
Menurut prediksi dokter, harusnya Yura melahirkan Minggu ke dua di bulan depan, tapi takdir berkata lain. Bayi mungil itu harus dilahirkan malam ini juga.
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Yura dan juga bayi yang ada dalam kandungannya, kau akan ku habisi. Akan ku buat kau menyesal telah masuk dalam keluarga ini!" bentak Erlang dengan sorot mata menghitam penuh amarah, dan segera memutus panggilan telepon sepihak.
Erlang sedang dalam perjalanan ke Surabaya, pesawatnya baru saja akan berangkat ketika dia mendapatkan kabar dari Niko bahwa Yura terjatuh ke kolam berenang, dan sempat tenggelam karena kakinya kram dan juga perutnya sempat terbentur di tepi kolam.
Saat itu wajah Erlang pucat, dunianya seperti runtuh. Dia membayangkan Yura yang terkapar di ruang mayat dengan tubuh di tutup oleh kain putih.
Erlang segera membatalkan keberangkatannya. Memutuskan untuk ke rumah sakit. Di perjalanan dia menghubungiku Jessica, dan memperingkatkan gadis itu. Nika sempat memberitahu kalau sebelum jatuh, Yura dan Jessica terlibat adu mulut, pertengkaran yang dipancing oleh Jessica.
Saat dia tiba di rumah sakit, Yura sudah masuk kamar operasi. Bayinya harus segera dikeluarkan.
"Bagaimana keadaan Yura?" tanya Erlang masih diserang kepanikan.
"Masih ditangani dokter," jawab Niko singkat.
"Papa? Bagaimana keadaan papa? Dia pasti shock mendengar kejadian ini," lanjut Erlang menghawatirkan ayahnya.
"Beliau sempat kembali jatuh pingsan, walau beberapa menit lalu aku hubungi ke rumah, tuan sudah siuman dan memintaku untuk menunggui Yura. Kesehatan tuan sangat lemah, seharusnya dia tidak lagi mendapatkan kabar seperti ini," terang Niko yang memilih untuk duduk di kursi tunggu.
"Duduk lah," pintu Niko yang dituruti pemuda itu.
"Kasihan Yura, gadis itu terlalu muda mengalami begitu banyak penderitaan sepelik ini," tutur pria berusia 45 tahun itu. Erlang hanya mengangguk.
Dia gerak sekali, ingin mencekik batang leher Jessica, tapi itu bisa nanti dia lakukan, dan pasti akan dia lakukan. Yang terpenting saat ini adalah memastikan Yura baik-baik saja.
__ADS_1
"Om benar. Dia seharusnya masih menikmati masa-masa belianya! Tapi kalau dipikir-pikir, masa depannya hancur saat papa menikahinya. Dia sepantasnya menjadi putrinya, bukan dijadikan istri!" ucap Erlang mengungkapkan isi hatinya yang masih terasa mengganjal dengan persoalan itu.
"Bukan ayahmu yang merusak masa depannya, justru menyelamatkan Yura. Masa depan gadis itu sudah dihancurkan oleh pria brengsek yang merenggut kesuciannya di kamar hotel, atas ulah temannya yang sudah menjebak dia," ucap Niko tanpa sadar.
Dia tidak terima kalau bos sekaligus sahabatnya itu selalu dianggap pria hidung belang karena menikahi gadis belia.
Bola mata Erlang membola, terkejut dan seakan tidak percaya atas kebenaran yang coba diungkapkan oleh Niko.
"Maksud, Om?"
Niko baru tersadar kalau sudah terlalu jauh memberi info pada Erlang. Dia segera bangkit dari duduknya, berusaha untuk menghindari tuntutan penjelasan.
"Om, jawab, aku ingin tahu kebenarannya!"
"Yura diperkosa oleh seorang pria di kamar hotel. Awalnya temannya hanya ingin membuatnya mabuk dan mengurung di kamar itu, hingga seorang pria yang mungkin salah masuk kamar datang, dan melakukan perbuatan tidak senonoh pada Yura, yang mengira kalau itu adalah wanita yang dia sewa malam itu!"
Erlang tidak yakin, tapi pikirannya mengapa langsung tertuju pada gadis yang bercinta dengannya malam itu. De*sahan dan wangi tubuh Yura saat mereka bercinta mengingatkannya pada gadis itu.
