Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Tidak dianggap istri


__ADS_3

“Kalau begitu ada yang gak benar ini. Kalau dia memang memperlakukanmu tidak seperti layaknya seorang istri, maka dia menikahimu dengan tujuan lain,” ucap Gara mencoba menganalisis keadaan yang dialami Aran.


Sangat tidak masuk akal seseorang datang menawarkan kerja sama dengan imbalan menikahi putri pria yang ditolongnya, dan anehnya mereka belum pernah saling bertemu satu sama lain, namun setelah menikah justru memperbudaknya.


“Ran, aku yakin ada misteri dibalik ini semua. Kita harus cari tahu dan mengungkapkan apa tujuan pria itu menikahi,” lanjut Gara menggebu-gebu.


“Maksud kamu apa?” tanya Aran sedikit bingung


“Pasti ada alasan kenapa pria itu menikahi kamu. Setelah mendengar cerita tentang cara dia memperlakukanmu, hingga menyiksamu, mungkin dia ingin balas dendam kepadamu,” ujar Gara, tapi tidak yakin akan kesimpulan yang dia buat itu. “Tapi kalau balas dendam alasannya apa? Sementara kau dan dia belum pernah bertemu. Beda cerita kalau kau pernah menolak cintanya sehingga membuat dia patah hati,” ucap Gara mulai berpikir serius.


Lama keduanya terdiam, hingga tiba-tiba Aran mengingat sesuatu. “Tapi nggak mungkin desisnya seolah bicara kepada angin.


“Nggak mungkin apa? Kamu ingat sesuatu, Ran? Kamu harus terbuka sama aku kalau kita mau memecahkan misteri ini. Kamu nggak mau ‘kan seterusnya berada di dalam penjara pria itu? Kamu mau diperlakukan seperti tawanan?” desak Gara.


“Bukan begitu, Aku hanya tidak yakin dengan apa yang ku pikirkan. Tadi ‘kan kamu bilang apa mungkin dia menaruh dendam padaku karena patah hati atau sakit hati cintanya aku tolak hingga buat dia sesal,” terang Aran.

__ADS_1


“Jadi dia udah pernah nembak kamu?” sambar Gara ingin tahu.


“Justru itu, jangankan nembak, bertemu aja kami belum pernah. Hanya saat di hari pernikahan. Tapi kamu tahu, Aska punya adik laki-laki yang meninggal bunuh diri karena depresi ditinggalkan kekasihnya. Nah, suatu hari pria itu memintaku membersihkan kamar adiknya dan di sana aku mendapati banyak sekali barang peninggalan pacar adiknya yang dia simpan, tapi wajah wanita yang bersama adiknya dalam foto itu sudah dirobek bagian wajahnya, jadi aku nggak tahu bagaimana wajah wanita itu. Tapi ‘kan nggak mungkin dia berpikir kalau aku adalah pacar adiknya. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan adiknya atau siapa pun anggota keluarga mereka.


Mendengar hal itu, Gara seolah mendapatkan sebuah pemahaman. “Kita harus cari tahu siapa pacar adiknya itu. Setelahnya kita akan menemui wanita itu, dan mengorek informasi,” ujar Gara.


“Tapi gimana caranya? Kita juga nggak tahu siapa pacar Aksa, kan?” susul Aran bingung.


“Kalau punya kesempatan, kamu masuk aja ke kamar adiknya, kamu geledah semua barang-barangnya pasti ada satu petunjuk yang bisa membawa kita mengetahui siapa wanita yang menjadi mantan adiknya itu,” ucap Gara yakin. Aran hanya mengangguk mengiyakan. Dia berharap semoga rencana mereka membuahkan hasil karena dia sudah tidak tahan menjadi tawanan pria itu lagi, terlebih..., seketika Aran mengingat kembali ciuman paksa yang dilakukan pria itu padanya kemarin. Aran sangat membenci hal itu setiap mengingatnya, tapi dia juga bingung kenapa hatinya berdebar-debar kala pikiran itu terlintas. Aran bahkan bisa merasakan embusan napas pria itu di kulit wajahnya, dan sentuhan bibir itu pun masih bisa dia rasakan.


“Hei, kok malah melamun apa yang kamu pikirkan?” tanya Gara sembari menyikut Aran.


***


“Kita duduk di sini aja, ya,” ajak Gara setelah mereka tiba di tempat makan sedikit jauh dari kampus. Kata Gara tempat itu sangat enak stiknya dan pria itu memaksa untuk Aran mencoba. Lagi pula mata kuliah berikutnya, dosennya berhalangan hadir karena sakit, jadi karena belum waktunya pulang kuliah aman untuk Aran menerima ajakan Gara. Aska tidak akan tahu kalau dia sedang jalan dengan Gara.

