Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Merasa Nyonya Rumah


__ADS_3

Setelah tinggal dua hari di rumah itu, Jessica sudah menunjukkan sikap buruknya. Karena Roy tidak ada di rumah, ia bertindak semaunya seolah-olah ia adalah Nyonya rumah. Merasa sebagai anggota keluarga, ia memerintah setiap pelayan tanpa kenal belas kasihan.


Merasa sudah menjadi anggota keluarga itu, Jessica memerintah setiap pelayan dengan sesuka hatinya. Kadang membentak ataupun memaki jika ada pelayanan yang tidak cepat datang ketika dia panggil. Dia bahkan tidak segan berteriak sembari menghampiri pelayan itu dan memakinya.


Yura mencoba menahan emosinya untuk tidak menegur tindakan Jessica yang keterlaluan kepada para pelayan. Semua itu karena permintaan Bi Ijah yang memberi saran padanya agar tidak mencari masalah dengan Jessica karena saat ini dia sedang hamil, takut kesehatannya kembali menurun dan bisa berdampak buruk terhadap bayi yang ada dalam kandungannya.


"Nyonya tenang saja kami bisa mengatasi perilaku wanita itu. Tidak apa dia memaki ataupun memarahi kami, nanti akan ada saatnya balasan setimpal didapatkannya," ucap Bi Ijah menepuk lembut punggung tangan Yura yang sore itu duduk menemani Bi Ijah menyiapkan makan malam.


"Harusnya non Jessica tidak perlu tinggal di sini karena mereka baru akan menikah bulan depan masih ada waktu seminggu lagi, agar bergabung dan menetap dengan keluarga ini. Apa orang tuanya tidak melarangnya tinggal bersama calon suami tanpa ikatan?" tanya Wati yang ikut bergabung bersama mereka.


Satu harian ini, entah sudah berapa kali Wati kena tegur oleh Jessica, tapi terhadap Titin mungkin Jessica tidak berani karena dia tahu Titin adalah pelayan khusus Yura.


"Kesal deh sama Non Jessica, padahal jelas-jelas minta jus jeruk Aku bawakan malah bilang tadi mesannya jus ape l jus jeruk itu disiram Ke wajahku tempat Wati mengambil kursi di samping Yura.


Mendengar hal itu Yura ingin sekali mendatangi Jessica melabrak gadis itu agar tidak bertindak semena-mena. Mereka mungkin saja pelayan yang digaji, tapi tetap saja punya harga diri dan derajatnya sama dengan semua orang di rumah ini.


"Hush, kamu jangan ngomong gitu!" hardik Bi Ijah, menyikut Wati, memberi tanda agar melihat ke arah Yura. Bi Ijah tahu laporan Wati tentu saja akan memancing emosi Yura.


"Kalian yang sabar, ya," ucap Yura ikut berempati dengan mereka.


"Kalian ngapain sih, pada ngumpul disitu semua? Pelayan gak guna banget. Buruan siapkan makan malam, Erlang udah pulang!" perintahnya tanpa memandang Yura yang juga ada di sana.

__ADS_1


Yura segera bangkit, tapi tangannya ditarik oleh Bi Ijah. Segera bangkit untuk melaksanakan perintah Jessica. Bi Ijah tidak ingin Jessica bertengkar dengan Yura yang sedang hamil, apalagi Om Roy sedang tidak ada di rumah. Jessica pergi begitu saja setelah memberikan perintah, menunjukkan nurani wanita itu memang sudah mati.


"Aku ke kamar dulu, Bi. Kepalaku pusing, mau ngambil minyak angin dulu," ucap Yura bangkit dari duduknya. Kepalanya tiba-tiba pusing dan ingin muntah. Sebenarnya dia ingin tidak ikut makan malam tapi pastinya Bi Ijah tidak akan mengizinkan. Dia sudah mendapatkan mandat dari Roy untuk memaksa Yura makan tepat waktu.


Di ruang tengah, Yura berpapasan dengan Erlang dia berusaha bersikap biasa saja seolah tidak terusik dengan keberadaan pria itu namun saat keduanya berada di satu garis yang sama Erlang yang sudah memendam perasaannya selama sebulan ini menarik tangan gadis itu ke ruang keluarga, dan menyandarkan Yura ke tembok hingga terhalang oleh pandangan orang.


