Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Menikah demi Orang Tua


__ADS_3

“Aran, Papa senang kamu datang,” ucap Mahesa menyambut kedatangan putrinya. Beberapa hari ini dia terus saja teringat kepada Aran ingin bertemu. Berulang kali dia meminta kepada Reni untuk menemaninya mengunjungi Aran tapi wanita itu selalu mengatakan sebaiknya jangan tidak enak kepada Aska, karena mengganggu rumah tangga anaknya.


“Hai Papa, aku juga senang banget bisa ketemu Papa,” balas Aran memeluk ayahnya.


“Papa senang kamu datang, Nak, beberapa hari ini keinget terus sama kamu.”


“Untung kamu datang, papa kamu tuh sampai jatuh sakit karena mikirin kamu dari kemarin. Pengen banget datang ke rumah ke rumah kamu untuk melihat keadaanmu, tapi mama larang, mama nggak enak sama suami kamu belum tentu suami kamu senang kalau kami datang ucap,” mama Reni.


Aran pun tidak tahu apakah suaminya akan memberikan izin kepada kedua orang tuanya untuk menginjakkan kaki di rumahnya, tapi Aran tidak mungkin mengatakan hal itu pada kedua orang tuanya sehingga memilih menunjukkan sikap seolah dia juga punya kuasa di rumah itu.


“Kenapa harus takut nggak enakan sih, Ma? Nggak papa kok, kalau mau datang aja. Itu emang rumahnya, tapi ‘kan itu juga rumahku selama jadi istrinya,” ucap Aran yang merasa geli karena menggunakan kata istri pada kalimatnya.


“Sebenarnya kedatanganku ke sini selain ingin bertemu dengan papa, juga mau bertanya apa papa punya kenalan direktur rumah sakit yang bisa aku mintain izin untuk tempat aku koas?” tanya Aran, siapa tahu saja papanya punya kenalan yang memiliki rumah sakit.


Bukan akan minta papanya untuk menghubungi rumah sakit itu, dia sendiri yang akan memohon ke sana, tapi setidaknya kalau dia punya rekomendasi dari papanya, itu akan memudahkan dia dan Gara mendapatkan tempat untuk koas.


“Papa nggak ada kenal direktur rumah sakit, kenapa kamu nggak tanya sama suami kamu aja. Dia pasti bisa kasih saran yang bagus,” ucap Mahesa. Malah dia tahu kalau Aska justru punya rumah sakit besar di kota ini.


“Wow, wow, wow... lihat siapa yang datang. Adikku tersayang, istri dari tuan Askara Caspian. Tumben kamu datang kemari, ada apa? Jangan bilang dong, kalau kamu bertengkar dan diusir suami kamu ujar,” Mitha yang baru bangun dan menemui mereka. Seringai di bibinya membuat Aran ingin sekali memasukkan sepatu yang dia pakai ke dalam mulut wanita itu.

__ADS_1


Melihat kedatangan Mitha, amarah Aran kembali mencuat. Dia teringat dengan kelakuan kakaknya itu yang sudah menggunakan identitasnya untuk mendekati Aksa. Sebenarnya Kenapa dia tidak jujur saja dengan identitasnya sendiri? Apa yang disembunyikan Mitha pada saat itu hingga dia ke pikiran untuk menggunakan identitas Aran?


“Mitha! Jaga mulutmu. Apa yang kamu katakan? Rumah tangga adikmu, baik-baik saja, bahkan papa lihat Aska sangat perhatian pada Aran. Mereka pasti bahagia, jadi buang pikiran bodohmu seperti tadi!” hardik Mahesa.


“Santai dong, Pa. Jangan marah-marah gitu, ingat kata dokter, papa punya riwayat sakit jantung, baru dua hari lalu kambuh,” ujar Mitha tanpa merasa bersalah. Dia duduk di hadapan Aran, menatap tajam wajah adiknya itu.


Mitha semakin membenci Aran kala tahu orang yang dinikahinya adalah Aska, pria yang sejak dulu dia incar. Mitha pertama kali bertemu dengan Aska saat di klub kala itu, mencari tahu tentang pria itu, tapi tidak ada informasi pribadi yang dia dapat, dia hanya tahu Aska adalah pengusaha muda yang sukses yang banyak diminati oleh para kaum hawa.


