Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Bertemu Dita


__ADS_3

Rasanya masih belum percaya dengan kenyataan yang sudah Yura temukan malam itu. Dia dan Roy berbicara hingga subuh. Yura sudah meminta Roy untuk beristirahat, tapi pria itu terus menolak dengan alasan belum mengantuk dan ingin bicara dengan Yura.


Akhirnya Yura menginap di kamar Roy. Mereka berbaring di ranjang yang sama namun, hanya saling bercerita tidak lebih.


Yang paling menusuk perasaan Yura ketika pria itu mengatakan bahwa dirinya benar-benar bahagia karena bisa mengenal Yura. Dan berterima kasih karena gadis itu ada dalam kehidupannya. Setidaknya di kehidupannya yang sepi ini, dia masih bisa memiliki teman untuk bercerita.


Berulang kali juga Yura sudah memohon kepada Roy, mengingatkan pria itu bahwa zaman sudah canggih, teknologi tinggi yang pastinya bisa membantu penyembuhannya. Namun, pria itu menolak. Katanya tubuhnya sudah lelah, mengikuti kemo dan juga disuntik sana-sini.


Ternyata selama ini, setiap dia membuat alasan pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis, semata-mata hanya untuk mengikuti kemoterapi.


"Jangan menangis lagi. Aku mohon jangan bersedih untukku," ucap Roy au tidak tahu bahwa aku tidak pernah siap ini setelah mengetahui penyakit yang menggerogoti tubuhku. Dengan adanya dirimu disamping ku, aku semakin siap untuk pergi."


"Jangan ngomong gitu, Om," jawab Yura tidak bisa menahan laju air matanya.


Hingga pagi mereka bercerita, terlihat Roy yang sudah sangat ikhlas menanti ujung waktunya.


Paginya, Yura keluar setelah Roy tertidur. Tepat saat itu Erlang juga tengah keluar dari kamar dan melihat ke arahnya. Keduanya sempat berlaga pandang, lalu Erlang segera turun. Kesedihan kembali menyelimuti Yura.


***


"Kita mau kemana? Apa Om sudah benar-benar fit untuk bepergian?" tanya Yura kala Roy meminta menemaninya pergi.


"Cari angin ke luar," jawabnya sembari tersenyum.

__ADS_1


Yura duduk manis di dalam mobil bersama Roy. Tampaknya dia juga memang butuh menghirup udara segar sore itu. Kemanapun pria itu pergi, dia percaya dan tidak perlu mempertanyakannya lagi. Apa yang membuat Roy senang dan bisa menghibur hati pria itu maka Yura bersedia menemaninya.


Roy membawa Yura memasuki sebuah halaman rumah. Terlihat tidak ada tanda kehidupan di sana, terlihat kosong dan menyeramkan.


"Ini rumah siapa, Om? Kita mau menemui siapa di sini?" tanya Yura merasa sedikit tidak nyaman kala memasuki rumah itu.


"Nanti kau akan tahu jawabannya," jawab Roy menggandeng tangan Yura memasuki rumah itu. Niko yang ikut dengan mereka segera membuka pintu mempersilakan mereka masuk lebih dulu.


Ternyata di dalam ruangan itu sudah ada dua pengawal yang menunggu kedatangan mereka. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Yura. Adanya wanita yang duduk di satu kursi di tengah ruangan itu dengan posisi terikat kaki dan tangannya, membuat mata Yura terbelalak wajahnya pucat begitu terkejut ketika mengenali wajah gadis itu.


"Dita...." pekiknya melepas tangan Roy dan mendekat pada sahabatnya itu. Sudah lama mereka tidak bertemu. Yura juga tidak memberitahukan soal dirinya yang sudah menikah.


"Om, apa-apaan ini? Kenapa Dita diikat? Dia teman aku!" ujar Yura. Dia kembali mendekati Roy ingin meminta penjelasan dari pria itu.


Penjelasan Roy jujur membuat Yura terkejut setengah mati. Apa yang sudah coba diluruskan oleh Bayu saat itu ternyata benar. Semua ini adalah ulah Dita, dia dalang di balik kejadian naas yang menimpanya.


