
Kehidupan Yura benar-benar terusik di rumah itu. Jessica dan tantenya terus mencari masalah terhadap dirinya selalu memojokkan Yura dan mereka berakting menjadi korban ketika Yura mencoba membela dirinya.
"Tante lihat sendiri kamu yang memasukkan bubur cabe itu ke dalam makanan Mas Roy," ucap Heni ketika Erlang menanyakan perihal masakan yang membuat lambung Roy bermasalah lagi, hingga membuat tubuhnya drop.
Suster sudah mengingatkan agar Roy tidak memakannya, tapi karena pria itu tahu bahwa yang menyiapkan makanan siang itu adalah Yura, dia tidak sampai hati untuk tidak memakannya.
Alhasil kesehatan Om Roy memburuk. Dia terlalu banyak mengkonsumsi bubuk cabe yang dicampurkan pada makanannya dengan orang yang menjadi tersangka adalah Yura. pagi itu setelah menyiapkan makanan untuk Roy Yura dan Titin pergi ke klinik terdekat.
Mengingat bahan makanan yang sudah menipis di kulkas, Yura berinisiatif untuk pergi berbelanja, lagi pula dia juga ingin membeli susu hamil yang biasa dia minum.
Namun, setibanya Yura di rumah bukan sambutan yang dia terima, justru dirinya kini di sidang.
"Mengapa kau sembarangan mencampurkan bibit cabe ke makanan Papa? Sementara kau tahu sendiri kesehatannya memburuk dan dia tidak bisa mengkonsumsi makanan yang pedas, yang asin ataupun yang asam. Aku tidak mengerti apa tujuanmu seperti itu!" seru Erlang bersama amarahnya.
"Apa kau pikir aku sebodoh itu? Aku tidak memasukkan apapun ke dalam makanan Om Roy. Sudah sebulan aku merawatnya. Apa mungkin aku bisa tidak tahu mana yang makanan yang bisa dikonsumsi dan yang tidak?"
"Kau mungkin saja tahu dan selama ini kau melakukannya sesuai dengan yang benar, tapi berlalunya waktu, siapa yang tahu bahwa kau tidak berubah? Bisa saja kau ingin Mas Roy segera pergi menghadap sang penciptanya agar kau mendapatkan bagian dari harta milik Mas Roy," lanjut Heni tanpa perasaan.
Ibarat pepatah mengatakan sekali tembak dua burung yang kena. Jebakan ini bisa membuat dua orang yang paling penting di rumah itu menjadi benci kepada Yura, yang dulu awalnya sayang dan perhatian akan muak pada gadis itu, setelah apa yang dituduhkan padanya nanti.
Tujuannya sudah jelas, dia ingin menabur kebencian di hati Erlang sebagai langkah awal untuk menjauhkan pria itu dari Yura.
"Apa yang Tante bicarakan? Aku tidak mungkin berpikiran seperti itu. Om Roy sudah begitu baik padaku selama ini, aku tahu diri, Tante. Anjing saja tidak akan menggigit kepada tuannya yang sudah memberinya makan apalagi aku yang manusia," jawab Yura dengan lantang.
__ADS_1
Heni masih ingin menjawab mengeluarkan jurus lidah beracunnya namun, melihat rahang Erlang yang sudah mengeras tanda tidak suka dengan perdebatan itu, membuat Heni tarik diri menutup bibirnya rapat-rapat.
"Mulai sekarang kau jangan pernah lagi ke dapur untuk memasak makanan bagi Papa! Urus saja dirimu sendiri dan juga anak yang kau kandung perbuatanmu ini hanya menyulitkan dan mengancamnya ayahku!"
Erlang berlalu setelah mengatakan perintah yang harus dijalani Yura. Dia marah atas apa yang sudah terjadi pada ayahnya dan tentu saja dia percaya bahwa bukan Yura yang melakukan hal itu.
Yura terlalu polos untuk melakukan hal picik seperti itu. Erlang sengaja marah di depan Jessica dan tantenya, karena tidak ingin Yura kembali lagi ke dapur dan mengalami insiden seperti beberapa hari lalu.
Saat Yura memasak, Jessica datang menawarkan bantuan tepat kala itu hanya ada mereka berdua di dapur. Bi Ijah sedang pergi ke klinik, karena kepalanya yang sedikit pusing. Titin dan Wati diminta oleh perawat untuk mencarikan kapas pembersih sekaligus pampers untuk orang dewasa sehingga tidak ada yang menjaga Yura saat itu.
