Gairah Terlarang Istri Ayahku

Gairah Terlarang Istri Ayahku
Terungkap


__ADS_3

"Bisakah pandanganmu jangan ke sini? Aku merasa kikuk menyusui bayiku," ucap Yura dengan pipi memerah. Sebenarnya dia merasa senang karena Erlang Masih betah di ruangan itu, menunggunya dan menjaga serta memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan Erlang, juga dengan sigap menyuapinya makan tidak membiarkannya kelaparan ataupun haus.


Pipi Erlang pun ikut bersama merah dia hanya memperhatikan bagaimana sayangnya Yura memperlakukan bayi mungil itu mendekat membelai dan mencium makhluk kecil itu dengan penuh kasih sayang.


"Aku... Aku minta maaf aku nggak sengaja," ucap Erlang menjauhkan pandangannya.


Setelah 10 menit mengasihi putranya Yura memberikan kepada suster untuk dibawa ke ruang bayi agar dia dimandikan sore itu.


"Aku melihat caramu memperlakukan bayi mungil itu. Dia begitu beruntung karena memiliki ibu penyayang dirimu. Aku iri padanya. Aku tidak pernah merasakan hal itu, bahkan mengenal ibuku saja pun tidak sempat," cepat ucapnya getir.


Yura ikut sedih dengan apa yang dirasakan Erlang tapi nasibnya juga tidak terlalu jauh dengan apa yang dialami Erlang dia juga tidak lama merasakan kasih sayang orang tuanya walaupun setidaknya sampai SMP ibunya masih ada di sampingnya.


"Sudahlah jangan bersedih, Mama kamu pasti selalu lihat dari surga. Dia pasti bangga punya anak hebat seperti mu," ucap Yura tersenyum lembut.


Senyum Yura yang begitu cantik selalu mampu mengembalikan mood Erlang menjadi lebih baik dia menyukai dan benar-benar tergila-gila pada gadis itu tiba-tiba dia ingat ada satu hal yang perlu dia tanyakan kepada Yura.


"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu aku mohon kau jujur untuk menjawab," ucap Erlang mendekat dan duduk di samping Yura gadis itu sudah lebih sehat walaupun rasa sakit dan denyut di bawah pusarnya masih sering terasa menyentak, itu hal yang wajar pasca operasi namun, selebihnya dokter juga sudah mengatakan bahwa kondisi Yura sangat sehat.


"Ada apa?" tanya Yura penasaran sekaligus khawatir. Dia takut akan mendengar ada lagi masalah baru. Permasalahan mengenai Jessica yang tahu tentang hubungan mereka saja dia sudah ketakutan sekarang apalagi?


"Apa kau pernah ke hotel Rich Love?" tanya Erlang dengan mengunci tatapan mata Yura. dia tidak ingin melepaskan garis itu kali ini dia harus mendapatkan jawaban dari Yura, benar atau tidak dia akan menilai sendiri.


Tubuh Yura gemetar. Kenapa tiba-tiba Erlang menanyakan soal hotel itu tentu saja dia pernah ke sana kalau saja dia tidak menginjakkan hotel itu bayi mungilnya tidak akan pernah ada di dunia ini.

__ADS_1


"Ri-ch Hotel? Memangnya ada apa?" tanya Yura terbata.


Aku minta kau jujur apa kau pernah ke sana Erlang tidak memberi kesempatan untuk jurang mengelak dia terus mencerca gadis itu sampai berkata jujur.


"A-aku gak pernah ke sana," jawabnya sembari buang muka.


"Lihat aku kalau kau sedang bicara! Katakan padaku, bersumpah lah demi aku bahwa kau memang tidak pernah ke sana! Kau tidak pernah menginap di hotel itu dan seseorang yang salah masuk ke kamarmu, dan bercin-"


"Cukup! Aku gak mau dengar!" Tangis Yura pecah, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia terisak, mengingat malam itu.


Erlang datang mendekat, memeluk tubuh Yura yang bergetar hebat oleh tangisnya.


