
Yura menitikkan air mata ketika semua saksi mengucapkan kata 'sah'! Selesai sudah, Erlang kini sudah menjadi milik Jessica.
Hati Yura begitu perih, sakit seakan setengah dari nyawanya menghilang dari tubuhnya. Anaknya bergerak gelisah di dalam perut, menendang dan terus berputar seolah tidak terima dengan pernikahan ayahnya.
Semua orang menyalami pengantin baru, begitupun dengan Roy yang ingin memeluk Erlang. Namun, ketika pria itu berdiri dari duduknya, seketika tubuh Roy merosot dan jatuh ke lantai, beruntung Erlang segera menangkap tubuh ayahnya yang sudah tidak sadarkan diri.
Dengan cepat Roy dibawa ke rumah sakit. Pagi tadi pria itu tampak sangat sehat bahkan sangat bersemangat menghadiri acara pernikahan putranya. Siapa sangka siang ini dia harus dilarikan ke rumah sakit.
"Sebenarnya Papa sakit apa apa kau tahu tentang hal ini?" tanya Erlang pada Yura sejak tadi erla mondar-mandir di depan pintu ruangan tempat Roy saat ini sedang dirawat.
Yura masih shock tidak bisa berpikir dan menjawab apa pada Erlang. Pria itu semakin kalut akan keadaan ayahnya.
Tidak lama seorang dokter keluar dari ruangan itu mencari keluarga Roy yang bisa diajaknya bicara untuk memberitahukan mengenai keadaan Roy saat ini.
"Maaf, yang mana keluarga Bapak Roy?" tanya dokter itu mengamati Yura dan Erlang bergantian.
"Saya anaknya, Dokter," sambar Erlang dengan cepat.
Dokter itu pun meminta Erlang untuk ikut ke ruangannya, tanpa pikir panjang Yura menarik tangan Erlang agar ikut serta membawanya. Dia juga ingin tahu bagaimana keadaan Roy yang sebenarnya.
Walau dia sudah membaca rekam medis dan riwayat kesehatan Roy dari tahun ke tahun selama menjalani pengobatan di Singapura, namun dia tidak tahu mengenai kondisi pria itu yang sebenarnya saat ini, dan mengapa Roy bisa tiba-tiba pingsan seperti itu.
Dokter menjelaskan panjang lebar mengenai keadaan Roy yang membuat Erlang terperanjat tidak percaya mengenai keadaan ayahnya saat ini yang begitu parah.
Selama ini Roy berusaha menampilkan sosoknya yang kuat dan sehat walau Erlang tahu beberapa kali pria itu memang terlihat begitu lemah namun, tidak menandakan bahwa dia mengalami penyakit yang parah seperti saat ini.
__ADS_1
Yura di bangkunya Sudah menangis terisak. Walaupun Roy sudah mengatakan bahwa umurnya sudah tidak lama lagi, Yura tidak menyangka saja bahwa suaminya itu akan secepat itu pergi bahkan lebih cepat dari dugaan Roy.
"Dokter, saya sudah membaca keterangan dan riwayat kesehatan suami saya saat terakhir kali dia pergi periksa ke rumah sakit di Singapura, keadaannya tidak seburuk seperti yang Dokter katakan,"ujar Yura diiringi dengan tangisnya.
Dia sungguh tidak rela kalau harus melepaskan Roy terlebih saat ini dalam kondisi hamil.
Tangis Yura semakin pecah tidak tertahan. Dokter ikut iba melihat keadaan Yura. Dalam pikiran sang dokter, betapa malangnya nasib Yura, di saat kehamilannya dia harus kehilangan suami sekaligus ayah dari anaknya.
Erlang juga merasakan kesedihan yang sama dengan Yura. Namun, sebagai lelaki dia menahan agar air matanya tidak tumpah. Tanpa sungkan, dia menarik Yura ke dalam pelukannya, menenangkan gadis itu dan menguatkannya, meyakinkan Yura bahwa ayahnya akan baik-baik saja.
***
Roy dipindahkan ke ruang VIP. Pria itu belum siuman. Yura dengan setia berjaga di sisi Roy sambil menggenggam tangan pria itu, melantunkan bait-bait doa demi kesehatan suaminya.
Yura terus menangis hingga tidak tahan karena tubuhnya yang begitu lemah, perutnya juga tiba-tiba sakit yang tidak tertahankan membuat gadis itu semakin lemah.