__ADS_1


Tapi yang tidak disangka Aran, justru Aska ada di sana dan yang membuat dia lebih terkejut lagi adalah Aska sedang makan bersama Kakaknya, Mitha.


“Bukannya itu kakak kamu?” tanya Gara menatap lurus ke arah dua orang yang sedang terlibat percakapan serius di ujung sana. Aran juga yang sedang mengamati mereka bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa mereka bisa bersama, karena setahu Aran, kakaknya juga kenal dengan Aska juga saat hari pernikahan mereka, tapi kini mereka terlihat begitu akrab dan sedang membahas sesuatu yang tampak serius.


“Ran, kamu pernah mikir nggak Kalau kakak kamu adalah kekasih adik dari pria itu?” ucap Gara yang dia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa terpikirkan hal seperti itu, hanya saja Aran pernah bercerita kepadanya mengenai kepribadian Kakak tirinya yang membuat kepala ayahnya pusing karena tidak bisa diatur. Mita adalah gadis yang menganut gaya hidup bebas memilih untuk tidak meneruskan kuliahnya dan bersenang-senang mengunjungi klub malam di setiap malam bersama teman-temannya. Jadi bisa saja ‘kan kalau Mitha yang pergaulan yang luas mengenal Aksara. Itu sebabnya bukan Mitha yang diminta Aska untuk dia nikahi tapi Aran.


Semakin lama mereka seolah mempunyai titik terang dari persoalan Aran. Satu-satunya alasan kenapa Aska ingin membalas dendam kepada Aran pasti karena melakukan hal yang sudah menyinggungnya yang berhubungan dengan adiknya. “Aku yakin pasti Mitha kekasih Aksa dan pertemuan mereka ini justru membicarakan kamu,” papar Gara melanjutkan. “Apa tidak pernah terpikir olehmu kalau Mitha yang ingin lari dari tanggung jawab mengenai kematian Aksa justru mengatakan kepada Aska bahwa kau yang menginginkan adiknya meninggal?”


Sulit untuk mempercayai analisa darah tapi hal itu belum tentu juga tidak mungkin satu-satunya cara adalah dia harus menyelidikinya Aran memutuskan untuk menjawab teka-teki ini dia harus pulang ke rumah orang tuanya


***


Hari minggu tiba dan beruntungnya Aska sedang berada di Kalimantan, jadi Aran bisa dengan leluasa pergi ke rumah orang tuanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba seolah semesta ingin mendukungnya, Mitha sedang tidak berada di rumah, dengan mengendap-endap Aran memasuki kamar gadis itu dan mulai mencari beberapa bukti yang menguatkan analisa Aran.


Semua laci, bawah tempat tidur bahkan sampai isi lemari Mitha diperiksa oleh Aran. Saat melihat ada satu box yang tersimpan paling atas di atas lemari pakaiannya, dengan menaiki kursi, Aran mengambil box itu tapi yang ada hanya berisi beberapa aksesorisnya dan tidak memberikan petunjuk apapun. Lalu saat Aran ingin pergi dari kamar itu dia melihat laci lemari yang lupa dikunci oleh Mitha dan melihat beberapa barangnya yang selama ini hilang, ternyata ada di tangan kakaknya.

__ADS_1


Aran sendiri tidak tahu pada saat kapan Mitha mengambilnya dan benar saja kalung yang sama seperti yang ada di foto milik Aksa itu akhirnya dia temukan. Aran mengambil kalung itu dan akan membandingkannya dengan foto yang ada di kamar Aska. Tidak sampai disitu, Aran juga menemukan kartu ATM yang dulu pernah dipinjam oleh Mitha. Kartu itu memang sudah kosong hingga Aran memberikannya untuk dipakai oleh wanita itu tapi untuk apa sampai sekarang Mitha masih menyimpannya? Dulu alasan Mitha, kartu itu dia pinjam, karena temannya yang ingin membayar hutang padanya, memiliki jenis kartu yang sama, jadi tidak perlu kena biaya transfer. Aran yang tidak menaruh curiga hanya bisa memberikannya pada Mitha.


“Aku akan mengambil ini, besok aku akan memprint out aliran uang masuk dan keluar dari kartu ini,” ucapnya berlalu dari kamar kakaknya.


__ADS_2