Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Siasat Mitha


__ADS_3

“Apa yang sudah kau dapatkan?” tanya Gara ketika mereka bertemu paginya di kampus. Aran hanya menggeleng lemah karena tidak ada hal yang berarti yang dia temukan.


“Tidak ada hal penting, Ga. Aku hanya menemukan kalung milikku ini yang dulu dipinjam oleh Mitha, tapi yang anehnya gadis yang ada di foto bersama Aksa itu juga menggunakan kalung seperti ini.”


“Nah, itu sudah ketemu,” potong Gara. “Ini sudah membuktikan kalau kemungkinan besar gadis itu adalah kakakmu,” lanjut Gara mengamati kalung itu di tangannya.


“Nanti deh aku cek lagi di kamar Aksa, siapa tahu ada hal baru yang bisa aku tunjukkan padamu,” kata Aran tampak tidak yakin.


Aska belum kembali, hingga Aran bisa dengan nyaman memasuki rumah itu untuk melayani Stella. Niatnya untuk menyusup ke dalam kamar Aksa pun tidak jadi dia lakukan. Ada saja tingkah wanita itu untuk membuatnya kesal, memintanya untuk mencuci rambutnya padahal jelas-jelas dia sering ke salon, dan yang paling aneh gadis itu meminta Aran untuk menemaninya berendam di bathtub, tapi hal itu pun dia tetap lakukan agar tidak mendapat masalah dari Aska.


Hari itu Aran memang sangat kelelahan, hingga pukul 08.00 malam dia sudah terlelap. Tanpa disadarinya seseorang masuk ke dalam kamarnya dan saat ini sedang berdiri menjulang memandanginya yang sedang tidur.


Seperti mendapatkan suara hati untuk membangunkannya, Aran membuka mata dan terkejut melihat Aska yang tinggi menjulang berdiri di depan kasurnya.


“Kau? Mau apa kau ke sini? Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanya Aran buru-buru duduk dan menarik selimut menutupi tubuhnya yang tidur hanya mengenakan hotpant dan tanktop.


Tatapan pria itu seperti dewa kematian yang ingin merenggut nyawanya. “Apalagi kali ini kesalahan yang aku lakukan?” batin Aran yang penuh rasa takut melirik ke arah Aska.

__ADS_1


“Kemari kau wanita sialan! Berapa kali aku katakan jangan pernah kau berhubungan dengan pria itu?! Apa kau tidak punya malu? Tak bisakah kau menjaga hasratmu sesaat saja? Apa yang kau harapkan?” salak Aska yang sudah menarik tangan Aran hingga gadis itu terseret beberapa langkah.


“Lepaskan, dasar brengsek! Apalagi kali ini maumu? Apa salahku? Lepaskan!” teriak Aran meronta-ronta.


Haruskah Aska menjelaskan apa kesalahan wanita itu hingga membuat dia buru-buru kembali ke Jakarta? Anak buahnya melaporkan bahwa istri kecilnya itu berkencan dengan Gara. Hal itu mengusiknya! Aska sudah mencoba sebisa mungkin untuk menepis pikirannya yang berisi tentang wanita itu, tapi mengapa terasa sulit membuang gadis itu dari pikirannya? Satu hal yang tidak dia sadari, ia merasa cemburu, marah karena di mata Aran hanya ada Gara saja.


“Memangnya kenapa kalau aku bersama dengan dia? Jangan bilang kau cemburu? Ah, sudahlah, itu tidak mungkin. Bukankah kau menganggapku seorang pelayan. Atau benar adanya, jangan-jangan kau memang menyukaiku? Ucap Aran asal bicara.


“Berani sekali kau berkata seperti itu, kau pikir kau siapa?” Aska mendorong tubuh Aran hingga terbentur ke tembok. “Aku begitu membencimu! Aku hanya tidak ingin pria itu menjadi korbanmu selanjutnya! Apa tidak cukup adikku yang menjadi korbanmu? Di mana hati nuranimu? Wajahmu memang terlihat polos bak malaikat, tapi hatimu busuk. Dengar Aran sekali lagi aku melihat kau bersama pria itu aku akan menghajar pria itu!” salak Aska.


Pria itu akan pergi dari tempat itu tapi langkahnya ditahan oleh Aran ketika otaknya sudah mulai bekerja setelah mendengar ucapan Aska, dan mulai dia rangkai lalu tiba pada kesimpulan bahwa apa yang dianalisa Gara kemungkinan besar benar.


