Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Harapan satu-satunya


__ADS_3

Dari tempatnya berada, Mahesa mendengar suara anak menantunya meninggi seolah sedang ada pertengkaran. Hai sayang merasa khawatir buru-buru mengajak Mama Reni kembali menemui mereka berdua


“Ada apa? Kenapa papa mendengar suara ribut, seperti sedang bertengkar? Ada masalah apa sebenarnya ini? Apa kalian sembunyikan dari papa?” tanya Mahesa dengan nada khawatir, terlebih saat mendapati mantunya yang saat dia tiba sedang berdiri menghadap Aran seolah bersikap mengintimidasi putrinya. Jangan sampai karena sebuah masalah, mantunya itu melakukan kekerasan dalam rumah tangga pada putri terkasihnya.


“Gak ada apa-apa, Pa. Semua baik-baik aja kok, iya kan Mas?” ujar Aran mengubahmu wajahnya menjadi lembut kepada Aska.


Aska yang tidak mengerti dengan perubahan wajah istrinya yang tiba-tiba saja mencubit pelan pinggangnya, membuatnya hanya bisa mengangguk sembari memberikan senyuman kepada Mahesa agar tidak khawatir kepada mereka.


“Benaran kalian tidak apa-apa kalau? Ada masalah kalian boleh cerita kepada kami orang tua kalian. Setidaknya pengalaman kami berumah tangga sedikit banyak bisa kalian buat jadikan panutan,” ucap mama Reni seolah sudah paling bijaksana sebagai istri dan ibu.


“Bener, Ma kami nggak apa-apa, tadi kita lagi ngebahas rencana week-end ini, kita mau menginap di sini atau pilih di puncak aja,” jawab Aran berimprovisasi, Aska yang mulai mengerti alasan dibalik perubahan sikap istrinya itu hanya tersenyum dengan mimik wajah geli.


“Kalau begitu kalian nginap di sini saja, udah lama kita gak ngobrol sampai pagi. Kemarin saat ngobrol dengan Aska kamu sudah tidur, jadi kurang lengkap,” sambar Mahesa.


Merasa di atas awan, Aska memanfaatkan keadaan yang sedang berlangsung. Dia merangkul pundak Aran lebih dekat lagi, lalu mencium puncak kepala istrinya tanpa merasa sungkan di depan kedua mertuanya. “Aku setuju sama papa, Sabtu ini kami akan datang lagi ke sini, kita barbeque-an sambil ngobrol sampai pagi, Pa,” sahut Aska yang tidak sadar memanggil sebutan papa pada Mahesa.


Mahesa hanya tersenyum, begitu gembira mendengar menantunya memanggil papa, hingga buat hatinya tidak ragu lagi kini. Keraguan yang bermula karena dia sempat termakan ucapan Mitha yang mengatakan kalau rumah tangga Aran tidak baik-baik saja. Tapi melihat kekompakan suami istri itu, Mahesa tahu Mitha hanya membual. Aran terlihat begitu gembira bersandar di dada Aska.


***


“Tadi apa-apaan sih? Sikapmu tadi terlalu berlebihan!” seru Aran setelah mobil Aska meninggalkan rumah ayahnya.

__ADS_1


“Berlebihan gimana? Kan kamu yang ngajak aku akting. Aktor itu harus total dalam menjalani perannya, terus salah aku dimana?” jawab Aska sembari mengulum senyum. Aran kesal, melihat wajah gembira dan mata berbinar pria itu, entah apa yang ada di pikirannya.


“Tapi nggak harus panggil papaku dengan panggilan Papa. Jadi ketahuan ‘kan kelebihannya. Biasanya kamu manggil papaku dengan sebutan Om,” terang Aran yang ingin menggeplak kepala pria itu, karena ingat sudah berani meluk dan mencium kepalanya.


Sejak pulang Aska terus mengembangkan senyum di bibirnya, seolah ada hal lucu tentang Aran yang bersarang di kepalanya, dan Aran merasa kalau pria itu sedang mengejeknya.


“Oke, gini deh mulai sekarang aku akan panggil Papa biar nanti kalau lagi di rumah papa kamu, tampak begitu natural. Aku juga akan mulai lebih sering merangkul dan memelukmu supaya Sabtu nanti lebih ngalir aja ketika memerankan peranku,” sambar Aska, dan lagi-lagi mengulum senyum. Pria itu bahkan tertawa kala bertemu mata dengan Aran yang melotot marah karena rencana yang baru diucapkan Aska.