"Apa semua ini benar Dita? Kamu yang menjebak ku hingga tidak sadarkan diri di kamar hotel? Tapi kenapa?" pekik Yura kembali berjalan ke arah Dita.


"Aku minta maaf, Ra. Aku tidak bermaksud untuk mencelakaimu. Aku tidak tahu kalau setelah kepergianku dari kamar itu, membuatmu harus mengalami peristiwa yang mengerikan bersama seorang pria. Aku bersumpah aku tidak menjual mu pada siapapun. Aku hanya menyewa kamar itu untuk tempatmu beristirahat, hingga kau terbangun besok paginya. Maafkan aku, Ra. Semua itu aku melakukan karena aku begitu cemburu padamu. Niatku hanya satu, kalau kau tidak sadarkan diri hingga besok pagi, maka kau tidak akan bertemu dengan Bayu. Dia terus saja bertanya di mana keberadaan mu," terang Dita menangis terisak dia menyesali segala perbuatannya.


Setelah kejadian malam itu, Dita ketakutan. Terlebih ketika Kamsa menghubunginya, menanyakan tentang keberadaan Yura yang tidak pulang malam itu.


Namun, lagi-lagi mengingat perasaannya yang besar terhadap Bayu dan obsesinya ingin mendapatkan pria itu, dia membuang semua rasa bersalah demi mendapatkan hati Bayu.

__ADS_1


"Kau mencintai Bayu?" tanya Yura dengan suara bergetar. Dia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu ternyata memiliki perasaan pada pria yang juga dia sukai selama ini.


Bayu dan Yura justru menjadikan Dita sebagai perantara hubungan mereka. Siapa yang sangka bahwa di balik niatnya menolong keduanya, justru terselip perasaan tersendiri untuk Bayu.


Tidak enak memang cinta bertepuk sebelah tangan, terlebih cinta yang tidak tersampaikan. Yura mengalaminya saat ini. Dia mencintai seseorang tetapi pria itu belum tentu mencintainya.


"Om aku mohon lepaskan Dita, jangan seperti ini, tindakan ini termasuk kriminalisasi namanya," pinta Yura dengan lembut kepada Roy, tapi matanya tidak lepas terus memandangi Dita.


Begitu ikatan di tangan dan kaki Dita terlepas, gadis itu menghambur memeluk Yura, bahkan tubuhnya perlahan merosot jatuh di hadapan Yura.


"Aku bersalah padamu. Aku minta maaf, Ra. Aku juga terkejut begitu mendengar penuturan dari orang yang menangkapku tentang apa yang sudah terjadi padamu malam itu," ujar Dita melirik ke arah Niko.


Niko memang menjelaskan semua duduk perkara ketika wanita itu membantah dan tetap bersikeras bahwa dia tidak bersalah. Dia hanya mengakui bahwa dia sudah membuat Yura tidak sadarkan diri dan membiarkannya menginap di hotel malam itu.


Sedikitpun Dita tidak tahu mengenai kejadian yang menimpa Yura.


Namun, hanya sebatas itu yang diberitahukan oleh Niko. Dia tidak membongkar bahwa anak yang dikandung Yura saat ini juga bukan anak pria itu.


"Ini adalah kali terakhir kau berbuat jahat. Kalau bukan karena belas kasih dari Yura, saya bersumpah akan membiarkanmu busuk di penjara!" ancam Roy yang masih tidak ingin melepaskan Dita begitu saja. Namun, karena Yura sudah memohon padanya untuk membebaskan Dita dan melupakan semua kejadian itu, maka Roy pun menurut.


Yura sudah memaafkan Dita. Semua ini dia anggap sebagai takdir hidupnya. Akan ada hikmah dibalik setiap kejadian, baik itu suka ataupun duka.


Mungkin di balik kejadian naas yang menimpanya,.ada satu anugerah yang dia terima dalam hidupnya yaitu bertemu dengan sosok Roy yang begitu baik dan selalu melindunginya.

__ADS_1


__ADS_2