
"Apa kau marah padaku atau mungkin membenciku?" tanya Yura bersimbah air mata duduk di samping Roy setelah beberapa hari dia tidak diperbolehkan melihat pria itu.
Lagi-lagi itu adalah strategi dari Erlang agar Jessica dan tantenya merasa berhasil membuat Erlang dan juga Roy membenci Yura, hingga gadis itu tidak diganggu lagi.
Namun, saat di hari kedua dia tidak diperbolehkan masuk, Yura datang menemui Erlang di kamarnya. Dia tidak peduli apakah saat itu Jessica ada di sana atau tidak dan syukurnya sedang tidak ada.
"Kau nggak boleh melarang ku untuk bertemu dengan Om Roy. Aku bersumpah padamu, bukan aku yang memasukkan buku cabe itu. Aku tidak mungkin mencelakai Om Roy, aku mohon izinkan aku bertemu dengannya," mohon Yura.
Erlang tidak tahan melihat air mata gadis itu, akhirnya mengizinkannya untuk masuk dan kembali merawat Roy.
"Gadis bodoh! Mana mungkin Om marah atau membencimu. Apa kamu pikir Om percaya kalau kau yang sudah membuat bubuk cabe ke dalam makanan Om?"
"Aku bahkan takut setengah mati kalau hal itu bisa membuat kesehatan Om semakin memburuk," ujar Yura mencoba menghentikan tangisnya.
"Dokter sudah memberikan obat, semua akan baik-baik saja kamu jangan khawatir. Bulan depan kamu akan melahirkan, kamu harus bisa mengendalikan perasaan emosional, karena itu sangat berpengaruh pada kandungan," Roy menghapus jejak air mata Di pipi Yura.
Tepat saat itu, Erlang masuk ke kamar ayahnya. Wati tadi datang menyampaikan pesan dari Roy bahwa ayahnya mencarinya dan ingin membicarakan sesuatu hal yang penting.
Suasana berubah menjadi kikuk. Bagaimanapun, ada rasa cemburu di hati Erlang setiap melihat ayahnya sedang berduaan dengan Yura.
"Papa mencariku?" tanya nya datar, berusaha membuang pandangannya agar tidak berlaga tatap dengan Yura.
"Masuklah, Er! Sini, mendekat lah!" pinta Roy memanggil putranya lalu kembali menoleh pada Yura.
"Yura, bisakah kau meninggalkan kami berdua? Ada yang ingin Om bahas dengan Erlang, sebaiknya kamu beristirahat," ucap Roy mengusap punggung tangan Yura.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk lalu bangkit dari duduknya meninggalkan ayah dan anak itu, membicarakan hal yang tidak bisa dia dengar.
"Ada apa Papa apa?" tanya Erlang to the point.
"Papa ingin bicara mengenai Yura padamu," sambut Roy membuka pembicaraan.
Erlang mengerutkan kening. Untuk apa ayahnya membahas Yura dengan dirinya? Namun, walaupun begitu dia masih tetap tenang menunggu ayahnya menyampaikan maksud hatinya.
"Sebentar lagi Yura akan melahirkan, mungkin Papa tidak bisa menemaninya di saat paling berarti dalam hidupnya itu. Bisakah kau menemani Yura saat anaknya lahir nanti? Papa mohon kamu mau mengadzani anak itu," ucap Roy penuh harap.
Kalau bukan pada Erlang, dia meminta tolong lalu pada siapa lagi? Erlang adalah wakilnya. Walaupun dia punya Niko tapi di hati Roy alangkah baiknya kalau Erlang yang menggantikannya menemani Yura saat proses persalinan nanti.
"Baik Papa, aku akan melakukan apa yang Papa minta jawab Erlang. "Apa ada hal lain yang ingin bicarakan?"
"Papa ingin buat surat wasiat, tapi sebelum melakukannya, Papa ingin membahasnya terlebih dahulu padamu. Ini bukan meminta izin tapi sekedar informasi yang perlu kamu ketahui, jadi saat nanti Papa sudah tidak ada dan pengacara membacakan surat wasiat itu, kamu tidak terkejut ataupun menjadi bahan keributan ke depannya."
Bagaimana mungkin dia harus mempersiapkan dirinya untuk kehilangan ayahnya. Walau sudah dewasa, dia masih membutuhkan ayahnya untuk membimbingnya.