"Aku bisa kok, Jes. Kamu ke depan aja, udah mau selesai kok," jawab Yura menolak. Dia bukan tidak ingin menerima bantuan Jessica tapi memang masakannya sudah hampir rampung.
Namun Jessica memaksa untuk mengaduk sup yang berada di atas panci lalu dengan sengaja mendorong panci itu hingga terjatuh ke lantai dan mengenai kaki Yura.
Erlang yang mendapat kabar itu dari Bi Ijah tanpa pikir panjang segera pulang dari kantor meninggalkan meeting yang sedang dia pimpin. Tidak ada yang lebih berharga dari keselamatan Yura.
Siapapun mungkin tidak akan percaya tapi benar adanya setelah memegang perut Yura, merasakan janin itu bergerak di bawah tangannya, Erlang tidak kuasa untuk menutup mata dari Yura.
Dia ingin terus berdekatan dengan gadis itu, melindungi dan menjaga mereka berdua. Entah mengapa batinnya mengatakan bahwa dia berjodoh dengan anak itu seolah ada telepati diantara mereka.
Tidak mungkin Erlang bisa langsung menyayangi anak Yura yang masih ada dalam kandungannya beda cerita kalau anak itu sudah lahir dan begitu menggemaskan yang membuat Erlang bisa jatuh hati. namun itulah yang disebut takdir dan juga seperti kata orang pintar darah itu kental mengalir melewati nadi dan sentuhan Erlang membuat anak dalam kandungan Yura merasakan keberadaan ayahnya.
Erlang memang meminta Bi Ijah untuk memantau Yura. Sejak Jessica mengundang bibinya untuk tinggal di rumah itu, Erlang memiliki firasat bahwa keduanya mempunyai niat jahat terhadap Yura.
__ADS_1
Kalau bukan demi menutup rapat mulut Jessica mengenai hubungan terlarangnya dengan Yura, Erlang mana mungkin mau menikahi wanita sundal itu.
Dia akan menunggu waktu yang tepat untuk menceraikan Jessica, tapi tidak saat ini. Dia tidak mau ayahnya terbebani dengan masalah yang ditimbulkan wanita itu nanti.
Kalau kesehatan ayahnya sudah membaik, maka segera dia akan mengakhiri pernikahannya dengan Jessica.
Begitu Erlang tiba di rumah perawat sudah mengolesi salep pendingin agar kulitnya tidak melepuh lebih banyak.
Air mata yang menggenang di pelupuk mata Yura, membuat hati Erlang terbakar. Dia begitu kasihan melihat gadis itu. Ingin sekali mencekik leher Jessica namun, dia tidak ada bukti bahwa gadis itulah yang sudah mencelakai Yura meskipun lewat telepon, Bi Ijah sudah menjelaskan bahwa hanya mereka berdua yang ada di dapur dan panci itu jatuh tepat saat Jessica berada di dapur.
Tatapan sendu Erlang justru membuat Yura tidak kuasa, hingga menangis di hadapan pria itu yang semakin membuat Erlang merasa sedih dan seakan menjadi pecundang karena tidak bisa membalaskan dendam Yura.
Kalau dia tidak menikahi wanita ular itu, Yura tidak akan menderita seperti ini. Berulang kali Jessica dan tantenya berbuat jahat kepada Yura, mereka seolah ingin menciptakan kecelakaan yang tidak disengaja hanya demi ingin menyingkirkan Yura.
"Aku melarang mu untuk masuk ke dapur lagi! Tidak bisakah kau membuatku tenang? Jantungku hampir lepas dari tempatnya ketika mendengar kau hampir celaka tersiram kuah sop panas!" ucap Erlang ketika mereka hanya berdua bicara di ruang kerja Roy.
"Itu hanya insiden tidak disengaja. Aku mohon jangan melarang ku untuk masak, kau tahu betul aku sangat suka masak," pinta Yura.
Melihat rengekan Yura, Erlang jadi tidak kuasa untuk menolak permintaan gadis itu dan kembali mengizinkannya untuk berkreasi memasak menu makanan di sana.
Hingga dugaannya benar. Kembali terjadi tragedi di dapur walau kali ini bukan fisik Yura yang menjadi korban, tapi tetap saja dia difitnah ingin mencelakai Roy.
Jadi, langkah yang diambil Erlang melarang gadis itu kembali ke dapur, bukan karena benci, tapi semata-mata karena ingin menyelamatkan Yura dari serangan dua wanita rubah yang siap menerkam.
__ADS_1