Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Pendarahan


__ADS_3

Roy mondar-mandir di depan ruangan Yura. Saat ini tim medis sedang menolong gadis itu. Dokter yang sejak tadi masuk, belum juga keluar yang menambah rasa takut di hati Roy.


"Kenapa Yura bisa jatuh? Apa kau tidak memperhatikannya?" umpat Erlang penuh amarah. Dia tidak peduli kalau orang yang ada di sekitar mereka melihat dan mencuri tahu apa yang terjadi.


Ini kali ketiga Erlang memarahi Jessica sejak pria itu tiba di rumah sakit. Jessica tidak menyangka bahwa Erlang se-peduli itu kepada Yura pasalnya ketika mereka bicara Erlang terlihat sangat membenci Yura.


Namun, mendapati keadaan Yura yang saat ini belum juga sadarkan diri, membuat amarah Erlang meledak-ledak bahkan melebihi rasa khawatir Roy.


Terbersit rasa curiga di hati Jessica akan posisi Yura di dalam hati Erlang. Tidak mungkin pria itu mencintai ibu tirinya. Lagi pula Jessica sangat mengenal Erlang, jelas sosok Yura bukanlah gadis yang bisa disukai Erlang.


"Jawab aku, sialan!" umpat Erlang mulai geram pada Jessica, mencengkeram lengan gadis itu hingga mengaduh kesakitan.


"Aku... Aku sedang melihat gaun malam ketika Yura lebih dulu menuruni anak tangga dan tiba-tiba saja orang menjerit dapat ketika Yura jatuh itu terjadi begitu saja dan sangat cepat aku minta maaf, Er," jawab Jessica ketakutan.


Selama mengenal Erlang, dia tidak pernah melihatnya semarah itu. Seolah baginya Yura sangat penting melebihi dirinya sendiri. Jessica tentu saja tidak terima kalau posisinya di hati pria itu tergantikan.


Kecurigaan Jessica disimpannya rapat-rapat dalam hati. Dia akan mencari tahu dan kalau benar di antara mereka ada hubungan terlarang, maka Jessica tidak akan segan-segan memberitahukan pada Roy dan menghancurkan Yura karena sudah merusak hubungannya dengan Erlang.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Roy yang sigap menghadang kedatangan dokter yang baru keluar dari ruangan Yura dirawat.


Erlang sengaja menarik tangan Jessica jauh dari ayahnya, untuk mengintrogasi gadis itu. Erlang tidak ingin Roy mendengar kalau dirinya begitu panik atas apa yang sudah menimpa Yura.


"Keadaan pasien sudah membaik, tapi masih belum sadar. Bayi dan juga ibunya kini dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja, pasien harus banyak beristirahat, dan tolong diperhatikan asupan makanannya," terang dokter yang mampu membuat perasaan Roy kini menjadi lega.


Melihat dokter itu keluar dan berbicara dengan ayahnya, Erlang yang berada di ujung koridor meninggalkan Jessica, bergegas mendatangi ayahnya dan ingin mendengar perkembangan keadaan Yura saat ini.


"Bagiamana keadaan Yura, Papa?" tanya Erlang mengabaikan rasa sungkannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Yura dan bayinya baik. Sempat terjadi pendarahan kecil, tapi sudah berhenti, dan ditangani dokter," jawab Roy menghempaskan tubuhnya di kursi tunggu yang ada di dekatnya.


Rasanya dia bisa bernapas sekarang, sungguh terasa lega. "Dokter bilang dia kekurangan asupan makanan dan kemungkinan seharian tidak makan. Coba kau tanyakan Jessica, mengapa mereka sampai tidak makan hari ini? Jangan karena ingin membantu persiapan pernikahan kalian kesehatan Yura dan bayinya jadi terancam!" tegas Roy yang tidak ingin membuat Yura menderita hanya karena ingin membantu keperluan mereka.


"Aku tahu, Papa. Aku mewakili Jessica minta maaf," ucap Erlang tepat ketika Jessica sudah berdiri di sampingnya. Roya menoleh pada gadis itu lalu segera buang muka. Yang terpenting adalah Yura sudah dalam keadaan baik.


