
Selama seminggu Roy berbaring di rumah sakit, akhirnya kondisi pria itu sudah semakin membaik, walaupun dokter tidak membenarkan Dia turun dari atas ranjang.
"Niko segera urus kepulanganku ke rumah. Kalaupun aku tidak turun dari ranjang ini, aku ingin dirawat di rumahku saja! Minta dokter untuk datang memeriksa ku ke rumah saja!" perintah Roy yang sudah mulai muak berada di ruangan rumah sakit ini.
Niko tidak berani membantah, begitupun dengan Erlang yang menuntut ayahnya agar tetap tinggal di rumah sakit saja namun, kuasa tetap ada di tangan Roy.
Jangan anggap walaupun pria itu saat ini sedang lemah dan hanya bisa berbaring di atas tempat tidur, tapi dia tetap masih punya kuasa. Dengan berat hati Niko akhirnya memutuskan untuk mematuhi perintah Roy.
Setelah Erlang menandatangani surat pernyataan bahwa tidak akan ada penuntutan apapun dari pihak keluarga jika terjadi hal buruk kepada Roy selama dirawat di rumah, maka Roy sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Lima orang tim dokter akan selalu datang memantau keadaan Roy di rumahnya, dan dua orang perawat juga akan stand by tinggal di rumah itu untuk merawat dan mengurus segala keperluan Roy agar tetap higienis dan teratur.
"Kenapa wajahmu begitu tirus? Kau terlihat begitu kurus. Apa selama aku tidak sadarkan diri kau tidak makan dan tidak mengurus dirimu? Bagaimana dengan bayimu?" tanya Roy mengelus perut Yura.
Roy yang pulang dengan menggunakan ambulans VIP, ditemani oleh Yura. Sedikitpun Yura tidak mau meninggalkan Roy, tetap memantau pria itu masih selalu bersamanya.
Hal yang wajar jika seseorang ketakutan dengan datangnya kematian. Begitupun dengan Yura. Dia sangat takut ketika dia pergi entah itu ke kamar mandi atau ke mana yang jaraknya jauh dari Roy dan ketika dia kembali pria itu sudah tidak ada di dunia ini.
Pemikiran yang tidak masuk akal namun, wajar karena dia begitu menyayangi Roy. Jangan tanya bagaimana bentuk rasa sayangnya, intinya dia tulus menyayangi pria itu baik sebagai ayah ataupun sahabat.
"Aku nggak mau kau terlalu memikirkan keadaan Om. Ingat saat ini kau sedang mengandung, dan dua bulan lagi kau akan melahirkan. Jangan sampai terjadi hal buruk kepada bayimu, Om akan semakin bersalah karena sudah membuatmu susah," terang Roy mengingatkan Yura.
"Iya Om, aku kan jaga kesehatanku tapi begitu juga dengan Om. Aku ingin saat melahirkan nanti Om sudah sehat dan bisa menemaniku di rumah sakit," jawab Yura membawa tangan Roy ke bibirnya untuk dicium.
__ADS_1
Pada akhirnya mereka tiba di rumah. Roy merasa lega bisa melihat rumahnya kembali. Dia pikir dia akan pergi menghadap sang penciptanya dari rumah sakit. Kalaupun dia harus meninggal, biarlah dia pergi dengan tenang di rumahnya.
Mobil Erlang yang berada di depan bersama Niko lebih dulu turun untuk membantu Roy turun dari ambulans.
"Om sudah pulang?"seru Jessica menyambut kedatangan Roy, senyumnya yang mengembang, tentu saja itu hanya senyum pura-pura.
Selama seminggu Roy dirawat di rumah sakit tidak sekalipun Jessica datang menjenguknya bahkan sekedar menanyakan perihal keadaan Roy melalui telepon pun tidak.
Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Erlang dia justru berterima kasih karena Jessica tidak datang ke rumah sakit yang pastinya akan membuat moodnya semakin buruk.
Dia sudah tahu kalau istrinya itu tidak peduli dengan siapapun kecuali dirinya sendiri. dan dia juga tidak mengharapkan empati dari gadis itu untuk ayahnya.