"Kau mau apa lagi? Lepaskan aku!" Yura mencoba mendorong tubuh Erlang namun sia-sia.


"Apa sedikitpun kau tidak merasakan rindu di hatimu? Sebulan aku pergi di rumah ini, mencoba untuk menjauh darimu. Tapi aku nggak bisa, aku semakin sakit dan terluka. Sangat sakit di sini, Ra," ucap Erlang menunjuk dadanya, lalu membawa tangan gadis itu dan meletakkan telapak tangan Yura di permukaan dada Erlang.


Wajah Erlang terlihat begitu tersiksa, dan itu benar adanya. Pria itu sudah kalah, semakin dekat pernikahannya dengan Jessica, semakin sesak dadanya, dan frustrasi membawanya kembali ke rumah itu dan parahnya Jessica memaksa ikut tinggal di sana.


Yura bisa melihat perasaan terluka yang saat ini dirasakan oleh Erlang, tapi apa yang bisa dia lakukan? Tidak ada jalan untuk mereka bersama. Lagi pula bukankah mereka sudah memutuskan untuk berpisah dan akan menjalani kehidupan mereka masing-masing tanpa pernah menoleh ada semua kenangan yang pernah mereka ciptakan.


"Tapi gadis yang aku inginkan adalah dirimu!"


"Aku mohon jangan seperti ini. Hargai perasaan Jessica, dan lupakan aku!"


Erlang yang tadi menyembunyikan wajah sendunya, menahan agar air mata tidak jatuh di hadapan Yura, kini mengangkat wajahnya menatap lekat mata gadis itu. Betapa malunya seorang pria dengan perawakan tegap serta tegas dan dikenal berhati dingin justru menangis di hadapan wanita yang dicintainya.


Jemari Erlang menelusuri pipi gadis itu, lalu turun ke bibir gadis itu. "Aku ingin mencium mu untuk terakhir kalinya. Ciuman perpisahan yang akan kau kenang, dan akan kau sesali karena sudah melepaskan ku!" bisik Erlang di atas bibir gadis itu. Menyiksa perasaan Yura dengan embusan napasnya yang beraroma mint.

__ADS_1


"Er...."


"Ssssttt... Aku mohon jangan menolakku," desis Erlang, segera membungkam bibir Yura dengan bibirnya. Ciuman lembut yang pernah dia berikan pada gadis itu. Lembut, setulus hati dan menggambarkan kekecewaan serta kesedihan yang dalam. Ciuman perpisahan yang akan selalu menyiksa batinnya. Mendatangkan penyesalan, mungkin benar apa yang dikatakan Erlang.


Biar, ini untuk yang terakhir. Yura melepas kerinduan serta siksaan yang dia rasakan. Mengalungkan lengannya di leher pria itu. Menyerahkan kembali hatinya hanya untuk sebuah ciuman perpisahan.


Ciuman itu semakin dalam. Lidah mereka saling membelit, bertaut dan mencercap. Yura menyapukan lidahnya di langit-langit mulut Erlang, ungkapan cintanya pada pria itu. Menekan semakin dalam lidahnya hingga pria itu mengisap lidah Yura, membelai dengan lembut hingga tubuh Yura bergetar hebat.


Bersama anak mereka, Yura pamit pada kekasih hatinya yang tidak bisa dia miliki. Minggu depan pria itu akan menjadi milik wanita lain. Biar lah menit ini dia memilik Erlang untuk dirinya sendiri.


Deru napas mereka semakin kuat, tidak mampu menahan lebih lama lagi. Saling mengisap dan melu*mat. Erlang bahkan menggigit pelan bibir bawah Yura hingga gadis itu mend*esah pelan, dan menumpukan berat tubuhnya ke tubuh pria itu.


Di sudut yang gelap, Jessica melihat semuanya dalam diam dan rasa sakit hati. Mengepal tinjunya dengan emosi yang memuncak. Keraguannya terbukti. Dia diam ditempatnya, bukan karena tidak berani melabrak Yura, tapi dia menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam pada wanita itu.


"Aku akan membalas perbuatan kalian lebih sadis. Tunggu saja!" umpatnya pergi dari sana.


*


*


Mampir

__ADS_1



__ADS_2