Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Kesedihan Erlang


__ADS_3

"Udah, jangan minum lagi. Ada masalah apa sih, sampe lu milih mabuk lagi?" tanya Dieko menarik botol ke tiga yang coba dihabiskan Erlang.


Pria itu mempertahankan botol, menyingkirkan tangan Dieko. Dia butuh minuman itu saat ini.


Sejam lalu dia lari ke tempat itu setelah bertengkar hebat dengan Jessica, bahkan di akhir pertengkaran Roy sampai datang ke kamarnya untuk menengahi mereka.


Beruntung ayahnya tidak mendengar perkataan Jessica mengenai niatnya yang ingin membuka skandal di antara dirinya dan Yura.


Erlang bukan takut, hanya saja dia khawatir ayahnya tidak sanggup mendengar kabar itu hingga jatuh sakit. Belakangan ini kesehatan ayahnya memburuk dan dia tidak ingin membuat kondisi ayahnya semakin buruk lagi.


"Sebenarnya apa yang kalian ributkan bukankah tadi kita sudah bicara baik-baik bahwa kalian akan menikah lantas apalagi sekarang?" tanya Roy yang tidak habis pikir.


Erlang tidak menjawab pertanyaan ayahnya, memutuskan untuk segera keluar dari kamar itu, pergi dari rumah dan sekarang menikmati berbotol-botol minuman bersama Dieko yang selalu setia setiap dia memerlukan teman untuk menemaninya minum.


Penolakan Erlang begitu tegas, hingga Dieko memutuskan untuk membiarkan pria itu larut dalam kesedihan dan juga beban pikirannya. Toh, nanti begitu dia sudah tidak sanggup untuk minum dia akan berhenti sendiri.


"Gua selingkuh sama ibu tiri gua!" celetuk nya menatap kosong ke depan.


Dieko yang mendengar hal itu tentu saja mengerutkan kening. Dia masih menimbang, apakah perkataan sahabatnya itu adalah ucapan seorang yang sedang mabuk atau Erlang masih sadar dan tahu betul apa yang saat ini sedang dia bicarakan.


"Lu bicara apa sih? Lu udah mabuk, sebaiknya kita pulang! Gua akan antar lu pulang!" ucap Dieko kembali menarik botol dari tangan Erlang. Kali ini pria itu tidak menolak, membiarkan sahabatnya mengambil botol dan juga gelas yang ada di hadapan Erlang.

__ADS_1


"Gua cukup sadar untukmu mengatakan yang sebenarnya dua bang*sat, brengsek, gua tanpa malu sudah tidur dengan ibu tiri gua lu bisa bayangkan itu kali ini Erlang menarik wajahnya untuk menoleh ke arah Diego yang terkejut mendengar pengakuan Erlang.


"Lu serius ini? Lu lagi nggak bercanda, kan?" sambar Dieko dengan wajah pucat. Bagaimana tidak, ocehan sahabatnya itu adalah aib yang bisa menghancurkan nama baik dan martabat keluarga mereka.


"Gua nggak pernah seserius ini dalam hidup! Gue selingkuh dengan Yura. Gua mencintai istri bokap gua, sangat mencintainya tanpa bisa memiliki nya. Lu bisa bayangkan gimana sakitnya perasaan gua? Lu bisa bayangkan bagaimana tersiksanya perasaan gua?!" ujar Erlang dengan mata berkaca-kaca. Tangannya meremas dadanya yang terasa sakit kala mengucapkan kalimat itu.


Terasa sampai ke tulang sumsum nya. Dia ingin menjerit melepaskan kehampaan, tapi gak bisa. Ada hati yang harus dia jaga.


Setelah puas mengoceh, Erlang diam kembali. Hanya itu kalimat Erlang hingga sampai pada akhirnya Dieko mengantarnya pulang. Mereka tidak membahas apapun juga.


Pukul 02.00 pagi Dieko dengan susah payah berhasil membawa Erlang pulang ke rumahnya dalam kondisi yang tentu saja sudah tidak sadarkan diri. Satu hal yang dipuji Dieko setiap Erlang mabuk, pria itu tidak pernah mengoceh hanya diam menyimpan semua di dalam dada.


