Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Hidup Dikekang


__ADS_3

Mita tidak menyangka kalau dia dijemput oleh anak buah Aksa dan diminta untuk ikut bertemu pria itu. Dalam bayangan Mitha dia akan dibawa ke restoran mahal hingga dengan bangganya mengenakan dress dan berdandan dengan menor.


Ternyata dugaan Mitha salah, dia bukan dibawa ke restoran mewah bintang lima, tapi justru dibawa ke bangunan tua, jauh dari kota Jakarta.


Awalnya dalam perjalanan Mitha tidak curiga, dia percaya kalau Aska pasti merencanakan sesuatu yang asyik untuk mereka berdua. Mungkin saja pria itu ingin berduaan dengannya, jauh dari orang-orang yang mengenal mereka.


Mitha melangkah masuk ke dalam bangunan tua itu. Di depan pintu sudah ada dua bodyguard dengan memakai setelan jas rapi, dan mempersilahkannya masuk. Pria yang menjemputnya pun mengikuti langkahnya dari belakang dan mengarahkannya naik ke lantai dua. Saat tiba di sana, dia bertemu dengan sosok Arka dan terlihat sudah menunggunya, Mitha tersenyum gembira karena tebakannya benar.


“Dasar pria nakal, ternyata kamu punya hasrat liar juga ya. Pasti kamu ingin mengajakku bercinta di sini, di bangunan ini jauh dari orang-orang yang mengenal kita,” batinnya tersenyum, melangkah bak model di catwalk dengan tatapan terkunci pada wajah tampan Aska.


“Aska, jauh banget sih kita sampai ke sini? memangnya kita mau ngapain nih,” ucapnya sembari membelai lengan Aska, namun bukan sambutan manis sebagai balasan, Aska segera mendorong tubuh wanita itu hingga terjerembap jatuh ke lantai, dan karena sepatu heels-nya yang sangat tinggi, membuat pergelangan kakinya keseleo.


“Kamu apa-apaan sih, Aska? Kok kasar banget?” tanya Mitha mencoba untuk bangkit berdiri. Aska hanya melewati gadis itu dan memilih duduk di suatu kursi hitam yang sudah disediakan untuknya, dengan menopang satu kaki di atas kakinya yang lain Aska melemparkan semua bukti-bukti yang telah dikumpulkan oleh Satria ke hadapan Mitha.


Sontak gadis itu terperanjat, kaget foto dirinya bersama Aksa di sebuah klub saling berpelukan dan berciuman, berhamburan di lantai tidak hanya dengan Aksa fotonya bersama Remon, anggota mafia yang menjadi kekasihnya pun ikut diperlihatkan Aska padanya.


Wajah Mitha seketika pucat, sadar kalau kebohongannya kini sudah terbongkar. Dia bingung harus mengatakan apa. “Tamatlah riwayatku,” batinnya, tapi dia berusaha untuk tenang walaupun sangat sulit.


Dia tahu seperti apa Aska, pria yang biasanya diam, tidak suka banyak bicara, sekalinya balas dendam, pasti sangat mematikan.


“Aska, ini... Ak-u, Aku bisa jelaskan semuanya,” ucapnya terbata, mulai merangkak menuju kaki Aska. “Aku mohon, maafkan aku, sama sekali tidak berniat untuk membuat adikmu frustrasi hingga bunuh diri,” ujarnya dengan tangisan.

__ADS_1


“Tidak sengaja, katamu? Kau pikir aku buta?! Setelah uangnya kau peloroti, dan memanfaatkan dia, lantas kau buang dia seperti sampah! Mungkin adikku bodoh karena bisa jatuh cinta kepada wanita ular seperti mu, tapi kau salah memilih korban, dia masih memiliki Abang yang akan membelanya sampai titik darah penghabisan,” ujar Aska menjambak rambut Mitha dan menyeret gadis itu di lantai hingga lututnya terasa sakit oleh ubin yang tajam dan batu-batu halus yang ada di permukaan lantai. Wajar karena bangunan itu sudah tua dan sangat kotor hingga lantainya pun pasti berpasir.


“Ampun Aska, sakit. Aku mohon, maafkan aku, Aku menyesal,” rintihnya merasa kesakitan karena diseret dan dijambak oleh Aska. Dengan gram pria itu melemparkan tubuh wanita hingga membentur dinding.