Teman-temannya memberi nasehat kepadanya untuk melupakan angan-angannya mendapatkan pria itu karena terlalu jauh dan pastinya sulit dijangkau.


Setahun setelah pertemuan mereka, Mitha bertemu dengan aksara. Saat itu Aksa langsung suka dan mengajaknya untuk berkencan. Mitha yang saat itu sedang sudah memiliki kekasih hanya menganggap Aksa sekedar untuk mengisi kekosongannya, lagi pula Aksa yang memang tidak suka memamerkan uangnya dianggap Mitha bukan tangkapan ya tepat.


“Papa baik-baik saja, Papa sehat kok. Selama papa melihatmu dan Aska bahagia, papa juga akan bahagia. Selama rumah tanggamu baik-baik saja, papa pasti sehat,” ujar Mahesa tersenyum lembut.


Apa yang bisa dikatakan Aran setelah mendengar hal itu? Padahal niat awalnya dia ingin mengadukan kejahatan Mitha dan juga mengatakan kepada ayahnya bahwa rumah tangganya seperti di neraka, tapi melihat keadaan ayahnya kini, dia tidak akan sanggup.


Benar kata Aska, jika ayahnya sampai tahu masalah rumah tangga mereka, kesehatan ayahnya akan memburuk. Dia tidak mau ayahnya kenapa-kenapa, lebih baik dia menderita di bawah tekanan Aska asal ayahnya baik-baik saja.


Papa tenang saja rumah tangga kamu baik-baik saja aku mah paskah sangat menyayangiku dia juga memenuhi semua kebutuhanku jadi Papa nggak usah khawatir aku mohon Papa jaga kesehatan ya jangan buat aku khawatir begini Pak uca bareng memeluk ayahnya matanya mulai perih air mata yang ingin turun tidak dapat di Bandung Aran bola menangis dibawa ayahnya yang memeluknya Arab dan memulai punggung gadis itu

__ADS_1


“Sudah-sudah, jangan nangis lagi. Papa baik-baik saja, masih hidup loh Ini bukan udah meninggal,” ujar Mahesa mencoba membuat lelucon agar anaknya bisa tertawa lagi.


“Yakin nih, rumah tangga kamu baik-baik saja? Yakin kalau suami kamu peduli sama kamu? Yakin kalau kamu itu diperlakukan seperti layaknya seorang istri atau malah dicurigai?” Kembali Mitha menyebarkan virusnya yang membuat kening Mahesa.


Aran ingin sekali melempar vas bunga yang ada di atas meja ke wajah Mitha. Tega sekali wanita itu tidak memikirkan kesehatan ayah mereka. Padahal kalau bukan karena ayahnya, mereka berdua akan menjadi gembel di luar sana.


“Apa maksud kamu Mitha? Kenapa kamu dari tadi bicara seperti itu tentang rumah tangga adikmu?” tanya Mama Reni, yang sejak tadi hanya sibuk dengan wa grupnya arisan sosialitanya.


Belum sempat Mitha menjawab, seseorang sudah muncul di ambang pintu. Mereka berempat spontan menoleh ke arah sosok tinggi menjulang yang tampak sangat bersinar.


Mitha langsung berdiri merapikan rambut dan pakaiannya lalu menghampiri Aska yang menatap lurus ke arah Aran, seolah bertanya mengapa istrinya itu menangis.


“Aska kamu datang,” sapa Mita kecentilan.


Orang yang ditanya bukan menjawab, malah terus masuk dengan tatapan terkunci pada mata Aran dan memilih kursi di sebelah Aran.


Deheman Mahesa segera menyadarkan Aska bahwa di ruangan itu ada orang lain, tidak hanya ada mereka berdua. Setelah tersadar, Aska melihat ke arah Mahesa, mengangguk hormat.


Mahesa bisa mengerti arti tatapan Aska dari cara lihat pria itu kepada putrinya. Bagi Mahesa, hal itu sudah cukup menegaskan kalau Aska mencintai putrinya.

__ADS_1


“Kenapa Aran menangis, Om? Apa dia baik-baik saja?” tanya Aska mengamati reaksi wajah Mahesa. Dia takut kalau istrinya itu sudah menceritakan semuanya kepada mertuanya.


__ADS_2