"Tahu kah kau kalau aku sudah lama mencarimu? Aku menanyakan pada pihak hotel, tapi tidak satupun yang mengenalmu," ujar Erlang.


Yura mendorong tubuh elang mereka tidak boleh berpelukan seperti ini bagaimana kalau ada yang melihat.


Kalaupun pria itu sudah mengetahui bahwa dirinya lah wanita yang menghabiskan malam bersamanya lantas, Erlang mau apa?


"Kita harus bicara dengan Papa. Aku akan mengatakan semuanya dan memintanya untuk bercerai denganmu. Kita saling mencintai Ra hubungan kita juga sudah jauh aku akan menikahimu setelah kalian bercerai," ujar Erlang.


"Kau jangan gila, Er! Apa kau ingin membunuh ayahmu? Kau tidak memikirkan bagaimana perasaannya setelah mendengar semua ini? Aku mohon Om Roy sedang sakit jangan menambah penderitaannya Aku tidak ingin terjadi hal buruk kepada Om Roy!"


"Lalu, bagaimana denganku? Apa kau juga tidak memikirkan perasaanku? Kita sudah melakukan dosa yang besar? Katakan kepadaku, apa kau tidak mencintaiku? Kau tidak merasakan apapun denganku? Kau tidak pernah menikmati setiap sentuhan yang aku berikan di tubuhmu? Jawab Yura! Aku mohon jangan menjadi wanita yang munafik!"

__ADS_1


"Terus kalau semua itu benar, lantas apa? Apa yang bisa kita perbuat r saat ini aku adalah istri ayahmu kita tidak mungkin bisa bersama kau tahu itu. Aku tidak akan mungkin mau melukai perasaan Roy lebih dalam lagi dia tidak tahu bahwa kaulah pria yang selama ini dia cari yang sudah merusak hidupku aku seharusnya membencimu Erlang!"umpat Yura tidak bisa menahan emosinya.


Dia memang benci kepada pria itu, sangat terlebih ketika dia mengingat bahwa kehormatannya sudah direnggut saat dia tidak sadar, tapi rasa cintanya kepada pria itu juga sangat besar bahkan mungkin lebih besar daripada rasa bencinya hingga dia mau menerima sentuhan Erlang yang berulang kali.


"Aku mohon kau pergi! Aku ingin beristirahat aku lelah," lanjut Yura setelah beberapa menit mereka diam.


Erlang menurut, dia keluar dengan perasaan campur aduk. Dia keluar dari kamar itu. Kepada siapa dia harus melampiaskan amarahnya dia menginginkan Yura dan dia tahu gadis itu pun menginginkan hal yang sama tapi keadaan mereka sangat pelit akan ada sanksi sosial yang mengenai mereka kalaupun ingin bersama.


***


4 hari di rumah sakit dokter sudah memperbolehkan Yura dan putranya pulang ke rumah kondisi mereka berdua sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Kabar mengenai lahirnya Putra Yura membawa semangat baru bagi Roy pria itu tampak jauh lebih sehat dan tidak sabar untuk menunggu kepulangan mereka ke rumah.


Roy sudah menugaskan beberapa orang untuk mendekorasi rumah menyambut kedatangan mereka bahkan pria itu sudah bisa beranjak dari tempat tidurnya.


Erlang tadi menghubunginya mengatakan mereka dalam perjalanan pulang ke rumah Jadi Roy dengan penuh semangat turun dari atas ranjang mengganti pakaiannya lalu menunggu dengan tidak sabar di ruang tamu.


Begitu mobil Erlang memasuki pekarangan rumah Roy tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya segera berlari keluar menyongsong kedatangan mereka dengan senyum semringah.


Sorot mata Roy begitu bahagia dia menatap Yura yang menggendong putranya. Roy tersenyum Yura kini sudah menjadi seorang ibu dia bangga kepada wanita itu.


"Akhirnya kalian pulang. Om sudah tidak sabar menunggu kepulangan kalian," ujar Roy mengusap kepala Yura penuh sayang.

__ADS_1


__ADS_2