi om tahu sendiri bahwa kami sudah memesan semua keperluan untuk pernikahan kami. Bagi seorang wanita, pernikahan adalah momen yang paling ditunggu dalam hidupnya. Aku mohon Om, beri pandangan pada Erlang agar pernikahan kami jangan ditunda," pinta Jessica yang duduk berhadapan dengan Roy.


Roy hanya tersenyum kecut. Penilaiannya terhadap Jessica masih sama. Wanita itu hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Ambisinya untuk menjadi nyonya di rumah ini sangat besar, sebagai jalannya untuk menguasai harta keluarga ini, yaitu dengan menikah dengan Erlang, satu-satunya anak yang dimiliki oleh Roy.


"Aku akan bicara dengan Erlang, tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, Jessica. Jika putraku tetap bersikeras ingin menunda pernikahan kalian sampai kondisiku membaik, maka kau harus terima!" jawab Roy skeptis.


Roy menempati janjinya. Ketika putranya itu kembali dari kantor dia segera mengajak bicara dan membahas perihal pernikahannya dengan Jessica.


Erlang masih tetap pada pendiriannya, ingin menunda pernikahan itu sampai keadaan Roy membaik.


"Aku tidak mungkin melangsungkan acara pernikahan sementara Papa masih belum fit," jawab Erlang masih tetap dengan keputusannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Er. Papa bisa mengerti. Kau juga harus menghargai perasaan pasanganmu. Dia sudah memimpikan bisa melangsungkan pernikahan denganmu. Mungkin untuk acara ijab Kabul, Papa masih bisa menghadirinya," jawab Roy memberi kesempatan kepada Erlang untuk tidak merasa bersalah jika pada acara pernikahannya nanti, Roy tidak bisa menghadiri dan mengikuti seluruh rangkaian acara pernikahannya.


Erlang membisu. Sebenarnya dia ingin sekali membatalkan pernikahan itu, tapi lagi-lagi dia sudah terlanjur bicara kepada Jessica dan keluarganya hingga tidak bisa membuatnya mundur dari janji itu.


***


"Kenapa malam ini Om makan sedikit sekali?" tanya Yura meletakkan piring di atas nampan yang ada di atas nakas.


Begitu pulang dari rumah sakit, Yura segera menemui Roy, menanyakan keadaan pria itu, sekaligus melayani pria itu makan.


Bukan menjawab pertanyaan Yura, Roy justru menanyakan perkembangan bayi yang ada dalam kandungan gadis itu. Setelah Yura menjelaskan bahwa menurut dokter kondisi bayinya baik-baik saja dia hanya kelelahan, dan dianjurkan banyak beristirahat, Roy pada akhirnya mengambil keputusan.


"Kalau begitu kamu jangan Lagi mengurus, Om. Biar nanti Om minta Niko mencarikan asisten rumah tangga satu lagi yang khusus untuk mengurus Om," ucap Roy menerima suapan nasi dari Yura.


Yura ingin mendebat tapi Roy mengangkat tangan meminta garis itu untuk tidak mengatakan apapun lagi. Dia tahu Yura pasti menolak gagasan itu. Dia ingin mengurus Roy dengan tangannya, tapi Roy juga harus memperhatikan kesehatan Yura.


Yura melaksanakan perintah Roy, menyimpan dokumen itu ke laci yang ditunjuk pria itu tadi, sebelum masuk ke kamar mandi.


Saat membuka laci itu, Yura tertegun melihat satu kotak transparan yang menunjukkan gambar seseorang yang sepertinya tidak asing.


Rasa penasaran Yura membuatnya mengeluarkan box putih transparan itu. Lembar pertama tampak gambar seorang wanita sedang menggendong anak kecil yang ditebak Yura sebagai Erlang dan wanita itu adalah ibunya.


Rasa penasarannya terus membawa tangannya untuk membuka satu persatu file berkas yang ada di dalam box itu.


Sebuah surat yang tampak sudah usang kembali menarik perhatian Yura, membuatnya membuka amplop dan membaca surat itu.


Yura hampir tidak bisa bernapas, tenggorokannya tercekat, matanya masih membulat dan tertuju pada rangkaian kata demi kata yang tertulis dalam surat itu.

__ADS_1


Surat itu menjelaskan semuanya, yang sedikitpun tidak pernah dia duga sama sekali. Rahasia pahit yang harus disimpan oleh Roy seorang diri selama bertahun-tahun hidupnya.


Dengan tangan bergetar Yura melipat kembali surat itu dan meletakkannya di tempat semula, bermaksud ingin segera menyimpan box itu agar Roy tidak mengetahui bahwa dirinya sudah membongkar arsip pribadinya.


Namun, seolah semesta ingin menunjukkan semua kepada Yura.


Tampaknya hari itu Yura mendapatkan banyak sekali kenyataan yang jauh dari apa yang pernah bisa dia bayangkan.


Pada halaman depan berkas yang menarik perhatian Yura ada sebuah surat keterangan dari rumah sakit ternama di Singapura.


Yura pikir itu adalah data atau akte kelahiran Erlang namun, ketika membuka lembar demi lembar surat keterangan itu, Yura mendapatkan kenyataan pahit, yang membuatnya tidak percaya atas apa yang sudah dia baca.


Gadis itu bahkan harus berhenti membaca hanya untuk memahami setiap kata yang dijelaskan pada surat keterangan itu, agar tidak salah dimengerti olehnya.


Namun, setelah berulang kali membaca dia yakin bahwa isi surat itu jelas menyampaikan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh siapapun.


Cukup bagi Yura untuk mengetahui yang bukan haknya. Segera dia menyimpan kembali box itu dan mengunci laci.


Yura merasa tidak enak hati setelahnya, membuka box itu sama saja Yura sudah mengkhianati kepercayaan pria itu. Roy sudah menyimpan rahasia itu selama ini, tapi dengan gampangnya Yura merusak kepercayaan itu dengan membuka rahasia pribadi pemilik Roy.


Setelah mengunci laci, Yura kembali membereskan ranjang Roy agar pria itu lebih nyaman beristirahat, lalu berniat membuka laci di sampingnya ke tempat tidur untuk menyimpan kunci laci penyimpanan box putih, dan saat itu Yura menemukan kembali berkas yang hampir sama seperti yang dia baca pada bagian bawah dari semua data yang dia tilik tadi.


Logo rumah sakit yang sama. Penasaran Yura membaca isinya karena terlihat itu adalah rekam medis yang terbaru atas nama Roy.


Paham lah dia kini, mengapa Roy selama ini mengatakan ada urusan kerja ke luar negeri, ternyata pria itu pergi ke salah satu rumah sakit yang ada di Singapura untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.


Tubuh Yura terhempas duduk di pinggir ranjang, menangis terisak sembari memeluk berkas itu. Dia tidak bisa menahan tangisnya, hatinya hancur. Dia menyesal sudah membaca surat keterangan dari rumah sakit itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Roy terkejut kala mendapati Yura sesunggukkan di sana.


__ADS_2