Hanya sebuah gambar yang terpajang di ruang tamu yang menandakan bahwa itulah ibunya yang sedang menggendongnya dengan penuh kasih sayang.
Alangkah sedihnya karena Erlang sama sekali tidak pernah mengingat bagaimana rasanya disayang oleh seorang ibu.
"Kita harus realistis. Kamu sudah tahu penyakit yang Papa derita, suka ataupun tidak kau harus bisa menerimanya. Mungkin sudah waktunya Papa berkumpul kembali dengan Mama mu," ujarnya sembari tersenyum getir.
"Kalian memang egois, begitu kompaknya hingga meninggalkanku sendirian di dunia ini. Hanya papa yang aku punya dan sekarang Papa berencana untuk pergi meninggalkanku!" jawab Erlang sedikit melankolis sore itu.
__ADS_1
"Papa minta maaf kalau sejak kecil kamu tidak bisa merasakan kasih sayang seorang mama dan Papa mohon jangan pernah membenci mama kamu. Dia juga tidak ingin meninggalkan kita namun, penyakit merenggutnya dari sisi kita. Ah, papa jadi begitu merindukan mama kamu tidak lama lagi kamu akan bertemu." Senyum Roy terukir, seolah dia bisa melihat wajah istri nya berdiri di depan, di tengah ruang kamar menatap mereka berdua.
"Erlang, bisakah kau berjanji satu hal kepada papa?"
Erlang mendongak menatap ayahnya, mencoba menebak apa lagi yang diinginkan Roy darinya. Bisakah ayahnya itu diam saja. Dia terlalu sedih memikirkan perkataan ayahnya yang seolah sudah siap menyambut kematiannya sendiri.
"Apa, Pa?"
"Setelah Papa tiada nanti, Papa mohon kamu menjaga Yura, lindungi dan perhatikan dia. Sebenarnya Papa ingin mencarikan jodoh untuknya, tapi ketika Papa mengatakan niat tersebut padanya, Yura marah dan menolak niat itu. Sebenarnya Papa hanya ingin ada seseorang yang menjaganya setelah Papa pergi nanti. Kamu tahu keluarganya begitu jahat terhadapnya. Papa takut Yura dan anaknya akan terlantar dan hidup dalam kesusahan setelah papa tiada," ucap Roy.
"Papa jangan khawatir akan Yura. Dia gadis yang kuat dan juga pemberani dia pasti bisa menjaga dirinya dan juga anak kalian."
Roy sempat menimbang apa lebih baik dia mengatakan yang sebenarnya kepada Erlang bahwa anak yang dikandung Yura bukan darah dagingnya?
Namun, dia mempertimbangkan jika hal itu dilakukan, saat nanti pembagian warisan, Roy takut Yura tidak mendapatkan haknya karena anak yang ada dalam kandungannya bukan darah daging dari Roy, jadi tidak punya hak untuk mendapatkan bagian.
Pertimbangan itu membuat Roy menahan lidahnya.
"Setidaknya jika ada seseorang yang berada di sampingnya, mencintai dan melindunginya Papa bisa pergi dengan tenang. Satu hal lagi, Erlang Papa mohon kamu tidak akan protes jika harta ini Papa bagi dua, untukmu dan juga Yura."
Erlang diam sesaat memandang ayahnya. Apakah ayahnya pikir dia terlalu peduli dengan urusan harta warisan ini? Kalau memang ayahnya ingin membagi dengan Yura tidak akan jadi masalah untuknya.
Lagi pula Yura dan anaknya perlu jaminan hidup. Kalau bukan mendapatkan warisan dari ayahnya, lantas bagaimana dia bisa membiayai kehidupan anaknya nanti? Bagaimanapun anak yang dikandung Yura juga adalah anak ayahnya yang berhak mendapatkan warisan dari ayahnya.
"Apapun keputusan Papa, aku akan ikut," jawab Erlang sebelum pamit undur diri.
__ADS_1
Roy mengamati punggung anaknya yang menjauh sebelum hilang di balik pintu. Banyak harapan yang ingin dititipkan pada Erlang, tapi dia tidak tahu cara menyampaikannya.
"Papa ingin sekali agar kau bisa menikah dengan Yura nantinya. tapi apa mungkin kau sudah memilih Jessica untuk menjadi istrimu," gumam Roy dengan kesedihan.