"Aku di mana? Apa yang sudah terjadi? Kenapa aku diinfus?" tanya Yura setelah gadis itu sadar. Ingatannya kembali pada keadaan Roy yang membuatnya mendudukkan diri di atas ranjang.
"Kau beristirahatlah! Papa belum siuman. Lihat keadaanmu sekarang, kau sedang hamil besar, jangan sampai kondisimu yang melemah, mempengaruhi anakmu! Setidaknya kau harus bisa menjaga anak ayahku agar dia tidak semakin sedih kalau sampai terjadi hal buruk pada bayi yang kau kandang!" tegur Erlang meminta Yura untuk bisa menguasai diri.
"Tapi aku ingin berada di dekat Om Roy. Aku ingin mengetahui keadaannya. Aku mohon Erlang, biarkan aku bersama Om Roy," pinta Yura ingin turun dari ranjang.
"Kau boleh melihat papa tapi tunggu keadaanmu lebih baik dulu. Kau baru saja pingsan, tekanan darahmu rendah. Dokter menyarankan agar kau bisa beristirahat beberapa hari ini!"
Perkataan Erlang begitu tegas, tidak terbantahkan lagi oleh Yura. Dia juga tidak mau terlalu membebani pria itu sehingga memilih untuk menurut saja.
__ADS_1
Dielusnya permukaan perutnya yang sudah membuncit, sejak tadi anaknya begitu aktif di dalam sana.
"Ada apa? Apa perutmu sakit?" tanya Erlang yang terus mengamati Yura, tatapannya kini turun ke perut wanita itu.
"Gak, aku nggak papa, cuma aku sedikit sakit," jawab Yura meringis kesakitan.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Erlang spontan meletakkan tangannya di atas permukaan perut Yura.
Gadis itu hampir saja meneriakkan nama Erlang. Sentuhan pria itu yang sekian lama ditunggunya membuat Yura begitu terharu. Perhatian Erlang tanpa dia sadari sudah menyentuh hatinya yang terdalam.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Erlang dengan menarik tangannya. Dia pikir sudah tidak apa-apa lagi karena gadis itu tiba-tiba berhenti meringis kesakitan.
Dengan sigap Yura menahan tangan Erlang untuk berpindah dari atas perutnya, justru mengarahkan tangan Erlang untuk merasakan gerakan putra mereka di dalam kandungan Yura.
Bola mata Erlang membulat. Dia bisa merasakan pergerakan bayi yang ada di dalam perut Yura, terlihat sangat takjub. Anak manusia yang terbentuk dan kini sedang berlindung dalam kandungan wanita itu.
"A-pa ini dia? Apa ini anakmu?" tanya Erlang terbata. Dia begitu kagum, karena bisa merasakan pergerakan bayi itu, yang anehnya saat Erlang menyentuh perutnya bayi itu seolah menyukai sentuhan Erlang, tidak gelisah di dalam sana, justru menjadi tenang dan tidak bergerak-gerak yang membuat perutnya sakit seperti tadi.
"Terima kasih, dia jadi tenang di dalam sana. Apa kau bisa merasakannya?" tanya Yura menghapus tetesan air mata dari sudut matanya yang indah, mengalir deras di pipinya. Begitu terharu pada momen ini.
Erlang masih menatap mata gadis itu sembari mengangguk. Dia kehilangan kata-kata. Perasaan yang aneh dia rasakan di dalam dadanya. Mengapa begitu menyentuh dan merasakan kehadiran anak itu membuat hatinya seolah terpaut pada anak dalam perut Yura?
Bagaimanapun dia mencari istilah atau kata yang bisa mengungkapkan perasaannya saat itu, Erlang tidak menemukannya. Bahkan kalau boleh jujur, dia enggan menarik tangannya dari atas perut Yura, ingin berlama-lama bermain dengan anak itu.
"Apa kau sudah menyiapkan nama untuk calon anakmu nanti?" tanya Erlang tersenyum lembut kepada Yura. Dia tahu perjuangan seorang ibu hamil tidak mudah, terlebih karena Yura masih sangat muda dan ini adalah kehamilan yang pertama.
__ADS_1
"Aku belum menyiapkan nama. Apa kau mau memberikan nama untuk anak yang aku kandung?" tanya Yura yang keluar begitu saja dari mulutnya.