Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Amarah Jessica


__ADS_3

"Benar kau sudah tidak sedih lagi? Om gak mau kau terus kepikiran soal Dita," ucap Roy mengamati Yura hanya mengaduk makanan yang ada di hadapannya.


Sepulang dari menemui Dita, Roy mengajak jurang untuk makan malam di sebuah restoran. Pria itu berusaha untuk menghibur Yura atas penghianatan dia terhadapnya.


"Aku baik-baik saja, Om. Justru aku kasihan pada Dita, ternyata selama ini dia menyimpan perasaan terhadap Bayu, padahal kami memintanya untuk membantu hubungan kami saat itu. Kalau aku tahu Dita menyukai Bayu, mungkin aku akan memilih untuk mundur," ujar Yura masih tenggelam dalam kesedihannya.


"Jadi Bayu nama pria yang kau sukai?" tanya Roy sembari tersenyum. Tidak ada kecemburuan dalam pertanyaan itu, apa lagi amarah. Wajar jika Yura yang masih sangat muda memiliki seseorang yang dia suka.


Roy bahkan kasihan karena Yura tidak bisa bersama dengan pria yang dia cintai.


"Iya, Om," jawab Yura singkat. Dalam diamnya, tiba-tiba dia ingat bahwa beberapa minggu lalu tanpa sengaja dia bertemu dengan Bayu dan hal itu belum diceritakan kepada Roy.


Dia tahu sebagai suami istri, seharusnya dia jujur kepada Roy tentang apa yang dia lakukan dan siapa yang dia temui.


Namun, terselip sedikit keraguan serta rasa takut kalau Roy akan kecewa padanya.


"Om, ada yang ingin aku sampaikan yang seharusnya sudah aku katakan berminggu-minggu lalu," ucap Yura pada akhirnya. Dia tidak ingin menyembunyikan sekecil apapun dari Roy yang bisa dianggap sebagai penghianatan dalam rumah tangga mereka.


"Ada apa?" Roy terlihat antusias menanti cerita dari Yura.


"Minggu lalu, saat Om masih berada di Singapura, aku pergi ke toko buku dan tanpa sengaja bertemu dengan Bayu. Kami berbincang mengenai kesalahan pahaman yang terjadi, dan ternyata semua kejadian itu berhubungan dengan Dita. Aku minta maaf kalau tidak mengatakan hal itu pada Om," ucap Yura.


Kalau dihitung-hitung sudah banyak kesalahan yang sudah Yura lakukan. Dia tidak pernah jujur sejak bertemu dengan Roy.


Roy tersenyum lembut menatap wajah Yura yang penuh penyesalan. Sikap Roy sama sekali tidak menunjukkan amarah, justru dia berpikir kalau memang Yura mencintai Bayu, maka dia bersedia untuk menyatukan keduanya.


"Apakah sampai sekarang kau masih mencintainya?" lanjut Roy masih memantau wajah wanita itu.


Yura tentu saja kaget, dan memilih diam seribu bahas. Pertanyaan itu justru membuat Yura merasa tidak enak hati. Bagaimana dia akan menjawabnya.

__ADS_1


Apakah sebaiknya dia berkata jujur bahwa saat ini Bayu sama sekali tidak memiliki kuasa dalam hatinya lagi. Sudah ada pria lain di dalam hatinya saat ini, pria yang tidak mungkin dia dapatkan.


"Kenapa Om bertanya seperti itu?" tanya Yura ingin tahu.


'Kalau memang kamu masih mencintai Bayu, Om berniat untuk menyatukan kalian. Dengarkan dulu penjelasan Om," ujar Roy saat melihat Yura ingin angkat bicara.


Jelas Roy tahu bahwa Yura akan menolak gagasan itu, alasannya cuma satu karena wanita itu tidak ingin menyakiti perasaan Roy.


"Kamu Jangan memikirkan perasaan Om. Kita sama-sama tahu bahwa rasa sayang diantara kita seperti seorang ayah pada anak. Yura izinkan Om memberikan kebahagiaan untukmu sebelum Om pergi meninggalkan dunia ini."


"Aku nggak mau, Om. Aku nggak butuh dan sejujurnya aku juga tidak mencintai pria itu lagi. Aku bersungguh-sungguh, jadi jangan berpikir untuk memberikan kami kesempatan bersama lagi," pinta Yura setulus hati. Dia tahu kalau Roy punya kekuasaan, jangan sampai pria itu mengatur semuanya hingga bisa membawa Bayu kembali padanya lagi.