Degub jantung Erlang semakin cepat. Apakah mungkin kalau Yura adalah wanita yang dia tiduri malam itu? Seingatnya ketika dia bangun, dia sudah tidak menemukan siapapun di kamar itu. Dia yang saat itu mabuk, dan begitu menikmati permainan mereka, membuat Erlang tertidur pulas. Ini yang pertama baginya, wajar kalau sangat berkesan padanya.
Dia bahkan sampai mencari gadis itu, tapi tidak menemukan. Satu-satunya yang ditinggalkan gadis itu untuknya adalah noda darah yang menempel di seprei.
Tapi kalau memang itu Yura, mengapa wanita itu tidak mengatakan apapun padanya? Saat terbangun dan meninggalkan kamar itu, tentu dia sudah dalam keadaan sadar, jadi otomatis melihat wajahnya.
Dia ingat, saat pertemuan pertama mereka, Erlang pernah bertanya, apa mereka pernah bertemu, dan Yura mengatakan belum pernah sama sekali.
__ADS_1
Teka-teki dalam benaknya hanya bisa dia simpan. Tapi jangan harap kalau dia akan tinggal diam, dia akan mencari kebenarannya.
"Apa nama hotelnya, Om?"
"Rich Love," jawab Niko singkat. Dia sedikit kesal karena hingga saat ini dia belum bisa berhasil menemukan sosok pria yang sudah mengambil keuntungan dari ketidaksadaran Yura.
Pihak hotel hanya mengetahui bahwa kamar itu dipesan atas nama Dita. Siapa yang masuk ke kamar itu mereka tidak tahu, bahkan CCTV yang diperlihatkan kepada Niko, juga tidak jelas menunjukkan pria misterius itu, karena tepat saat masuk ke dalam kamar beberapa orang tengah berdiri di koridor itu hingga menghalangi tampilan pria itu.
Mendengar nama hotel itu, Erlang hampir pingsan. Segala kecurigaannya semakin meruncing, dia hampir yakin bahwa gadis itu adalah Yura. Ingin rasanya dia masuk menerobos ke ruang operasi untuk bertanya pada gadis itu namun, tentu saja itu tidak mungkin. Erlang hanya bisa berdoa semoga operasi Yura berjalan dengan lancar dan dia bisa mempertanyakan perihal kejadian malam itu.
Ada perasaan senang menyesap di dalam hatinya. Kalau memang gadis itu adalah Yura, dia akan berbicara kepada ayahnya menjelaskan semuanya dan meminta kesediaan ayahnya untuk menceraikan Yura sehingga mereka bisa menikah.
Mungkin angan-angan Erlang terlalu berlebihan, tidak mengapa. Apapun akan dia lakukan agar bisa bersama Yura.
Setengah jam menunggu akhirnya dokter keluar dari kamar, dan karena pintu terbuka, mereka bisa mendengar suara tangis bayi yang baru lahir.
"Dokter apa itu anak Yura?" tanya Erlang berdiri menghampiri pria itu.
"Bener, Pak. Apa Anda ayah sang bayi? Kalau iya, Anda bisa masuk agar bisa mengadzani bayi tersebut," jawab dokter. "Sekali lagi selamat, putra Anda sangat tampan dan mirip dengan bapaknya," lanjut sang dokter mengulurkan tangan ke hadapan Erlang.
Dengan sikap kikuk Erlang menerima uluran tangan itu. Ada rasa bangga menyelimuti hatinya seolah memang benar bahwa bayi yang baru saja lahir itu adalah anaknya.
Sayangnya Erlang harus membuang jauh pemikiran itu, karena jelas-jelas bayi yang baru lahir itu adalah anak dari ayahnya, dengan kata lain adalah adiknya sendiri. Tapi dia tidak peduli, yang paling utama saat ini adalah mencari kebenaran apakah Yura adalah sosok wanita yang dia temui malam itu di hotel.
Kalau benar Yura adalah orang yang sama, maka Erlang tidak peduli bahwa Yura saat ini adalah ibu tirinya. Dia akan memaksa ayahnya untuk bercerai dengan Yura agar dia bisa bertanggung jawab, karena dialah orang pertama yang sudah merusak kehormatan dan masa depan Yura.
__ADS_1