***


Besok paginya, Yura siuman. Mengerjapkan mata, membiasakan sinar lampu yang begitu menyilaukan. "Om," desis Yura ketika melihat Roy di depannya.


"Akhirnya kau siuman. Bagaimana keadaanmu? Bagian mana yang sakit?" tanya Roya menggenggam tangan Yura dan duduk di tepi ranjang gadis itu.


"Aku baik-baik aja, Om. Bagaimana keadaan bayiku, Om?" tanya Yura begitu mengingat anaknya. Tangannya perlahan merambat memegang permukaan perutnya.


Yura ingat insiden dia jatuh dari lantai. Jangan sampai kejadian itu membuat bayinya celaka. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri karena tidak berhati-hati.


Semua makanan yang dia makan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk perkembangan bayi yang ada dalam kandungannya. Dengan menyiksa diri tidak mengkonsumsi makanan apapun, sama saja dia mencelakai bayi tak berdosa itu.


Diceramahi seperti itu oleh Roy, Yura hanya bisa diam, sebab apa yang dikatakan pria itu benar. Dia seharusnya tidak membiarkan anaknya kelaparan. Harusnya dia membiarkan Jessica mengurus gaunnya sendiri.


Ini adalah kali terakhir Jessica berbuat jahat padanya. Wanita itu tampak tidak peduli pada sekitar, hanya ingin memuaskan keinginan hatinya.


Roy meminta pihak rumah sakit agar membiarkan Yura dirawat secara intensif di sana selama seminggu. Roy tidak ingin mengambil resiko, jadi membiarkan waktu lebih lama agar kesehatan Yura semakin pulih.


Roy tahu kalau gadis itu sudah pulang ke rumah, tidak akan bisa beristirahat dengan tenang, akan ada saja yang dikerjakannya.


"Aku sudah bosan di rumah sakit ini, Om. Aku ingin pulang," pintanya memohon. Lima hari hanya berbaring dan menghabiskan waktu di ruangan itu membuat Yura sangat bosan.

__ADS_1


"Baiklah kalau kau mau pulang, tapi ingat sampai rumah kamu harus istirahat total," jawab Roy yang dengan cepat diangguk Yura.


***


Kepulangan Yura tentu saja disambut gembira oleh Titin dan Bi Ijah. Mereka juga turut mengkhawatirkan keadaan Yura.


"Aku sangat khawatir pada nyonya. Sudah lima hari Nyonya dirawat di rumah sakit dan kami tidak mendapatkan kabar mengenai keadaan Anda. Kami sangat senang mendapati Anda sudah pulang ke rumah," ucap Titin dengan mata berkaca-kaca, ingin rasanya memeluk Yura, tapi dia tahu batasannya.


Seolah bisa mendengar dan mengetahui isi hati Titin, Yura maju dan memeluk gadis itu sebagai ucapan terima kasihnya atas perhatian dan juga kasih sayang Titin selama ini padanya.


Yura juga memeluk BI Ijah, yang selama masa kehamilannya juga selalu memberikan perhatian serta telaten mengurusnya.


"Aku juga sangat rindu pada kalian, terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku," ucap Yura dengan tulus. Roy yang melihat para pelayannya begitu sayang pada sang istri, tentu saja merasa senang.


Beberapa hari ke depan dia harus berangkat ke London dan meninggalkan Yura sendirian, berharap orang-orang di rumah bisa menjaga Yura dan bayinya agar dia bisa tenang melakukan pekerjaan.


"Om mencariku?" tanya Yura setelah masuk ke ruang kerja Roy. Pria itu meminta Titin menyampaikan pesannya pada Yura, agar menemuinya di ruang kerja.


"Besok, Om akan berangkat ke London. Om harap kamu bisa jaga diri dan jaga kesehatan. Satu hal lagi, Om ingin sampaikan, kalau mulai besok, Jessica akan tinggal di rumah ini. Kamu gak keberatan, kan?"


*


*


Mampir


__ADS_1


__ADS_2