Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Lebih baik berpisah


__ADS_3

Aska hanya bisa memandangi punggung Aran yang menjauh. Begitu membuka pintu, wanita itu keluar dan menghempaskan daun pintu itu dengan kuat. Aska kehilangan kata-kata, pikirannya terikat oleh apa yang diucapkan Aran padanya. Apa benar dia salah sangka kepada Aran? Apa benar dendamnya salah alamat? Apa benar Mitha ‘lah yang seharusnya dipersalahkan atas semua yang terjadi kepada Aksa?


Aska duduk di kursi kerjanya dengan tatapan kosong dan pikiran melayang, satu persatu ucapan Aran di analisanya dan dikaitkan dengan bukti-bukti yang ada. Apa selama ini justru Mitha yang mempermainkannya dan juga Aksa? Dia sengaja mendatanginya, menguatkan dugaan bahwa memang Aran adalah wanita yang menyebabkan Aksa meninggal.


“Ya Tuhan, kalau benar apa yang diucapkan wanita itu betapa bersalahnya aku kepadanya.” Aska menatap langit-langit ruang kerjanya


Dia harus mencari tahu terlebih dahulu, kalau sampai memang apa yang diucapkan Aran itu benar dia akan menghabisi wanita yang sudah berani mempermainkannya. Tapi hatinya juga tidak sepenuhnya percaya kepada Aran, dia berada di persimpangan, kalau Mita bisa memfitnah Aran tentu Aran juga bisa memfitnah Mitha. Lantas dari Kakak adik ini yang mana yang harus dipercayai? Keduanya baru saja dia kenal.


Tapi kalau melihat wajah Aran yang lembut, membuatnya merasa kalau tidak mungkin wanita itu memiliki hati yang begitu jahat tapi di sisi lain, gadis itu juga dekat dengan orang lain ketika dia sudah menjadi istri Aska, hal itu sama saja menunjukkan perilakunya kalau dia wanita yang tidak setia.


Aska menghubungi Satria, memintanya untuk menugaskan seseorang menyelidiki Mitha. Dia harus tahu dulu sepak terjang Mitha, lalu mencari bukti apakah ada orang yang pernah melihat sosok kekasih Aska.


***


Paginya saat akan berangkat bekerja Aska bertemu dengan Aran di depan gerbang keduanya tanpa canggung terlebih Aska tapi Aran yang sudah meliriknya langsung berjalan keluar dari rumah itu Aska pun memasuki mobilnya dan segera berangkat saat melewati Aran yang berjalan menuju halte bus, sempat terpikir untuk menawarkan tumpangan tapi harga dirinya yang terlalu tinggi membuatnya mengurungkan niatnya.


“Dasar pria brengsek!” umpat Aran ketika mobil sport itu melewatinya. “Monster itu memang tidak punya etika bukankah seharusnya pria gentle man akan menawarkan tumpangan?” lanjut Aran.


***


“Aku ada kabar baru, Kamu pasti terkejut mendengarnya ujar,” Aran penuh semangat, menarik tangan Gara saat bertemu di depan pintu kelas mereka.


“Apa? Jangan bilang kau sudah punya bukti untuk mengetahui siapa kekasih Aksa yang sebenarnya,” sambar Gara tidak kalah semangat.

__ADS_1


“Ho oh, dan kamu pasti tidak akan menyangka, dugaanmu tepat, dia adalah kak Mitha.”


“Tahu dari mana? Jadi kamu sudah memberitahu kepada pria itu?” pertanyaan Gara semakin memburu. Keinginannya agar Aran cepat lepas dari genggaman pria itu semakin memuncak.


Selama ini demi menjaga persahabatan mereka dan takut Aran akan membencinya, Gara memilih untuk menyimpan perasaannya dalam hati, tapi jika nanti masalah Aran selesai, dia akan mengatakan perasaannya kepada Aran.


Kenyataan kini Aran sudah menikah membuat Gara tidak senang, dia terluka, dia begitu cemburu pada pria itu yang telah berhasil menikahi Aran. Harusnya, dia tidak perlu menyembunyikan perasaannya kepada Aran.


“Terserah dia mau percaya atau tidak, aku gak peduli, yang sekarang harus aku lakukan, bicara kepada Mitha dan membuka semua ini di hadapan papa. Aku ingin tahu apa alasan Mitha menggunakan identitasku ketika berhubungan dengan Aksa,” ujar Aran mengepal tinjunya.


