Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Kebohongan Baru


__ADS_3

"Sial!" umpat Erlang kala mendapati Yura sudah pergi. Rasanya dia hanya sebentar mengganti pakaiannya, tapi kenapa bisa Yura sudah menghilang saja.


Dia harus mencari gadis itu, jangan sampai beranggapan kalau dia hanya dipakai tanpa dihargai. Erlang terlalu marah karena mengetahui gadis itu lebih memilih Roy setelah apa yang mereka lakukan selama dua hari. Begitu lembut dan juga penuh kasih perlakuannya pada Yura, berharap kalau wanita itu akan tergugah, tapi ternyata silau harta masih lebih menggodanya.


Namun, meski sudah menepis perasaan itu, mencoba menyikapi keadaan dengan melepas Yura, tetap saja tidak bisa.


Dengan kecepatan tinggi, Erlang mengejar Yura. Dia yakin kalau gadis itu pasti belum sampai. Terselip juga rasa takut di hatinya kalau Roy akan memarahi bahkan memukul Yura karena sudah dua hari tidak pulang. Kalau sampai hal itu terjadi, maka dia akan segera pasangan badan.


Erlang sudah tiba di rumah, kedatangannya disambut oleh Roy yang berdiri diambang pintu rumah. Bukankah harusnya ayahnya itu sedang di kantor saat ini?


"Papa, sedang apa di luar?" tanya Erlang berpura-pura tidak terjadi apapun. Tidak mungkin ayahnya tahu kalau dia bersama Yura selama dua hari ini. Jelas-jelas saat dia menculik Yura, gadis itu hanya sendiri, dan jauh dari cctv halaman depan rumah.


"Papa lagi nunggu Yura pulang. Sudah dua hari dia pergi dari rumah," ucap Roy dengan wajah sedihnya.


Erlang jadi kasihan pada ayahnya, tapi dia juga berhak untuk bahagia.


"Kemana dia pergi? Kenapa gak menghubungi nomornya?" tanya Erlang menunjukkan sedikit kepedulian. Itu hanya pura-pura, bagaimana bisa ayahnya menghubungi Yura, ponsel gadis itu sudah dinonaktifkan nya bahkan sudah di buang ke tong sampah agar tidak bisa dilacak oleh Roy.


Erlang sudah memikirkan langkahnya secara matang. Dia tidak mungkin mengabaikan kuasa dan juga kemampuan Roy dalam mencari seseorang.


"Sudah, tapi nomornya gak aktif. Pamit kemarin mau ke rumah tantenya, ternyata setelah Papa ke sana, dia tidak ada," jawab Roy mengusap wajahnya. Tampak beban pria itu bertambah dengan ketidaktahuan keberadaan Yura.


Erlang dalam diamnya mengamati pria itu. Ada rasa berdosa di hatinya. Terlalu jahat perbuatannya pada sang ayah. Kadang Erlang mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia bisa jatuh cinta pada wanita yang sama dengan yang dicintai ayahnya.


Tapi, kemana gadis itu, kenapa belum sampai? Kini Erlang juga ikut khawatir. Seharusnya Yura sudah tiba, apa dia baik-baik saja? Apa ada yang mengganggunya?


"Duduk dan temani Papa," ucap Roy menoleh pada Erlang yang membatu, berdiri dan larut dalam pikirannya.

__ADS_1


Erlang menurut, mengambil tempat di samping Roy. Kembali menoleh pada ayahnya yang semakin kusut.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku perbuat pada ayahku? Kenapa aku begitu tega mengkhianati ayahku? Dosaku sungguh besar karena sudah tidur dengan ibu tiriku sendiri. Mengapa harus ku rasakan cinta pada orang yang salah? Kenapa aku harus menginginkan milik ayahku? Terkutuklah aku! Terkutuklah wanita yang aku tiduri malam itu hingga tidak bisa menerima wanita lain!" perang Erlang dalam hatinya.


Dia tahu kesalahannya sungguh sangat besar, dan tidak akan mungkin termaafkan oleh ayahnya, tapi dia benar-benar terjerat gairah terlarang istri ayahnya.


Gadis itu berulang kali menolak dan mengingatkan bahwa dia adalah istri ayahnya, tapi Erlang tidak bisa menguasai diri dan pikirannya, dan setelah melihat cara Yura menerimanya, Erlang akhirnya tahu kalau Yura juga menyimpan perasaan padanya.


