Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Sifat Asli Jessica


__ADS_3

Walau berat hati, Yura terpaksa menepati janjinya untuk membantu Jessica memilih gaun pengantin, sekaligus hal itu menjadi pembuktian bagi Erlang kalau dirinya memang tidak memiliki perasaan apapun lagi pada pria itu.


Roy sendiri terlihat begitu gembira mempersiapkan pernikahan putra tunggalnya. Setidaknya jika Erlang sudah membina biduk rumah tangga bersama gadis pilihannya, dia bisa tenang menghabiskan sisa waktunya bersama Yura dan juga anak yang dikandung wanita itu.


Dan nanti, saat dia pergi menghadap sang Kuasa dan bertemu dengan istri sekaligus wanita yang sangat dicintai, Roy bisa dengan bangga mengatakan bahwa setelah kepergian wanita itu, dia berhasil membesarkan dan mendidik Erlang hingga menemukan pilihan hatinya.


"Apa menurut mu ini adalah yang terbaik di butik ini? Apa aku terlihat cantik memakainya?" tanya Jessica berputar di depan cermin berulang kali.


Pernikahan putra Roy Diningrat adalah pernikahan yang dinantikan oleh semua pengusaha ternama dan juga kumpulan konglomerat. Serta menjadi berita yang ingin diliput semua media massa, jadi Jessica harus bisa tampil memukau, tidak membuat Erlang malu di hadapan banyak orang.


"Gaun itu sangat cocok untukmu. Kau sangat terlihat cantik. Aku rasa sebaiknya kau memilih gaun yang itu saja," ujar Yura setulus hati. Dia tidak bisa menjadi orang munafik, di sudut hatinya dia memang merasa sedih dengan rencana pernikahan ini tapi buru-buru segera dihempasnya perasaan itu karena dia sendirilah yang meminta Erlang untuk melepaskan ikatan darinya.


Mungkin dengan pernikahan nya dengan Jessica akan membuat pria itu berhasil menjauh darinya dan Yura bisa hidup dengan tenang dan menghabiskan sisa waktunya dengan mengabdi di sisi Roy dan membesarkan anaknya.


"Tapi ini kurang mewah. Aku ingin semua mata tertuju padaku!" ucap Jessica yang tidak memedulikan Yura yang tampak kelelahan. Sudah lebih empat butik yang mereka datangi, lebih dari 20 gaun pengantin yang dicoba oleh Jessica tapi tidak satupun yang pas di hati gadis itu. Padahal sejauh pengamatan Yura gaun itu terlihat begitu indah melekat di tubuhnya.


"Kau mau mencari yang seperti apa lagi? Apapun yang kau pakai terlihat indah dan membuatmu sangat cantik," jawab Yura yang sudah tampak kesal namun, mencoba untuk tetap tenang meredam dan menekan emosinya. Jangan sampai Jessica mengatakan kepada Erlang, apalagi Om Roy bahwa dirinya setengah hati dan bersungut-sungut menemani Jessica mencari gaun pengantin.


"Apa kau merasa bosan menemaniku? Kalau kau memang ingin pulang, tidak mengapa. Aku akan mencarinya sendiri. Kau boleh pulang bersama sopir," ucap Jessica dengan santainya, melangkah mendekati manekin yang memajang beberapa gaun pengantin.


Rasanya Yura ingin sekali menjambak rambut gadis itu. Setelah lebih dari enam jam dia menemani wanita itu mencari gaun pengantinnya dan kini dengan seenak hatinya dia mengatakan bahwa Yura setengah hati dan menyuruhnya untuk kembali pulang saja.

__ADS_1


"Aku bukan keberatan ataupun tidak suka. Aku rasa aku berhak memberimu pendapat karena saat ini aku yang menemanimu dan semua yang kau pakai terlihat sangat indah, itu saja. Kalau kau memang tidak ingin mengambilnya dan masih ingin mencari lagi aku akan menemanimu," tukas kasih Yura dengan menegakkan kepalanya.


"Gitu dong, kamu kan calon ibu tiriku, setidaknya kamu bisa berguna untuk membantuku. Masalah pakaian tentu saja semuanya terlihat indah. Apa kau lupa, aku adalah seorang model, tentu saja memiliki tubuh yang begitu indah, berbeda denganmu, dan aku tahu kau dari kalangan orang miskin, tentu saja gaun bagaimanapun pasti menurutmu sangat indah. Kau tidak akan mengerti selera orang kaya," tuturnya berlalu dari hadapan Yura, menunjuk sebuah gaun kepada karyawan toko untuk diambilkan agar dia bisa mencobanya.


