Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Kaisar Mengantara


__ADS_3

Yura Keluar dengan mata sembab. Dia sudah habis membaca isi diary Aran yang masih tersimpan rapi.


Buku harian itu lebih tepat disebut sebagai surat khusus untuk putranya. Yura tebak arah menulis itu ketika dia mengetahui bahwa ajalnya sudah mendekat.


"Ada apa? Kau menangis?" tanya Roy yang baru saja akan masuk ke dalam kamar. Dia baru bertemu pengacaranya guna membicarakan warisan yang akan diterima oleh Yura dan juga Erlang.


"Gak papa, Om. aku baik-baik saja Apa kau mau makan aku akan siapkan kebetulan Kaisar juga sedang tertidur pulas," ucap Yura mencoba untuk tersenyum walau sorot matanya masih menyimpan kesedihan.


Kaisar Mengantara. Roy lah yang memberikan nama itu untuk bayi mungil Yura. Pada pandangan pertama saja Roy sudah jatuh cinta pada bayi kecil itu. setuju setiap melihat kaisar orang akan berpikir bahwa Erlang adalah ayahnya karena mereka begitu mirip.


"Nanti saja. Om ingin beristirahat. Kamu makan saja duluan, ingat kamu harus menjaga kesehatanmu!" nasehat Roy, yang hampir setiap hari diucapkan pada gadis itu.


Yura pun mengangguk setelah Roy masuk ke rumah bergegas turun. Tenggorokannya haus begitu lelah setelah menangis berjam-jam lamanya.


Langkahnya seketika terhenti kalau mendengar dua orang pria yang tengah mengobrol di teras samping tampaknya mereka tidak ingin diganggu apalagi didengar oleh orang lain.


"Dengan semua fakta yang aku temukan, aku bisa dengan yakin mengatakan bahwa kaulah pria yang berada di hotel Rich love itu pria yang selama ini aku cari," ucap Niko dengan suara dingin.


Erlang hanya diam, dia tidak membantah. Kalaupun nanti Niko akan mengatakan hal itu kepada ayahnya silakan saja, justru menurutnya itu hal yang bagus karena dia tidak perlu menyusahkan diri untuk berbicara kepada Roy.


"Kenapa kok diam saja Aku ingin mendengar jawabanmu!" tuntut Niko. Erlang mungkin adalah anak bosnya, yang bisa jadi nanti akan menjadi bosnya, setelah Roy tiada. Namun, dia tetap mengutuk keras perbuatan Roy yang sudah menghancurkan kehidupan Yura, terlepas saat itu Yura yang tidak sadarkan diri.


"Om mau dengar aku bicara apa aku akui akulah pria yang masuk ke kamar Yura malam itu aku juga tidak tahu bahwa Yura bukanlah wanita yang aku sewa dan aku sudah meminta maaf kepadanya tugas elang mengangkat wajahnya melawan tatapan Niko yang seolah ingin mendikte nya.

__ADS_1


Mendengar penuturan Erlang, justru Niko yang kali ini terlihat pucat. Bagaimana kalau Erlang sampai mengatakan hal itu kepada ayahnya? Dia kenal betul seberapa keras kepalanya Erlang, yang tidak akan peduli kehancuran apa yang bisa dia ciptakan, selama apa yang dia inginkan dapat dia capai.


"Jadi, selanjutnya apa yang ingin kau lakukan? Apa kau akan membiarkan Yura seperti itu atau kau akan mengatakan perbuatanmu pada ayahmu?"


Om adalah pengacara sekaligus sahabat papa dan juga orang kepercayaannya aku minta kamu bicara pada papa agar segera menceraikan Yura


"Jangan gila kamu Erlang! Kamu mau menghancurkan perasaan ayahmu? Bagaimanapun Yura adalah istri ayahmu kau harus menghormatinya!"


"Bagaimana perasaan Papa kalau tahu bahwa sebelum menikahi Yura anaknya sudah tidur lebih dulu dengan gadis itu?"


Niko tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Erlang pria keras kepala itu pasti akan selalu mencari menangnya


"Sekarang Om tanya, bagaimana perasaanmu terhadap Yura terlebih setelah mengetahui bahwa dialah gadis yang pernah bersamamu melewati malam itu?"


"Aku akan memberitahukan Om dan aku tidak akan pernah mengulangi lagi, terserah kalau Om mau memberitahukannya kepada Papa. Aku mencintai Yura, bahkan kami berdua pernah menghabiskan malam-malam panas di apartemenku!"