"Papa sangat mencintai Yura?"


Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar begitu saja kala dia memikirkan gadis itu.


Terlihat Roy menoleh ke arah Erlang. Sedikit terkejut atas pertanyaan anaknya itu. Cinta? Apa benar dia bisa jatuh cinta pada Yura? Dia terlalu belia untuk nya. Walau dia tersentuh oleh kebaikan dan kelembutan gadis itu, serta perhatian tulis darinya, tapi Roy yakin itu bukan cinta yang sama yang pernah dia rasakan pada ibunya Erlang.


"Mungkin," jawab Roy. Hanya dia yang tahu kata mungkin itu hanya penghias. Dia yakin kalau perasaannya pada Yura sebatas rasa sayang pada seorang putri. Dia tersentuh dah ikut prihatin akan keadaan Yura. Lambat lain perasaan kasihan itu berubah jadi rasa sayang dan keinginan untuk melindungi.


Kedua pria itu sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing, menunggu sosok wanita yang sangat berarti dalam hidup mereka.


Sementara jauh di luar sana, Yura duduk diam di sebuah kursi di taman kota. Dia butuh waktu, butuh berpikir. Dia tidak mungkin menjalani hidupnya seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi selama dua hari ini bersama Erlang.


Dia wanita kotor, yang sudah berkhianat pada suami yang begitu baik padanya. Jadi, tidak mungkin dia terus menjalani biduk rumah tangga bersama Roy dan menyimpan aib itu seumur hidup. Dia juga tidak mungkin mengharapkan Erlang mau memilihnya.


Selain karena pria itu tidak memiliki perasaan padanya, juga karena dia sudah memiliki kekasih hati dan kini mereka sudah bertunangan.


Yura menghabiskan air matanya karena setelah ini tidak akan ada lagi air mata. Dia harus kuat. Satu-satunya yang dia punya adalah anak dalam kandungannya.


***

__ADS_1


Yura tiba di rumah sudah pukul delapan malam, disambut dengan tatapan penuh khawatir dan juga tanya kemana dia pergi.


Begitu melihat gadis itu memasuki ruang, Roy menyongsong nya, mempertanyakan keberadaan Yura selama dua hari tidak pulang.


Erlang ada di sana, menanti cemas jawaban apa yang akan wanita itu katakan pada ayahnya. Walau jujur, dia tidak peduli apa yang akan dijawab Yura. Bahkan kalau mau jujur, dia ingin wanita itu menjawab saja, kalau selama dua hari itu Yura mengabiskan waktu bersamanya, bercinta di apartemennya tanpa melakukan kegiatan lain.


Kembali pipi Yura seakan ditampar keras. Roy menanyainya dengan suara yang begitu lembut, tidak ada amarah, apa lagi makian.


Melihat ke dalam mata pria itu, yang begitu baik dan tulus mengkhawatirkan nya, terpaksa Yura berbohong, mengatakan menginap di rumah Tantenya.


"Aku... aku dari rumah Tante Kamsa, Om," jawabnya pendek. Merasa bersalah kembali karena sudah membohongi Roy. Erlang yang ada di samping Roy ikut melihat ke arah Yura. Banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan gadis itu.


Roy hanya mengangguk lemah. Kembali dia menelan pahit atas kebohongan baru Yura. Roy sudah menerima semua keburukan, kebohongan, dan keadaan Yura, terlebih perihal kehamilannya. Walau sakit dan kecewa, Roy bisa menerima.


Dia pikir itu adalah kebohongan Yura yang terakhir, tapi saat ini dia kembali mendapatkan kebohongan baru. Roy merasa kecewa karena Yura sudah membohonginya. Tanpa sepengetahuan Yura, Roy mendatangi rumah Tante Kamsa dan mendapati gadis itu tidak ada di sana.


"Apa semua baik-baik saja? Kau tidak apa-apa, kan? Bagaimana keadaan bayi dalam kandungan mu?" tanya Roy perhatian.


"Semua baik-baik aja, Om."


"Masuk lah, dan beristirahat. Kau tampak kacau," ucap Roy menyentuh bahu Yura.


*


*


Mampir,

__ADS_1



__ADS_2