“Ikat dia! Jangan berikan dia makan selama satu hari dan kalian boleh menyiksanya,” perintah Aska kembali duduk di bangkunya semula.


Anak buahnya saja sudah mempersiapkan media yang akan mereka gunakan untuk memberikan hukuman kepada Mitha, mulai dengan tangan dan kakinya direndam dengan air cabe dan cuka, belum lagi memintanya memakan cabe rawit tanpa memberinya minum. Setiap disiksa Mitha melolong meminta maaf, memohon ampun kepada Aska.


“Ini belum seberapa dari penderitaan adikku, jadi nikmati saja hukuman yang pantas kau terima,” hardiknya berlalu pergi dari ruangan itu.


***


“Memangnya kamu belum lihat pengumuman? Kita sudah ditempatkan di rumah sakit Harapan Bunda bersama tiga orang lainnya,” terang Gara menantikan raut wajah gembira Aran. Dia sudah membayangkan betapa gembiranya Aran saat dia memberitahukan berita ini.


“Serius? Ya Allah, terima kasih akhirnya kita bisa koas!” serunya melompat-lompat saking gembiranya


“Ini harus kita rayakan. Yuk, aku traktir makan es krim,” tawar Gara, dengan mantap Aran langsung menyambut dengan anggukan dan mereka pun segera menuju parkiran untuk mengambil motor den Gara.


Tapi belum sampai di parkiran langkah mereka sudah dihadang oleh pria berwajah masam yang sejak tadi mengamati gerak-gerik keduanya.


Demi memuaskan amarahnya Aska bahkan rela berjalan kaki dari parkiran menuju depan fakultas kedokteran untuk menemui Aran dan juga Gara.

__ADS_1


“Berapa kali aku peringatkan, Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria ini! Dan kau bocah, dia ini istriku, jauhi dia atau kau akan menyesal ancam,” ancam Aska dengan suara tegas bak komandan batalion.


Ini kali pertama mereka berhadapan setelah Gara tahu bahwa Aska adalah suami Aran. Gara yang sudah mendengar cerita asal muasal pernikahan itu bisa terjadi, tentu saja tidak menganggap Aska sebagai suami Aran dan dengan santai Gara mencibir ucapan Aska dengan senyum mengejeknya.


“Apa anda lupa mengapa anda bisa menikah dengan Aran? Anda ‘kan sudah tahu siapa orang yang Anda cari, segera lepaskan Aran, ceraikan dia, kalau tidak saya akan melaporkan kepada ubah Mahesa atau ke polisi karena Anda sudah menyiksa Aran selama berstatus istri Anda!” ancam Gara.


Tawa Aska meledak mendengar ancaman Gara, dia berpikir bocah itu terlalu naif karena menganggap bisa mengancam seorang Aska Caspian.


“Bagaimana awal mula kami menikah itu bukan urusanmu yang penting secara hukum dan agama Aran adalah istriku dan kau hati-hati, aku bisa menjebloskan mu karena mencoba mengganggu istri orang ujar,” Aska dengan santai dan menarik tangan Aran untuk ikut dengannya.


Pada awalnya Aran menolak dan mencoba berusaha melepaskan pegangan tangan Aska, tapi pria itu menoleh dan menatap kepadanya dengan tatapan yang begitu lembut.


Entah angin dari surga mana yang membelainya, hingga perasaan gadis itu adem dan jadi menurut pada Aska. Tatapan yang belum pernah dia lihat dari Aska selama menjadi istri pria itu. Tatapan memohon yang jauh dari kamus seorang Aska.


Lagi pula Aran tidak ingin terjadi keributan di kampusnya yang nantinya akan menghebohkan dosen dan mahasiswa yang melihat mereka.


“Ga, aku pulang duluan ya,” ucap Aran mengikuti langkah Aska yang menuntun di depan.


Gara hanya bisa melihat punggung Aran yang menjauh. Otaknya berpikir bagaimana cara melepaskan Aran dari pria itu. Dia punya kuasa, tentu saja dia hanya perlu melapor kepada ayahnya, tapi persoalannya saat ini Gara dan ayahnya saat ini sedikit renggang. Gara menimbang dalam hati apa demi Aran dia mau berbicara kembali dengan ayahnya.


“Tunggu aku, Ran. Aku pasti akan membebaskanmu,” ucap Gara percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2