Yura yang belum tidur malam itu karena rasa sakit di perutnya, beranjak turun untuk melihat ada kegaduhan apa di depan rumah. Siapa yang datang malam-malam begini bertamu ke rumah mereka.


Begitu daun pintu terbuka dan melihat Yura berada di hadapan mereka, Dieko yang sudah mendengar ceritanya menjadi sedikit kikuk.


"Ada apa dengan Erlang? Kenapa dia?" tanya Yura dengan rasa khawatirnya. Pria itu bahkan untuk berdiri saja pun tidak bisa.


"Dia mabuk. Dia berceloteh tentang semua hal, termasuk hubungan kalian!" ucap Dieko setelah memastikan bahwa satpam itu sudah kembali ke posnya.


Dapat serangan tiba-tiba seperti itu,.tentu saja wajah Yura memucat seketika. Tidak hanya mereka berdua yang tahu kisah itu, kini sudah bertambah seorang lagi. Dia tidak mengenal Dieko dan karakternya, bagaimana kalau pria itu mengatakan apa yang dia dengar kepada Roy? Bagaimana dia harus menghadapi Roy dan menjelaskan semua perbuatan salah mereka?

__ADS_1


"A-ku...."


"Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan atau pembelaan apapun dari mu! Aku temannya Erlang, aku hanya berharap kalian bisa mengakhiri kegilaan kalian ini! Kalaupun di antara kalian berdua sudah tidak punya lagi rasa sungkan dan juga hati nurani lagi, tolong lah agar segera mengakhiri hubungan terlarang itu! Aku bukan ingin menghakimi, setidaknya diantara kalian berdua harus ada yang sadar. Aku mohon kepadamu, jangan pernah mengganggu Erlang lagi. Dia begitu menderita dengan menyukai seorang wanita yang tidak bisa dia miliki. Bisakah kau mengerti keadaannya saat ini?" ucap Diego segera melewati Yura, membawa sahabatnya itu ke kamarnya.


Dieko sudah sering ke rumah itu, bahkan menginap di sana, tentu saja dia tahu di mana letak kamar Erlang tanpa harus bertanya kepada Yura.


Yura begitu sedih mendengar perkataan Dieko, dengan wajah memerah, takut dan malu menatap punggung Dieko yang memapah Erlang menaiki anak tangga satu demi satu.


Benarkah hati nuraninya sudah tidak ada lagi? Apakah dia sejahat itu? Dia tidak mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Dia tahu dia sudah menjadi gadis pendosa, tapi dia tidak berniat untuk melakukan hubungan terlarang itu lebih lama lagi. Kalau dia memang serakah, yang hanya memikirkan perasaannya saja, tentu dia akan menerima tawaran Erlang untuk pergi bersama pria itu, tapi Yura bukan tipe wanita yang seperti itu. Dia menghormati suaminya walaupun itu sudah terlambat dengan terlanjur melakukan hubungan terlarang dengan Erlang.


Yura yang masih mengkhawatirkan keadaan Erlang memutuskan untuk mengikuti mereka. Dia berdiri diambang pintu kamar Erlang memperhatikan Dieko membaringkan pria itu di ranjangnya.


"Saya permisi dulu!" ucap Dieko melewati Yura dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.


Yura bingung harus apa kini. Dilihatnya Erlang yang berbaring masih menggunakan sepatunya dan dia memutuskan untuk membuka sepatunya pria itu, agar bisa beristirahat dengan nyaman.


Langkah Yura terhenti ketika Erlang menarik tangannya. Mata pria itu masih terpejam dan tubuhnya masih tertutupi selimut yang baru saja dipakaikan Yura.


Yura menunduk dan memperhatikan wajah Erlang. Pria itu sudah tertidur namun, mungkin bawah sadarnya memikirkan Yura hingga tanpa sadar bisa menarik tangan Yura dan menggenggamnya.


"Aku tahu kau merasa sakit, aku pun merasakan hal yang sama. Tapi kita memang tidak bisa bersatu. Ada perasaan orang yang harus kita jaga. Aku mohon, berbahagialah dengan Jessica, lupakan semua kenangan yang pernah kita lalui bersama," bisik Yura dengan tetes air matanya yang jatuh mengenai tangan Erlang.

__ADS_1


__ADS_2