
Semua perkataan Bayu jadi beban pikiran Yura. Pria itu tidak salah sama seperti dirinya mereka hanya korban dari perbuatan Dita.
"Dari mana aja, sih? Kelayapan terus. Ibu hamil itu harusnya diam di rumah!" tegur Jessica berdiri di tengah ruangan.
Yura hanya melengos tanpa berniat sedikitpun untuk menjawab perkataan Jessica, banyak hal lain yang harus dia pikirkan dan hari ini mood nya sangat buruk.
Yura tidak berdaya. Dia terpaksa memberikan nomor telepon yang diminta oleh Bayu, tapi Yura sudah menjelaskan bahwa tidak ada apapun lagi yang bisa mereka bicarakan tidak ada yang perlu diperbaiki dan tidak ada yang bisa diharapkan dari mereka.
"Aku sudah menikah, Bay. Perjumpaan kita sekarang tidak ada gunanya lagi, tidak ada hal yang perlu kita bicarakan dan tidak ada keadaan yang bisa diperbaiki," ujar Yura tegas. Dia tidak ingin bersikap lembut hingga membuat Bayu salah paham.
"Namun, aku tahu kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai dan sudah sangat tua. Aku mohon, Ra, tinggalkan dia! Harta bukan segalanya, ikutlah denganku! Aku janji kita pasti akan bahagia," sambar Bayu meyakinkan Yura.
Dalam anggapannya, Yura saat ini sedang menderita hidup di bawah tekanan suaminya yang sudah tua dan tidak dia cintai.
"Kau salah, Bay. Aku tidak menderita dan tentu saja tidak dibawa tekanan sama sekali. Aku minta maaf tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Aku tidak akan meninggalkan suamiku!" lanjut Yura.
"Meski kau tidak mencintai suamimu?"
Yura hanya bisa mengangguk, dia memang tidak punya pilihan lain. Mungkin sudah takdirnya bahwa dia tidak mendapatkan cinta dan tidak pernah mencintai dalam kehidupannya kali ini.
Bayu akhirnya mengizinkan Yura pulang. Baginya perpisahan kali ini tidak berarti bahwa dia tidak bisa menemui Yura lagi tekadnya sudah bulat. Dia akan mengejar Yura.
"Heh! kamu dengar nggak orang ngomong?" Jessica sudah menarik lengan Yura hingga gadis itu terhuyung, hampir jatuh.
"Aku lagi tidak ingin bicara denganmu lepaskan tanganmu!" perintah Yura menarik lengannya.
__ADS_1
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa di rumah ini? Semua orang punya aturan jangan karena Om Roy sedang tidak ada di sini kamu dengan sesuka hati bisa kelayapan. Aku akan menikah dengan Erlang, pewaris yang lebih sah, dan membuatku menjadi Nyonya di rumah ini. Kau hanya istri Om Roy yang dinikahinya secara sirih. Dan di mata hukum, kau tidak punya status!" umpatnya marah.
Sejak melihat Yura berciuman dengan Erlang, Jessica sudah bersumpah dalam hatinya tidak akan membiarkan Yura hidup dengan tenang di rumah itu.
Dan semua kekacauan di rumah yang dilakukan adalah sebagai permulaan. Nanti kalau dia sudah menikah dengan Erlang, maka akan banyak perubahan yang dia ciptakan di rumah itu.
"Terserah kamu bilang apa. Aku peringatkan kau! Jangan pernah menyentuhku atau menyinggungku! Jangan urusi hidupku! Jangan pikir selama ini karena aku diam, kau bisa sesuka hati bertindak terhadapku. Kau salah mencari lawan, Jes!" umpatnya berlalu pergi dari hadapan gadis itu.
Ada rasa gentar di hati Jessica melihat amarah Yura. Dia pikir gadis itu tidak berani melawan dan hanya akan patuh ketika ditindas.
Namun hal itu tidak serta merta membuat Jessica mau mundur. Dia tetap akan melancarkan balas dendamnya menjaga Erlang agar tidak berhubungan lagi dengan Yura.
Yura tidak turun untuk makan malam hari itu. Dia juga tidak membukakan pintu bagi siapapun yang ingin masuk ke kamarnya, baik itu Titin yang akan senantiasa mengantarkan makanan baginya.