Yura hanya bisa meremas sisi gaunnya. Betapa dia sangat marah kepada gadis ini. Bayangkan saja sejak pagi menemaninya, mereka bahkan belum makan siang, perut Yura sangat lapar tapi itu pun tidak dihargai oleh Jessica.


Yura baru menyadari bahwa sifat Jessica ternyata seburuk itu, di depan Roy dan juga Erlang, dia akan menunjukkan sikap anggun, lemah lembut dan begitu santun. Tampaknya Yura akan mengalami mimpi buruk yang baru, karena kemarin dia dengar Erlang meminta izin kepada ayahnya untuk tinggal di rumah itu.


Hal itu tentu saja disambut oleh Roy. Dia begitu gembira mengetahui anaknya itu memilih untuk tinggal di rumah itu setelah menikah, bukan di apartemen seperti yang dulu dikatakan oleh Erlang ketika berhubungan dengan Jessica dan berencana untuk menikah.


Bagaimana mungkin Yura bisa tahan hidup satu atap bersama pria yang dicintainya, yang kini nantinya menikah dengan seorang ular! Dia tahu juga Jessica pasti akan mencari perhatian lebih, sehingga dirinya terpojok dan dianggap sampah di rumah itu.


"Kalian di mana? Mengapa begitu lama? Apakah baik-baik saja?" tanya Roy menghubungi Yura yang begitu khawatir akan keadaan wanita itu. Sudah pukul 07.00 malam tapi mereka belum pulang ke rumah.


"Iya, Om. Ini kami udah mau pulang, sebentar lagi juga sampai di rumah," jawab Yura. Syukurlah, akhirnya Jessica memilih salah satu gaun di tempat itu hingga mereka bisa menyelesaikan misi mencari pakaian pengantinnya.


"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan. Om tunggu di rumah," jawab Roy menutup telepon.


"Ayo, pulang! Tadi katanya minta buru-buru pulang, ini malah masih bengong di sana," ucap Jessica yang baru keluar dari kantor pemilik butik untuk membayar gaun pengantin itu.


Yura tidak menjawab. Dia malas berdebat dengan wanita ular itu. Bergegas bangkit dari duduknya, lalu berjalan di belakang Jessica. Namun, di tengah jalan Jessica kembali melihat sebuah gaun malam yang tampak indah. Yura memutuskan untuk lebih dulu keluar dari butik itu, tapi saat berada di tengah anak tangga, kepalanya yang pusing akibat tidak makan seharian membuatnya tidak stabil hingga kakinya keseleo dan jatuh terguling pada beberapa anak tangga

__ADS_1


Semua orang yang berada di butik dan melihat kejadian itu menjerit dan segera mengerubungi Yura.


Jessica yang mendengar teriakan kaget dari orang-orang yang melihat kejadian itu segera berlari menghampiri, dan betapa terkejutnya dia kala melihat tubuh Yura yang sudah tergeletak pingsan di bawah sana.


"Yura!" teriaknya menghampiri tubuh tak berdaya itu.


"Segera dibawa ke rumah sakit, Mbak. Itu ada darah di pahanya," ucap salah satu pengunjung.


Yura segera dilarikan ke rumah sakit. Jessica berada di belakang bersama Yura yang masih tidak sadarkan diri Dia memutuskan menghubungi Erlang, tapi berulang kali dihubungi, pria itu tidak menjawab teleponnya.


"Halo, ada apa, Jess?" tanya Erlang pada akhirnya. dia masih ingin bertahan untuk tidak mengangkat telepon Jessica yang dianggapnya mengganggu karena saat ini dia sedang berkumpul bersama teman-temannya.


Namun, suara berisik telepon itu tidak bisa dia abaikan lagi dan akhirnya menjawab panggilan dari calon istrinya itu.


"Itu... Itu... Yura jatuh dari tangga di butik dan sampai sekarang masih pingsan!" ucapnya ketakutan.


"Hah? Yura jatuh? Kenapa bisa? Bagaimana mana keadaannya saat ini? Kalian dimana?" Tanya Erlang membabi-buta. Ketakutan begitu jelas terlihat di wajah pria itu. Jangan sampai terjadi hal buruk pada Yura.


"Ini kami lagi di jalan menuju rumah sakit, aku kirim alamatnya," ucap Jessica menutup panggilan agar bisa mengirim lokasi mereka saat ini.


**

__ADS_1


Mampir,



__ADS_2