Kacamata yang menempel di wajah Niko hampir saja jatuh. Betapa terkejutnya pria itu mendengar penuturan Erlang yang diucapkan pria itu dalam saat tarikan napas, tidak ada penyesalan justru seolah tanpa beban, dan tidak malu telah melakukan perbuatan tidak senonoh itu.


Erlang yang terlalu berani melangkah tanpa menghargai hubungan mereka sebagai ayah dan anak, menganggap semua masalah ini terlalu sepele. Mungkin sifat Erlang yang begitu keras kepala dan tidak bisa menghargai orang lain adalah turunan dari ayahnya.


Atau mungkin ini pengaruh ayahnya Roy terlalu memanjakannya. Bagi Roy selama dia bisa membuat Erlang bahagia, maka dia sudah menunaikan tugasnya kepada Aran.


Niko hampir saja kehilangan kesabaran dan akan melayangkan tinjunya mendengar penuturan Erlang. Bagaimana kalau sampai Roy mendengar hal itu? Penyakitnya akan semakin kambuh. Padahal saat ini dia begitu bahagia setelah kehadiran Kaisar dalam hidupnya, hingga tampak lebih sempurna dan lengkap.

__ADS_1


"Kau harus menutup mulutmu. Jangan pernah berpikir untuk mengatakan hal itu kepada Roy, dan jangan sampai dia mendengarnya. Aku tidak akan membiarkan kau membunuh ayahmu dengan beban pikiran seberat itu. Dan satu hal lagi buang jauh-jauh pikiranmu untuk mendapatkan Yura, wanita itu tidak akan pernah menjadi milikmu!" ancam Niko, membenarkan posisi kecamatan yang merosot di hidung lalu pergi meninggalkan Erlang dengan semua amarah yang ada dalam dirinya.


Erlang terdiam dia menyadari betapa jahatnya dia bersikap pada ayahnya tapi hatinya sakit bila tidak tidak bisa memiliki Yura.


belum sampai di penghujung pintu Niko berbalik lalu keduanya saling melihat dengan sorot kebencian masing-masing


"Jauhi Yura! Sebaiknya kau pikirkan bagaimana caranya membahagiakan istrimu. Kau sudah menikah dengan Jessica, jadi bertanggung jawablah sebagai pria yang bisa dipegang omongannya!"


mendengar langkah Niko yang semakin mendekat ke arah pintu membuat Yura tergesa-gesa pergi dari tempatnya menguping lebar jantungnya terasa masih begitu kencang dia ketakutan sudah mengetahui semua ini lantas apakah Roy juga sudah mengetahui bahwa Erlangga pria yang sudah merenggut kesuciannya


Lama Yura berpikir. Gadis itu duduk di meja makan dapur. Gelas yang baru saja diisi dengan air, segera dihabiskannya sekali teguk. Setelah mempertimbangkan, dan melihat sikap Roy, dia menebak bahwa Roy belum tahu apa-apa. Terbukti ketika mereka berpapasan di ujung anak tangga, pria itu tidak mengatakan apapun padanya justru seperti biasanya bersikap lembut dan mintanya untuk menjaga kesehatannya.


***


"Makan dulu, Nyah, Bibi sudah siapkan," ucap Bi Ijah lembut. Yura memang lapar, setiap habis menyusui Kaisar dia pasti kelaparan, tapi dia ingat bahwa Kaisar sendiri di kamar, maka wanita itu memutuskan untuk menunda makan siang yang sudah terlambat ini.


"Nanti saja, deh, Bi. Kai sedang tidur di kamar, sendirian lagi. Aku takut dia nangis sementara aku nggak dengar," jawab Yura.


"Kalau gitu biar aku yang menemani Kai, kau makanlah! Kau perlu tenaga dan harus kuat agar bisa memberikan yang terbaik untuk bayi itu," ujar Erlang yang entah sekal kapan berdiri di ambang pintu.


"Kau mau melakukannya?" Yura terbaru, inginnya Erlang memang selalu membantu mengurus Kaisar, agar putranya itu bisa merasakan kehadiran ayah kandungnya.


"Dasar tidak tahu malu, kau mau nyuruh suamiku ingin menjaga anakmu? Kau pikir siapa dirimu berani memerintah suamiku?" Bentakan keras dari balik tubuh Erlang membuat semua yang ada di dapur itu terdiam.

__ADS_1


__ADS_2