Berulang kali pelayan itu datang memohon padanya untuk membukakan pintu agar dia bisa menyerahkan makan malam. Namun, gadis itu berteriak meminta Titin untuk membawa makanan itu kembali ke dapur.
Yura sengaja bergerak dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi yang bisa membangunkan para pelayannya. Yura tidak ingin pelayan itu melayaninya, ketika melihat Yura berada di dapur.
Yura menghela napas. Tidak ada makan malam yang tersisa di kulkas. Yura bingung harus makan apa dan ketika dia hendak keluar dari dapur dia bertemu dengan Erlang, yang baru saja keluar dari ruang kerja Roy.
"Kau belum tidur?" tanya Erlang menyapa Yura, terlihat pria itu begitu lelah dan masih mengenakan pakaian kerja. Kemeja yang rapi dan juga kain celana bahan.
Belakangan ini, Erlang memang terlihat pulang malam sangat larut bahkan. Mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikan tepat waktu.
Belum mendapat jawab singkat, dia yang berniat hendak berlalu dari hadapan Erlang, berhenti seketika saat pria itu menahan pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kau turun jam segini ke dapur, pasti kau belum makan. Apa tadi kau tidak makan malam?" tanya Erlang yang menjelaskan keadaan bahwa dirinya juga tidak ikut makan malam tadi. Berarti hanya Jessica yang menikmati makan malam sendiri.
Yura menghemat tenaganya untuk tidak menjawab, dia memilih mengangguk.
Tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak peduli bahkan jika Jessica melihat Erlang menarik kembali tangan Yura untuk masuk ke dapur.
"Kau duduklah sebentar, temani aku di sini. Aku akan membuatkan nasi goreng. Perutku juga lapar belum makan," ucap Erlang yang berhasil membuat niat Yura untuk pergi jadi batal.
Kalau saja Erlang ingin membuat nasi goreng itu untuk sendiri, Yura pasti sudah menolak dan segera pergi dari dapur tapi kenyataan mengenai Erlang yang juga belum makan membuat Yura jadi tidak enak hati untuk meninggalkan pria itu.
"Kau juga belum makan malam?" tanya Yura setelah beberapa menit mereka diam di dapur. Gadis itu memperhatikan bagaimana cekatannya Erlang dalam mengocok telur dan juga mengiris bawang.
"Gak punya waktu, kerjaan begitu banyak di kantor," jawabnya masih memunggungi Yura, tetap fokus pada bumbu yang sedang dirajang nya.
Hanya beberapa menit kemudian seluruh ruangan dapur sudah wangi oleh masakan Erlang, yang begitu menggoda perut Yura, membuat gadis itu semakin lapar mencium wangi sedap dari wajan penggorengan yang saat ini sedang mengambil seluruh fokus Erlang.
"Ayo kita makan," ucap Erlang menghidangkan sepiring nasi goreng di atas meja.
Yura hanya mengamati piring berisi nasi goreng dan kepulan asap di atasnya. Perutnya semakin menggila, ingin menikmati nasi goreng hangat itu, tapi karena merasa gengsi untuk memulai, jadi dia hanya bisa menahan salivanya. Lagi pula, ada apa dengan pria itu mengapa menyajikan hanya di satu piring saja?
"Ini sendok kamu. Ayo kita makan. Kau harus menjaga kesehatanmu Jangan pernah sampai kelaparan begini, kasihan anak yang dalam kandunganmu," ucap Erlangga menyodorkan sendok ke hadapan Yura.
Gadis itu hampir saja menangis mendengar perhatian Erlang terhadap anak mereka. Seandainya Erlang tahu bahwa saat ini Yura mengandung buah cinta mereka, pastilah pria itu akan selalu bersikap manis dan melayani Yura setiap wanita itu merasa lapar.
"Kenapa? Apa kau merasa risih karena kita satu piring berdua?" tanya Erlang yang sudah mulai menikmati nasi goreng buatan sendiri.
__ADS_1
Yura tidak ingin menyinggung perasaan Erlang, hingga buru-buru menggeleng. Yura juga segera menyendok nasi goreng dan masukkan ke dalam mulutnya, menikmati sensasi yang nikmat dan nagih.
"Dedek bayi, papa buatin nasi goreng buat kita," batinnya mengelus perutnya yang sudah membesar.