"Kalau kau memang merasa tidak butuh, oke, tapi anak mu butuh sosok ayah dalam tumbuh kembangnya nanti, dan Om tidak ada di sisimu untuk memberikan hal itu padanya. Jangan keras kepala Yura, lakukan demi anakmu."


Roy masih bersikeras untuk membujuk Yura membuka hati, menerima pria lain. Hal ini semata-mata dilakukan untuk melindungi wanita itu dari orang yang bermaksud jahat padanya.


Roy juga mengkhawatirkan Erlang. Dia tahu sejak dulu anaknya itu tidak pernah menyukai Yura dan keputusannya untuk membagi harta bagi mereka berdua pastilah tidak akan mudah diterima anaknya itu.


"Om mohon kamu pikirkan dulu. Om ingin pergi dengan tenang, setelah mengetahui bahwa ada pria yang bisa melindungimu!" tegas Roy menutup perbincangan mereka.


Sepanjang jalan menuju rumah, Yura mengunci mulutnya, tidak satu kata pun diucapkan. Bahkan dia berpura-pura tertidur dengan menatap ke arah lain.


Hatinya dipenuhi dengan beban dan banyak pertanyaan. Yura begitu bingung, bagaimana menjelaskan kepada Roy bahwa dia benar-benar tidak menyukai Bayu lagi, tidak berharap bahwa ada kesempatan mereka bersama.


***


Kedatangan mereka disambut oleh Jessica di ruang tamu. Yura juga melihat Erlang sedang duduk dengan malas memandangi laptopnya di sana.


"Akhirnya kalian pulang, dari mana saja? Katanya Om sedang tidak enak badan. Kalau sudah begini artinya Om sudah sehat. Aku tidak mau pernikahan kami ditunda lagi Om! Erlang, kamu lihat sendiri Papa kamu sudah sehat, aku mau Minggu depan kita segera menikah!" pinta Jessica menuntut haknya.

__ADS_1


"Kalau memang itu yang kalian inginkan, maka segeralah menikah. Om tidak apa-apa. Om juga sudah sehat," ucap Roy mengambil tempat duduk di depan Erlang.


"Sebaiknya kita membahas masalah ini dengan serius, sebagai satu keluarga," ujar Roy yang tidak ingin posisikan sebagai orang yang menghalangi niat Jessica untuk menikah dengan Erlang.


Perintah Roy segera membuat Yura duduk di samping suaminya, begitupun dengan Jessica. Gadis itu tersenyum senang dan mengambil tempat di sebelah Erlang.


Selama pembahasan mengenai pernikahan mereka, Erlang hanya diam, terlihat wajahnya sama sekali tidak tertarik dengan topik itu, berbeda jauh dengan Jessica yang menyambut dengan antusias tanggapan dari Roy.


"Jangan diam saja Erlang, berikan pendapatmu. Benar kata Jessica, tidak perlu lagi mengulur waktu. Papa akan hadir di pernikahan kalian nanti," ujar Roy memperhatikan gelagat anaknya.


"Terserah Papa saja. Kalau memang Jessica ingin menikah minggu depan, maka kami akan menikah!" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Erlang kembali menyerah. Dia sudah tidak tahan lagi harus berdiam diri di rumah itu, hanya untuk berdekatan dengan Yura. Ada baiknya dia segera menikah dengan Jessica, dengan begitu mereka bisa pergi dari rumah itu dan tidak perlu bertemu dengan Yura lagi.


***


"Kenapa kau harus bersikap seperti itu? Apa kau tidak bahagia dengan rencana pernikahan kita?" serang Jessica mendatangi kamar Erlang.


Pria itu begitu dingin dan bersikap cuek terhadapnya. Bahkan Jessica malam ini sudah memakai gaun tidur yang seksi hanya untuk memancing Erlang, tapi kenyataannya pria itu tetap bersikap dingin dan tidak tertarik padanya.


Jessica bukan garis bodoh, dia menyadari perubahan sikap pria itu. Erlang bukan seperti kekasihnya yang dulu, yang selalu mencintai dan mengharapkan sentuhannya! Dia tidak tergila-gila lagi pada dirinya Karena keberadaan Yura.


Kesabaran Jessica ada batasnya. Kalau pria itu terus mengabaikannya, maka dia akan bertindak tanpa perasaan.


"Kenapa kau menolak sentuhanku? Menolak ciumanku? Sampai kapan kau akan begini? Apa karena wanita itu?"


"Wanita mana?" bentuk Erlang menoleh pada Jessica yang sudah mulai naik pitam.


"Jangan berlagak bodoh, Erlang! Aku melihat semuanya. Kalian menjijikan! Aku tahu skandal mu dengan ibu tirimu di belakang ayahmu!"

__ADS_1


__ADS_2