Ini waktunya untuk membela dirinya. Berarti selama ini benar bahwa pria ini sudah salah paham dia menganggap Aran adalah kekasih Aksa yang menyebabkan adiknya meninggal dan dia berkewajiban untuk membalaskan dendam adiknya


“Jangan berlaga bodoh, tanya pada dirimu sendiri apa yang sudah kau lakukan pada Aksa. Kau tahu benar dia sangat mencintaimu, kau tahu benar semua dia lakukan untukmu, tapi kau justru tega meninggalkannya,” ucap Aska penuh emosi, gigi pria itu bahkan sampai bergemeretak karena menahan emosinya.


“Jangan menuduh sembarangan. Aku tidak mengenal Aksa. Bahkan aku tidak mengenalmu ataupun Alinea. Kali pertama aku melihatmu adalah saat aku menikah denganmu. Kenapa kau bisa berpikiran kalau aku’ lah penyebab kematian Aksa?” Nada suara Aran sudah mulai tenang. Dia memahami keadaannya kini.

__ADS_1


“Apa kau pikir aku orang bodoh yang menuduhmu tanpa memiliki bukti? Kau ingin bukti seperti apa? Bahkan rekening koran adikku pun sudah membuktikan kalau dia sering mengirimimu uang. Kau mau bukti? Baik akan kutunjukkan.” Aska sudah menarik tangan Aran penuh emosi bak kerasukan setan. Dia menarik dengan kencang, hingga garis itu terseok-seok mengikuti langkah pria itu.


Aska membawanya ke ruang kerja, melemparkan Aran hingga gadis itu yang terhubung ke belakang. Aran membuka lacinya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi rekening koran.


“Baca ini,” ucapnya melemparkan ke wajah Aran. Gadis itu memungut lembaran kertas itu dan memperhatikan nominal yang tertuang di dalamnya dan benar saja uang itu mengalir ke rekeningnya, tapi dia sama sekali tidak pernah menerima uang itu. Barulah dia teringat mengenai kartu ATM yang dulu dipinjam oleh Mitha. Jadi benar tebakan mereka, Mitha ‘lah yang menjadi kekasih Aksa.


“Kau masih mau bukti lagi? Baik, puaskan matamu!” umpat Aska menghidupkan laptop yang ada di atas meja kerjanya. Membuka satu file dan mengklik hingga sebuah video yang dia dapatkan dari apartemen adiknya diputar kembali.


Dalam video itu Aksa menangis sembari merekam video yang ditujukan untuk Mitha memohon untuk gadis itu tetap berada di sisinya karena kalau sampai meninggalkannya, dia lebih baik mati. Berulang kali Aksa menyebut nama Arandiah, saat itulah Aran mengerti jadi selama ini saat Mitha berkenalan dengan Aksara dengan menggunakan identitas Aran.


Jadi, wajar kalau Aska mengira dirinyalah kekasih adiknya yang menyebabkan Aksa memilih untuk bunuh diri.


Selesai melihat video itu, Aran hanya bisa terdiam, lidahnya kelu. Jadi hidupnya sudah terjebak dalam permainan Kakaknya sendiri, terlebih pria sombong yang ada di depannya ini sudah salah, dendam yang dialamatkan kepada Aran harusnya dia berikan kepada Mitha, tapi apa yang harus Aran katakan? Apakah dia harus membuka identitas Mitha di depan Aska? Bagaimana kalau dia membunuh Mitha? Tapi kalau dipikir lagi, apa yang dilakukan Mitha sungguh terlalu, dia tidak ingin melindungi kakaknya itu lagi.


“Kau ingin tahu kebenarannya? Aku kasihan padamu! Dendammu ternyata salah alamat! Tidak seharusnya kau mendendam padaku karena kenyataannya orang yang kau benci bukan aku tetapi wanita yang kau ajak bertemu dua hari lalu!”


“Apa maksudmu?” tanya Aska, coba mengingat gadis yang diajak bertemu dua hari lalu ada Mitha, mengapa gadis ini membawa-bawa Kakaknya.

__ADS_1


“Aku sama sekali tidak pernah mengenal Aksa, dari bukti yang kau tunjukkan ternyata kakakku lah yang menjadi kekasih adikmu dan menggunakan identitasku, tapi mungkin kau tidak akan percaya, tapi terserah padamu, yang penting aku sudah tahu alasanmu mengapa menikahiku, tidak lebih hanya ingin membalaskan dendam salah alamat!” terang Aran pergi meninggalkan ruangan itu dengan penuh emosi.


__ADS_2