“Dasar buaya! Enak aja kamu ngomong kayak gitu, siapa bilang hari Sabtu kita jadikan nginap di rumah papa?”


“Loh, kenapa gak jadi? Kamu gak khawatir nanti papa kamu curiga sama kita, beliau pikir kita ada masalah.” Aska yang mulai mengerti, Aran bersikap seperti itu karena tidak ingin papanya mengetahui bahwa mereka tidak baik-baik saja.


Mungkin ini jalan dari Sang Maha, memberikan pria itu satu kesempatan lagi untuk berubah dan memperlakukan Aran dengan lebih baik lagi.


“Loh, kok malah bohongi papa kamu sih? Gak mau, ah.”


***


“Bagaimana, apakah kau sudah mengatur semuanya?” tanya Aska dari balik laptopnya. Tanpa melihat pun, dia tahu Satria yang baru saja masuk untuk mengantarkan satu berkas berisi laporan penyelidikan yang diperintahkan Aska.


“Sudah, Bos. Saya juga sudah mengatur nyonya Aran ditempatkan di rumah sakit kita,” jawab Satria yang tidak mengerti dengan perubahan bosnya. Bukankah selamanya dia sangat membenci Aran, lantas mengapa dia ingin membantu gadis itu mencari tempat magang?

__ADS_1


“Apa ini sudah semuanya?” tanya Aska menatap amplop coklat yang masih tertutup rapi.


“Itu semua yang bisa saya dapatkan bos, dalam waktu dua hari ini,” ucap Satria. Dia berjaga-jaga, dia tebak, mood bosnya akan berubah, setelah untuk membaca berkas yang dia berikan itu.


Satu persatu Aska mengamati, dan membaca data yang ada di tangannya. Hati Aska panas bukan main, diremas satu foto yang disertakan oleh Satria. Terjawab sudah teka-teki selama siapa sebenarnya wanita di balik kematian Aksa.


Seketika bayangan wajah Aksa terbayang dalam pikiran. Adik yang dia kasihi, harus meregang nyawa karena dipermainkan oleh seorang wanita licik.


“Apa alasan dia menggunakan identitas orang lain saat berkenalan dengan Aksa?” ujar Aska mempertahankan nada suaranya agar tidak bergetar.


“Saat itu, Mitha sedang menjalin kasih dengan seorang anggota Mafia, dia takut ketahuan bermain api pada pria itu, jadi memilih menggunakan identitas nyonya Aran,” jawab Satria.


“Bawa gadis itu ke suatu tempat. Aku sendiri yang akan menginterogasinya” ucap Aska menahan emosi. Ternyata apa yang dikatakan Aran benar, Mitha lah wanita yang dia cari selama ini, dendam Aska ternyata salah alamat.


“Bos, bagaimana dengan nyonya Aran? Apakah seperti rencana kita dulu, setelah Nyonya tidak dibutuhkan lagi, kita menyingkirkan nya?” tanya Satria.


“Jangan sekali-sekali kau mengatakan hal itu lagi!” raung Aska.


“Tapi bos yang dulu bilang kepada saya untuk mengingatkan bos jika semuanya sudah selesai kita akan menyingkirkannya.”


Aska terdiam, iya dia ingat ketika mengetahui targetnya adalah Aran, dia meminta kepada Satria untuk mengingatkan nya bahwa nanti setelah dendamnya terbalaskan dengan membuat hidup Aran menderita, dia akan mencampakkan Aran hingga ke manapun gadis itu melangkah orang tidak akan lagi mau memandangnya. Tapi kini setelah mengetahui semua kebenaran ini, justru dia tidak ingin kehilangan Aran.

__ADS_1


Melihat bosnya yang tidak bisa menjawab pertanyaannya, Satria mohon undur diri. Walaupun dia juga jomblo ngenes, Satria bisa memahami kalau saat ini wanita bernama Arandita sudah masuk ke dalam hati dan pikiran bosnya. Pria itu beberapa kali tertangkap lensa mata Satria, Aska senyum-senyum sendiri tanpa sebab, persis seperti orang yang sedang kasmaran.


Satria sendiri tidak punya masalah dengan Aran, dia menilai wanita itu adalah wanita yang baik yang pantas mendampingi bosnya jika memang bosnya itu kini telah mencintai Aran. Dia berharap gadis itu mau memaafkan dan menerima bosnya, walaupun mungkin itu akan sulit terjadi.


__ADS_2