“Udah jangan itu aja yang dipikiri. Kita juga harus fokus nih, sebentar lagi kita harus mencari rumah sakit tempat kita koas,” ujar Gara.


“Bukannya pihak kampus yang menentukan, ya?”


“Tapi kalau kita punya rekomendasi rumah sakit yang bagus, kita juga nyaman koas di sana, nggak dimaki-maki sama dokter praktik,,” lanjut Gara.


***


Sebenarnya Aran malas kalau harus menghadap pria itu. Sebisa mungkin dia tidak ingin ada kontak lagi dengan monster yang sudah mencuri ciuman pertamanya. Sampai detik ini Aran tidak ikhlas bibirnya disentuh oleh pria itu.


“Ada apa?” tanya Aska tanpa mengangkat wajahnya untuk melihat Aran, dia tetap fokus menatap layar laptopnya. Setiap pulang kerja Aska selalu menghabiskan waktunya di ruang kerjanya hingga larut, entah apa saja yang pria itu kerjakan di sana.


Kadang Aran heran, untuk apa dia memiliki kekasih dan membuat Stella tinggal di rumah ini sementara dari cerita Mimi ataupun Juminten, dia tidak pernah menghabiskan waktu dengan Stella, tidur pun mereka terpisah dan seperti saat ini, tidak ada yang tahu keberadaan Stella dan Aska sepertinya tidak peduli.

__ADS_1


“Aku mau ke rumah Papa, ada yang ingin aku bicarakan dengan papa,” ujar Aran dengan tatapan sinis. Aska yang tidak melihat tatapan sinisnya, membuat Aran mengejek dengan mimik wajah, sepuasnya tanpa diketahui oleh pria itu.


“Bicarakan apa?” susul Aska penasaran, kali ini dia mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan menatap wajah Aran.


“Apa hal itu wajib aku kasih tahu?” tantang Aran dengan satu alis naik ke atas.


“Kamu mau diizinkan pergi atau enggak?” tantang Aska, yang berhasil membuat wajah gadis itu mengerut kesal.


“Aku mau bilang sama papa kalau kamu menikahi aku karena, kamu dendam dan ingin membalaskan dendam padaku atas kematian adikmu. Aku juga mau bilang sama papa kalau Kak Mita sudah menggunakan identitasku untuk mendekati adikmu,” jawab Aran dengan semangat menyala-nyala. Akhirnya, dia bisa menunjukkan siapa dirinya, dia tidak sudi difitnah dan dijadikan tumbal atas kesalahan kedua orang ini.


Aska mendengar itu sontak berubah kaku. Walaupun dia tidak menginginkan pernikahan ini, tapi dia juga tidak ingin kalau ayah mertuanya sampai tahu, apa yang terjadi dalam rumah tangganya.


Dia tidak ingin Mahesa tahu kalau dia memperlakukan Aran dengan buruk. Jangan sampai pria itu menganggapnya sebelah mata dan kehilangan kehormatannya sebagai seorang pria.


“Kalau begitu, kau tidak usah pergi,” jawabnya ketus.


“Kenapa gitu? Nggak bisa dong, aku tetap mau pergi. Ada hal yang penting yang harus aku bicarakan dengan papa.”


“Kalau kau pergi untuk mengatakan hal itu lupakan saja, karena aku tidak akan mengizinkannya. Coba kau pikirkan, bagaimana perasaan papamu kalau sampai dia tahu, rumah tangga kita tidak seperti yang dia bayangkan,” ucap Aska menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tatapan tajam menatap Aran. Dia ingin melihat reaksi gadis itu.


“Kenapa harus takut papa tahu? Memang benar rumah tangga kita berantakan, ini bukan rumah tangga ini neraka! Sekalian aku mau bilang sama papa supaya mengurus perceraian kita!” seru Aran dengan penuh semangat.


Wajah Aska semakin pias. Bercerai? Entah mengapa kata itu sangat dia benci. Untuk saat ini, dia tidak ingin bercerai dengan Aran. Dia juga belum tahu apakah ucapan Mitha yang benar atau sebaliknya.

__ADS_1


“Kalau kau masih mengharapkan perusahaan ayahmu aman, jangan coba-coba menceritakan masalah ini dulu kepadanya,” ancam Aska mengeluarkan senjata pamungkasnya.


“Dasar gila! Pokoknya aku tetap pergi,” ucap Aran berlari meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2