"Bisakah kamu melainkan suaramu dan menjauh lah dari papa biar kami gampang membawanya masuk ke rumah!" hardik Erlang yang sama sekali tidak memandang dan menganggap Jessica sebagai istrinya.
"Aku bilang minggir!" bentak Erlang yang sudah habis kesabarannya terhadap gadis itu.
Jessica ingin menjawab namun segera Heni berlari mendekat ke arah keponakannya dan menarik lengan gadis itu sedikit menjauh dari rombongan mereka.
"Kenapa kau begitu bodoh seharusnya kau tidak perlu mendebat perkataan Erlang seperti itu! Kau hanya perlu menunjukkan perhatianmu kepada tua bangka itu nanti!" bisik Heni.
Dia sudah mendengar semua cerita mengenai kisah Erlang dan Yura. Heni begitu geram dan tidak akan membiarkan Yura menjadi pemenang karena sudah merusak hubungan Erlang dan keponakannya.
Sebelum pulang ke rumah, Niko sudah mendesain dan mengatur kamar Roy menjadi tempat yang lebih nyaman untuk pria itu beristirahat karena harus banyak alat-alat medis yang dimasukkan ke kamar itu jadi perlu merenovasinya dengan menghancurkan dinding pemisah antara ruang tidur dan juga ruang penyimpanan barang-barang pribadinya yang berharga.
__ADS_1
Atas perintah Roy, semua surat dan aset serta barang-barang yang berharga dipindahkan ke kamar Yura. Dia ingin gadis itu menjadi orang yang bertanggung jawab menyimpan segala harta bendanya.
Kamar Yura juga sudah dipindahkan ke sebelah kamar Roy agar mereka lebih gampang berhubungan. Hal itu juga atas permintaan Yura karena dia ingin ikut serta merawat Roy.
Mungkin tidak banyak yang bisa dia lakukan terlebih dalam kondisi hamil seperti ini. Namun setidaknya, dia ingin tetap berada dan memperhatikan apa saja yang disuntikkan ke tubuh pria itu dan dikonsumsi olehnya.
***
"Kau sedang apa apa ada yang bisa aku bantu?" suara Jessica mengagetkan Yura yang sedang berada di dapur Bi Ijah menoleh ke arah wanita itu dengan tatapan sinis.
Tidak ada satu orang pun yang menyukai Jessica di rumah itu, tapi apa dia peduli? Tentu saja tidak! Dia justru menganggap bahwa dirinya lah yang berkuasa di rumah itu. Terlebih seminggu lalu, ketika semua orang tidak ada di rumah, Jessica menunjukkan taringnya kepada para pelayan, membuat aturan baru di rumah itu.
"Tidak perlu Jes, terima kasih. Udah selesai kok, aku hanya membuat bubur untuk Om Roy. Sebentar lagi dia harus minum obat," jawab Yura yang kembali fokus pada wajan yang ada di hadapannya.
Jessica terlihat menyeringai menatap tubuh Yura yang membuncit. Bi Ijah yang merasa ketakutan dengan senyum penuh makna Jessica, segera ikut berdiri dari duduknya dan menghampiri Yura meminta wanita itu untuk duduk dan membiarkan dirinya menyelesaikan masakan itu.
"Nyonya duduk dulu itu tehnya udah Bibi buat," ucap Bi Ijah menarik tangan Yura menjauh dari kompor dan juga wajan.
Bi Ijah punya firasat buruk bahwa wanita itu punya rencana jahat terhadap Yura dan juga bayi yang saat ini dia kandung. Bi Ijah juga sudah mengingatkan kepada Wati dan juga Titin untuk lebih siaga untuk melindungi Yura.
Mata Jessica mengikuti langkah Yura dan juga Bi Ijah menuju meja makan. Dia mendelik kesal dan mengumpat dalam hati karena rencananya sudah digagalkan oleh Bi Ijah.
Tadinya Jessica berniat untuk mencelakai Yura. Tidak perlu dengan perkara yang besar. Untuk di awal dia ingin membuat kejadian yang kecil saja, seperti menuangkan bubur itu ke tangan Yura atau bila beruntung bisa mengenai perut wanita itu.
__ADS_1